kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 24 Oktober 2004 tarukan valas
 

CERMIN


IQ-nya ''Borderline'', Apa Itu?

BEBERAPA waktu yang lalu saya datang ke RS Sanglah untuk melihat kecerdasan anak saya karena sangat malas belajar dan harus dipaksa-paksa mengerjakan PR. Anak kedua saya ini, kebetulan perempuan 8 tahun memang sedari kecil suka sakit-sakitan sehingga sering tidak masuk sekolah. Dibilang bodoh menurut saya tidak juga Bu. Anaknya sudah bisa membaca sejak TK O besar. Pemalu dan malas belajar itu yang jelas, tetapi kalau di rumah pergaulan dengan teman-temannya biasa saja.

Setelah proses pemeriksaan yang sangat lama, pada akhirnya anak saya disimpulkan IQ-nya borderline. Yang membuat saya syok adalah bahwa anak saya harus masuk di SLB C. Istri saya sampai di rumah menangis diam-diam. Saya sendiri tidak enak makan dan tidak bisa tidur nyenyak. Anak saya fisiknya baik, bahkan tergolong cantik, bicara dan perilakunya normal, haruskah sekolahnya campur dengan anak-anak idiot?
1. IQ borderline itu bagaimana sih, Bu?
2. Apakah tidak ada sekolah lain yang bisa menerima anak dengan IQ seperti itu?
3. Adakah obat yang bisa menaikkan IQ-nya?

X, Denpasar

Saya sangat memahami kebingungan dan kerisauan hati Bapak-Ibu berdua. Memang cukup banyak orangtua yang syok ketika mendapati bahwa kecerdasan anaknya jauh di bawah rata-rata, dengan daya tangkap dan logika berpikir yang agak lambat. Terlebih lagi apabila guru SD-nya sudah angkat tangan tidak sanggup membimbing lagi sehingga mau tidak mau harus 'dititip' di SLB C. Para orangtua makin tidak tega lagi karena fisik dan tingkah laku anaknya normal dan tidak ada indikasi keterbelakangan mental.

Menurut Weschler kecerdasan anak yang tergolong borderline atau Perbatasan bahasa awamnya, memang agak membingungkan. Kondisi kecerdasan ini memang pada taraf perbatasan antara mental retardasi dengan di bawah normal. Dengan kata lain, anak dengan kemampuan berpikir yang masuk golongan borderline, masuk SD biasanya paling lambat dalam menangkap pelajaran, tetapi masuk SLB C biasanya paling pintar. Ciri fisik anak ini tidak jauh berbeda dengan anak yang memiliki kecerdasan normal. Namun ada beberapa ciri dan cara berpikir yang membedakannya. Anak dengan kemampuan borderline biasanya agak lambat daya tangkapnya dan mudah frustasi atau menghindari tugas-tugas sekolah yang cukup sulit baginya.

Penggolongan IQ Berdasarkan Weschler/ Depdikbud

Skor Klasifikasi
131 ke tas Very Superior/ Sangat Ceras
121-130 Superior/Cerdas
111-20 Bright Normal/ Di atas rata-rata
91-110 Average/Normal
81-90 Dull Normal/ Di bawah rata-rata/ agak lambat
66-88 Borderline/ lambat
65 ke bawah Mental Retardasi/ Sangat lambat

Sekolah Khusus ''Borderline''

Sebenarnya anak-anak dengan kecerdasan yang tergolong borderline ini memerlukan sekolah khusus yang kurikulum serta pengajarannya lebih tinggi dari SLB C, tetapi lebih ringan dari SD. Sayangnya, di Bali ini belum ada. Namun ada model yang hampir sama yang sedang dikembangkan di YPAC Jimbaran. Anak-anak dalam golongan ini biasanya membutuhkan bimbingan belajar yang intensif dengan kesabaran dan pengulangan pembelajaran yang tinggi. Kondisi inilah yang hampir tidak mungkin didapatkan di SD biasa, sehingga biasanya anak dititipkan di SLB C. Namun, sekali lagi banyak orangtua yang 'tidak tega' menitipkan dan mencampurkan anaknya dengan anak-anak yang ciri-ciri fisiknya cenderung mengalami keterbelakangan mental.

Remedial Terapi
Pemecahan lain yang biasanya disodorkan kepada orangtua yang 'tidak tega' untuk menitipkan anaknya di SLB C adalah tetap memasukkan anak ke SD, tetapi dengan program terapi remedial yang intensif. Terapi remedial merupakan terapi yang membimbing anak untuk menguasai logika mendasar dan kemampuan berpikir secara lebih optimal dengan teknik pembelajaran intensif yang disesuaikan dengan keterbatasan kemampuan, gaya dan interes anak. Terapi ini sebaiknya dilakukan secara individual dengan terapis yang berpengalaman, biasanya guru-guru SLB, terapis yang interes pada pendidikan serta guru-guru yang kreatif dan memiliki kesabaran tinggi bisa melakukannya.

Pendekatan secara pribadi kepada guru atau kepala sekolah untuk menitipkan anak di SD biasa sangat penting, paling tidak berguna untuk anak tidak mendapatkan beban target prestasi yang sama dengan teman lain yang normal kondisinya. Maupun perhatian dan bimbingan yang lebih intensif dari guru kelas tentunya mengingat keterbatasan daya tangkap anak.

Stimulasi Belajar yang Intensif dan Kesabaran Tinggi
Tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya karena memang ini bukan penyakit. Perangsangan belajar yang intensif hanyalah satu-satunya obat, peran orangtua di rumah di sini sangat tinggi, demikian pula kontrol emosi serta kesabaran yang dimiliki. Kesadaran bahwa mereka tidak mampu bukan tidak mau bisa menjadi 'rem' bagi rasa marah dan frustasi orangtua serta motivator untuk bersikap lebih sabar dan terus mengulangi pembelajaran yang kita berikan.

Belajar Sambil Bermain
Anak-anak ini biasanya juga memiliki rentang konsentrasi dan minat belajar yang rendah. Oleh karenanya teknik pembelajaran yang kita berikan pun harus berprinsip belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar. Mereka mudah bosan untuk duduk di meja, maka kreativitas orangtua untuk mencari media, alat peraga, alat bantu dan teknik perangsangan belajar yang berbeda dan menarik perhatian mereka.

Ibarat mengasah pisau, ada yang mudah dan cepat mengasahnya, tetapi ada yang sedikit karatan sehingga harus lebih keras, lebih lama dan lebih sabar dalam mengasahnya. Salam manis.

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com