kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 5 Januari 2004

 Politik


Tantangan Gerakan Boikot Politisi Busuk---

Kolektivisme, Politik Primitif dan Tekanan Ekonomi

SEBAGAI sebuah gerakan nasional yang memiliki landasan idealis menuju perubahan nasib bangsa, meminggirkan politisi busuk memang bukan perkara mudah. Hukum yang masih bisa dibeli, budaya kolektif (kolektivisme) masyarakat Bali akan menjadi kendala besar. Selain itu, budaya berpolitik yang masih primitif dan tekanan ekonomi adalah persoalan yang tidak bisa diabaikan. Namun, gerakan ini sangat penting bagi pembelajaran politik rakyat Bali dalam memahami demokrasi.

Hukum yang bisa dibeli, menjadi faktor utama yang harus dipikirkan para aktivis pro-demokarasi yang ingin menyingkirkan politisi busuk. Teten Masudki, Ketua Indonesia Corruption Watch (ICW), penggagas gerakan nasional tidak memilih politisi busuk, dengan lugas mengakui hal itu.

Realita ini membuat pengumunan daftar politisi busuk haruslah sangat berhati-hati. Terlebih lagi sampai saat ini, justru para politisi busuklah yang paling banyak memegang akses ekonomi yang berarti memiliki persediaan uang paling besar. Uang mereka yang berlimpah ini sangat berpeluang digunakan untuk membeli penegak hukum agar memenangkan gugatan terhadap pihak-pihak yang memasukkan mereka ke daftar politisi busuk.

Bali Corruption Watch (BCW) sebagai pihak yang berencana menyusun daftar politisi busuk di Bali, juga benar-benar menyadari hal ini. Wirata Dwikora, ketua BCW, mengatakan pihaknya akan menyiasati pengumuman daftar politisi busuk ini. ''Mungkin kita akan menyajikan daftar nama beserta deskripsi mengenai dosa-dosa mereka,'' kata Wirata. Jadi yang dicantumkan tidak hanya nama-nama melainkan juga deretan fakta-fakta yang mengarahkan mereka bisa disebut politisi busuk.

Pada akhirnya, data tersebut akan diumumkan dan bisa menjadi bahan pertimbangan bagi rakyat. Rakyatlah sebagai pemilih, menurut Wirata Dwikora, yang akan memberikan penilaian terakhir apakah mereka akan memilih atau tidak para politisi busuk yang ada di daftar tersebut.

Gerakan Nasional tidak memilih politisi busuk sendiri memang telah menyebutkan beberapa kriteria umum siapa yang pantas dimasukkan sebagai politisi busuk. Ada empat kriteria masing-masing, pelaku tindak pidana KKN, pelanggar HAM, perusak lingkungan dan pelaku pelecehan/kekerasan terhadap wanita.

Meski demikian, persepsi masyarakat soal politisi busuk tidaklah mudah untuk dibentuk. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi pembentukan persepsi, sehingga melahirkan penilaian figur politisi busuk yang berbeda-beda pula. Keberadaan daftar yang memuat nama sekaligus deskripsi dosa-dosa politisi busuk setidak-tidaknya bisa menjadi acuan penting bagi masyarakat. Di sinilah penting juga dipahami agar daftar yang dikeluarkan tersebut benar-benar berasal dari lembaga independen yang dipercaya masyarakat Bali. Siapa pun yang mengeluarkan daftar tersebut perlu terbuka dan mendengar dari semua pihak, terutama mengenai fakta-fakta yang akan disajikan.

Ancaman Premanisme

Budaya kolektif masyarakat Bali yang masih kental hingga saat ini harus diakui telah melahirkan kepatuhan yang mutlak bagi seorang tokoh. Pikiran rasional pun nyaris hilang. Akibatnya, keberadaan tokoh tidak lagi berpijak dalam garis moralitas.

Karena itulah, di dalam masyarakat Bali para bebotoh tajen, misalnya, memiliki pengikut yang sangat banyak. Demikian juga tokoh-tokoh preman yang sering menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuannya. Adalah sebuah realita kalau parpol besar di Bali pada tahun 1999 lalu melibatkan tokoh-tokoh tersebut sebagai anggota legislatif. Kalau kemudian lembaga legislatif selama ini banyak bersikap preman, tentu bukan sesuatu yang aneh. Dalam Pemilu 2004, sejumlah parpol tetap menggunakan pola-pola ini. Artinya, ada banyak bebotoh tajen atau preman yang masuk sebagai caleg.

Di sisi lain, pemahaman politik masyarakat Bali yang masih primitif semakin menyuburkan pola kepatuhan total terhadap para figur yang ditokohkan. Bahkan, pemahaman primitif ini bisa mendorong dilakukannya tindakan kekerasan secara kolektif pula.

Realita lain yang bisa menjadi ancaman adalah keterdesakan secara ekonomi yang dialami masyarakat. Mereka rentan bersedia melakukan apa pun demi uang. "Maju tak gentar, membela yang bayar," demikian slogan yang mungkin trend dalam masa-masa pemilu nanti.

Ini tantangan besar yang perlu dipahami setelah daftar politisi busuk dikeluarkan. Kekerasan tidak segan-segan akan dilakukan, ketika terdapat figur yang ditokohkan masuk dalam daftar politisi busuk. Budaya kolektif yang menghasilkan ketundukan mutlak terhadap seorang figur diperparah dengan pemahaman politik primitif dan kondisi ekonomi yang tertekan, menciptakan rakyat seperti tumpukan ranting yang mudah terbakar.

Gerakan boikot politisi busuk menghadapi tantangan yang besar. Ancaman teror dari pihak yang merasa dirugikan perlu diwaspadai. Kalau para politisi busuk menggunakan jalur hukum mungkin bisa dihadapi dengan hukum. Tetapi ketika kekerasan yang berbicara, persoalannya tentu akan lain. Apalagi aparat penegak hukum seperti polisi belum begitu bisa diharapkan.

Selain itu, fenomena bahwa track record figur caleg tidaklah menjadi penting bagi rakyat perlu dicermati pula. Hasil survai yang dilakukan Lembag Survai Indonesia (LSI), misalnya, menyebutkan rakyat banyak yang ingin kembali ke orde baru. Ini artinya, dedegkot orba yang terkenal berlumuran dosa dan paling layak dimasukkan politisi busuk bisa jadi justru dirindukan. Rakyat yang rindu masa lalu dan rakyat yang ingin perubahan dengan keinginan meminggirkan politisi busuk bisa melahirkan bentrok horizontal. * winata

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)