Soal Tawuran Antarpelajar
Dampak ''Sick
Model'' dan Lemahnya Kontrol
Tawuran antarpelajar
di kota metropolitan tampaknya sudah menjadi semacam ikon.
Tampaknya model itu sudah ditiru oleh sejumlah pelajar di
Bali. Terbukti, puluhan siswa SMP favorit di Denpasar
terlibat perkelahian, Jumat (20/2) lalu. Kendati tak
sampai menelan korban, kasus itu telah mencengangkan
banyak pihak, karena sebelum melakukan penyerangan,
anak-anak itu minum minuman keras berupa bir dan arak. Apa
komentar pengamat dan praktisi pendidikan terhadap kasus
ini?
PERILAKU agresif
yang dilakukan remaja seperti tawuran antarpelajar rupanya
digerakkan oleh sick model (model yang salah) yang pernah
dilihatnya. Pengamat pendidikan Drs. I Ketut Pande
Suastawa, M.S. mengatakan perilaku agresif model itu bisa
dilihat di lingkungannya --keluarga, teman dekat dan orang
sekitarnya. Juga di tempat lain yang terekam lewat layar
kaca. Terjadinya perilaku seperti itu karena pikiran
mereka tidak terkontrol dengan bagus alias tak ada self
control. Lemahnya kontrol diri itu akibat lemahnya kontrol
sosial (social control) yakni orangtua, teman, orang
dewasa, guru dan sebagainya.
Demikian juga
anak-anak sampai menenggak minuman keras, juga tak
terlepas dari model yang pernah dilihatnya. Model yang
keliru itu akhirnya ditiru begitu saja.
Agar anak-anak tak
mudah meniru model yang salah, kuncinya berada pada
kontrol tersebut, terutama orangtua. Orangtua mesti lebih
intensif melakukan kontrol. Mereka mesti menyediakan waktu
yang lebih banyak bagi anak-anak, terutama komunikasi.
Interaksi dan komunikasi secara intens mesti dibangun.
Komunikasi itu tak hanya dilakukan kepada anak, juga guru
dan orangtua murid yang lain. Dengan saling melakukan
komunikasi, semua pihak ikut melakukan kontrol terhadap
para pelajar. Apa yang dilakukan oleh anak-anak bisa
terdeteksi lebih dini. ''Ada semacam multikomunikasi untuk
mencegah tindakan yang tak kita inginkan bersama,''
ujarnya.
Pihak sekolah, kata
Suastawa, yang Pembatu Rektor Bidang Akademik Universitas
Mahasaraswati, barangkali sudah melakukan pemetaan siswa.
Pemetaan itu penting menyangkut identitas anak, termasuk
kemampuannya dan karakter anak-anak. Dari pemetaan itu
akan tergambar anak-anak yang memiliki kemampuan di atas
normal (genius) dan di bawah rata-rata normal. Terutama
anak-anak yang memiliki kemampuan di bawah normal mesti
diberi perhatian lebih berupa bimbingan yang intensif atau
remidial.
Sementara jika ada
penyimpangan perilaku, hukuman mutlak diberikan kepada
anak. ''Dengan pemetaan kemampuan anak, guru-guru dengan
mudah dapat memberikan bimbingan dan mengamati
perkembangan anak didik,'' ujarnya. Pande Suastawa menduga,
munculnya tawuran antarpelajar yang melibatkan sejumlah
siswa SMPN 1 dan SMPN 3 lebih banyak karena mempertahankan
image sekolahnya, sehingga muncul rasa kesetiakawanan yang
tinggi. Karena self control masing-masing anak lemah,
demikian pula social control juga kebablasan, akhirnya
muncul perilaku yang agresif seperti itu.
Biar kasus seperti
tak terulang di sekolah-sekolah yang lain, hukuman perlu
ditegakkan. Sekolah-sekolah yang lain mesti menjadikan
kasus ini pelajaran berharga. Sekolah mesti
mensosialisasikan hukuman bagi siswanya yang melakukan
tawuran antarpelajar. Sosialisasi itu juga ditembuskan
kepada orangtua siswa sehingga sama-sama dapat melakukan
kontrol. ''Jika tidak ingin muncul sick model kedua
terjadi di sekolah lain, penegakan hukum mutlak dilakukan,''
katanya. Kadis Pendidikan Propinsi Bali I Gusti Ngurah Oka,
S.E. berharap kasus ini tidak terulang lagi. Karena itu,
semua pihak mesti ikut melakukan kontrol. ''Antisipasi
sedini mungkin perlu dilakukan agar kasus kriminal yang
melibatkan anak pelajar tak menjadi trend di Bali. Peran
semua pihak sangat diperlukan untuk menjadikan anak-anak
pelajar yang cerdas sekaligus berbudi luhur,'' ujarnya.
Dikatakannya,
masing-masing sekolah memiliki peraturan sendiri sesuai
dengan semangat school base management. Juga berkaitan
dengan perilaku menyimpang yang dilakukan anak didik,
sekolah memiliki peraturan dan sanksi apa yang
diberlakukan. ''Berkaitan dengan ini, pendidikan budi
pakerti mesti ditingkatkan. Kontrol dari semua pihak mesti
lebih intensif sehingga kejadian serupa tak terulang,''
ujarnya.
Ketua STIKOM Bali
Drs. Dadang Hermawan, Ak., M.M. sepakat dengan Pande
Suastawa bahwa self control dan social control lemah
sehingga tawuran antarpelajar bisa terjadi. Untuk
mengantisipasi hal itu perlu diperbanyak kegiatan di
sekolah. Di samping itu perlu tumbuhkan keteladanan di
kalangan pelajar. * subrata
|