kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Umanis, 25 Nopember 2004

 Ekonomi


Harga Elpiji Diusulkan Naik Rp 4.000 per Kg

Jakarta (Bali Post) -
PT Pertamina (Persero) mengusulkan kenaikan harga elpiji hingga Rp 4.000 per kg pada awal tahun mendatang. Saat ini, harga jual elpiji sebesar Rp 3.000 per kg dinilai masih di bawah biaya pokok produksi Pertamina.

"Kita masih melakukan evaluasi dan bersama dengan pihak-pihak terkait menetapkan kapan sepantasnya kenaikan harga elpiji dilakukan," ujar Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Arie Soemarsono kepada pers di Jakarta, Rabu (24/11) kemarin. Menurutnya, kenaikan harga elpiji sebesar Rp 1.000 per 100 gram dilakukan secara bertahap. Kemungkinan kenaikan harga elpiji maksimal Rp 4.000 per kg, baru bisa tercapai pada awal tahun mendatang. Arie menegaskan, langkah menaikan harga elpiji mutlak dilakukan, apalagi di saat Pertamina mengalami kesulitan arus kas. Hal tersebut tidak terlepas adanya public service obligation -- pemberian tugas pemerintah kepada Pertamina untuk menyalurkan bahan bakar minyak (BBM).

Melonjaknya harga minyak mentah menyebabkan biaya pengadaan subsidi BBM membengkak dalam APBN yang semula dianggarkan Rp 19,2 trilyun menjadi Rp 59 trilyun. Sehingga, Pertamina setiap bulan membutuhkan dana sebesar 1 milyar dolar AS atau Rp 9 trilyun untuk mengimpor BBM. Apalagi, harga elpiji yang dijual, sambung Arie, masih di bawah harga produksi.

"Adanya masalah-masalah yang dihadapi Pertamina membuat kita kewalahan. Jadi kita harus menyesuaikan harganya," ujarnya. Menurutnya, Pertamina selaku persero berhak mengambil keuntungan dalam kegiatan bisnisnya. Karena itu, dapat saja langsung menaikkan harga jual.

Namun, pihaknya tetap mengkonsultasikan dan mensosialisasikan terlebih dahulu kepada pemerintah kebijakan tersebut. Ditambahkan, dengan harga jual elpiji saat ini sulit bagi Pertamina meningkatkan kualitas pelayanan lebih baik. "Kita realistis saja. Pasar elpiji sudah terbuka, siapa pun boleh masuk ke dalam bisnis ini. Tetapi karena dinilai merugi, tidak ada yang mau masuk," papar Arie menjawab pernyataan pengurus YLKI Sudaryatmo yang meminta Pertamina meninggalkan bisnis elpiji.

Juru Bicara PT Pertamina M Harun menyatakan bisnis elpiji yang digeluti Pertamina berbeda dengan BBM. Pada bisnis produk elpiji, Pertamina tidak mendapat subsidi APBN melalui pemerintah. "Kami menjalankan bisnis elpiji bukan atas penugasan pemerintah, karena bisnis elpiji tidak disubsidi. Jadi wajar, jika Pertamina ingin memperoleh margin yang wajar. Namun, kita tetap memperhitungkan kondisi masyarakat. Karena itu, kenaikannya dilakukan bertahap," terang Harun dalam keterangan tertulis yang diterima Bali Post.

Harun menegaskan, harga jual elpiji saat ini tidaklah relevan dibandingkan harga minyak tanah yang disubsidi pemerintah. Apalagi, selama ini sebesar 69% konsumen elpiji berasal dari rumah tangga. Sementara 13% konsumen berasal dari kalangan hotel berbintang dan 18% dari kalangan industri. (kmb1)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)