Tuntutan tak Terpenuhi
Warga Kutuh Demo
di Depan Four Seasons
Gianyar
(Bali Post) -
Ratusan warga Banjar Kutuh, Sayan, Ubud berdemonstarsi di
jalan depan Four Seasons Resort, menyusul belum
terpenuhinya tuntutan mereka oleh pihak hotel bersangkutan,
Sabtu (21/2) malam. Aksi unjuk rasa tersebut juga
dibarengi warga dengan melakukan perusakan terhadap jalan
keluar masuk hotel. Puluhan aparat Polres Gianyar dan
Polsek Ubud pun diturunkan untuk menghalau sekitar 500-an
warga tersebut, termasuk Kapolres Gianyar AKBP Dewa Made
Parsana.
Di hadapan massa,
Kapolres mencoba memberi peringatan-peringatan dan imbauan
agar warga tidak lagi melakukan perusakan untuk memenuhi
tuntutan mereka.
Karena masih ada jalan lain yang lebih santun untuk
memecahkan permasalahan tersebut, yakni duduk bersama
untuk menghasilkan kesepakatan.
Dikatakan Kapolres,
aksi unjuk rasa dengan melakukan perusakan terhadap
fasilitas umum bahkan hingga mengganggu jalur lalu lintas
merupakan aksi yang dapat ditindak secara hukum.
Namun sayang, meski
berkali-kali peringatan itu disampaikan, ternyata tak
digubris. Warga tak menghiraukan peringatan itu dan terus
melanjutkan aksinya dengan menggesek-gesekkan botol
minuman mineral ke aspal sambil menyanyikan lagu yang
biasa dinyanyikan suporter sepak bola ''ole-ole''. Mereka
juga balik meneriaki dan menghujat Kapolres.
Tetapi, Kapolres
yang sempat beberapa tahun bertugas di Kota Bandung itu
tak putus asa. Ia terus berupaya menenangkan dan memberi
penjelasan-penjelasan kepada warga. ''Lebih baik pulang
sekarang daripada harus memohon dipulangkan setelah
ditindak aparat. Karena sekecil apa pun kerusakan yang
terjadi, aparat tetap akan menindak oknum yang melakukan,''
ungkapnya.
Kapolres kemudian
melobi Klian Banjar Adat setempat, Wayan Sinteg, untuk
membubarkan warga. Sinteg akhirnya meminta warganya untuk
membubarkan diri, karena tidak ada pertemuan dengan pihak
hotel malam itu, dan pertemuan akan dilakukan setelah
menemukan waktu yang tepat.
Walau agak berat
hati, warga yang berunjuk rasa sejak pukul 18.00 wita itu
akhirnya membubarkan diri sekitar pukul 22.00 wita.
Berdasarkan
informasi di TKP, aksi tersebut dilakukan akibat tidak
terpenuhinya tuntutan warga oleh pihak hotel, di antaranya
tuntutan uang 2.500 dolar AS yang diserahkan pihak hotel
kepada banjar setempat setiap bulan. Di samping juga
tuntutan beras dan daging babi seberat masing-masing 200
kg untuk setiap pelaksanaan piodalan pada sejumlah pura
yang ada di banjar bersangkutan.
Pihak hotel mengaku
hanya mampu memberi sumbangan sebesar Rp 10 juta (sebelumnya
Rp 6,4 juta) per bulan dengan bantuan beras dan daging
babi setiap piodalan seberat masing-masing 100 kg.
Sementara itu,
setelah pengunjuk rasa membubarkan diri, tampak puluhan
aparat kembali memperbaiki jalan keluar masuk hotel yang
dirusak warga. (bal)
|