kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Umanis, 25 Nopember 2004

 Ekonomi


Pemerintah takkan Menjual Aset Talangi Defisit APBN

Jakarta (Bali Post) -
Menteri Keuangan Jusuf Anwar menegaskan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2004 bakal mengalami pembengkakan yang cukup besar hingga 1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Saat ini APBN-P menargetkan defisit sebesar 1,3 persen PDB atau Rp 26,3 trilyun.

"Ini memang cukup besar. Makanya kita harus kerja keras dengan sisa waktu 45 hari ini," kata Menkeu usai berhalalbihalal dengan para pegawai Depkeu di Jakarta, Rabu (24/11) kemarin. Penyebab utama kenaikan defisit itu, menurut Jusuf, adalah lonjakan harga minyak dunia yang sudah berlangsung cukup lama.

Sebagai upaya untuk menanggulanginya, tandas Menkeu, dirinya telah meminta Dirjen Pajak dan Dirjen Bea dan Cukai untuk lebih intensif menambal berbagai kebocoran dan mencari sumber-sumber lain secara agresif. Menkeu menegaskan tidak akan menjual aset-aset negara lainnya sehubungan dengan penambalan defisit tersebut. "Soal divestasi sudah ada jadwalnya. Saya kira tidak tidak usah semuanya dijual-jual lagi sekarang, masih ada masa depan," kata Menkeu.

Jusuf mengakui ada sejumlah rencana lain yang sudah disiapkan untuk mengurangi tekornya anggaran tersebut. Sayangnya, ketika ditanya apa saja rencananya itu, Jusuf menolak menjelaskan lebih jauh karena perlu disisir lagi. Yang jelas, kata Menkeu, meski terjadi kenaikan defisit hal itu masih managable. "Tenang saja, kita pasti bisa mengatasi masalah defisit ini," katanya.

Apakah pemerintah akan menaikkan harga BBM sebagai langkah untuk mengurangi beban anggaran, menurut Menkeu, hal itu tidak tertutup kemungkinan. Dijelaskan, dalam menentukan pencabutan subsidi untuk BBM ini, yang harus diperhatikan adalah memenuhi hajat hidup orang banyak.

Oleh sebab itulah, pemerintah masih mengkaji produk apa saja yang paling sensitif terhadap kepentingan rakyat. "Artinya, kepentingan rakyat banyak yang jadi ukuran," tegasnya.

Menanggapi permintaan Menkeu untuk menaikkan setorannya, Dirjen Bea Cukai Eddy Abdurrachman mengatakan pihaknya secara resmi telah diminta untuk memberikan tambahan pemasukan dari cukai sebesar Rp 700-800 milyar. Sebagian besar dari jumlah itu akan didapat dari cukai rokok. Sampai dengan akhir 2004 saja, Bea Cukai optimis bisa menyetor ke kas negara lebih dari Rp 29,1 trilyun, jauh lebih tinggi dari target sebesar Rp 28,4 trilyun. Keyakinan akan terlampauinya target tersebut, karena produksi rokok diperkirakan naik dan dibarengi dengan pemberantasan cukai palsu tanpa menaikkan tarif harga jual eceran (HJE).

Tahun 2005 pun Bea Cukai tidak akan menaikkan HJE. "Kita sudah janji dalam dua tahun ini tidak akan ada kenaikan," terang Eddy. Langkah ini ditempuh untuk memberikan kesempatan kepada produsen rokok untuk memperbaiki produksinya. Menurut data terakhir hingga 15 November 2004, pendapatan cukai sebesar Rp 24,859 trilyun atau 87 persen dari target sebesar Rp 28,4 trilyun. Sedangkan bea masuk (BM) mencapai Rp 10,443 trilyun atau 88 persen dari target Rp 11,837 trilyun.

Pada kesempatan yang sama Dirjen Pajak Hadi Poernomo juga mengaku optimis target penerimaan pajak pada 2004 sebesar Rp 239 trilyun bisa dicapai. Adapun penerimaan pajak hingga 22 November telah mencapai Rp 193,1 trilyun atau 81 persen dari target. Dengan demikian masih terdapat kekurangan sekitar Rp 45 trilyun. (kmb2)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)