kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Pon, 17 Nopember 2004

 Bali


Melongok Kasus Keracunan di Bali ---

Akibat Pengolahan Makanan Kurang Higienis

Kasus keracunan makanan yang terjadi di Bali dalam setahun terakhir ini cukup banyak. Beberapa bulan lalu, puluhan anak SD Senganan, Penebel, Tabanan, keracunan setelah menyantap mekanan di kantin sekolah setempat. Kasus terbaru yang menimpa anak-anak sekolah kembali mengguncang SD 5 Pelaga, Sabtu (13/11) lalu. 68 siswa dan 9 guru mengalami keracunan setelah makan ikan tongkol. Dua hari setelah peristiwa itu, di Singaraja sejumlah warga juga mengalami keracunan. Apa yang menyebabkan keracunan makanan makin marak?

KASUS keracunan yang menimpa puluhan orang secara bersamaan beberapa kali terjadi. Di Denpasar, pada 13 Agustus 2004 lalu juga terjadi kasus keracunan setelah menyantap makanan. Dalam kasus ini, sedikitnya 22 orang harus dirawat di RS Sanglah akibat keracunan setelah makan ikan nompeh. Jumlah yang keracunan saat itu diperkirakan cukup banyak, hanya karena tidak terlalu parah sehingga tidak sampai dirawat di rumah sakit. Kejadian serupa kembali terjadi pada sebuah acara syukuran atas lancarnya pelaksanaan pilpres, September 2004 lalu. Saat itu, sebanyak tujuh orang mengalami keracunan. Bahkan, satu penderita harus menjalani perawatan dua hari di RS Sanglah.

Atas peristiwa tersebut, pihak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) selalu melakukan pemeriksaan laboratorium untuk menentukan penyebab keracunan dimaksud. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan BPOM Denpasar, menyebutkan penyebab keracunan lebih banyak akibat pengolahan makanan yang kurang higienis. "Dari 12 kasus yang ada, 9 di antaranya disebabkan oleh pengolahan makanan yang kurang sehat," ujar Kepala BPOM Denpasar Drs. H. Djoko Sunarjo, Apt., S.Psi., M.M. saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Bali, belum lama ini.

Djoko mengakui tingginya kasus keracunan yang terjadi di Bali lebih banyak disebabkan karena kurang sehatnya cara pengolahan. Hal tersebut bisa terjadi akibat lingkungan sekitarnya kurang sehat, dan juga faktor individu. Karena itu, pihaknya mengingatkan agar para penjamah (pengolah) makanan lebih memperhatikan faktor sanitasi dari makanan yang dibuat. Masalahnya, bila sedikit saja mengabaikan faktor tersebut, akan merugikan konsumen.

Selama ini, kata dia, kasus keracunan lebih banyak akibat makanan yang mengandung mikroba atau tercemar bakteri. Dilihat dari penyebabnya itu, sudah dapat dipastikan para produsen makanan, terutama yang berskala kecil, kurang memperhatikan higienis dan sanitasi makanan. Perilaku seperti ini hendaknya segera ditinggalkan, dan mulai dengan memperhatikan kesehatan makanan. "Bila dalam makanan ditemukan adanya mikroba, itu menunjukkan pengolahan makanan kurang sehat," ujarnya.

Di sisi lain, penyebab keracunan makanan juga banyak ditemukan setelah makan ikan laut. Untuk kasus seperti ini, biasanya disebabkan oleh penyimpanan ikan laut yang terlalu lama. Pasalnya, kadar histamin yang terdapat dalam ikan laut akan meningkat sejalan dengan proses penyimpanannya. "Biar pun disimpan di lemari pendingin, bila terlalu lama juga akan meningkatkan kandungan histaminnya," ujar Drs. I Gde Lara Sudira, Apt.

Untuk menekan jumlah kasus keracunan makanan kembali terulang, pihak BPOM Denpasar bekerja sama dengan Diskes telah melakukan langkah-langkah penanggulangan. Salah satunya, yakni melatih petugas penyuluh keamanan pangan yang telah diberikan pengetahuan khusus dan ditempatkan di tiap kabupaten/kota se-Bali. Petugas ini akan melakukan pengawasan terhadap makanan. Hanya, diakui untuk saat ini perannya tidak maksimal, karena keterbatasan dana. Ke depan, Djoko berharap dengan tenaga ini, pemerintah kabupaten dapat memberikan dukungan dana yang lebih baik, sehingga tugas tenaga ini lebih maksimal. Apalagi, kasus-kasus keracunan yang terjadi selama ini banyak berada jauh dari perkotaan. (ara)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)