kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Umanis, 25 Nopember 2004

 Kolom


Teror Kasus Munir

PERKEMBANGAN kasus Munir yang meninggal di pesawat dalam perjalanannya dari Singapura ke Balanda, semakin menarik akhir-akhir ini. Sejak awal, meninggalnya pejuang hak asasi manusia Indonesia tersebut diliputi kecurigaan, karena kesannya terlalu tiba-tiba, dan dengan proses yang cepat.

Belakangan, kecurigaan itu terbukti karena hasil pemeriksaan laboratorium terhadap jenazah Munir di Belanda, memperlihatkan bahwa ada kandungan arsenik, zat yang amat mematikan, dalam tubuh pejuang HAM tersebut. Jadi, semakin kuatlah dugaan bahwa ia diracun. Perkembangan lanjutan dari kasus ini semakin membikin orang penasaran karena hasil pemeriksaan tersebut tidak diserahkan kepada keluarga Munir, melainkan kepada pemerintah Indonesia melalui kementerian luar negeri Indonesia. Sampai saat ini, hasil pemeriksaan tersebut belum diberikan kepada pihak keluarga mereka. Gejala ini semakin memperkuat dugaan bahwa memang ada pihak yang menginginkan meninggalnya Munir.

Yang kemudian membuat kita tercengang adalah adanya teror-teror kepada keluarga maupun ke kantor Munir, dalam bentuk paket berupa potongan kepala ayam dan daging busuk dari pengirim tidak dikenal.

Semakin yakinlah masyarakat bahwa Munir tidak meninggal secara wajar. Betapapun, sektor politis tampaknya berkait dengan peristiwa ini. Persoalannya terletak pada kenyataan bahwa pengiriman kepala ayam dan daging busuk kepada keluarga dan ke kantor Munir, bisa dikualifikasikan sebagai teror berdimensi tiga.

Pertama, ia jelas teror psikologis dengan sasaran keluarga Munir dan rekan-rekan seperjuangannya, termasuk organisasi yang didirikannya. Tentu saja cara demikian bertujuan untuk menakut-nakuti keluarga dan rekan-rekannya agar menghentikan segala penyelidikan lanjutan atas tewasnya Munir. Tetapi, seperti yang telah diungkap oleh Suciwati, istrinya, cara teror seperti demikian akan sia-sia karena keluarga Munir telah terbiasa dengan ancaman-ancamaan seperti itu. Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan dalam beraktivitas, keluarga dan kerabat Munir tetap maju terus mempersoalkan kematian komandannya tanpa takut dengan berbagai teror yang dialamatkan kepada mereka.

Kedua, teror tersebut adalah cerminan metode pilihan sosial. Artinya, baik individu maupun kelompok akan memakai metode seperti ini dalam menyelesaikan persoalan. Di Indonesia, pemakaian metode teror semakin meningkat sejak reformasi dan dipakai oleh kelompok maupun individu tertentu untuk mengancam lawannya. Hal ini dimungkinkan dengan semakin majunya teknologi informasi (telepon, internet, faksimile dan sebagainya). Cara seperti ini jika dibiarkan terus akan membahayakan masyarakat karena mudah sekali dilakukan. Siapa pun bisa melakukan metode demikian dan di mana pun dia mau. Karena itu, harus ada pilihan teknologi dan tindakan untuk menghentikan metode kotor seperti ini. Metode teror sosial bukanlah budaya masyarakat beradab.

Ketiga, teror tersebut merupakan tantangan dari pemerintah baru. Euforia dari kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden Indonesia, tidak lain dilatarbelakangi oleh keinginan masyarakat untuk melakukan perubahan. Perubahan ini janganlah dimaknai secara dangkal berupa pemberian kebebasan berekspresi dan berpolitik dari masyarakat. Jika hal ini yang diinginkan, sesungguhnya kebebasan berekspresi dan berpolitik itu telah diberikan sejak zaman Presiden Habibie, Abdurrahman Wahid sampai zaman Megawati Soekarnoputri. Tetapi, ada hal lain yang tidak bisa diberikan oleh tiga presiden setelah era Soeharto tersebut. Hal lain itu adalah keadilan, peningkatan ekonomi dan keamanan. Keadilan sudah diperjuangkan sejak zaman Gus Dur, demikian halnya dengan ekonomi. Masyarakat tahu bahwa perjuangan soal keadilan dan ekonomi itu perlu proses yang cukup panjang. Tetapi, masalah keamanan selalu gagal diwujudkan. Jika Megawati mampu mempertahankan laju ekonomi makro, dalam pemerintahannya tetap dijumpai teror telepon di kantor-kantor, teror bom yang melanda Bali, Jakarta dan berbagai lokasi di Ambon, Aceh dan Irian Jaya. Padahal, Indonesia mempunyai kekuatan kepolisian yang andal. Kegagalan inilah yang membuat masyarakat mencoba mengalihkan perhatiannya kepada Susilo Bambang Yudhoyono.

Kalau kita coba jujur menilai, bukan saja karisma yang membuat rakyat memilih Susilo Bambang Yudhoyono, tetapi latar belakang militernyalah yang ikut berperanan. Masyarakat percaya bahwa kekerasan yang sering terjadi di Indonesia bisa dipadamkaan dengan disiplin ala militer, tetapi melalui cara pendekatan yang lebih humanis, tidak hantam kromo seperti di masa Presiden Soeharto.

Dengan demikian, untuk lebih memberikan kredibilitas pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, teror terhadap keluarga dan rekan-rekan Munir ini harus bisa dihentikan dan pemerintah berupaya mengungkap kasus pembunuhan ini secara transparan. Kemudian memproses kasusnya sesuai dengan hukum yang berlaku.

Tidak ada perbedaan signifikan antara kasus terbunuhnya Munir dengan ledakan bom yang terjadi di Bali maupun Jakarta. Masyarakat saat ini benar-benar mendambakan ketenangan.

Bagaimana masyarakat bisa tenang bekerja, jika sewaktu-waktu mendapatkan teror telepon atau kiriman barang aneh. Jika metode demikian dibiarkan terus, ia akan bisa menjadi pilihan sosial yang amat membahayakan stabilitas masyarakat.

* GPB Suka Arjawa

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)