Teror
Kasus Munir
PERKEMBANGAN
kasus Munir yang meninggal di pesawat dalam perjalanannya
dari Singapura ke Balanda, semakin menarik akhir-akhir ini.
Sejak awal, meninggalnya pejuang hak asasi manusia
Indonesia tersebut diliputi kecurigaan, karena kesannya
terlalu tiba-tiba, dan dengan proses yang cepat.
Belakangan,
kecurigaan itu terbukti karena hasil pemeriksaan
laboratorium terhadap jenazah Munir di Belanda,
memperlihatkan bahwa ada kandungan arsenik, zat yang amat
mematikan, dalam tubuh pejuang HAM tersebut. Jadi, semakin
kuatlah dugaan bahwa ia diracun. Perkembangan lanjutan
dari kasus ini semakin membikin orang penasaran karena
hasil pemeriksaan tersebut tidak diserahkan kepada
keluarga Munir, melainkan kepada pemerintah Indonesia
melalui kementerian luar negeri Indonesia. Sampai saat ini,
hasil pemeriksaan tersebut belum diberikan kepada pihak
keluarga mereka. Gejala ini semakin memperkuat dugaan
bahwa memang ada pihak yang menginginkan meninggalnya
Munir.
Yang kemudian
membuat kita tercengang adalah adanya teror-teror kepada
keluarga maupun ke kantor Munir, dalam bentuk paket berupa
potongan kepala ayam dan daging busuk dari pengirim tidak
dikenal.
Semakin yakinlah
masyarakat bahwa Munir tidak meninggal secara wajar.
Betapapun, sektor politis tampaknya berkait dengan
peristiwa ini. Persoalannya terletak pada kenyataan bahwa
pengiriman kepala ayam dan daging busuk kepada keluarga
dan ke kantor Munir, bisa dikualifikasikan sebagai teror
berdimensi tiga.
Pertama, ia jelas
teror psikologis dengan sasaran keluarga Munir dan
rekan-rekan seperjuangannya, termasuk organisasi yang
didirikannya. Tentu saja cara demikian bertujuan untuk
menakut-nakuti keluarga dan rekan-rekannya agar
menghentikan segala penyelidikan lanjutan atas tewasnya
Munir. Tetapi, seperti yang telah diungkap oleh Suciwati,
istrinya, cara teror seperti demikian akan sia-sia karena
keluarga Munir telah terbiasa dengan ancaman-ancamaan
seperti itu. Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan dalam
beraktivitas, keluarga dan kerabat Munir tetap maju terus
mempersoalkan kematian komandannya tanpa takut dengan
berbagai teror yang dialamatkan kepada mereka.
Kedua, teror
tersebut adalah cerminan metode pilihan sosial. Artinya,
baik individu maupun kelompok akan memakai metode seperti
ini dalam menyelesaikan persoalan. Di Indonesia, pemakaian
metode teror semakin meningkat sejak reformasi dan dipakai
oleh kelompok maupun individu tertentu untuk mengancam
lawannya. Hal ini dimungkinkan dengan semakin majunya
teknologi informasi (telepon, internet, faksimile dan
sebagainya). Cara seperti ini jika dibiarkan terus akan
membahayakan masyarakat karena mudah sekali dilakukan.
Siapa pun bisa melakukan metode demikian dan di mana pun
dia mau. Karena itu, harus ada pilihan teknologi dan
tindakan untuk menghentikan metode kotor seperti ini.
Metode teror sosial bukanlah budaya masyarakat beradab.
Ketiga, teror
tersebut merupakan tantangan dari pemerintah baru. Euforia
dari kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden
Indonesia, tidak lain dilatarbelakangi oleh keinginan
masyarakat untuk melakukan perubahan. Perubahan ini
janganlah dimaknai secara dangkal berupa pemberian
kebebasan berekspresi dan berpolitik dari masyarakat. Jika
hal ini yang diinginkan, sesungguhnya kebebasan
berekspresi dan berpolitik itu telah diberikan sejak zaman
Presiden Habibie, Abdurrahman Wahid sampai zaman Megawati
Soekarnoputri. Tetapi, ada hal lain yang tidak bisa
diberikan oleh tiga presiden setelah era Soeharto tersebut.
Hal lain itu adalah keadilan, peningkatan ekonomi dan
keamanan. Keadilan sudah diperjuangkan sejak zaman Gus Dur,
demikian halnya dengan ekonomi. Masyarakat tahu bahwa
perjuangan soal keadilan dan ekonomi itu perlu proses yang
cukup panjang. Tetapi, masalah keamanan selalu gagal
diwujudkan. Jika Megawati mampu mempertahankan laju
ekonomi makro, dalam pemerintahannya tetap dijumpai teror
telepon di kantor-kantor, teror bom yang melanda Bali,
Jakarta dan berbagai lokasi di Ambon, Aceh dan Irian Jaya.
Padahal, Indonesia mempunyai kekuatan kepolisian yang
andal. Kegagalan inilah yang membuat masyarakat mencoba
mengalihkan perhatiannya kepada Susilo Bambang Yudhoyono.
Kalau kita coba
jujur menilai, bukan saja karisma yang membuat rakyat
memilih Susilo Bambang Yudhoyono, tetapi latar belakang
militernyalah yang ikut berperanan. Masyarakat percaya
bahwa kekerasan yang sering terjadi di Indonesia bisa
dipadamkaan dengan disiplin ala militer, tetapi melalui
cara pendekatan yang lebih humanis, tidak hantam kromo
seperti di masa Presiden Soeharto.
Dengan demikian,
untuk lebih memberikan kredibilitas pemerintahan Susilo
Bambang Yudhoyono, teror terhadap keluarga dan rekan-rekan
Munir ini harus bisa dihentikan dan pemerintah berupaya
mengungkap kasus pembunuhan ini secara transparan.
Kemudian memproses kasusnya sesuai dengan hukum yang
berlaku.
Tidak ada perbedaan
signifikan antara kasus terbunuhnya Munir dengan ledakan
bom yang terjadi di Bali maupun Jakarta. Masyarakat saat
ini benar-benar mendambakan ketenangan.
Bagaimana masyarakat
bisa tenang bekerja, jika sewaktu-waktu mendapatkan teror
telepon atau kiriman barang aneh. Jika metode demikian
dibiarkan terus, ia akan bisa menjadi pilihan sosial yang
amat membahayakan stabilitas masyarakat.
* GPB Suka
Arjawa
|