kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Umanis, 25 Nopember 2004

 Fenomena


''White Skin Syndrome'', TKA Ilegal Marak

Kehadiran tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia termasuk di Bali, tak terelakkan. Keterbatasan SDM untuk bidang-bidang tertentu memaksa Indonesia menerima kehadiran mereka. Streotip pekerja asing yang disiplin, pekerja keras dan profesional sepadan dengan perolehan imbalan finansial dan fasilitas yang menggiurkan. Tak aneh kalau mereka diposisikan sebagai elite dalam peta ketenagakerjaan di Tanah Air. Semua itu wajar, namun mereka juga punya kewajiban. Selain memenuhi ketentuan hukum yang ada, juga berkewajiban mentransfer ilmu dan keterampilannya. Bagaimana dalam praktiknya?

-------------------------------------------------------

Menyimak data Ditjen Binalatpendagri-Depnakertrans tahun 2002, di seluruh Indonesia tak kurang dari 24.391 tenaga kerja asing yang tersebar di sejumlah sektor. Dari segi kewarganegaraan, paling banyak berasal dari Jepang yakni 3.700 orang, menyusul Korea Selatan dan Amerika Serikat sama-sama 2.465 orang. Sementara yang berasal dari Australia dan Inggris masing-masing 2.258 orang dan 2.209 orang. Dari negara-negara lain di luar yang disebutkan di atas, rata-rata kurang dari 1.000 orang. Sebagian besar dari tenaga asing ini merupakan staf ahli dan teknisi, baik mesin maupun teknologi informasi.

Dari data yang sama, kalau ditinjau dari lokasi kerjanya lebih dari 50% bekerja di DKI Jakarta (16.751 orang). Menyusul Jawa Barat 2.199 orang, Jawa Timur 892 orang dan Bali 701 orang. Di propinsi-propinsi lain umumnya di bawah 500 orang tenaga asing. Angka resmi ini memang perlu dipertanyakan, karena pada kenyataannya tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia jauh lebih banyak. Di luar yang terdaftar secara resmi tentu saja merupakan pekerja ilegal. Januari 2004 lalu ketika masih menjabat Menakertrans, Jacob Nuwa Wea membuat pernyataan yang cukup mencengangkan. Orang dekat Megawati ini mengatakan tak kurang dari 55 ribu tenaga kerja asing ilegal bekerja di Indonesia. Ironis! Bukankah pengawasan juga merupakan tugas jajaran Depnakertrans?

White Skin Syndrome?

Menurut Ketua DPP FSP-Pariwisata Bidang Luar Negeri Nyoman Nadayana, mempekerjakan tenaga asing sudah ada aturan formalnya. Antara lain Bab VIII UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Di sana dijabarkan sejumlah ketentuan tentang penggunaan tenaga kerja asing yang harus dipenuhi oleh perusahaan yang mempekerjakan orang asing maupun pekerja asing itu sendiri. Dalam poin d pasal 43, misalnya, perusahaan yang mempekerjakan orang asing harus menunjuk tenaga kerja warga negara Indonesia (WNI) sebagai pendamping. Tujuannya agar tenaga kerja asing tersebut mentransfer ilmu dan keterampilannya, sehingga dalam kurun waktu tertentu posisinya digantikan oleh pekerja Indonesia.

Dalam pandangan Nadayana, di Bali realisasi dari ketentuan di atas nihil atau tidak ada sama sekali. Tenaga asing umumnya tidak merasa punya beban moral kalau tidak mentransfer ilmu dan keterampilannya kepada pendamping. Anehnya, pemerintah sebagai regulator juga tidak melakukan pengawasan, sehingga membiarkannya berlarut-larut. Padahal kalau pemerintah mau, perusahaan dan tenaga asing bisa diperingatkan kalau tidak melaksanakan ketentuan yang ada. "Persoalannya bukan kita menolak tenaga kerja asing. Saya kira pengawasannya yang tidak berjalan, kendati aturan mainnya sudah jelas," ujar dosen tamu International Business Study Network (IBSN) di FE Unud ini.

Kalau ditelusuri lebih jauh, lanjutnya, ketidaktegasan pemerintah ini boleh jadi merupakan pantulan dari sikap masyarakat kita terhadap orang asing. Dalam psikologi sosial dikenal sindrom kulit putih (white skin syndrome), orang pribumi merasa minder terhadap orang asing. Menganggap orang asing khususnya kulit putih itu lebih hebat dan lebih pintar dalam segala hal. Akibatnya, apa pun yang dilakukan mereka sah-sah saja termasuk melanggar aturan. Karena itu, ia sangat salut atas gebrakan Menkum dan HAM Hamid Awaludin yang belum lama ini memimpin langsung razia terhadap pekerja asing ilegal. "Pertanyaannya, kapan hal itu dilakukan para pejabat di Bali?" tanya Nadayana retoris.

Penilaian lemahnya pengawasan pemerintah ditanggapi secara diplomatis oleh Kadisnaker Badung Wisnu Bawa Temaja. Menurutnya, penilaian itu tak sepenuhnya salah karena selain keterbatasan tenaga pengawas juga melibatkan instansi terkait. "Kendati demikian, dengan kondisi yang ada kami tetap berupaya melakukan pengawasan terhadap tenaga kerja asing. Sampai November 2004 ini memang belum ditemukan lagi pekerja asing ilegal. Namun, kalau masyarakat mengetahui tolong sampaikan kepada kami," ujar Wisnu.

Tahun 2003, pihaknya sempat menemukan empat orang tenaga kerja asing ilegal di Badung. Keempatnya tidak langsung dideportasi. Ia mengaku sempat memperingatkan mereka agar memiliki izin kerja. "Ternyata mereka kooperatif," jelas Wisnu.

Mengenai transfer ilmu dan keterampilan yang disyaratkan UU, Wisnu mengaku sudah berjalan cukup baik. Tiap tenaga kerja asing di Bali minimal didampingi dua orang. Kebetulan tenaga kerja asing mayoritas pada posisi manajerial menengah ke atas. Dengan demikian, pada jangka waktu tertentu, posisi mereka akan digantikan oleh orang lokal. Ketika ditanya mengapa hal semacam itu tidak terjadi di hotel-hotel berbintang tertentu (khususnya chain hotel) yang sudah belasan tahun GM-nya tetap tenaga asing, Wisnu menengarai ada pertimbangan internal. "Mungkin orang lokal belum dianggap mampu atau sengaja dilakukan untuk menjaga image," ujar Kadisnaker Badung seraya berjanji untuk mengkaji masalah ini lebih jauh.

Khusus untuk hotel-hotel berjaringan internasional memang jarang dipimpin orang lokal. Menurut sumber Bali Post, pertimbangannya memang tidak sekadar orang lokal mampu atau tidak, melainkan menyangkut aspek pemasaran. Hotel-hotel yang pasarnya mayoritas dari negara tertentu, umumnya menempatkan GM dari negara dimaksud. Di dalamnya ada unsur psikologis yang merupakan bagian tak terpisahkan dari industri jasa. "Memang tidak ada aturan tertulis harus begitu, namun siapa yang bisa mengingkarinya. Kalau kita ke luar negeri juga begitu, kita cenderung lebih memilih yang dipimpin orang Indonesia, bukan? Ini antara rasional dan tahyul," seloroh sumber tadi. (gre)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)