Dari Warung Global Interaktif - ''Bali Post''
Tawuran, Cermin
Bobroknya Sistem Pendidikan
Tawuran antarsiswa
SMP yang terjadi Jumat (20/2) lalu di depan kantor DPD
Partai Golkar Bali bukan semata-mata kesalahan siswa
tersebut, tetapi kesalahan kita semua, baik guru, sekolah
maupun orangtua. Tawuran tersebut menjadi cermin bobroknya
sistem pendidikan, karena tak ada penetrasi mendalam ke
arah psikologisnya. Karena itu, peran orangtua justru
paling penting dalam pembentukan mentalitas anak. Sistem
pembinaan yang baik terhadap anak adalah menghukum anak
yang melanggar hukum, bukan membiarkan. Hal itu terungkap
dalam acara Warung Global yang disiarkan langsung Radio
Global FM 99,15 Kini Jani Bali, Sabtu (21/2). Acara ini
dipancarluaskan Radio Genta Bali dan Singaraja FM. Berikut
rangkumannya.
Haji Bambang,
penelepon pertama Warung Global, mengaku prihatin dengan
adanya tawuran antarsiswa Jumat lalu, karena mereka masih
mengenakan seragam Pramuka. Padahal, seorang anggota
Pramuka, menurutnya, harus mampu memahami arti Pramuka
sepenuhnya. Dia menyebutkan tiga hal penyebab anak-anak
melakukan tawuran. Pertama, anak pada masa itu sedang
mencoba untuk mencari jati diri. Hal ini bisa dilakukan
dengan menunjukkan pada temannya siapa yang paling jago.
Yang kedua, kurang perhatian orangtua sehingga anak
dibiarkan bebas bergaul dengan lingkungan sekitarnya yang
belum tentu baik buat perkembangan anak itu sendiri.
Ketiga, karena hobi anak yang tak tersalurkan. Akibatnya,
anak seusia ini akan menyalurkan dengan cara yang lain.
Salah satunya dengan berkelahi antarteman sendiri. Dalam
hal ini, Haji Bambang meminta semua pihak untuk tidak
saling menyalahkan satu sama lain, karena anak didik milik
kita semua. Tidak adil jika hanya menyalahkan guru-guru di
sekolah, sebab tugasnya hanya memberikan pelajaran sebatas
jam sekolah, bukan membentuk karakter anak. ''Tugas
membentuk karakter anak adalah orangtua mereka di rumah,''
ujarnya.
Sementara Pawangsa
menganggap tawuran antarsiswa itu dipengaruhi tayangan
televisi. Dia menilai televisi sekarang lebih banyak
menayangkan peristiwa kriminal, sehingga mempengaruhi
mentalitas anak. Pada anak seusia ini, mereka cenderung
mengikuti apa yang ditontonnya.
Dia sangat
menyayangkan tawuran itu, apalagi terjadi di lingkungan
sekolah. Lebih-lebih sekolah merupakan tempat anak-anak
diajar hal yang baik, bukan berkelahi antarteman sendiri.
Untuk mencegah terjadinya tawuran antarsiswa ini, satu hal
yang paling penting, kata dia, orangtua mempunyai peranan
yang sangat vital dalam membentuk mentalitas anak, karena
waktu anak lebih banyak berada dalam pengawasan orangtua.
Jadi orangtua harus betul-betul memperhatikan perkembangan
anak-anak mereka setiap harinya. Di samping itu, orangtua
harus menerapkan pola pendidikan anak ke arah yang lebih
baik. Salah satunya dengan cara memberi pelajaran budi
pekerti kepada anak di rumah dan juga mengontrol ke mana
anak itu bermain.
Sementara itu, Kobra
memandang tawuran yang terjadi antarsiswa SMP Jumat lalu
sebagai suatu peringatan dari Tuhan. Beberapa minggu
terakhir, Bali dilanda musibah bencana alam, dan sekarang
tawuran antarsiswa. Ini gejala apa? Kata Kobra, hanya
Tuhan yang tahu. Dalam mengatasi permasalahan ini, dia
mengharapkan semua pihak turut andil dalam membina
kepribadian anak. Bahkan, kalau perlu pihak pemerintah,
kepolisian, sektor agama, dan pendidikan bersama
bahu-membahu memberikan penyuluhan terhadap anak-anak
sekolah tentang bagaimana memahami hidup dan bergaul di
masyarakat.
Nyoman Ledang Asmara
melihat tawuran yang terjadi Jumat lalu cermin bobroknya
sistem pendidikan. Sebab, tidak ada penetrasi yang
mendalam kearah psikologisnya, yakni pendalaman ke arah
psikomotorik, kecakapan, dan instingnya tidak dicantumkan
dalam sistem pendidikan yang ada sekarang. Kata dia,
tawuran Jumat lalu tidak hanya terjadi sekali, sudah
terjadi sejak zaman dahulu.
Dia menilai sistem
pendidikan sekarang ini lebih banyak membaca untuk
mencapai tingkat kelulusan tanpa memperhatikan pendidikan
mentalitas anak. Untuk itu, dia menganjurkan agar sistem
pendidikan di Indonesia kembali ke sistem pendidikan zaman
Belanda. Saat itu, menurut dia, siswa sekolah mampu
memahami pelajaran yang diberikan gurunya. Bahkan, mampu
berkomunikasi dengan bahasa Belanda.
Prianus di Denpasar
berpendapat lain, anak seusia SLTP ini mempunyai
mentalitas yang labil. Mental mereka masih goyah, mudah
terombang-ambing dengan suasana lingkungannya. Salah satu
penyebab labilnya mental anak adalah tayangan televisi,
yang selalu menayangkan kriminal pada jam-jam di mana anak
banyak menonton. Semua pihak diharapkan mampu memberikan
jalan pemecahan terbaik.
Menurutnya, ada dua
faktor yang menyebabkan anak melakukan tindakan buruk.
Pertama, faktor endogen atau sifat turunan yang berasal
dari anak itu sendiri. Kedua, faktor eksogen yang berasal
dari luar anak, barangkali karena rasa solidaritas
terhadap teman, mereka melakukan tindakan yang semestinya
tidak dilakukan seorang anak, apalagi siswa SMP.
Maria di Denpasar
berpendapat tawuran antarsiswa kemarin jangan terlalu
dibesar-besarkan. Dia meminta jangan saling menyalahkan
satu sama lain dalam kasus ini. Namun, jadikan sebagai
sarana introspeksi untuk tidak terulang kembali peristiwa
tawuran antarsiswa. Maria mengharapkan semua pihak
utamanya orangtua murid dan guru-guru di sekolah
memberikan suatu kegiatan yang positif pada anak, sehingga
akan mampu meredam emosi yang masih belum stabil pada diri
anak.
Sementara itu, Guru
Made sependapat dengan Ledang Asmara tentang sistem
pendidikan yang masih terlalu primitif. Dia mencontohkan
siswa tidak naik kelas, tetapi dinaikkan. Siswa yang
berbuat salah tidak diberikan hukuman oleh gurunya. Kalau
tindakannya salah dibiarkan, mereka akan terus
melakukannya. Jadi siswa yang melakukan pelanggaran di
sekolah perlu dihukum dengan tujuan memberikan pembinaan
terhadap si anak.
Made Merta di Bangli
berpendapat, orangtua mempunyai peranan besar dalam
membina kepribadian anak. Dia menganjurkan orangtua siswa
untuk memberikan penanaman nilai keagamaan pada anak di
rumah setelah itu menjadi tanggung jawab gurunya di
sekolah.
Darmayasa, penelpon
terakhir dari Singaraja, mengatakan jika seorang guru
menantang siswa berkelahi bukan berarti guru itu arogan.
Namun, agar anak itu bisa berubah karena ditantang gurunya.
Dia berharap tawuran Jumat kemarin tidak terjadi di
sekolah lain di Bali. (ham)
|