Ir. Gusti Made Widatra: ----
Satu Investasi
Pariwisata, Sepuluh Peluang Usaha
KENAPA
Pemkab Lombok Tengah begitu gencar mempromosikan sektor
pariwisatanya? Ada jawaban masuk akal yang diberikan
Kepala Kantor Penanaman Modal dan Lingkungan Hidup Lombok
Tengah, Ir. Gusti Made Widatra. Pertama, sektor pariwisata
merupakan potensi yang berpeluang besar mensejahterakan
masyarakat karena efek ganda yang ditimbulkan. Untuk
itulah, upaya memancing investor terus-menerus dilakukan.
''Satu investasi pariwisata bisa membuka sepuluh peluang
kerja di luar investasi itu,'' tukasnya.
Pariwisata memiliki
efek ganda pada sektor pertanian, perindustrian, jasa dan
lain-lain. Berdirinya sebuah hotel, misalnya, ternyata
tidak hanya menghidupi karyawan hotel dan para manajer,
melainkan juga para petani, industri kerajinan dan pelaku
kegiatan jasa lain. Bayangkan, jika ada 20 investasi
pariwisata yang tertanam di Lombok Tengah, bidang-bidang
lain pun akan terkantrol dengan sendirinya. Sementara ini,
investasi dalam bidang pariwisata mencapai 40 persen
dibandingkan investasi lain.
Menurut Widatra,
sektor pariwisata merupakan andalan kedua Lombok Tengah
setelah pertanian. Namun, semua sektor masuk dalam gerakan
multisektor yang berjalan beriringan. Artinya, jika satu
sektor terkendala, hal itu akan berpengaruh bagi sektor
lain. Karena itu pula ditempuh gerakan dengan visi dan
misi ''Lombok Tengah Prima Investasi Alam Lestari Tahun
2006'' guna menggairahkan iklim investasi di daerah itu.
Ia mengatakan dalam
sektor kepariwisataan, Lombok Tengah punya keunggulan
komparatif yang terus dikembangkan. Ibarat menanam padi,
di daerah mana pun padi itu sama. Namun, varietas padi di
Lombok Tengah sangat spesifik. Objek pantainya, misalnya,
tidak dihiasi pasir yang biasa, melainkan khas bak
bulir-bulir merica berwarna putih yang konon bisa
menyembuhkan penyakit reumatik dan penyakit kulit.
Perumahan di Desa Rembitan, khas dengan arsitektur masa
lalu. Tradisi Bau Nyale pun merupakan satu-satunya di
dunia. ''Inilah keunggulan komparatif yang dikembangkan,''
cetusnya.
Bagaimana dengan
faktor keamanan? Kata dia, satu dua kali kasus copet,
jambret dan rampok, tidak hanya bisa terjadi di Lombok
Tengah, melainkan bisa terjadi di mana-mana. Namun, bukan
berarti masalah itu diabaikan, melainkan menjadi salah
satu persoalan yang terus dicarikan jalan keluarnya.
Sehingga antara investasi, penegakan hukum dan
pemberdayaan masyarakat, terus disinergikan. Sebab, apa
pun bentuk investasi itu adalah untuk masyarakat. ''Pada
dasarnya investasi diperlukan guna mensejahterakan
masyarakat, sehingga dalam kegiatan investasi mesti
berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat,''
katanya.
Apakah dengan alasan
keamanan beberapa investor belum merealisasikan rencananya?
Ia mengakui ada delapan investor dalam negeri dan dua
investor luar negeri yang masih setengah hati menjalankan
investasinya. Sebutlah investor luar negeri seperti PT
Pantai Aan dan PT Istana Putri Mandalika. Realisasi
investasi PMDN dan PMA rata-rata nol persen dari puluhan
bahkan ratusan milyar yang direncanakan. Tetapi, bukan
berarti pemkab tinggal diam. Para investor itu pun sudah
dikorek keterangannya tentang keseriusannya menjalankan
investasi. Sebaliknya, para investor ternyata
mempertanyakan fasilitas penunjang seperti air bersih,
listrik, telepon, dan lain-lain. Persoalannya, apakah
investor serius jika segala tuntutannya direalisasikan.
Untuk mengadakan tuntutan mereka dibutuhkan biaya yang
tidak kecil.
Menurut Widatra,
sebelum menjalankan misinya, investor pariwisata sudah
pasti melewati tahap survai dan penelitian terlebih dahulu
menyangkut pasar wisata di daerah setempat. Nampaknya,
sektor pariwisata Lombok Tengah tetap prospektif mengingat
para investor ini punya networking yang bagus di berbagai
negara. Tinggal bagaimana pemkab menggedor agar investor
segera memulai kegiatan sesuai yang direncanakan. ''Inilah
yang sedang kita lakukan,'' ujar Widatra. (rab/par)
|