Catatan Sepak Bola--
Menjalani Laga
Divisi I
KEPASTIAN
telah dimiliki Perseden setelah gagal bertahan di Divisi
Utama Liga Indonesia, yaitu kucuran dana Rp 2 milyar,
terpilihnya kembali Ida Bagus Gde Dirga sebagai manajer
dan ditunjuknya Tukijan Teguh sebagai pelatih. Dengan
kepastian itu, boleh dikatakan mereka telah memiliki
"alat" untuk berjalan memasuki kompetisi divisi
I yang akan diputar mulai 15 Februari.
Satu hal penting
yang harus dilihat dari tim Perseden adalah bagaimana
melakoni divisi satu secara lebih baik dibanding dengan
saat berlaga di divisi utama. Ini perlu dikemukakan karena
ada kekhawatiran bakal sulit bertahan di divisi I, apalagi
mampu kembali melompat ke divisi utama di tengah
ingar-bingarnya berita miring yang mendera. Pendapat ini
ada benarnya. Oleh karena itu, poin pertama yang harus
dikerjakan pengurus Perseden adalah menghilangkan silang
pendapat itu (entah tentang dana, manajer, kepengurusan,
dan pelatih) dan segera melihat ke depan. Silang pendapat
yang berkepanjangan akan mempengaruhi keharmonisan tim.
Pandangan ini
mungkin terlalu pesimis, namun perlu diungkapkan agar
prestasi tidak bertambah jebol lagi. Bertahan di divisi I
jelas akan membuat jalan menuju divisi utama tidak seberat
jika, misalnya, harus terlempar lagi ke divisi yang lebih
di bawah. Divisi I bisa diibaratkan sebagai tempat
berjaga-jaga, siapa tahu umpamanya kelak, Perseden
mendapat tunjangan dana berlipat sehingga amat
memungkinkan kembali meraih prestasi ke divisi utama
melalui pembinaan yang matang. Atau justru dengan semangat
tinggi, malah mampu menjuarai divisi I dan kembali ke
divisi utama.
Faktor kedua yang
mengkhawatirkan Perseden adalah soal materi pemain.
Setelah kontraknya habis, pemain Perseden yang memperkuat
tim saat berlaga di divisi utama telah banyak yang keluar.
Kesolidan tim tentu tidak sebaik dulu lagi. Diperlukan
satu kondisi yang mampu membangun soliditas yang bagus.
Dalam hal ini pelatihlah yang mempunyai tanggung jawab
besar. Pelatih akan mampu membangun itu jika suasana
harmoni tim mendukungnya. Dengan dana Rp 2 milyar tentu
saja pemain yang bisa dikontrak kualitasnya jauh
dibandingkan dengan materi saat berlaga di divisi utama.
Sekali lagi, faktor yang paling mampu mengatasi masalah
ini adalah kekompakan. Harus diakui, sukses Persik Kediri
menjuarai LI IX tidak bisa dilepaskan dari kekompakan
segala unsur dalam tim ini.
Perhatikan pula
pemain-pemain yang direkrut. Sebaiknya jangan menarik
pemain yang sudah uzur untuk kompetisi yang berjalan
panjang. Meski mempunyai nama besar dalam dunia sepak bola
nasional, dalam kondisi Indonesia saat ini, meraka tidak
mampu lagi mengangkat prestasi tim. Yang dipentingkan
Perseden sekarang adalah mereka yang mampu mengangkat
mental tim. Lebih baik merekrut pemain muda meski belum
mempunyai nama. Jika pelatih dan pengurus mampu membinanya,
kelak berpotensi menjadi pemain hebat dan bisa mengangkat
tim. Jadi, yang dipentingkan adalah potensinya ke depan.
Pemain seperti ini nantinya berpotensi mendatangkan dana
bagi Perseden, misalnya jika nanti ada kesebelasan lain
membelinya. (ska)
|