Dari Warung Global Interaktif "Bali Post"
Menonjolkan
Budaya Sopan, Efektif untuk Promosi
Menonjolkan budaya
sopan dan keramahtamahan merupakan promosi yang paling
efektif. Inilah yang harus diperhatikan pemerintah daerah
dan dinas/instansi terkait dengan promosi ke dalam. Dengan
demikian pencitraan NTB indah dan aman terbangun dengan
baik, yang dengan sendirinya akan mendapat respons besar
dari wisatawan. Hal tersebut mengemuka dalam Warung Global
bertajuk "Tingkatkan Promosi Pariwisata ke Dalam",
yang disiarkan langsung Radio Global FM Lombok 98,1, Sabtu
(3/1).
============
SEMUA
penelepon Warung Global sependapat dengan wacana yang
disampaikan General Manager Intan Lombok Village, Wiwin
Suyasa, agar pemerintah daerah memantapkan promosi ke
dalam. "Promosi ke dalam harus digalakkan, karena
dukungan masyarakat merupakan tonggak keberhasilan,"
tutur Arsan di Lombok Tengah.
Arsan mengingatkan,
pariwisata merupakan sektor andalan daerah ini. Jadi,
kalau mau banyak wisatawan (domestik maupun mancanegara)
image Lombok indah, bersih dan aman harus dipelihara dan
ditingkatkan. Kalau di masyarakat berkembang image tak
baik, seperti maraknya pencurian, wisatawan yang pernah ke
Lombok akan bercerita di negaranya bahwa Lombok tak aman.
Promosi yang paling
efektif, menurut Arsan, bagaimana menonjolkan budaya sopan,
ramah tamah dan aman. Artinya, jajaran pemda dan semua
komponen masyarakat harus memberi sesuatu yang terbaik
bagi wisatawan. Keindahan kental dengan bagaimana
memelihara kebersihan, termasuk pengelolaan sampah dengan
baik di daerah wisata.
Hal senada juga
disampaikan Mulyadi di seputaran perumahan BTN Sweta,
Cakra. Promosi ke dalam -- dari mulut ke mulut, efektif
dan mengurangi biaya promosi ke luar. Image baik yang
dibawa setiap wisatawan ke daerahnya maupun ke negaranya,
membuat pariwisata menjadi berkembang dan maju.
Menurutnya, promosi
ke dalam dan ke luar harus seiring. Tetapi promosi
internal menjadi prioritas. Pasalnya, wisatawan akan
melihat bagaimana situasi dan pelayanan di daerah wisata
tersebut. Soal menggagas event-event baru, penting juga,
tinggal bagaimana event tersebut bisa membangun pencitraan
yang baik, tidak sekadar seremonial.
Sementara itu, Yudi
di Karang Jangkong Mataram melihat promosi ke dalam
digalakkan sebagai pemikiran baru untuk membangun
kehidupan pariwisata yang baik. Namun, menurut Yudi, yang
penting keamanan. Dia punya cerita, ada wisman yang
melihat langsung gangguan keamanan seperti konflik
antarkampung. Kejadian ini direspons oleh wisman dan bisa
menjadi momok.
Yudi menyarankan
pihak keamanan agar berkoordinasi dengan jajaran
pariwisata. Mengingat, konflik antarsaudara ini berbahaya
dan dijadikan isu daerah tetangga untuk menahan
tamu-tamunya yang ingin ke Lombok. Dia juga menekankan
soal sosialisasi yang terus menerus kepada masyarakat akan
pentingnya pariwisata, mengembangkan wisata alam/lingkungan,
memanfaatkan paket-paket studi ke Lombok, dan memecahkan
persoalan transportasi darat/laut yang dirasakan jarak
tempuhnya lama oleh para tamu.
Menyangkut
sosialisasi ke masyarakat, Nuzulul Hadi di Praya, Loteng,
menekankan strategi promosi ke dalam bagaimana menyadarkan
masyarakat agar mau sama-sama mempromosikan pariwisata. Di
sinilah diperlukan peran aktif Dinas Pariwisata dan unsur
terkait. Pembenahan ke dalam harus dilakukan, terlebih
lagi menyangkut infrastruktur.
Agung di Majeluk
Mataram mengatakan, banyak wisatawan yang mengunjungi
objek wisata di negeri ini, dan Lombok memiliki kelebihan.
Tinggal bagaimana orang-orang yang mengelolanya. Artinya,
orang-orang yang menangani pariwisata yang mengenal betul
potensi wisata daerah ini, termasuk budayanya. "Tingkatkan
kualitas perilaku pengelola pariwisata ke dalam, baru
bicara ke luar. Lombok ini indah, tinggal dipoles
tangan-tangan terampil," katanya sembari mengingatkan
agar semua etnis di daerah ini diberdayakan dalam
pengembangan pariwisata. (edo)
|