Jangan
Tularkan Kedengkian
Membaca apa yang
disampaikan oleh Permadi, S.H. sebagaimana dimuat di Bali
Post, Minggu (21/11), saya secara pribadi sebagai anggota
masyarakat biasa merasa sedih.
Pada awalnya saya
bangga dan percaya terhadap Sdr. Permadi, ketika dia masih
intens menjadi ''orang pintar'' yang biasa-biasa saja.
Saya percaya dan bangga terhadap kepintarannya meneropong
alam niskala. Akan tetapi saat ini, dia sudah hilang
kontrol sebagai salah satu ''orang pintar'' Indonesia.
Bapak SBY, seperti
halnya Ibu Mega, Bung Karno, Pak Harto dan pemimpin
lainnya adalah bapak dan ibu bangsa kita, berusaha
menyampaikan komitmen positif untuk menampilkan apa yang
hendak beliau lakoni guna membangun bangsa ini dari
keterpurukan, dengan program 100 hari. Apakah itu berupa
kata-kata saja atau disertai langkah nyata, kita lihat
saja nantinya.
Program tersebut
adalah untuk merangsang kita semua agar menjadi lebih baik
dalam kurun waktu singkat yang sudah pasti nantinya akan
dilanjutkan dengan pembuktian lainnya. Masih ada waktu 4
tahun 9 bulan kurang lebih pemerintahan SBY untuk berjuang
mengangkat bangsa ini.
Jangan tularkan
virus kedengkian kehidupan berpolitik, yang meracuni
kami-kami yang di daerah ini dengan pemikiran dan
perkataan. Selalulah melangkah dengan dasar Tri Kaya
Parisudha dan hindarkan sikap-sikap yang teracuni oleh Sad
Ripu. Jangan apriori dulu dan mari kita lihat dan bahkan
turut serta membuat komitmen itu menjadi tindakan nyata.
Jangan lihat siapa yang berbicara, tetapi lihat nilai
komitmen dan langkah nyatanya.
Ibu Mega telah
memimpin bangsa ini dengan bukti nyata menyukseskan pemilu
langsung yang pertama kali dalam sejarah Indonesia dalam
kondisi yang kondusif dan tenang. Bapak SBY selanjutnya
berusaha untuk memegang kepercayaan ini dengan membuat
komitmen-komitmen positif dan menciptakan situasi dan
kondisi bangsa dan masyarakat menjadi lebih tenang dan
kondusif. Saya pribadi merasakan situasi saat ini di
tingkat bawah, terutama di Bali, lebih aman, rasa
persaudaraan mulai menghangat kembali, sikap saling
menghargai dan menghormati mulai terasa serta tidak ada
lagi intrik-intrik dan tindakan anarkis berkepanjangan.
Saran saya, kita
semua melakukan sesuatu yang positif dan bijaksana,
melaksanakan apa yang menjadi swadharma sebagai anggota
masyarakat, warga negara yang baik, di mana pun dan kapan
pun ketika berinteraksi dengan masyarakat. Kontrol diri
dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, serta melakoni apa
yang menjadi swadharma yang berlandaskan Dharma.
I Gd.
Nym. Dharsana Matratanaya
Jl. Kresna No. 5, Br. Pangkung
Desa Telod Peken, Tabanan
|