IQ-nya
''Borderline'', Apa Itu?
BEBERAPA
waktu yang lalu saya datang ke RS Sanglah untuk melihat
kecerdasan anak saya karena sangat malas belajar dan harus
dipaksa-paksa mengerjakan PR. Anak kedua saya ini, kebetulan
perempuan 8 tahun memang sedari kecil suka sakit-sakitan
sehingga sering tidak masuk sekolah. Dibilang bodoh menurut saya
tidak juga Bu. Anaknya sudah bisa membaca sejak TK O besar.
Pemalu dan malas belajar itu yang jelas, tetapi kalau di rumah
pergaulan dengan teman-temannya biasa saja.
Setelah proses pemeriksaan
yang sangat lama, pada akhirnya anak saya disimpulkan IQ-nya
borderline. Yang membuat saya syok adalah bahwa anak saya harus
masuk di SLB C. Istri saya sampai di rumah menangis diam-diam.
Saya sendiri tidak enak makan dan tidak bisa tidur nyenyak. Anak
saya fisiknya baik, bahkan tergolong cantik, bicara dan
perilakunya normal, haruskah sekolahnya campur dengan anak-anak
idiot?
1. IQ borderline itu bagaimana sih, Bu?
2. Apakah tidak ada sekolah lain yang bisa menerima anak dengan
IQ seperti itu?
3. Adakah obat yang bisa menaikkan IQ-nya?
X, Denpasar
Saya sangat memahami
kebingungan dan kerisauan hati Bapak-Ibu berdua. Memang cukup
banyak orangtua yang syok ketika mendapati bahwa kecerdasan
anaknya jauh di bawah rata-rata, dengan daya tangkap dan logika
berpikir yang agak lambat. Terlebih lagi apabila guru SD-nya
sudah angkat tangan tidak sanggup membimbing lagi sehingga mau
tidak mau harus 'dititip' di SLB C. Para orangtua makin tidak
tega lagi karena fisik dan tingkah laku anaknya normal dan tidak
ada indikasi keterbelakangan mental.
Menurut Weschler
kecerdasan anak yang tergolong borderline atau Perbatasan bahasa
awamnya, memang agak membingungkan. Kondisi kecerdasan ini
memang pada taraf perbatasan antara mental retardasi dengan di
bawah normal. Dengan kata lain, anak dengan kemampuan berpikir
yang masuk golongan borderline, masuk SD biasanya paling lambat
dalam menangkap pelajaran, tetapi masuk SLB C biasanya paling
pintar. Ciri fisik anak ini tidak jauh berbeda dengan anak yang
memiliki kecerdasan normal. Namun ada beberapa ciri dan cara
berpikir yang membedakannya. Anak dengan kemampuan borderline
biasanya agak lambat daya tangkapnya dan mudah frustasi atau
menghindari tugas-tugas sekolah yang cukup sulit baginya.
Penggolongan IQ
Berdasarkan Weschler/ Depdikbud
Skor Klasifikasi
131 ke tas Very Superior/ Sangat Ceras
121-130 Superior/Cerdas
111-20 Bright Normal/ Di atas rata-rata
91-110 Average/Normal
81-90 Dull Normal/ Di bawah rata-rata/ agak lambat
66-88 Borderline/ lambat
65 ke bawah Mental Retardasi/ Sangat lambat
Sekolah Khusus
''Borderline''
Sebenarnya anak-anak
dengan kecerdasan yang tergolong borderline ini memerlukan
sekolah khusus yang kurikulum serta pengajarannya lebih tinggi
dari SLB C, tetapi lebih ringan dari SD. Sayangnya, di Bali ini
belum ada. Namun ada model yang hampir sama yang sedang
dikembangkan di YPAC Jimbaran. Anak-anak dalam golongan ini
biasanya membutuhkan bimbingan belajar yang intensif dengan
kesabaran dan pengulangan pembelajaran yang tinggi. Kondisi
inilah yang hampir tidak mungkin didapatkan di SD biasa,
sehingga biasanya anak dititipkan di SLB C. Namun, sekali lagi
banyak orangtua yang 'tidak tega' menitipkan dan mencampurkan
anaknya dengan anak-anak yang ciri-ciri fisiknya cenderung
mengalami keterbelakangan mental.
Remedial Terapi
Pemecahan lain yang biasanya disodorkan kepada orangtua yang 'tidak
tega' untuk menitipkan anaknya di SLB C adalah tetap memasukkan
anak ke SD, tetapi dengan program terapi remedial yang intensif.
Terapi remedial merupakan terapi yang membimbing anak untuk
menguasai logika mendasar dan kemampuan berpikir secara lebih
optimal dengan teknik pembelajaran intensif yang disesuaikan
dengan keterbatasan kemampuan, gaya dan interes anak. Terapi ini
sebaiknya dilakukan secara individual dengan terapis yang
berpengalaman, biasanya guru-guru SLB, terapis yang interes pada
pendidikan serta guru-guru yang kreatif dan memiliki kesabaran
tinggi bisa melakukannya.
Pendekatan secara pribadi
kepada guru atau kepala sekolah untuk menitipkan anak di SD
biasa sangat penting, paling tidak berguna untuk anak tidak
mendapatkan beban target prestasi yang sama dengan teman lain
yang normal kondisinya. Maupun perhatian dan bimbingan yang
lebih intensif dari guru kelas tentunya mengingat keterbatasan
daya tangkap anak.
Stimulasi Belajar
yang Intensif dan Kesabaran Tinggi
Tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya karena memang ini bukan
penyakit. Perangsangan belajar yang intensif hanyalah
satu-satunya obat, peran orangtua di rumah di sini sangat tinggi,
demikian pula kontrol emosi serta kesabaran yang dimiliki.
Kesadaran bahwa mereka tidak mampu bukan tidak mau bisa menjadi
'rem' bagi rasa marah dan frustasi orangtua serta motivator
untuk bersikap lebih sabar dan terus mengulangi pembelajaran
yang kita berikan.
Belajar Sambil
Bermain
Anak-anak ini biasanya juga memiliki rentang konsentrasi dan
minat belajar yang rendah. Oleh karenanya teknik pembelajaran
yang kita berikan pun harus berprinsip belajar sambil bermain
dan bermain sambil belajar. Mereka mudah bosan untuk duduk di
meja, maka kreativitas orangtua untuk mencari media, alat peraga,
alat bantu dan teknik perangsangan belajar yang berbeda dan
menarik perhatian mereka.
Ibarat mengasah pisau, ada
yang mudah dan cepat mengasahnya, tetapi ada yang sedikit
karatan sehingga harus lebih keras, lebih lama dan lebih sabar
dalam mengasahnya. Salam manis.
|