kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 5 Januari 2004

 Pariwisata


Investasi Pariwisata tak Kenal Mati

Pariwisata bagaikan gula. Walaupun bom meledak, terorisme merebak, sektor ini hanya beberapa lama terguncang, untuk kemudian bangkit lagi. Hal ini tidak lepas dari faktor kebutuhan manusia akan pentingnya melakukan perjalanan. Di mana pun di dunia ini, manusia tidak mungkin tahan semata-mata berada di dalam rumah. Karena itulah, Lombok yang kaya potensi wisata belum sepi diburu investasi.

Tastura Boutique di Kuta, Lombok Tengah, itu berdiri megah. Di halaman hotel, pada perayaan Natal dan Tahun Baru yang lalu, beberapa wisatawan lalu-lalang, kendati hotel senilai Rp 6 milyar itu belum lama beroperasi. Di bawah rindang pohon kelapa, hotel itu seolah menjanjikan sebuah masa depan bagi Lombok Tengah.

Bagi pemkab setempat, hampir tidak ada alasan yang cukup untuk tidak menyempurnakan panorama alam yang khas di kawasan itu dengan sarana penunjang seperti pembangunan hotel dan restoran. Walaupun beragam tragedi kemanusiaan telah terjadi, nampaknya tidak menjadi alasan cukup kuat untuk menghentikan kegiatan pembangunan perhotelan yang sempat terhenti.

Bayangkan, hotel bintang semacam Novotel Carolia Lombok di Kuta hampir tidak pernah sepi. Turunnya tingkat hunian hanya berlangsung beberapa saat, yakni setelah tragedi bom Bali dan wabah SARS. Usai peristiwa itu, wisatawan kembali berdatangan -- terlebih pada perayaan Natal dan Tahun Baru 2004.

Kecenderungan itulah yang menjadi alasan kenapa kemudian Tastura didirikan. Bahkan investor Jepang dengan bendera PT Yamada tahun ini tengah membangun cottage dengan nilai investasi puluhan milyar.

Sebelumnya, sejak tahun 1990, Lombok Tengah telah diserbu investor. Paling tidak belasan investor berusaha mendapatkan kaplingan tanah. Hingga tahun 1998, belasan investor, baik PMA maupun PMDN, sudah menguasai tanah di kawasan wisata Lombok Tengah. Sebutlah PT Pengembangan Pariwisata Lombok merencanakan investasi senilai Rp 549 milyar, PT Esa Swadhana sebesar Rp 213 milyar, PT Sukma Pradewa Rp 11 milyar dan PT Remar Pani Lombok Rp 110 milyar.

Kendati realisasi investasi masih dalam jumlah yang sangat kecil, hal itu bukan menjadi halangan untuk menggaet investor baru. Karena itulah, dilakukan beragam strategi. Karena investor mempertanyakan keamanan investasi, misalnya, pemkab sampai membuka jurus untuk membuktikan bahwa berinvestasi di Lombok Tengah aman, sehingga dibangunlah Tastura Boutique. ''Ini untuk membuka mata investor bahwa Lombok Tengah tetap aman,'' tukas Kepala Kantor Penanaman Modal dan Lingkungan Hidup Lombok Tengah, Ir. I Gusti Made Widatra.

Kasubdin Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Lombok Tengah Drs. H. Lalu Wirekarma, M.M. mengemukakan, pendirian Tastura bukan tanpa alasan, bahkan setelah melewati kajian dan penelitian mendalam. ''Kendati tergolong hotel kelas melati, pelayanan yang diberikan setara dengan hotel bintang,'' ujarnya sedikit berpromosi. Karena faktor pelayanan dengan standar internasional itu pulalah, hotel hasil kerja sama pemkab dengan investor dari Jakarta itu bisa beroperasi dengan baik.

Keunikan Lombok Tengah

Salah satu hal yang membuat investor menyerbu Lombok Tengah adalah karena potensi pariwisatanya yang menjanjikan. Masing-masing objek wisata, misalnya, memiliki keunikan tersendiri. Tidak mustahil, ketika dampak bom Bali mengguncang Lombok, hotel bintang di sana masih dikerubuti wisatawan.

Sekretaris PHRI Lombok Tengah Agustin Sasongkowati memperkirakan kunjungan turis mancanegara akan makin membaik, dan kian meningkat seiring kondusifnya keamanan, baik lokal, regional, nasional maupun internasional. Karena itulah, ''Kita tetap gencar melakukan promosi dengan memanfaatkan event pariwisata, baik nasional maupun internasional, dan tetap optimis pariwisata NTB akan bangkit lagi,'' katanya.

Keindahan panorama pantai di Lombok Tengah merupakan mukjizat yang tidak ternilai. Jika Lombok Barat terangkat oleh tiga gili, Lombok Tengah punya objek wisata yang masing-masing hampir memiliki keunikan merata. Selain pemandangan pantai dengan ombak dan pasir putih yang khas, Goa Bangkang di Pengembur dan Goa Bangkang di Kuta, punya daya tarik berupa beragam tradisi yang menopang potensi wisata alam.

"Bila hanya mengandalkan keindahan alam tanpa dibarengi dengan pengembangan budaya tradisional yang unik dan spesifik, Lombok Tengah akan ditinggal wisatawan," ujar Wirekarma. Pasalnya, wisatawan tidak hanya menikmati panorama alam, melainkan terlibat langsung dan mengamati kehidupan masyarakat tradisional.

Sebagai sektor yang menjadi prioritas kedua, upaya ke arah pengembangan pariwisata Lombok Tengah dilakukan secara intensif. Bayangkan, sekitar 45 persen PAD diperoleh dari sektor ini. "Itu pun baru pajak dari sebuah hotel berbintang. Jika terdapat dua atau tiga hotel berbintang, bukan tidak mungkin pajak hotel dan restoran mencapai 80-90 persen," tandasnya.

Keunggulan Komparatif

Menurut pengamat pariwisata Halus Mandala, investor mana pun, kini cukup hati-hati menanamkan modalnya di Indonesia. Namun, khususnya investasi pariwisata, Lombok memang diperhitungkan karena berada dekat dengan Bali. Setelah gili-gili di Lombok Barat diincar investor Inggris, Lombok Tengah tidak lepas dari lirikan.

Nampaknya investor masih memastikan Lombok Tengah sebagai potensi yang tidak bisa diabaikan. Menurut Halus Mandala, kekhasan itulah yang bisa menjadi modal "menjual" potensi Lombok Tengah kepada investor. Tanpa kekhasan, apa pun bentuk potensi itu tidak akan menjadi incaran. ''Sebab, pariwisata menjual keunikan, bukan pantainya, tetapi kekhasannya. Kalau pantai di mana-mana ada,'' cetusnya.

Misalnya ke Pulau Nias, wisman hanya ingin melihat atraksi loncat batu. Di Bali melihat ngaben. Bagaimana dengan Lombok? Di Lombok Tengah terdapat beberapa peristiwa yang spesifik. Dari SDA, misalnya, pantai Kuta dengan pasir putihnya yang unik seperti merica, merupakan nilai tambah terseniri. Selain itu, tradisi Bau Nyale merupakan peristiwa tidak ada duanya di dunia -- kendati cacing (nyale) sejenis itu pun terdapat di pantai Karibia.

''Tinggal sekarang bagaimana mengemas keunikan yang dimiliki menjadi lebih menarik. Bau Nyale contohnya, bagaimana agar tidak hanya menjadi konsumsi lokal, melainkan juga internasional,'' tukas Halus. Keunikan bisa menjadi keunggulan menawarkan daerah kepada para investor. Sebaliknya jika ada kesamaan dengan daerah lain, hal ini bukanlah sebuah nilai lebih yang menjanjikan. ''Untuk itulah perlu kerja keras dalam menarik investor, terutama terus-menerus mengemas kekhasan yang dimiliki.''

Kekhasan yang ada di masing-masing daerah bukan karena pariwisata, melainkan justru sudah tumbuh di lingkungan masyarakat. Tinggal bagaimana mensinergikan dengan pariwisata agar didukung masyarakat. Jika sudah ada komitmen masyarakat, bukan tidak mungkin investasi akan semakin meningkat. ''Namun, jangan dilihat investasi demi kepentingan investor, melainkan justru demi kepentingan masyarakat,'' tukasnya.

Halus mengatakan faktor keamanan hanya bersifat temporer mempengaruhi investasi. Persoalan sesungguhnya adalah komitmen bahwa investasi yang ditanamkan adalah demi kepentingan masyarakat, bukan dari investor dan untuk investor. Jika komitmen sudah tertanam lewat pemberdayaan masyarakat setempat, masalah keamanan bukan lagi sebuah ganjalan karena akan hilang dengan sendirinya. Sebab, pariwisata merupakan sebuah kebutuhan masyarakat dunia, dan karena itulah investasi dalam sektor ini tak kenal mati. (rab/par)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)