Banjir
Telah dibuka:
Jakarta underwater. Satu-satunya kota besar yang berada di
bawah air. Jangan sampai ketinggalan. Datang dan saksikan.
Demikian antara lain
rangkaian kalimat dalam bahasa asing yang saya terima
lewat SMS ketika banjir melanda di sejumlah kawasan di
Jakarta di akhir tahun lalu. Nampaknya pesan tersebut juga
sesuai dengan apa yang terjadi dalam sepekan terakhir ini.
Sejumlah kawasan di
Jakarta dilanda banjir, walaupun tidak sehebat dua tahun
silam.
Banjir telah menjadi langganan di sejumlah kawasan di
Jakarta. Ini bisa dimaklumi karena kondisi tempat tinggal
yang dekat dengan sungai dan kondisi saluran air yang
tidak terawat dengan baik. Sampah yang dibuang dengan
ringan tangan ke saluran sungai atau got yang ada. Lumpur
yang dibiarkan menebal di suatu tempat. Dan banyak faktor
lainnya.
Semua orang tahu
kalau banjir berasal dari air yang tidak lagi bersahabat
dengan kehidupan ini. Setiap orang membutuhkan air untuk
minum, mandi, dan keperluan lainnya. Namun, dalam jumlah
besar dan datang secara tiba-tiba, air menjadi tidak
bersahabat. Air tidak peduli dengan apa yang ada di
sekitarnya. Dia terus mengalir, membasahi dan mengenangi
semua tempat. Semua orang bisa terendam oleh air dan
terhanyut bila tidak mempunyai pegangan yang kuat, tempat
yang lebih tinggi, atau kondisi lain yang mendukung.
Sang Buddha
menggunakan perumpamaan banjir untuk mengambarkan hal-hal
yang bisa membawa atau menyeret seseorang ke dalam kondisi
yang lebih buruk. Ada empat banjir yang sangat berbahaya;
yakni banjir hawa nafsu, banjir perwujudan, banjir
pandangan dan banjir ketidaktahuan.
Nafsu keinginan (kama)
terus mengalir, menjerat setiap orang untuk jatuh ke dalam
kondisi yang lebih buruk. Demikian banyak dan cepat kontak
yang terjadi pada semua indera. Demikian banyak tawaran
yang menggoda dalam kehidupan ini. Demikian banyak
informasi yang beredar, baik atau buruk. Kalau salah
menentukan pilihan, seseorang bisa terjatuh pada arus
nafsu keinginan yang tidak akan ada habisnya; yang pada
akhirnya akan membawa kita kehidupan yang lebih buruk.
Banjir nafsu keinginan (kamogha) merupakan salah satu
banjir terbesar dalam kehidupan ini yang dapat menjerat
semua orang.
Yang dimaksud dengan
banjir perwujudan (bhavogha) adalah kehidupan di alam-alam
kehidupan yang tidak pernah ada habisnya. Banyak orang
yang ingin terlahir di alam yang lebih baik, ingin bertemu
kembali dalam kehidupan mendatang sebagai pasangan suami
istri atau sahabat yang baik.
Alam kehidupan bukan
akhir dari segalanya. Alam kehidupan yang lebih baik
maupun buruk dari manusia, bukanlah sesuatu yang abadi.
Keinginan untuk terlahir di alam tersebut akan menjerat
kita untuk terus berputar dan berputar tanpa akhir.
Banjir pandangan (ditthogha),
maksudnya adalah pandangan salah yang dimiliki oleh
seseorang. Banyak orang berpandangan bahwa kehidupan ini
kekal, abadi, selamanya. Hidup ini hanya sekali. Pandangan
saya yang paling benar dan yang lain salah. Dan, masih
banyak lagi pandangan salah lainnya dalam kehidupan ini.
Banyak orang yang tidak menyadari pandangan keliru ini
sehingga mereka terjerat dalam pandangan salah dan
akibatnya.
Yang dimaksud dengan
banjir ketidaktahuan (avijjogha) adalah tidak mengetahui
tentang kesunyataan, kebenaran abadi, yang ada di alam
semesta ini. Tidak tahu tentang dukkha, asal mula dukkha,
lenyapnya dukkha, dan jalan menuju lenyapnya dukkha. Tanpa
ketidaktahuan maka tidak akan muncul kebijaksanaan.
Keempat banjir ini
merupakan ikatan dan pengotoran, yang terkait antara yang
satu dengan lainnya. Pada dasarnya kekotoran batin akan
terus mengalir dalam diri kita menimbulkan kesenangan
indra yang berlebihan, memunculkan pandangan salah tentang
hidup dan kehidupan ini, keinginan untuk hidup di alam
manusia atau di alam yang lebih baik, dan tidak munculnya
kebijaksanan.
Seperti halnya
banjir yang terjadi saat ini di Jakarta dan sejumlah
tempat lainnya. Banjir yang ada di dalam diri akan semakin
besar apabila kadar kekotoran batin dalam diri kita juga
cukup tebal. Semakin bijaksana diri kita, kadar banjir
akan semakin kurang. Masalahnya, seberapa kuat kadar
bijaksana dan seberapa lama kita bisa bertahan? Oleh
karena itu, penting bagi semua orang untuk meningkatkan
kadar batinnya.
|