kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 3 Oktober 2004 tarukan valas
 

POTRET


Janet De Neefe

Berkorban Jadi Orang Bali, lebih Banyak yang Didapat

Banyak perempuan atau laki-laki asing yang menikah dan kemudian menetap di Bali. Di antara mereka, banyak yang sukses dan cinta budaya Bali. Kecintaan pada Bali seringkali ditunjukkan dengan berbagai cara, misalnya dengan menerbitkan buku, membuat tari, lukisan, foto, dan lain-lain. Kini, demi cintanya pada Bali, bahkan Janet De Neefe -- wanita kelahiran Melbourne, Australia, menggelar "Ubud Writers & Readers Festival" pada 11-17 Oktober mendatang. Istri Ketut Suardhana asal Ubud Gianyar ini mengaku sangat menyukai budaya Bali dengan segala adat istiadatnya. "Untuk menjadi orang Bali memang memerlukan banyak pengorbanan, tetapi yang didapat lebih banyak lagi, seperti berbunga, berbunga dan berbunga lagi," katanya dengan mata bersinar-sinar. Mengapa wanita ini tertarik menggelar festival? Apa saja yang telah dilakukannya? Berikut wawancara Bali Post dengan Janet De Neefe.

BAGAIMANA ceritanya sampai Anda punya ide menggelar "Ubud Writers & Readers Festival" ini?
Setelah adanya Bom Kuta, di Bali pernah dibuat peace festival. Saya berpikir, mungkin bagus juga kalau di Ubud dibuat festival semacam itu. Memang di Ubud selalu digelar festival di pura, tetapi itu festival untuk upacara. Tetapi, tiba-tiba oleh beberapa teman saya diingatkan bahwa di sini (Ubud, red) belum pernah ada festival pendidikan. Kalau di rumah saya di Australia sering ada festival sejenis ini, bahkan digelar setiap minggu. Setelah dipikir-pikir, memang betul tidak pernah ada festival sejenis ini.
ebetulan saya juga pernah menulis buku sehingga saya diundang ke beberapa festival seperti di Melbourne, Hongkong, dan Barenbay. Dengan pengalaman mengikuti festival seperti itu, saya berpikir, di Ubud saya pasti bisa membuat yang bagus seperti itu.

Mengapa Anda memilih Ubud?
Ubud memiliki latar belakang yang sangat bagus, sehingga menarik untuk dipromosikan, juga bisa bermanfaat bagi pendidikan anak-anak muda. Festival ini saya harapkan bisa merangsang anak-anak muda mempelajari sastra. Saya juga sangat yakin di Ubud pasti ada banyak orang pintar. Saya banyak melihat kondisi anak muda yang bagus. Saya ingin memberikan mereka kesempatan untuk berkecimpung di bidang ini. Saya yakin, dengan kondisi seperti sekarang, mereka pasti mampu. Ya, kan lebih baik daripada hanya menonton TV saja di rumah.

ntuk mendapatkan kehidupan yang lebih bagus, kuncinya adalah pendidikan dan sastra. Saya rasa sebuah kedamaian bisa didapat bila kita melakukan pendidikan lewat sastra. Menulis dan membaca karya sastra juga dapat membuka wawasan, sehingga dapat berpikiran jernih dalam mengambil keputusan.

Bisa dijelaskan kembali kaitannya dengan tragedi bom Kuta?
Yang lebih penting, dampak negatif yang ditimbulkan dari ledakan bom Kuta bisa dihilangkan dengan mengikuti sastra. Saya sangat berharap, sastra bisa menghilangkan atau mengobati trauma akibat ledakan bom di Kuta itu. i samping untuk membuktikan bahwa Bali tetap aman, festival ini juga bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Bali, khususnya Ubud. Intinya, digelarnya festival Ubud ini memiliki banyak tujuan yang sepertinya bertingkat-tingkat.

Apa saja yang akan ditampilkan dan siapa saja orang yang terlibat dalam festival ini nanti?
Festival akan dibuka 10 Oktober 2004. Tempat pembukaannya di Puri Ubud pada pukul 17.00 wita. Acara pembukaan ini akan diawali dengan tari penyambutan tradisional Bali serta hiburan kesenian kecak. Acara ini rencananya dibuka oleh Menbudpar, akan mengundang semua sponsor yang membantu pelaksanaan festival, lalu dilanjutkan dengan acara makan ringan.

Pada 11 Oktober pukul 09.00 wita ada pembicara Gunawan Muhamad selama satu jam. Kemudian setiap jam selanjutnya ada pembicara yang lain dan diskusi. Pembicara terakhir adalah Kapolda Bali Mangku Pastika, selama sekitar satu jam. Selain itu juga ada pameran buku dan pentas.

estival digelar setiap hari dengan tema berbeda-beda. Intinya, dalam festival itu ada diskusi, peluncuran buku, pembacaan puisi, performance, pemutaran film tentang penulisnya, workshop tentang menulis buku untuk anak-anak, dan terakhir ada evaluasi.

Dari mana saja mereka yang terlibat di festival ini? Dan apa syaratnya jadi peserta?
Mereka dari Singapura, Hongkong, Filipina, Kanada, India, Jerman dan Indonesia yang terdiri dari Jawa, Aceh, Bima dan Bali. Sebenarnya kami yang memilih pesertanya. Yang menentukan orang untuk mengisi acara festival ini adalah orang-orang yang pernah menulis tentang Asia (terutama untuk orang asing-red).

Apa kendala pelaksanaan festival ini?
Ini merupakan yang pertama kali kami mengadakan festival, sehingga kami kurang berpengalaman. Sebenarnya kami hanya sebagai perintis saja dan yang banyak membantu adalah para sukarelawan. Di samping itu, festival ini merupakan ide baru, banyak yang belum mengerti. Ada muncul beberapa tanggapan, salah satunya mengira ini untuk kepentingan saya sendiri. Padahal, ini untuk Ubud, untuk Bali, untuk Indonesia. Susah membuat orang untuk bisa mengerti.

Rencananya festival ini digelar tiap tahun?
Ya. Dengan begitu orang akan terus mengingatnya. Kami juga akan memasang website yang tetap, sehingga orang bisa mendapatkan informasi dengan gampang. Sebenarnya, event seharusnya bisa dilakukan seperti mengadakan upacara adat, dilakukan secara bersama-sama dan gotong royong. Hal itu akan membuat efek yang lebih bagus.

Apakah lantaran Anda juga seorang penulis, sehingga muncul ide untuk membuat festival seperti ini?
Terus terang saja, saya bukanlah seorang penulis, tetapi hanya membuat buku saja. Saya sendiri juga baru mengenal penulis-penulis yang memiliki nama. Saya hanya membuat buku tentang pengalaman saya sendiri dan keluarga sejak menginjakkan kaki di Bali.

* * *

Sejak kapan Anda mengenal Ubud dan Bali?
Saya pertama kali ke Bali saat berumur dua tahun (sambil tertawa, kemudian ia meralatnya sambil tertawa pula). Tapi, seingat saya pada tahun 1974 bersama rombongan saudara. Saya sangat kaget melihat keindahan Ubud, budaya dan keramahtamahan masyarakatnya sangat bagus. Saat itu saya berpikir, kenapa saya harus tinggal di Melbourne dan tak bisa tinggal di Bali. Sejak ke Bali, sebenarnya saya mau belajar di Bali, tetapi karena tak ada pertukaran siswa makanya tidak jadi. Di samping itu, saya juga sempat berminat untuk belajar bahasa Indonesia di Melbourne, tetapi tidak ada guru. Mungkin ada, hanya saja saya belum bisa menemukannya.

Setelah tamat SMA, saya sempat membuat batik dan hobi saya pertama adalah melukis. Setelah sepuluh tahun, saya kembali ingin berlibur ke Bali. Ketika itu saya jadi guru kesenian dan sudah tamat kuliah. Walau banyak yang tak setuju dan mengatakan Bali sudah berubah, tapi saya tetap berangkat sekitar tahun 1984. Sebelum itu, saya sempat bekerja di salah satu hotel di Melbourne.

Lantas ketemu dengan calon suami di Bali?
Ketika ke Bali untuk yang kedua kalinya, saya berkenalan dengan Ketut (I Ketut Suardana, red), orang Bali. Setelah itu saya sering pulang balik Bali-Australia. Pada 1989 saya menikah dengan Ketut, teman yang saya kenal di Bali sejak tahun 1984.

Sebagai pelukis, apa yang Anda lihat tentang Bali?
Terutama pohon-pohonnya, pemandangannya, bagus dan indah-indah. Bentuk dan warna tropisnya yang lain daripada yang lain. Kalau di Australia pohon-pohon agak hijau, abu-abu, tetapi di Bali warnanya lebih cerah. Saya sangat senang warna pohonnya, sawahnya, adatnya, orangnya, apalagi yang perempuan. Kebiasaan ini juga saya lakukan pada saat saya mencari karyawan yang bekerja di tempat saya. Saya melihat orang yang menarik dilukis baru bisa bekerja di tempat saya. Pokoknya semuanya bagus.

Lalu, pekerjaan Anda sekarang?
Sekarang saya mengajar tentang masakan Bali di rumah. Saya lakukan ini tiga kali dalam seminggu. Sebelumnya saya mengurus restoran (Restoran Casa Luna dan Hindus, red). Sejak saya buka usaha restoran Casa Luna tahun 1997, saya yang mengurus semuanya. Tapi setelah ada manajer baru sekitar tahun 2001, semuanya dibebankan pada manajer, dan saya menjadi guru memasak masakan Bali.

Bagaimana ceritanya Anda jadi guru kursus masakan Bali?
Kalau ada kegiatan masak-masak di rumah suami saya, saya selalu mengikuti. Saking senangnya, kemudian diajar oleh ipar. Seperti membuat lawar, sate lilit, dan banyak lagi. Selanjutnya, saya naik bemo ke galeri suami saya di Mas, Ubud. Di sana saya juga belajar memasak bersama salah satu pegawai yang bertugas di dapur. Semua resep itu saya catat, termasuk isen, cekuh, dan jenis nama bahan lainnya. Tetapi sayang, saya tidak mengetahui nama bumbu-bumbu itu dalam bahasa Inggrisnya. Sekarang bahan seperti ini sudah ada banyak di Australia.

Siapa saja yang mengikuti kursus ini?
Di kelas memasak, kebanyakan diikuti orang Australia. Mungkin saja karena saya dan resep masakan selalu muncul dalam majalah Australia, sehingga banyak yang berminat mengikuti kelas ini. Di samping itu, kelas memasak juga banyak diikuti oleh orang Inggris, Amerika, dan Belanda. Siswa yang mengikuti umurnya tak sama, ada yang muda dan tua.

Mengapa Anda punya ide membuat kursus masakan Bali?
Begini, pada saat saya ke Bali tahun 1984, makanan yang saya rasakan itu tetap sama seperti yang saya rasakan ketika pertama kali ke Bali tahun 1974. Rasanya sangat enak. Saya sampai heran, kenapa ada kacang yang diisi saus dipakai sayur, tidak seperti di rumah saya yang di Australia yang hanya memakai roti. Kemudian saya pulang dan saat itu sudah berminat belajar memasak masakan Bali. Tahun 1984, sambil berlibur ke Bali, saya berkesempatan belajar. aya sempat keliling di Melbourne untuk mencari buku tentang masakan Bali, tetapi satu pun tak saya temukan. Walaupun ada buku tentang masakan Indonesia, tapi yang khusus masakan Bali tak ada. Bahkan saya lihat resep masakan Bali yang ada dalam buku itu tidak betul seperti yang saya pelajari di Bali. Kemudian saya berpikir, saya sendiri yang harus menulis buku resep masakan Bali itu.

Karena sudah memiliki modal sebagai guru, maka saya mencoba membuka pelajaran tentang cara membuat masakan Bali. Saya berpikir, saya mau belajar, kenapa orang lain tidak. Saya yakin mereka pasti juga mau belajar. Jujur saja, tamu yang tinggal di Ubud biasanya lebih dari 5-7 hari, bahkan ada yang tinggal selama satu bulan. Dengan begitu, mereka bisa belajar budaya dan adat Bali.

Bagaimana cara Anda memberikan pelajaran tentang masakan Bali?
Pertama kali saya memperkenalkan bahan-bahannya, seperti basa wangen, bebungkilan, daun-daunan seperti daun lemo dan daun salam, sere, bongkot, bawang merah dan bawang putih yang memang lain dengan bawang yang ada di Australia. Saya juga berikan cerita sedikit tentang fungsi lain dari bahan yang dipakai. Misalnya, fungsi bawang merah, selain untuk bumbu masakan juga bisa dipergunakan untuk mengobati anak kecil dengan cara dicampur minyak kemudian dioleskan dan diurut. Saya juga memperkenalkan terasi, garam yang khusus dibeli di Kusamba. Juga memperkenalkan gula merah, termasuk cara membuatnya. Semua itu dijelaskan secara mendetail.

Dalam pelajaran memasak, pertama kali saya memberikan materi cara membuat rujak. Saya buat dua jenis rujak, satu berisi terasi dan satunya tidak. Saya ingin mereka tahu sekaligus dapat merasakan efek dari kegunaan terasi itu. Dengan begitu, mereka akan mengerti tentang rasa terasi. Setelah itu saya memberikan pelajaran tentang membuat bumbu pepes. Dari memilih bahan sampai cara membuat dengan cara di-ulig (diulek, red), semuanya diperlihatkan di hadapan tamu. aya juga menjelaskan cara makan nasi dengan menggunakan tangan. Hal semacam ini saya rasa perlu diketahui, karena di Bali bukan hanya sebagai tempat untuk holiday saja, tetapi juga mereka perlu mengerti tentang budaya memasak Bali.

Dalam satu kelas, berapa orang yang mengikuti pelajaran memasak masakan Bali?
Maksimum 20 orang, pernah juga 15 siswa. Maklum, kelas memasak ini sering dipromosikan di Australia. Orang yang mengikuti pelajaran ini ada yang sudah pernah ke Bali dan ada juga yang belum sama sekali.

Menurut Anda, budaya Bali itu bagaimana, apakah tidak sulit menjadi orang Bali?
Pertama-tama mungkin sulit ya. Tapi yang jelas, saya sangat senang tinggal dekat saudara-saudara saya di Bali. Saya suka ramai-ramai. Saya sangat suka adat orang di sini dan karakter orang-orangnya.

Kalau di banjar, Anda juga suka "ngayah"?
Ya. Tetapi untuk tahun ini sedikit dapat waktu, karena saya sibuk mengurus festival ini. Saya juga bisa majejahitan, tetapi hanya sedikit-sedikit.

* pewawancara:
mas ruscita
budarsana

BIODATA
Nama                 : Janet De Neefe
Tempat/tgl.lahir : Melbourne, Australia, Juli 1959
Sekolah terakhir : Sekolah Guru Seni (B,ED) Art Craft
Suami                : I Ketut Suardana
Anak                  : Dewi, Krisnha, Laksmi dan Arjuna
Alamat               : Jalan Bisma, Ubud, Gianyar
Jabatan              : Penggagas dan Direktur "Ubud Writers & 
                            Readers Festival"

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com