kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 23 Pebruari 2004

 Ekonomi


Kebijakan Perpajakan Hambat Masuknya Investor

Jakarta (Bali Post) -
Salah satu penyebab utama minimnya investasi di Indonesia adalah masalah perpajakan. Jika pemerintah berani memberikan stimulus di sektor ini, diharapkan investasi akan naik dan membuka kesempatan kerja baru. Demikian ditegaskan pejabat Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Johnny W. Situmorang dalam makalah berjudul "Tax Reform, Harapan Investor Terhadap Reformasi Perpajakan" di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Johnny, permasalahan perpajakan tidak hanya menyangkut kebijakan, tetapi juga praktik perpajakan, seperti perilaku aparat pajak dan restitusi (pengembalian kelebihan setoran pajak). Secara tegas dia mengatakan, permalahan perpajakan bisa menjadikan penghambat investasi.

Dikatakannya, dibandingkan dengan negara kompetitor, seperti Cina, Vietnam, dan Thailand, tarif PPh badan Indonesia merupakan yang tertinggi. Bahkan, untuk Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn-BM) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di ketiga negara tersebut tidak ada. Dia mengungkapkan, setidaknya ada tiga harapan investor dalam pembaharuan perpajakan. Pertama, adil, jelas dan pasti, pembayaran yang nyaman dan ekonomi. Kedua, pembaharuan pajak tidak hanya menjadi masalah domestik juga internasional sejalan dengan globalisasi, yakni penghindaran pajak berganda dan penggelapan pajak. Ketiga, untuk kawasan tertentu, seperti Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan daerah perbatasan, diperlukan perlakuan khusus, seperti pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) importasi barang modal dan bakan baku, serta tax holiday.

Merosot Tajam
Johnny mengungkapkan peran investasi terhadap pertumbuhan ekonomi sebelum dan setelah krisis merosot tajam. Bila sebelum krisis kontribusi investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 33 persen, tapi selama krisis kontribusi investasi terhadap PDB hanya 17-19 persen. Sementara itu, kebutuhan investasi dalam menopang sasaran pertumbuhan ekonomi lima persen mencapai 25 persen dari PDB. Dia memperkirakan, untuk mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi tahun 2004 sebesar 4,8 persen setidaknya dibutuhkan investasi 24 persen dari PDB atau Rp 479,93 trilyun.

Dalam skenario pembangunan ekonomi sepanjang tahun 2004, dia mengungkapkan, nilai PDB diprediksikan mencapai Rp 1.999,7 trilyun. Inflasi 6,58 persen, kurs rupiah 8.600/dolar AS, suku bunga SBI 8,5 persen dan defisit anggaran 1,2 persen. Lebih jauh diuraikan, sumber investasi itu sendiri diharapkan berasal dari nasional 12,5 persen dari PDB atau Rp 249,96 trilyun, invesasi asing 11,5 persen dari PDB atau Rp 229,97 trilyun atau 28,4 milyar dolar AS.

Mengenai persetujuan PMDN tahun 2003, dia mengungkapkan ada 181 proyek senilai Rp 48,48 trilyun atau 96,3 persen dibanding 2002. Dari jumlah itu ada potensi penyerapan tenaga kerja sebanyak 98.826 orang dan tenaga kerja asing 591 orang, dan menimbulkan potensi ekspor 2,49 milyar dolar AS. Untuk penanaman modal asing, ada 1.024 proyek senilai 13,21 milyar dolar AS yang disetujui atau 89 persen dibandingkan tahun 2002. Dari nilai itu diharapkan ada potensi penyerapan tenaga kerja sebanyak 282.414 dan tenaga kerja asing 6.172 orang dengan potensi ekspor 5,99 milyar dolar AS. (kmb2)

Skenario ekonomi 2004
PDB diprediksikan Rp 1.999,7 trilyun
Inflasi 6,58 persen
Kurs rupiah 8.600/dolar AS
SBI 8,5 persen
Defisit anggaran 1,2 persen
PMDN Rp 249,96 trilyun
PMA Rp 229,97 trilyun

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)