kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 5 Januari 2004

 Olahraga


Catatan Sepak Bola--

Menjalani Laga Divisi I

KEPASTIAN telah dimiliki Perseden setelah gagal bertahan di Divisi Utama Liga Indonesia, yaitu kucuran dana Rp 2 milyar, terpilihnya kembali Ida Bagus Gde Dirga sebagai manajer dan ditunjuknya Tukijan Teguh sebagai pelatih. Dengan kepastian itu, boleh dikatakan mereka telah memiliki "alat" untuk berjalan memasuki kompetisi divisi I yang akan diputar mulai 15 Februari.

Satu hal penting yang harus dilihat dari tim Perseden adalah bagaimana melakoni divisi satu secara lebih baik dibanding dengan saat berlaga di divisi utama. Ini perlu dikemukakan karena ada kekhawatiran bakal sulit bertahan di divisi I, apalagi mampu kembali melompat ke divisi utama di tengah ingar-bingarnya berita miring yang mendera. Pendapat ini ada benarnya. Oleh karena itu, poin pertama yang harus dikerjakan pengurus Perseden adalah menghilangkan silang pendapat itu (entah tentang dana, manajer, kepengurusan, dan pelatih) dan segera melihat ke depan. Silang pendapat yang berkepanjangan akan mempengaruhi keharmonisan tim.

Pandangan ini mungkin terlalu pesimis, namun perlu diungkapkan agar prestasi tidak bertambah jebol lagi. Bertahan di divisi I jelas akan membuat jalan menuju divisi utama tidak seberat jika, misalnya, harus terlempar lagi ke divisi yang lebih di bawah. Divisi I bisa diibaratkan sebagai tempat berjaga-jaga, siapa tahu umpamanya kelak, Perseden mendapat tunjangan dana berlipat sehingga amat memungkinkan kembali meraih prestasi ke divisi utama melalui pembinaan yang matang. Atau justru dengan semangat tinggi, malah mampu menjuarai divisi I dan kembali ke divisi utama.

Faktor kedua yang mengkhawatirkan Perseden adalah soal materi pemain. Setelah kontraknya habis, pemain Perseden yang memperkuat tim saat berlaga di divisi utama telah banyak yang keluar. Kesolidan tim tentu tidak sebaik dulu lagi. Diperlukan satu kondisi yang mampu membangun soliditas yang bagus. Dalam hal ini pelatihlah yang mempunyai tanggung jawab besar. Pelatih akan mampu membangun itu jika suasana harmoni tim mendukungnya. Dengan dana Rp 2 milyar tentu saja pemain yang bisa dikontrak kualitasnya jauh dibandingkan dengan materi saat berlaga di divisi utama. Sekali lagi, faktor yang paling mampu mengatasi masalah ini adalah kekompakan. Harus diakui, sukses Persik Kediri menjuarai LI IX tidak bisa dilepaskan dari kekompakan segala unsur dalam tim ini.

Perhatikan pula pemain-pemain yang direkrut. Sebaiknya jangan menarik pemain yang sudah uzur untuk kompetisi yang berjalan panjang. Meski mempunyai nama besar dalam dunia sepak bola nasional, dalam kondisi Indonesia saat ini, meraka tidak mampu lagi mengangkat prestasi tim. Yang dipentingkan Perseden sekarang adalah mereka yang mampu mengangkat mental tim. Lebih baik merekrut pemain muda meski belum mempunyai nama. Jika pelatih dan pengurus mampu membinanya, kelak berpotensi menjadi pemain hebat dan bisa mengangkat tim. Jadi, yang dipentingkan adalah potensinya ke depan. Pemain seperti ini nantinya berpotensi mendatangkan dana bagi Perseden, misalnya jika nanti ada kesebelasan lain membelinya. (ska)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)