kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 8 Desember 2004

 Bias Bali


Menegakkan Kebenaran--

Capai Kedamaian dan ''Purna Mukti''

Dharma atau kebenaran memang harus ditegakkan. Tidak hanya orang per orang mesti konsisten menegakkan dharma, umat manusia secara keseluruhan mesti menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. Dengan demikian dharma atau kebenaran akan selalu menang atau jaya (satyam eva jayate na anertam). Lagi pula kebenaran akan memberi umat jalan yang terang, di samping pengayoman atau perlindungan. Namun, dalam memperjuangkan kebenaran itu umat mesti tetap berpijak pada prinsip-prinsip kebenaran dan kesucian yaitu etika dan moral. Lalu, bagaimana seharusnya umat mengemban nilai-nilai kebenaran?

Kebenaran mesti terus diperjuangkan, terlebih ketika nilai-nilai itu sudah mulai diganggu oleh berbagai kepentingan. Seseorang sering melanggar prinsip-prinsip kebenaran (dharma) karena ingin memuluskan tujuan atau kepentingan sesaatnya. Tetapi, sesungguhnya ia telah membuat lubang sendiri yang sewaktu-waktu dapat membahayakan dirinya, karena didorong oleh sifat-sifat adharma. Oleh karena itu, segala aktivitas sehari-hari mesti dilandasi nilai-nilai kebenaran (satyam). Mesti diingat, kebenaran akan selalu menang atau satyam eva jayate.

Ketua Program Pascasarjana IHDN Denpasar Dr. Ketut Subagiasta mengatakan, dharma atau kebenaran memang harus ditegakkan, yang dalam bahasa agama disebut satyam asti paro dharma. Tidak hanya orang per orang mesti konsisten menegakkan kebenaran, umat manusia secara keseluruhan hendaknya menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. Dengan demikian kebenaran akan selalu menang atau jaya (satyam eva jayate na anertam). Sebab, kebenaranlah yang akan memberi umat jalan yang terang, di samping pengayoman atau perlindungan. Perlindungan dharma itu berlaku kapan saja dan di mana saja (sucahya dharma sarwa praja ca sarwa mandala). ''Dalam menjalankan hakikat hidup, dharma itu mesti dinomorsatukan untuk mencapai tujuan material (harta), cita-cita hidup (kama), dan tercapainya kebebasan terhadap keterikatan sekala dan niskala (purna mukti),'' kata Subagiasta. Jika masing-masing individu mampu menegakkan nilai-nilai kebenaran sesuai dengan swadharma-nya, kedamaian akan tercapai dan konflik sosial bisa dihindari.

Subagiasta yang lulusan S3 pada salah satu universitas kenamaan di India menambahkan, kebenaran tidak bisa dimanipulasi oleh siapa pun, karena kebenaran berada di atas segala-galanya. Karena itu, orang yang menegakkan kebenaran mesti didukung oleh siapa pun. Kebenaran mesti dijunjung tinggi umat manusia, karena memberi perlindungan bagi kita semua dalam mencapai cita-cita.

Dikatakannya, ada empat kriteria yang dapat dijadikan landasan untuk memberi penilaian terwujudnya kebenaran yang disebut Catur Pariksa -- sama, bheda, dhana dan dandha. Demi keadilan dan kebenaran, setiap orang mesti diperlakukan sama (sama) atau tidak dibedakan. Namun, harus dapat dibedakan (bheda) orang yang memang secara nyata telah melakukan kebenaran dengan orang yang telah mengkhianati nilai-nilai kebenaran. Dalam melakukan perjuangan hidup meraih material (dhana), nilai kebenaran tetap dijadikan landasan sehingga tidak terjadi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Penegakan sanksi (dandha) bagi mereka yang melanggar aturan atau nilai kebenaran amat penting, demi tegaknya supremasi kebenaran. Kalau tidak, nilai-nilai kebenaran akan dilecehkan.

Karena itu, kata Subagiasta, kebenaran mesti dijadikan cita-cita bersama demi terwujudnya tujuan hidup mokshartam jagadhita ya ca iti dharma.

Dosen Institut Hindu Dharma Indonesia (IHDI) Negeri Denpasar Drs. Wayan Wastawa, M.A. dan Ketua PS S2 Brahma Widya IHDI Ketut Wisarja, S.Ag., M.Hum. mengatakan moralitas mesti dijunjung tinggi dalam menegakkan kebenaran. Sesungguhnya dharma itu sendiri sudah masuk dalam moralitas. Orang yang melaksanakan sesuatu dengan moralitas sebagai landasannya, sejatinya mereka telah melaksanakan swadharma yang baik. Namun, dalam konteks rwa-bhineda, antara kebenaran dan ketidakbenaran selalu berdampingan. Tugas kita adalah bagaimana agar nilai-nilai kebenaran itu selalu memenangkan ketidakbenaran.

Namun, kata Wastawa lebih lanjut, menegakkan dharma dalam keadaan gawat atau perang membela bangsa dan negara, memang ada semacam toleransi untuk melakukan perbuatan yang seolah-olah bertentangan dengan prinsip dharma itu sendiri. Membunuh dan memperdaya musuh pun dibenarkan. Maka ada istilah musuh wenang lenyokin yang artinya musuh itu bisa ditipu demi menegakkan kebenaran.

Bela Negara

Subagiasta sependapat dengan Wastawa bahwa dalam konteks dharma prawireng negara (membela negara), umat memang dituntut memiliki jiwa kesatria dan pantang menyerah untuk menegakkan kebenaran. Demi membela kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara, keterpanggilan untuk berjiwa satria menjadi keniscayaan. Apa yang dilakukan Arjuna (Pandawa) dalam memerangi musuh-musuhnya dari pihak Korawa, wujud dari dharma prawireng negara. Ia pun terpaksa membunuh musuh-musuhnya yang tiada lain keluarganya sendiri, demi menegakkan kebenaran. Sehingga ketika Arjuna mampu memenangkan perang, ia mendapat gelar Wijaya. Jadi, dalam konteks itu satru, ripu atau musuh mesti dienyahkan agar tidak melecehkan nilai-nilai kebenaran itu sendiri.

Dalan konteks sekarang, masing-masing individu mesti berjuang melawan ''musuh-musuh'' yang dapat menghambat aktivitasnya dalam mencapai cita-cita. Misalnya, seorang petani mesti mampu berjuang untuk meningkatkan produktivitas, sehingga swadharma-nya itu mampu memberi kesejahteraan. Demikian pula seorang guru mesti berani menegakkan kebenaran berupa displin pengajian (aguron-guron) dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. ''Jadi, nilai kebenaran itu mesti ditegakkan demi terhindarnya mahabahaya (bencana besar) yang melanda umat manusia,'' katanya.

Pun, masing-masing individu hendaknya mampu mengalahkan musuh-musuh yang ada dalam diri. Ada enam musuh bercokol dalam diri pribadi sesorang yang disebut sadripu. Kemarahan, keserakahan dan iri hati merupakan musuh-musuh dalam diri yang mesti diperangi. (lun)

Empat Tiang ''Dharma''

DHARMA memiliki empat tiang. Keempat tiang dharma itu mesti dijaga agar tetap kokoh. Agamawan Ir. Made Amir mengatakan umat mesti sungguh-sungguh meluangkan waktu untuk beragama, sehingga tidak sekadar wacana. Sebab, pada prinsipnya beragama itu tercermin pada perilaku sehari-hari. Perilaku beragama itu jelas mencerminkan kebenaran (satyam) yang merupakan salah satu tiang dharma.

Kata Amir lebih lanjut, ada empat tiang dharma yang mesti dijaga agar tidak mengalami kehancuran yakni dhaya/karuna (kasih sayang), satyam (kebenaran), saucam (kesucian) dan tapa (pertapaan). Kasih sayang atau karunia mesti dijaga dengan tidak melakukan pembunuhan terhadap makhluk lain. Satyam atau kebenaran mesti dijaga dengan tidak melakukan perjudian, misalnya. Demikian pula tidak melakukan perzinahan untuk mengamankan tiang dharma yang bernama saucam atau kesucian. ''Itu semua harus dimulai dari diri sendiri, kemudian diimbaskan kepada lingkungan sekitar. Sebab, dharma itu sendiri menyangkut disiplin,'' kata Amir yang dosen Unud ini.

Memperjuangkan kebenaran tidak cukup hanya oleh kalangan agama, tetapi mesti dilakukan oleh individu masing-masing, kemudian diimbaskan kepada lingkungan sekitarnya. Selain itu, perlu ada dialog intens antara orang yang memberi pencerahan agama kepada umat. Hubungan langsung itu akan memberi spirit antara pendharma wacana dengan umat. Di samping itu, akan terjadi dialog atau interaksi, sehingga tidak satu arah.

Dosen Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Drs. Wayan Budi Utama. M.Si. mengatakan, menegakkan suatu kebenaran harus berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Di samping itu, juga menggunakan wiweka jnana atau nalar/logika. Tidak dengan sikap emosional. Dengan menggunakan analisis atau pengkajian secara matang, diharapkan keputusan yang dihasilkan betul-betul terbaik demi kepentingan yang lebih besar.

Budi Utama setuju kebenaran (satyam) itu ditegakkan, sehingga tercapainya kedamaian hidup umat manusia yang selalu berdampingan satu sama lainnya. Kebenaran itu berada di atas segala-galanya, karena itu perlu ditegakkan. (lun)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)