Investasi
Pariwisata tak Kenal Mati
Pariwisata bagaikan
gula. Walaupun bom meledak, terorisme merebak, sektor ini
hanya beberapa lama terguncang, untuk kemudian bangkit
lagi. Hal ini tidak lepas dari faktor kebutuhan manusia
akan pentingnya melakukan perjalanan. Di mana pun di dunia
ini, manusia tidak mungkin tahan semata-mata berada di
dalam rumah. Karena itulah, Lombok yang kaya potensi
wisata belum sepi diburu investasi.
Tastura Boutique di
Kuta, Lombok Tengah, itu berdiri megah. Di halaman hotel,
pada perayaan Natal dan Tahun Baru yang lalu, beberapa
wisatawan lalu-lalang, kendati hotel senilai Rp 6 milyar
itu belum lama beroperasi. Di bawah rindang pohon kelapa,
hotel itu seolah menjanjikan sebuah masa depan bagi Lombok
Tengah.
Bagi
pemkab setempat, hampir tidak ada alasan yang cukup untuk
tidak menyempurnakan panorama alam yang khas di kawasan
itu dengan sarana penunjang seperti pembangunan hotel dan
restoran. Walaupun beragam tragedi kemanusiaan telah
terjadi, nampaknya tidak menjadi alasan cukup kuat untuk
menghentikan kegiatan pembangunan perhotelan yang sempat
terhenti.
Bayangkan, hotel
bintang semacam Novotel Carolia Lombok di Kuta hampir
tidak pernah sepi. Turunnya tingkat hunian hanya
berlangsung beberapa saat, yakni setelah tragedi bom Bali
dan wabah SARS. Usai peristiwa itu, wisatawan kembali
berdatangan -- terlebih pada perayaan Natal dan Tahun Baru
2004.
Kecenderungan itulah
yang menjadi alasan kenapa kemudian Tastura didirikan.
Bahkan investor Jepang dengan bendera PT Yamada tahun ini
tengah membangun cottage dengan nilai investasi puluhan
milyar.
Sebelumnya, sejak
tahun 1990, Lombok Tengah telah diserbu investor. Paling
tidak belasan investor berusaha mendapatkan kaplingan
tanah. Hingga tahun 1998, belasan investor, baik PMA
maupun PMDN, sudah menguasai tanah di kawasan wisata
Lombok Tengah. Sebutlah PT Pengembangan Pariwisata Lombok
merencanakan investasi senilai Rp 549 milyar, PT Esa
Swadhana sebesar Rp 213 milyar, PT Sukma Pradewa Rp 11
milyar dan PT Remar Pani Lombok Rp 110 milyar.
Kendati realisasi
investasi masih dalam jumlah yang sangat kecil, hal itu
bukan menjadi halangan untuk menggaet investor baru.
Karena itulah, dilakukan beragam strategi. Karena investor
mempertanyakan keamanan investasi, misalnya, pemkab sampai
membuka jurus untuk membuktikan bahwa berinvestasi di
Lombok Tengah aman, sehingga dibangunlah Tastura Boutique.
''Ini untuk membuka mata investor bahwa Lombok Tengah
tetap aman,'' tukas Kepala Kantor Penanaman Modal dan
Lingkungan Hidup Lombok Tengah, Ir. I Gusti Made Widatra.
Kasubdin Pemasaran
Pariwisata Dinas Pariwisata Lombok Tengah Drs. H. Lalu
Wirekarma, M.M. mengemukakan, pendirian Tastura bukan
tanpa alasan, bahkan setelah melewati kajian dan
penelitian mendalam. ''Kendati tergolong hotel kelas
melati, pelayanan yang diberikan setara dengan hotel
bintang,'' ujarnya sedikit berpromosi. Karena faktor
pelayanan dengan standar internasional itu pulalah, hotel
hasil kerja sama pemkab dengan investor dari Jakarta itu
bisa beroperasi dengan baik.
Keunikan
Lombok Tengah
Salah satu hal yang
membuat investor menyerbu Lombok Tengah adalah karena
potensi pariwisatanya yang menjanjikan. Masing-masing
objek wisata, misalnya, memiliki keunikan tersendiri.
Tidak mustahil, ketika dampak bom Bali mengguncang Lombok,
hotel bintang di sana masih dikerubuti wisatawan.
Sekretaris PHRI
Lombok Tengah Agustin Sasongkowati memperkirakan kunjungan
turis mancanegara akan makin membaik, dan kian meningkat
seiring kondusifnya keamanan, baik lokal, regional,
nasional maupun internasional. Karena itulah, ''Kita tetap
gencar melakukan promosi dengan memanfaatkan event
pariwisata, baik nasional maupun internasional, dan tetap
optimis pariwisata NTB akan bangkit lagi,'' katanya.
Keindahan panorama
pantai di Lombok Tengah merupakan mukjizat yang tidak
ternilai. Jika Lombok Barat terangkat oleh tiga gili,
Lombok Tengah punya objek wisata yang masing-masing hampir
memiliki keunikan merata. Selain pemandangan pantai dengan
ombak dan pasir putih yang khas, Goa Bangkang di Pengembur
dan Goa Bangkang di Kuta, punya daya tarik berupa beragam
tradisi yang menopang potensi wisata alam.
"Bila hanya
mengandalkan keindahan alam tanpa dibarengi dengan
pengembangan budaya tradisional yang unik dan spesifik,
Lombok Tengah akan ditinggal wisatawan," ujar
Wirekarma. Pasalnya, wisatawan tidak hanya menikmati
panorama alam, melainkan terlibat langsung dan mengamati
kehidupan masyarakat tradisional.
Sebagai sektor yang
menjadi prioritas kedua, upaya ke arah pengembangan
pariwisata Lombok Tengah dilakukan secara intensif.
Bayangkan, sekitar 45 persen PAD diperoleh dari sektor ini.
"Itu pun baru pajak dari sebuah hotel berbintang.
Jika terdapat dua atau tiga hotel berbintang, bukan tidak
mungkin pajak hotel dan restoran mencapai 80-90 persen,"
tandasnya.
Keunggulan
Komparatif
Menurut pengamat
pariwisata Halus Mandala, investor mana pun, kini cukup
hati-hati menanamkan modalnya di Indonesia. Namun,
khususnya investasi pariwisata, Lombok memang
diperhitungkan karena berada dekat dengan Bali. Setelah
gili-gili di Lombok Barat diincar investor Inggris, Lombok
Tengah tidak lepas dari lirikan.
Nampaknya investor
masih memastikan Lombok Tengah sebagai potensi yang tidak
bisa diabaikan. Menurut Halus Mandala, kekhasan itulah
yang bisa menjadi modal "menjual" potensi Lombok
Tengah kepada investor. Tanpa kekhasan, apa pun bentuk
potensi itu tidak akan menjadi incaran. ''Sebab,
pariwisata menjual keunikan, bukan pantainya, tetapi
kekhasannya. Kalau pantai di mana-mana ada,'' cetusnya.
Misalnya ke Pulau
Nias, wisman hanya ingin melihat atraksi loncat batu. Di
Bali melihat ngaben. Bagaimana dengan Lombok? Di Lombok
Tengah terdapat beberapa peristiwa yang spesifik. Dari SDA,
misalnya, pantai Kuta dengan pasir putihnya yang unik
seperti merica, merupakan nilai tambah terseniri. Selain
itu, tradisi Bau Nyale merupakan peristiwa tidak ada
duanya di dunia -- kendati cacing (nyale) sejenis itu pun
terdapat di pantai Karibia.
''Tinggal sekarang
bagaimana mengemas keunikan yang dimiliki menjadi lebih
menarik. Bau Nyale contohnya, bagaimana agar tidak hanya
menjadi konsumsi lokal, melainkan juga internasional,''
tukas Halus. Keunikan bisa menjadi keunggulan menawarkan
daerah kepada para investor. Sebaliknya jika ada kesamaan
dengan daerah lain, hal ini bukanlah sebuah nilai lebih
yang menjanjikan. ''Untuk itulah perlu kerja keras dalam
menarik investor, terutama terus-menerus mengemas kekhasan
yang dimiliki.''
Kekhasan yang ada di
masing-masing daerah bukan karena pariwisata, melainkan
justru sudah tumbuh di lingkungan masyarakat. Tinggal
bagaimana mensinergikan dengan pariwisata agar didukung
masyarakat. Jika sudah ada komitmen masyarakat, bukan
tidak mungkin investasi akan semakin meningkat. ''Namun,
jangan dilihat investasi demi kepentingan investor,
melainkan justru demi kepentingan masyarakat,'' tukasnya.
Halus mengatakan
faktor keamanan hanya bersifat temporer mempengaruhi
investasi. Persoalan sesungguhnya adalah komitmen bahwa
investasi yang ditanamkan adalah demi kepentingan
masyarakat, bukan dari investor dan untuk investor. Jika
komitmen sudah tertanam lewat pemberdayaan masyarakat
setempat, masalah keamanan bukan lagi sebuah ganjalan
karena akan hilang dengan sendirinya. Sebab, pariwisata
merupakan sebuah kebutuhan masyarakat dunia, dan karena
itulah investasi dalam sektor ini tak kenal mati. (rab/par)
|