kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 23 Pebruari 2004

 Bali


Pejabat dan Elite Politik perlu Di-''perayascita''
* Cenderung Salah Gunakan Kekuasaan

Denpasar (Bali Post) -
Upacara pemerayascita bhumi yang telah digelar Jumat (20/2) mesti ada langkah berikutnya terhadap orang-orang (pawongan). Para pejabat birokrasi dan elite politik juga perlu di-perayascita. Terlebih lagi para pejabat dan elite politik makin menunjukkan gejala menyalahgunakan kekuasaan serta melakukan upaya mempertahankan kekuasaan dengan cara yang tidak semestinya.

Demikian disampaikan I Dewa Putu Singarsa, Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Denpasar di sela-sela acara penanaman pohon mangrove di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Jalan By-pass Ngurah Rai, Minggu (22/2) kemarin.

Hukum sebab akibat mengatakan bahwa segala kejadian merupakan suatu akibat dari perbuatan yang dilakukan. Pemerayascita bhumi, kata Singarsa, sudah dilakukan sebagai wujud maaf kepada alam. Yang paling substansial harus dilakukan adalah pemerayascita pejabat sebagai bentuk tanggung jawab terhadap segala kebijakan yang telah diambil untuk memperkaya diri. "Kami GMNI Denpasar tidak mempercayai pemerintah daerah memberantas KKN," tegas Singarsa.

Buktinya, pejabat justru ramai-ramai mengangkat kerabat atau saudaranya menjadi kepala dinas dan kepala badan serta posisi strategis lainnya. Kebijakan ini menurut Singarsa yang juga didukung seluruh jajaran pimpinan DPC GMNI Denpasar menunjukkan tidak adanya iktikad baik untuk memberantas KKN.

Di sisi lain, DPC GMNI Denpasar menyayangkan ketika para pejabat saat ini lebih memilih untuk menjadi juru kampanye sebuah partai politik. Jika pejabat jadi jurkam, mereka akan cenderung menggunakan fasilitas dan uang negara demi kepentingan parpolnya.

Selain pejabat, para calon anggota legislatif (caleg) dari parpol menurut Wakil Ketua Bidang Politik DPC GMNI Denpasar Gede Sutrawan, juga perlu di-perayascita. Gejala para caleg dengan cara-cara yang tidak layak semisal menggunakan uang sudah makin kentara. Pemerayascita dalam konteks ini dimaksudkan untuk mengingatkan para caleg akan hukum sebab akibat. Ketika yang digunakan jalan yang tidak baik maka hasilnya adalah ketidakbaikan. Masalahnya tidak hanya caleg tersebut yang harus menanggung perbuatannya tetapi juga seluruh rakyat.

1.500 Pohon

Kegiatan penanaman pohon mangrove yang dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan ini juga berkaitan dengan peringatan 50 tahun GMNI. Ketua Panitia Semarak 50 Tahun GMNI, Klipz Dharamaja, menyebutkan 1.500 pohon mangrove ditanam dengan dibantu pelajar SMU, mahasiswa serta LSM seperti WWF Indonesia dan Bahtera Nusantara.

Diharapkan dari adanya kebersamaan di kalangan generasi muda ini, akan muncul rasa nasionalisme, walaupun bentuknya kecil. Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa GMNI tidak hanya bicara tetapi mampu berbuat dan memberi solusi bagi negara.(kmb14)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)