kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 5 Januari 2004

 Artikel


Ada semacam dialog universal dan eksternal antara Tuhan dan manusia lewat alam. Memang dialog khusus atau partikular antara kedua eksistent tersebut lewat agama dan kitab suci atau firman. Namun dialog partikular ini tidak secara otomatis menghapuskan dialog universal yang justru bersifat lebih mendasar. Sebaliknya, dialog partikular justru lebih memperkuat adanya dialog universal, bahkan dalam banyak hal juga bertumpu pada dialog tersebut.

-------------------------------

Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?

Oleh Kasubmahardi W.

JUMAT dini hari lalu (2/1), gempa dengan kekuatan 6,1 pada skala Richter menggoyang Bali dan Lombok. Di antara berbagai komentar yang terlontar di masyarakat, ada yang melontarkan pendapat, "Tuhan murka kepada bangsa Indonesia". Tentulah, dia melihat guncangan gempa berkekuatan tinggi tersebut sebagai pertanda kemurkaan Tuhan. Intepretasi semacam itu sering kali kita dengar dalam masyarakat ketika suatu musibah melanda.

-----------------------------------------------

Bagaimana kita memahami pola pemikiran semacam itu? Jelas, pola pemikiran ini memiliki landasan adanya hubungan langsung antara alam dengan tindakan Tuhan. Model penalaran semacam ini banyak didapai di dunia ketimuran, yang pada umumnya memang menganut pemahaman religius. Sebaliknya, pemikiran semacam itu tidak terdapat di kalangan masyarakat Barat atau masyarakat maju, yang melihat tidak ada relevansi antara gejala alam dengan tindakan Tuhan. Gempa bumi, banjir bandang, wabah penyakit, kelaparan akibat kekeringan, semuanya merupakan gejala alam atau akibat negatif dari tindakan manusia yang salah atau di luar perhitungan.

Pemikiran Religius

Masyarakat Timur pada umumnya menganut pola pemikiran religius. Pemikiran ini melihat dunia beserta isinya merupakan bagian integral dari keseluruhan alam yang suci. Sebagai bagian dari The Holy, dunia tidak lepas dari pengaruh-Nya, bahkan manusia justru harus menyesuaikan diri dengan pola suci dari kenyataan tersebut. Dengan kata lain, manusia harus hidup mengikuti pola Yang Suci karena dia adalah bagian integral dari-Nya. Kehidupan yang mengebal dari pola Yang Suci akan menimbulkan dampak negatif bagi manusia. Untuk menghukum kesalahan manusia tersebut, Yang Suci bisa saja bertindak dengan menggunakan kekuatan alam.

Pola pemikiran religius tidak memisahkan secara tegas antara alam dengan Tuhan, atau Yang Suci. Landasan pemikirannya mengatakan Tuhan adalah pencipta sekaligus penguasa alam, karena itu Dia bisa berbuat apa saja dengan alam. Dengan demikian, gejala alam tidak hanya memiliki makna fisikal, tetapi juga spiritual. Karena itulah, tugas manusia adalah mencoba memahami dan menemukan kehendak Tuhan di balik gejala alam yang terjadi. Sebagai pencipta dan penguasa alam, Tuhan hadir di dalam alam dan kehidupan manusia, sehingga pada hakikatnya alam dan kehidupan manusia merupakan bacaan dari kehadiran dan kehendak Tuhan. Dari sini kita bisa memahami mengapa orang bisa sampai pada kesimpulan bahwa keindahan alam dan kesuburan tanaman adalah wujud nyata dari kebesaran sekaligus kemurahan Tuhan kepada manusia. Banyak orang berkata, untuk bisa merasakan kehadiran Tuhan, lihat saja alam, bukan hanya dengan mata kepala, tetapi juga dengan mata batin.

Ada semacam dialog universal dan eksternal antara Tuhan dan manusia lewat alam. Memang dialog khusus atau partikular antara kedua eksistent tersebut lewat agama dan kitab suci atau firman. Namun dialog partikular ini tidak secara otomatis menghapuskan dialog universal yang justru bersifat lebih mendasar. Sebaliknya, dialog partikular justru lebih memperkuat adanya dialog universal, bahkan dalam banyak hal juga bertumpu pada dialog tersebut.

Bisa dimengerti apabila ada agama yang secara khusus mengembangkan teologi alam atau theology of nature. Alam diterima bukan saja sebagai wujud kehadiran Tuhan, tetapi juga sebagai tangan-tangan Tuhan, yang siap bertindak sesuai dengan kondisi kehidupan manusia. Bila manusia hidup sesuai dengan pola suci, Tuhan akan menurunkan berkat-Nya lewat alam, berupa panen melimpah, cuaca yang nyaman dan alam yang ramah dan pemurah. Sebaliknya, apabila manusia hidup menyeleweng dari pola suci, Tuhan akan murka dan mendatangkan berbagai bentuk musibah, seperti penyakit menular, banjir bandang, kekeringan berkepenjangan, gempa dengan kekuatan tinggi dan musibah lainnya.

Pemikiran Sekuler

Masyarakat Barat pada umumnya menganut pola pemikiran sekuler. Pola ini melihat adanya pemisahan yang tegas antara hukum alam dan kehendak dan tindakan Tuhan. Pemikiran sekuler, dengan menggunakan rasionalitas manusia sebagai landasannya, tidak melihat adanya nilai spiritual dalam gejala alam. Kalau toh ada, itu lebih merupakan tindakan manusia dalam mencoba melihat dirinya sendiri. Ada perbedaan mendasar antara hukum alam yang sepenuhnya berdasarkan sebab-akibat dan hukum moral yang bersifat sangat relatif. Penggundulan hutan secara pasti akan mendatangkan banjir dan kekeringan, sebaliknya kejahatan manusia bisa saja justru menghasilkan kesejahteraan ekonomis dan kewibawaan sosial, bukan selalu hukuman.

Banjir, kemarau berkepanjangan, meningkatnya suhu bumi dan lain-lain, bagi kaum sekuler hal itu merupakan sepenuhnya gejala alam yang bisa jadi merupakan akibat dari perilaku manusia itu sendiri. Pemikiran sekuler memang tidak harus diartikan sebagai sepi spiritualitas. Kecenderungan ini masih tetap ada, bahkan tidak jarang justru berkembang dengan semarak. Yang berbeda hanyalah penerapannya. Bagi masyarakat sekuler, spiritualitas punya tempatnya sendiri yang tidak harus secara otomatis dikaitkan dengan hukum alam. Banjir bandang atau sepenuhnya merupakan gejala alam. Namun gejala ini muncul bisa saja akibat ulah manusia. Ulah manusia yang salah menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan. Penggundulan hutan secara serampangan mengakibatkan tanah tak lagi mampu menyerap dan menyimpan air. Akibatnya, begitu hujan turun, air melimpah ke mana-mana, sementara persediaan air dalam tanah sangat sedikit. Dampaknya, ketika musim kemarau tiba, air yang sedikit itu habis dan kekeringan tak terhindarkan lagi.

Apa nilai spiritual dari fenomena alam tersebut? Manusia harus menyadari kesalahan yang sudah dia lakukan. Kesadaran adalah pengubahan tingkah laku, bukan sekadar teori dan omongan. Dengan kata lain, lewat kesadaran dan pemahaman terhadap diri dan tindakan sendiri, manusia mengubah perilakunya dan menghindarkan akibat buruk yang ditimbulkannya. Tuhan marah atau tidak, yang jelas malapetaka akan terus terjadi apabila manusia tidak mau memperbaiki kesalahannya.

Efektifitas

Pendekatan religius terhadap musibah alam sama baiknya dengan pendekatan sekuler. Letak persoalannya bukan landasan apa yang digunakannya, melainkan sejauh mana efektifitasnya. Lewat pendekatan religius manusia bisa sampai pada kesadaran akan tindakan dan jati dirinya. Demikian juga, melalui pendekatan sekuler. Lebih dari itu, kedua pendekatan tersebut, kalau memang diikuti secara konsekuen, bisa saja membawa manusia kepada sebuah keputusan untuk melakukan perubahan dan perombakan.

Kesadaran akan jati diri dan tindakan sendiri merupakan titik awal dari kesadaran akan kesalahan, yang selanjutnya akan mendorong terjadinya perubahan dan perombakan, baik pola pikir maupun tindakan real. Sebaliknya, kedua pendekatan itu sama-sama punya potensi untuk berhenti setengah jalan, karena manusia yang menjadi aktornya memang berjiwa setengah matang. Pendekatan religius terhenti ketika mencapai titik pernyataan yang indah dan menawan. Tuhan murka, karena manusia berbuat banyak kebusukan. Apa tindak lanjutnya? Tidak ada, karena ungkapan itu sendiri sudah cukup indah dan mencerminkan kesadaran manusia akan kesalahan.

Pendekatan sekuler terhenti ketika kesadaran akan kesalahan menghasilkan teori tentang asal-muasal banjir. Teori tersebut sangat jelas dan bisa dikuti oleh otak semua orang secara relatif mudah. Bahkan teori semacam itu terasa sangat indah ketika disajikan dalam kesempatan-kesempatan resmi semacam diskusi, seminar maupun kuliah di lembaga pendidikan. Tanpa tindakan lanjut, teori sama sekali tidak memiliki efektifitas bagi kehidupan manusia, seperti halnya statemen indah pendekatan religius.

Penulis, pengamat masalah sosial-politik dan kemanusiaan, tinggal di Mataram, Lombok

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)