Berikan
Pernyataan Kontroversial Winasa
Dilaporkan ke Polisi
Negara (Bali
Post) -
Pernyataan Bupati Jembrana I Gede Winasa di sebuah media
cetak yang terbit Jumat (20/2) lalu membuat sejumlah warga
Tegal Cangkring, Mendoyo tersinggung. Pernyataan
kontroversial Winasa antara lain menyinggung soal Partai
Komunis Indonesia (PKI). Sekitar 50 warga pun mengadakan
pertemuan di Balai Desa Tegal Cangkring, Sabtu (21/2) lalu
dipimpin Kades Tegal Cangkring Wayan Miarda. Pada
kesempatan itu pula Bupati Jembrana Winasa langsung
menyampaikan permintaan maaf.
Ternyata
mereka belum puas dengan permantaan maaf Bupati itu.
Selanjutnya, Kades Tegal Cangkring bersama Ketua BPD Putu
Darmada dan beberapa warga datang ke Polres Jembrana
melaporkan Winasa.
Bupati yang juga
Ketua DPC PDI-P Jembrana ini dilaporkan karena telah
melakukan penghinaan sesuai pasal 310 KUHP dengan nomor
laporan Lap/22/K/II/2004 Polres Jembrana. Sebagai saksi
dalam laporan tersebut adalah Putu Darmada dan Made
Sukirta. ''Setelah membaca berita tentang pernyataan
Winasa yang intinya mengatakan selain Guru Lagas - ayah
Winasa--semuanya PKI, warga sangat berkeberatan. Keberatan
ini muncul saat masyarakat berkumpul di Pura Puseh,''
jelas Miarda.
Winasa yang dimintai
konfirmasi Minggu (22/2) kemarin tentang pelaporan dirinya
ke Polres Jembrana tidak mau berkomentar panjang. ''Saya
tidak mau memberikan komentar apa-apa terkait pelaporan
ini,'' ujarnya. Sebelumnya, Winasa mengaku tidak pernah
mengatakan masyarakat Tegal Cangkring PKI, dia hanya
menekankan kalau keluarganya adalah orang PNI.
Dalam pertemuan di
Balai Desa, Klian Adat Banjar Delod Bale Agung Ketut
Mastra sempat diusir warga. Mastra yang mencoba
menjelaskan persoalan sehubungan dengan pemanggilan enam
kadus ke rumah Winasa dituding membela Winasa. Karena
itulah suasana jadi memanas.
Dalam pertemuan itu,
beberapa warga sempat berorasi menyampaikan unek-uneknya,
salah satunya adalah Ngurah Hartono. Ketua Forum Garda
Republik yang juga warga Tegal Cangkring ini minta Winasa
dihadirkan sekaligus minta maaf di depan warga.
Upaya mendatangkan
Winasa sempat molor, karena dia sedang ada di kantor.
Mereka yang turut ''menjemput'' Winasa antara lain Kades
dan Ketua BPD. Setelah melakukan perundingan, Winasa
akhirnya bersedia datang.
Di depan warga,
Winasa menyampaikan kronologi kejadian, melakukan
klarifikasi serta menyampaikan permintaan maaf. Soal
tulisan yang ada di buku biografinya, ''Anak Desa
Penantang Zaman'' pun akan diklarifikasi. Dalam buku
terbitan Komunitas Kertas Budaya itu halaman 18-19
tertulis, bahwa Guru Lagas adalah satu-satunya orang PNI
di Tegal Cangkring, sementara di kanan kiri arus politik
begitu derasnya menggulung masyarakat dengan ideologi
komunis. Winasa mempertanyakan apakah permintaan maafnya
diterima warga. Sebagian warga menyambut dengan koor ''terima''
dan membubarkan diri. Namun ada yang belum puas dengan
klarifikasi ini dan melaporkan ke Polres Jembrana.
(wah)
|