kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 14 Nopember 2004 tarukan valas
 

KELUARGA


Mendongeng dengan Alat Peraga

ORANGTUA kita zaman dahulu tidak pernah mendongeng dengan alat peraga. Cukup bernarasi dengan bahasa yang mudah disertai ekspresi, dialog dan gerakan tangan seperlunya. Anak yang sedang dikeloni itu merasa dirinya berada di alam antah-berantah, berkenalan, berkelana dan berayun-ayun dengan fantasinya yang lincah. Senang benar anak itu, kemudian tertidur dengan perasaan damai.

Sekarang, berbarengan dengan kemajuan teknologi, banyak benar pelipur lara yang mendongeng dengan alat peraga. Ada yang memperlihatkan gambar-gambar dalam buku, ada yang menggambar langsung, bahkan ada yang memperagakan dengan boneka atau wayang. Mendongeng dengan alat peraga itu biasanya dilakukan di depan penyimak (audiens) yang jumlahnya banyak, seperti di depan kelas, di atas panggung atau di tempat terbuka lainnya. Mendongeng dengan alat peraga sangat perlu. Alat itu membantu pengenalan anak mengenai alam lingkungan yang mendekati kenyataan, memahami lebih mendalam ciri-ciri lahiriah dan sifat-sifat benda tersebut, serta meningkatkan penghayatan mengenai kehidupan makhluk hidup itu sendiri. Namun, mendongeng dengan alat peraga yang berlebihan, apalagi dengan properti yang lengkap, perlu dihindari. Mengapa?

Dongeng adalah dunia anak yang penuh fantasi. Mendengarkan dongeng adalah peluang untuk mengembangkan imaginasi yang lincah, bebas dan kreatif. Melihat seekor kura-kura kecil yang merangkak sangat lambat, dapat mengembangkan imaginasi anak-anak seperti : dengan siapa ia bermain, bagaimana cara makan, di mana ia tidur, dan akhirnya timbul rasa belas kasihan karena kelemahan fisik yang dimiliki. Imaginasi yang kreatif itu muncul dengan sendirinya tanpa harus diperlihatkan dengan alat peraga. Menceritakan sebuah dongeng dengan pertunjukan senyata-nyatanya akan menumpulkan kreativitas anak. Oleh karena itu tidak semua unsur dalam dongeng harus diperlihatkan dengan alat peraga.

Ambil sebuah contoh cerita I Lutung Dan I Kekua. I Lutung adalah seekor monyet dan I Ketua seekor kura-kura. Pada musim kemarau, kedua makhluk yang kelaparan itu bertemu di tengah jalan. Mereka berdua sepakat bersahabat. Ketika I Lutung melihat sebatang pohon pisang yang berbuah ranum di seberang sungai, ia mengajak I Kekua untuk berpesta memakan pisang itu. Tetapi, apa akal, mereka tidak bisa menyeberang. Atas kerjasama yang baik, mereka akhirnya saling bantu. Kekua yang pintar berenang, menyeberangkan I Lutung dan I Lutung yang pintar memanjat, memetik buah pisang itu. Hasilnya dibagi dua.

Ternyata I Lutung yang serakah itu telah melupakan kesepakatan. Di atas pohon, I Lutung dengan asyiknya makan pisang-pisang itu, sedangkan I Ketua hanya mendapatkan kulit-kulitnya. Dengan menahan rasa lapar dan jengkel, I Kekua meninggalkan tempat itu lalu bersembunyi di bawah tengkulak (belahan buah kelapa). Tak berapa lama I Lutung beristirahat menahan perut kenyang. Ia duduk santai di atas tengkulak. Tiba-tiba ia mendengar sebuah nyanyian yang mengejek dirinya. I Lutung mengira nyanyian itu berasal dari dalam perutnya yang gendut. Ia marah, lalu ia memukul perutnya sendiri dengan batu. Ketika merintih kesakitan, I Kekua muncul. ''Maaf, Lutung! Yang bernyanyi itu aku, bukan perutmu!'' katanya sambil meninggalkan tempat itu.

Yang perlu dibuatkan alat peraga adalah I Ketua dan I Lutung, sedangkan pohon pisang, sungai, batu dan lain-lainnya tidak perlu. Bagi anak-anak di kota, kata tengkulak perlu dijelaskan atau diragakan dengan gambar atau langsung memperlihatkan bendanya. Bagi pelipur lara yang pintar menggambar, di samping selalu memunculkan monyet dan kura-kura, mungkin perlu menggambar bagaimana cara kura-kura itu menyeberangkan si monyet atau bagaimana sii monyet membuang kulit pisang dari atas pohon. Namun ingat, berilah peluang kepada anak untuk mengemukakan pendapatnya sendiri, tentang bagaimana cara kura-kura menyeberangkan si monyet, atau bagaimana perasaan si kura-kura yang lapar melihat si monyet mengupas pisang demi pisang.

Jadi dalam mendongeng dengan alat peraga, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : (1) buatlah alat peraga seperlunya, jangan sampai alat peraga itu menutup kemungkinan anak-anak mengembangkan imaginasinya; (2) buatlah alat peraga yang mendekati kenyataan, baik bentuk maupun proporsinya; (3) sebaiknya membuat atau memperlihatkan gambar-gambar, atau memperlihatkan benda itu langsung.
Made Taro

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com