Ada semacam dialog universal dan eksternal antara Tuhan
dan manusia lewat alam. Memang dialog khusus atau
partikular antara kedua eksistent tersebut lewat agama dan
kitab suci atau firman. Namun dialog partikular ini tidak
secara otomatis menghapuskan dialog universal yang justru
bersifat lebih mendasar. Sebaliknya, dialog partikular
justru lebih memperkuat adanya dialog universal, bahkan
dalam banyak hal juga bertumpu pada dialog tersebut.
-------------------------------
Benarkah
Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
Oleh
Kasubmahardi W.
JUMAT
dini hari lalu (2/1), gempa dengan kekuatan 6,1 pada skala
Richter menggoyang Bali dan Lombok. Di antara berbagai
komentar yang terlontar di masyarakat, ada yang
melontarkan pendapat, "Tuhan murka kepada bangsa
Indonesia". Tentulah, dia melihat guncangan gempa
berkekuatan tinggi tersebut sebagai pertanda kemurkaan
Tuhan. Intepretasi semacam itu sering kali kita dengar
dalam masyarakat ketika suatu musibah melanda.
-----------------------------------------------
Bagaimana kita
memahami pola pemikiran semacam itu? Jelas, pola pemikiran
ini memiliki landasan adanya hubungan langsung antara alam
dengan tindakan Tuhan. Model penalaran semacam ini banyak
didapai di dunia ketimuran, yang pada umumnya memang
menganut pemahaman religius. Sebaliknya, pemikiran semacam
itu tidak terdapat di kalangan masyarakat Barat atau
masyarakat maju, yang melihat tidak ada relevansi antara
gejala alam dengan tindakan Tuhan. Gempa bumi, banjir
bandang, wabah penyakit, kelaparan akibat kekeringan,
semuanya merupakan gejala alam atau akibat negatif dari
tindakan manusia yang salah atau di luar perhitungan.
Pemikiran
Religius
Masyarakat Timur
pada umumnya menganut pola pemikiran religius. Pemikiran
ini melihat dunia beserta isinya merupakan bagian integral
dari keseluruhan alam yang suci. Sebagai bagian dari The
Holy, dunia tidak lepas dari pengaruh-Nya, bahkan manusia
justru harus menyesuaikan diri dengan pola suci dari
kenyataan tersebut. Dengan kata lain, manusia harus hidup
mengikuti pola Yang Suci karena dia adalah bagian integral
dari-Nya. Kehidupan yang mengebal dari pola Yang Suci akan
menimbulkan dampak negatif bagi manusia. Untuk menghukum
kesalahan manusia tersebut, Yang Suci bisa saja bertindak
dengan menggunakan kekuatan alam.
Pola pemikiran
religius tidak memisahkan secara tegas antara alam dengan
Tuhan, atau Yang Suci. Landasan pemikirannya mengatakan
Tuhan adalah pencipta sekaligus penguasa alam, karena itu
Dia bisa berbuat apa saja dengan alam. Dengan demikian,
gejala alam tidak hanya memiliki makna fisikal, tetapi
juga spiritual. Karena itulah, tugas manusia adalah
mencoba memahami dan menemukan kehendak Tuhan di balik
gejala alam yang terjadi. Sebagai pencipta dan penguasa
alam, Tuhan hadir di dalam alam dan kehidupan manusia,
sehingga pada hakikatnya alam dan kehidupan manusia
merupakan bacaan dari kehadiran dan kehendak Tuhan. Dari
sini kita bisa memahami mengapa orang bisa sampai pada
kesimpulan bahwa keindahan alam dan kesuburan tanaman
adalah wujud nyata dari kebesaran sekaligus kemurahan
Tuhan kepada manusia. Banyak orang berkata, untuk bisa
merasakan kehadiran Tuhan, lihat saja alam, bukan hanya
dengan mata kepala, tetapi juga dengan mata batin.
Ada semacam dialog
universal dan eksternal antara Tuhan dan manusia lewat
alam. Memang dialog khusus atau partikular antara kedua
eksistent tersebut lewat agama dan kitab suci atau firman.
Namun dialog partikular ini tidak secara otomatis
menghapuskan dialog universal yang justru bersifat lebih
mendasar. Sebaliknya, dialog partikular justru lebih
memperkuat adanya dialog universal, bahkan dalam banyak
hal juga bertumpu pada dialog tersebut.
Bisa dimengerti
apabila ada agama yang secara khusus mengembangkan teologi
alam atau theology of nature. Alam diterima bukan saja
sebagai wujud kehadiran Tuhan, tetapi juga sebagai
tangan-tangan Tuhan, yang siap bertindak sesuai dengan
kondisi kehidupan manusia. Bila manusia hidup sesuai
dengan pola suci, Tuhan akan menurunkan berkat-Nya lewat
alam, berupa panen melimpah, cuaca yang nyaman dan alam
yang ramah dan pemurah. Sebaliknya, apabila manusia hidup
menyeleweng dari pola suci, Tuhan akan murka dan
mendatangkan berbagai bentuk musibah, seperti penyakit
menular, banjir bandang, kekeringan berkepenjangan, gempa
dengan kekuatan tinggi dan musibah lainnya.
Pemikiran
Sekuler
Masyarakat Barat
pada umumnya menganut pola pemikiran sekuler. Pola ini
melihat adanya pemisahan yang tegas antara hukum alam dan
kehendak dan tindakan Tuhan. Pemikiran sekuler, dengan
menggunakan rasionalitas manusia sebagai landasannya,
tidak melihat adanya nilai spiritual dalam gejala alam.
Kalau toh ada, itu lebih merupakan tindakan manusia dalam
mencoba melihat dirinya sendiri. Ada perbedaan mendasar
antara hukum alam yang sepenuhnya berdasarkan sebab-akibat
dan hukum moral yang bersifat sangat relatif. Penggundulan
hutan secara pasti akan mendatangkan banjir dan kekeringan,
sebaliknya kejahatan manusia bisa saja justru menghasilkan
kesejahteraan ekonomis dan kewibawaan sosial, bukan selalu
hukuman.
Banjir, kemarau
berkepanjangan, meningkatnya suhu bumi dan lain-lain, bagi
kaum sekuler hal itu merupakan sepenuhnya gejala alam yang
bisa jadi merupakan akibat dari perilaku manusia itu
sendiri. Pemikiran sekuler memang tidak harus diartikan
sebagai sepi spiritualitas. Kecenderungan ini masih tetap
ada, bahkan tidak jarang justru berkembang dengan semarak.
Yang berbeda hanyalah penerapannya. Bagi masyarakat
sekuler, spiritualitas punya tempatnya sendiri yang tidak
harus secara otomatis dikaitkan dengan hukum alam. Banjir
bandang atau sepenuhnya merupakan gejala alam. Namun
gejala ini muncul bisa saja akibat ulah manusia. Ulah
manusia yang salah menimbulkan dampak negatif terhadap
kehidupan. Penggundulan hutan secara serampangan
mengakibatkan tanah tak lagi mampu menyerap dan menyimpan
air. Akibatnya, begitu hujan turun, air melimpah ke
mana-mana, sementara persediaan air dalam tanah sangat
sedikit. Dampaknya, ketika musim kemarau tiba, air yang
sedikit itu habis dan kekeringan tak terhindarkan lagi.
Apa nilai spiritual
dari fenomena alam tersebut? Manusia harus menyadari
kesalahan yang sudah dia lakukan. Kesadaran adalah
pengubahan tingkah laku, bukan sekadar teori dan omongan.
Dengan kata lain, lewat kesadaran dan pemahaman terhadap
diri dan tindakan sendiri, manusia mengubah perilakunya
dan menghindarkan akibat buruk yang ditimbulkannya. Tuhan
marah atau tidak, yang jelas malapetaka akan terus terjadi
apabila manusia tidak mau memperbaiki kesalahannya.
Efektifitas
Pendekatan religius
terhadap musibah alam sama baiknya dengan pendekatan
sekuler. Letak persoalannya bukan landasan apa yang
digunakannya, melainkan sejauh mana efektifitasnya. Lewat
pendekatan religius manusia bisa sampai pada kesadaran
akan tindakan dan jati dirinya. Demikian juga, melalui
pendekatan sekuler. Lebih dari itu, kedua pendekatan
tersebut, kalau memang diikuti secara konsekuen, bisa saja
membawa manusia kepada sebuah keputusan untuk melakukan
perubahan dan perombakan.
Kesadaran akan jati
diri dan tindakan sendiri merupakan titik awal dari
kesadaran akan kesalahan, yang selanjutnya akan mendorong
terjadinya perubahan dan perombakan, baik pola pikir
maupun tindakan real. Sebaliknya, kedua pendekatan itu
sama-sama punya potensi untuk berhenti setengah jalan,
karena manusia yang menjadi aktornya memang berjiwa
setengah matang. Pendekatan religius terhenti ketika
mencapai titik pernyataan yang indah dan menawan. Tuhan
murka, karena manusia berbuat banyak kebusukan. Apa tindak
lanjutnya? Tidak ada, karena ungkapan itu sendiri sudah
cukup indah dan mencerminkan kesadaran manusia akan
kesalahan.
Pendekatan sekuler
terhenti ketika kesadaran akan kesalahan menghasilkan
teori tentang asal-muasal banjir. Teori tersebut sangat
jelas dan bisa dikuti oleh otak semua orang secara relatif
mudah. Bahkan teori semacam itu terasa sangat indah ketika
disajikan dalam kesempatan-kesempatan resmi semacam
diskusi, seminar maupun kuliah di lembaga pendidikan.
Tanpa tindakan lanjut, teori sama sekali tidak memiliki
efektifitas bagi kehidupan manusia, seperti halnya
statemen indah pendekatan religius.
Penulis,
pengamat masalah sosial-politik dan kemanusiaan, tinggal
di Mataram, Lombok
|