kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 23 Pebruari 2004

 Bali


Dari Warung Global Interaktif - ''Bali Post''

Tawuran, Cermin Bobroknya Sistem Pendidikan

Tawuran antarsiswa SMP yang terjadi Jumat (20/2) lalu di depan kantor DPD Partai Golkar Bali bukan semata-mata kesalahan siswa tersebut, tetapi kesalahan kita semua, baik guru, sekolah maupun orangtua. Tawuran tersebut menjadi cermin bobroknya sistem pendidikan, karena tak ada penetrasi mendalam ke arah psikologisnya. Karena itu, peran orangtua justru paling penting dalam pembentukan mentalitas anak. Sistem pembinaan yang baik terhadap anak adalah menghukum anak yang melanggar hukum, bukan membiarkan. Hal itu terungkap dalam acara Warung Global yang disiarkan langsung Radio Global FM 99,15 Kini Jani Bali, Sabtu (21/2). Acara ini dipancarluaskan Radio Genta Bali dan Singaraja FM. Berikut rangkumannya.

Haji Bambang, penelepon pertama Warung Global, mengaku prihatin dengan adanya tawuran antarsiswa Jumat lalu, karena mereka masih mengenakan seragam Pramuka. Padahal, seorang anggota Pramuka, menurutnya, harus mampu memahami arti Pramuka sepenuhnya. Dia menyebutkan tiga hal penyebab anak-anak melakukan tawuran. Pertama, anak pada masa itu sedang mencoba untuk mencari jati diri. Hal ini bisa dilakukan dengan menunjukkan pada temannya siapa yang paling jago. Yang kedua, kurang perhatian orangtua sehingga anak dibiarkan bebas bergaul dengan lingkungan sekitarnya yang belum tentu baik buat perkembangan anak itu sendiri. Ketiga, karena hobi anak yang tak tersalurkan. Akibatnya, anak seusia ini akan menyalurkan dengan cara yang lain. Salah satunya dengan berkelahi antarteman sendiri. Dalam hal ini, Haji Bambang meminta semua pihak untuk tidak saling menyalahkan satu sama lain, karena anak didik milik kita semua. Tidak adil jika hanya menyalahkan guru-guru di sekolah, sebab tugasnya hanya memberikan pelajaran sebatas jam sekolah, bukan membentuk karakter anak. ''Tugas membentuk karakter anak adalah orangtua mereka di rumah,'' ujarnya.

Sementara Pawangsa menganggap tawuran antarsiswa itu dipengaruhi tayangan televisi. Dia menilai televisi sekarang lebih banyak menayangkan peristiwa kriminal, sehingga mempengaruhi mentalitas anak. Pada anak seusia ini, mereka cenderung mengikuti apa yang ditontonnya.

Dia sangat menyayangkan tawuran itu, apalagi terjadi di lingkungan sekolah. Lebih-lebih sekolah merupakan tempat anak-anak diajar hal yang baik, bukan berkelahi antarteman sendiri. Untuk mencegah terjadinya tawuran antarsiswa ini, satu hal yang paling penting, kata dia, orangtua mempunyai peranan yang sangat vital dalam membentuk mentalitas anak, karena waktu anak lebih banyak berada dalam pengawasan orangtua. Jadi orangtua harus betul-betul memperhatikan perkembangan anak-anak mereka setiap harinya. Di samping itu, orangtua harus menerapkan pola pendidikan anak ke arah yang lebih baik. Salah satunya dengan cara memberi pelajaran budi pekerti kepada anak di rumah dan juga mengontrol ke mana anak itu bermain.

Sementara itu, Kobra memandang tawuran yang terjadi antarsiswa SMP Jumat lalu sebagai suatu peringatan dari Tuhan. Beberapa minggu terakhir, Bali dilanda musibah bencana alam, dan sekarang tawuran antarsiswa. Ini gejala apa? Kata Kobra, hanya Tuhan yang tahu. Dalam mengatasi permasalahan ini, dia mengharapkan semua pihak turut andil dalam membina kepribadian anak. Bahkan, kalau perlu pihak pemerintah, kepolisian, sektor agama, dan pendidikan bersama bahu-membahu memberikan penyuluhan terhadap anak-anak sekolah tentang bagaimana memahami hidup dan bergaul di masyarakat.

Nyoman Ledang Asmara melihat tawuran yang terjadi Jumat lalu cermin bobroknya sistem pendidikan. Sebab, tidak ada penetrasi yang mendalam kearah psikologisnya, yakni pendalaman ke arah psikomotorik, kecakapan, dan instingnya tidak dicantumkan dalam sistem pendidikan yang ada sekarang. Kata dia, tawuran Jumat lalu tidak hanya terjadi sekali, sudah terjadi sejak zaman dahulu.

Dia menilai sistem pendidikan sekarang ini lebih banyak membaca untuk mencapai tingkat kelulusan tanpa memperhatikan pendidikan mentalitas anak. Untuk itu, dia menganjurkan agar sistem pendidikan di Indonesia kembali ke sistem pendidikan zaman Belanda. Saat itu, menurut dia, siswa sekolah mampu memahami pelajaran yang diberikan gurunya. Bahkan, mampu berkomunikasi dengan bahasa Belanda.

Prianus di Denpasar berpendapat lain, anak seusia SLTP ini mempunyai mentalitas yang labil. Mental mereka masih goyah, mudah terombang-ambing dengan suasana lingkungannya. Salah satu penyebab labilnya mental anak adalah tayangan televisi, yang selalu menayangkan kriminal pada jam-jam di mana anak banyak menonton. Semua pihak diharapkan mampu memberikan jalan pemecahan terbaik.

Menurutnya, ada dua faktor yang menyebabkan anak melakukan tindakan buruk. Pertama, faktor endogen atau sifat turunan yang berasal dari anak itu sendiri. Kedua, faktor eksogen yang berasal dari luar anak, barangkali karena rasa solidaritas terhadap teman, mereka melakukan tindakan yang semestinya tidak dilakukan seorang anak, apalagi siswa SMP.

Maria di Denpasar berpendapat tawuran antarsiswa kemarin jangan terlalu dibesar-besarkan. Dia meminta jangan saling menyalahkan satu sama lain dalam kasus ini. Namun, jadikan sebagai sarana introspeksi untuk tidak terulang kembali peristiwa tawuran antarsiswa. Maria mengharapkan semua pihak utamanya orangtua murid dan guru-guru di sekolah memberikan suatu kegiatan yang positif pada anak, sehingga akan mampu meredam emosi yang masih belum stabil pada diri anak.

Sementara itu, Guru Made sependapat dengan Ledang Asmara tentang sistem pendidikan yang masih terlalu primitif. Dia mencontohkan siswa tidak naik kelas, tetapi dinaikkan. Siswa yang berbuat salah tidak diberikan hukuman oleh gurunya. Kalau tindakannya salah dibiarkan, mereka akan terus melakukannya. Jadi siswa yang melakukan pelanggaran di sekolah perlu dihukum dengan tujuan memberikan pembinaan terhadap si anak.

Made Merta di Bangli berpendapat, orangtua mempunyai peranan besar dalam membina kepribadian anak. Dia menganjurkan orangtua siswa untuk memberikan penanaman nilai keagamaan pada anak di rumah setelah itu menjadi tanggung jawab gurunya di sekolah.

Darmayasa, penelpon terakhir dari Singaraja, mengatakan jika seorang guru menantang siswa berkelahi bukan berarti guru itu arogan. Namun, agar anak itu bisa berubah karena ditantang gurunya. Dia berharap tawuran Jumat kemarin tidak terjadi di sekolah lain di Bali. (ham)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)