kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 23 Pebruari 2004

 Mimbar Agama Buddha


Banjir

Telah dibuka: Jakarta underwater. Satu-satunya kota besar yang berada di bawah air. Jangan sampai ketinggalan. Datang dan saksikan.

Demikian antara lain rangkaian kalimat dalam bahasa asing yang saya terima lewat SMS ketika banjir melanda di sejumlah kawasan di Jakarta di akhir tahun lalu. Nampaknya pesan tersebut juga sesuai dengan apa yang terjadi dalam sepekan terakhir ini.

Sejumlah kawasan di Jakarta dilanda banjir, walaupun tidak sehebat dua tahun silam.
Banjir telah menjadi langganan di sejumlah kawasan di Jakarta. Ini bisa dimaklumi karena kondisi tempat tinggal yang dekat dengan sungai dan kondisi saluran air yang tidak terawat dengan baik. Sampah yang dibuang dengan ringan tangan ke saluran sungai atau got yang ada. Lumpur yang dibiarkan menebal di suatu tempat. Dan banyak faktor lainnya.

Semua orang tahu kalau banjir berasal dari air yang tidak lagi bersahabat dengan kehidupan ini. Setiap orang membutuhkan air untuk minum, mandi, dan keperluan lainnya. Namun, dalam jumlah besar dan datang secara tiba-tiba, air menjadi tidak bersahabat. Air tidak peduli dengan apa yang ada di sekitarnya. Dia terus mengalir, membasahi dan mengenangi semua tempat. Semua orang bisa terendam oleh air dan terhanyut bila tidak mempunyai pegangan yang kuat, tempat yang lebih tinggi, atau kondisi lain yang mendukung.

Sang Buddha menggunakan perumpamaan banjir untuk mengambarkan hal-hal yang bisa membawa atau menyeret seseorang ke dalam kondisi yang lebih buruk. Ada empat banjir yang sangat berbahaya; yakni banjir hawa nafsu, banjir perwujudan, banjir pandangan dan banjir ketidaktahuan.

Nafsu keinginan (kama) terus mengalir, menjerat setiap orang untuk jatuh ke dalam kondisi yang lebih buruk. Demikian banyak dan cepat kontak yang terjadi pada semua indera. Demikian banyak tawaran yang menggoda dalam kehidupan ini. Demikian banyak informasi yang beredar, baik atau buruk. Kalau salah menentukan pilihan, seseorang bisa terjatuh pada arus nafsu keinginan yang tidak akan ada habisnya; yang pada akhirnya akan membawa kita kehidupan yang lebih buruk. Banjir nafsu keinginan (kamogha) merupakan salah satu banjir terbesar dalam kehidupan ini yang dapat menjerat semua orang.

Yang dimaksud dengan banjir perwujudan (bhavogha) adalah kehidupan di alam-alam kehidupan yang tidak pernah ada habisnya. Banyak orang yang ingin terlahir di alam yang lebih baik, ingin bertemu kembali dalam kehidupan mendatang sebagai pasangan suami istri atau sahabat yang baik.

Alam kehidupan bukan akhir dari segalanya. Alam kehidupan yang lebih baik maupun buruk dari manusia, bukanlah sesuatu yang abadi. Keinginan untuk terlahir di alam tersebut akan menjerat kita untuk terus berputar dan berputar tanpa akhir.

Banjir pandangan (ditthogha), maksudnya adalah pandangan salah yang dimiliki oleh seseorang. Banyak orang berpandangan bahwa kehidupan ini kekal, abadi, selamanya. Hidup ini hanya sekali. Pandangan saya yang paling benar dan yang lain salah. Dan, masih banyak lagi pandangan salah lainnya dalam kehidupan ini. Banyak orang yang tidak menyadari pandangan keliru ini sehingga mereka terjerat dalam pandangan salah dan akibatnya.

Yang dimaksud dengan banjir ketidaktahuan (avijjogha) adalah tidak mengetahui tentang kesunyataan, kebenaran abadi, yang ada di alam semesta ini. Tidak tahu tentang dukkha, asal mula dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan menuju lenyapnya dukkha. Tanpa ketidaktahuan maka tidak akan muncul kebijaksanaan.

Keempat banjir ini merupakan ikatan dan pengotoran, yang terkait antara yang satu dengan lainnya. Pada dasarnya kekotoran batin akan terus mengalir dalam diri kita menimbulkan kesenangan indra yang berlebihan, memunculkan pandangan salah tentang hidup dan kehidupan ini, keinginan untuk hidup di alam manusia atau di alam yang lebih baik, dan tidak munculnya kebijaksanan.

Seperti halnya banjir yang terjadi saat ini di Jakarta dan sejumlah tempat lainnya. Banjir yang ada di dalam diri akan semakin besar apabila kadar kekotoran batin dalam diri kita juga cukup tebal. Semakin bijaksana diri kita, kadar banjir akan semakin kurang. Masalahnya, seberapa kuat kadar bijaksana dan seberapa lama kita bisa bertahan? Oleh karena itu, penting bagi semua orang untuk meningkatkan kadar batinnya.

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)