kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Umanis, 25 Nopember 2004

 Surat Pembaca


Jangan Tularkan Kedengkian

Membaca apa yang disampaikan oleh Permadi, S.H. sebagaimana dimuat di Bali Post, Minggu (21/11), saya secara pribadi sebagai anggota masyarakat biasa merasa sedih.

Pada awalnya saya bangga dan percaya terhadap Sdr. Permadi, ketika dia masih intens menjadi ''orang pintar'' yang biasa-biasa saja. Saya percaya dan bangga terhadap kepintarannya meneropong alam niskala. Akan tetapi saat ini, dia sudah hilang kontrol sebagai salah satu ''orang pintar'' Indonesia.

Bapak SBY, seperti halnya Ibu Mega, Bung Karno, Pak Harto dan pemimpin lainnya adalah bapak dan ibu bangsa kita, berusaha menyampaikan komitmen positif untuk menampilkan apa yang hendak beliau lakoni guna membangun bangsa ini dari keterpurukan, dengan program 100 hari. Apakah itu berupa kata-kata saja atau disertai langkah nyata, kita lihat saja nantinya.

Program tersebut adalah untuk merangsang kita semua agar menjadi lebih baik dalam kurun waktu singkat yang sudah pasti nantinya akan dilanjutkan dengan pembuktian lainnya. Masih ada waktu 4 tahun 9 bulan kurang lebih pemerintahan SBY untuk berjuang mengangkat bangsa ini.

Jangan tularkan virus kedengkian kehidupan berpolitik, yang meracuni kami-kami yang di daerah ini dengan pemikiran dan perkataan. Selalulah melangkah dengan dasar Tri Kaya Parisudha dan hindarkan sikap-sikap yang teracuni oleh Sad Ripu. Jangan apriori dulu dan mari kita lihat dan bahkan turut serta membuat komitmen itu menjadi tindakan nyata. Jangan lihat siapa yang berbicara, tetapi lihat nilai komitmen dan langkah nyatanya.

Ibu Mega telah memimpin bangsa ini dengan bukti nyata menyukseskan pemilu langsung yang pertama kali dalam sejarah Indonesia dalam kondisi yang kondusif dan tenang. Bapak SBY selanjutnya berusaha untuk memegang kepercayaan ini dengan membuat komitmen-komitmen positif dan menciptakan situasi dan kondisi bangsa dan masyarakat menjadi lebih tenang dan kondusif. Saya pribadi merasakan situasi saat ini di tingkat bawah, terutama di Bali, lebih aman, rasa persaudaraan mulai menghangat kembali, sikap saling menghargai dan menghormati mulai terasa serta tidak ada lagi intrik-intrik dan tindakan anarkis berkepanjangan.

Saran saya, kita semua melakukan sesuatu yang positif dan bijaksana, melaksanakan apa yang menjadi swadharma sebagai anggota masyarakat, warga negara yang baik, di mana pun dan kapan pun ketika berinteraksi dengan masyarakat. Kontrol diri dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, serta melakoni apa yang menjadi swadharma yang berlandaskan Dharma.

I Gd. Nym. Dharsana Matratanaya
Jl. Kresna No. 5, Br. Pangkung
Desa Telod Peken, Tabanan

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)