kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 23 Pebruari 2004

 Bali


Soal Tawuran Antarpelajar

Dampak ''Sick Model'' dan Lemahnya Kontrol

Tawuran antarpelajar di kota metropolitan tampaknya sudah menjadi semacam ikon. Tampaknya model itu sudah ditiru oleh sejumlah pelajar di Bali. Terbukti, puluhan siswa SMP favorit di Denpasar terlibat perkelahian, Jumat (20/2) lalu. Kendati tak sampai menelan korban, kasus itu telah mencengangkan banyak pihak, karena sebelum melakukan penyerangan, anak-anak itu minum minuman keras berupa bir dan arak. Apa komentar pengamat dan praktisi pendidikan terhadap kasus ini?

PERILAKU agresif yang dilakukan remaja seperti tawuran antarpelajar rupanya digerakkan oleh sick model (model yang salah) yang pernah dilihatnya. Pengamat pendidikan Drs. I Ketut Pande Suastawa, M.S. mengatakan perilaku agresif model itu bisa dilihat di lingkungannya --keluarga, teman dekat dan orang sekitarnya. Juga di tempat lain yang terekam lewat layar kaca. Terjadinya perilaku seperti itu karena pikiran mereka tidak terkontrol dengan bagus alias tak ada self control. Lemahnya kontrol diri itu akibat lemahnya kontrol sosial (social control) yakni orangtua, teman, orang dewasa, guru dan sebagainya.

Demikian juga anak-anak sampai menenggak minuman keras, juga tak terlepas dari model yang pernah dilihatnya. Model yang keliru itu akhirnya ditiru begitu saja.

Agar anak-anak tak mudah meniru model yang salah, kuncinya berada pada kontrol tersebut, terutama orangtua. Orangtua mesti lebih intensif melakukan kontrol. Mereka mesti menyediakan waktu yang lebih banyak bagi anak-anak, terutama komunikasi. Interaksi dan komunikasi secara intens mesti dibangun. Komunikasi itu tak hanya dilakukan kepada anak, juga guru dan orangtua murid yang lain. Dengan saling melakukan komunikasi, semua pihak ikut melakukan kontrol terhadap para pelajar. Apa yang dilakukan oleh anak-anak bisa terdeteksi lebih dini. ''Ada semacam multikomunikasi untuk mencegah tindakan yang tak kita inginkan bersama,'' ujarnya.

Pihak sekolah, kata Suastawa, yang Pembatu Rektor Bidang Akademik Universitas Mahasaraswati, barangkali sudah melakukan pemetaan siswa. Pemetaan itu penting menyangkut identitas anak, termasuk kemampuannya dan karakter anak-anak. Dari pemetaan itu akan tergambar anak-anak yang memiliki kemampuan di atas normal (genius) dan di bawah rata-rata normal. Terutama anak-anak yang memiliki kemampuan di bawah normal mesti diberi perhatian lebih berupa bimbingan yang intensif atau remidial.

Sementara jika ada penyimpangan perilaku, hukuman mutlak diberikan kepada anak. ''Dengan pemetaan kemampuan anak, guru-guru dengan mudah dapat memberikan bimbingan dan mengamati perkembangan anak didik,'' ujarnya. Pande Suastawa menduga, munculnya tawuran antarpelajar yang melibatkan sejumlah siswa SMPN 1 dan SMPN 3 lebih banyak karena mempertahankan image sekolahnya, sehingga muncul rasa kesetiakawanan yang tinggi. Karena self control masing-masing anak lemah, demikian pula social control juga kebablasan, akhirnya muncul perilaku yang agresif seperti itu.

Biar kasus seperti tak terulang di sekolah-sekolah yang lain, hukuman perlu ditegakkan. Sekolah-sekolah yang lain mesti menjadikan kasus ini pelajaran berharga. Sekolah mesti mensosialisasikan hukuman bagi siswanya yang melakukan tawuran antarpelajar. Sosialisasi itu juga ditembuskan kepada orangtua siswa sehingga sama-sama dapat melakukan kontrol. ''Jika tidak ingin muncul sick model kedua terjadi di sekolah lain, penegakan hukum mutlak dilakukan,'' katanya. Kadis Pendidikan Propinsi Bali I Gusti Ngurah Oka, S.E. berharap kasus ini tidak terulang lagi. Karena itu, semua pihak mesti ikut melakukan kontrol. ''Antisipasi sedini mungkin perlu dilakukan agar kasus kriminal yang melibatkan anak pelajar tak menjadi trend di Bali. Peran semua pihak sangat diperlukan untuk menjadikan anak-anak pelajar yang cerdas sekaligus berbudi luhur,'' ujarnya.

Dikatakannya, masing-masing sekolah memiliki peraturan sendiri sesuai dengan semangat school base management. Juga berkaitan dengan perilaku menyimpang yang dilakukan anak didik, sekolah memiliki peraturan dan sanksi apa yang diberlakukan. ''Berkaitan dengan ini, pendidikan budi pakerti mesti ditingkatkan. Kontrol dari semua pihak mesti lebih intensif sehingga kejadian serupa tak terulang,'' ujarnya.

Ketua STIKOM Bali Drs. Dadang Hermawan, Ak., M.M. sepakat dengan Pande Suastawa bahwa self control dan social control lemah sehingga tawuran antarpelajar bisa terjadi. Untuk mengantisipasi hal itu perlu diperbanyak kegiatan di sekolah. Di samping itu perlu tumbuhkan keteladanan di kalangan pelajar. * subrata

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)