kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 5 Januari 2004

 Ekonomi


Besar, Peluang Daging Sapi Bali Masuk ke Hotel-hotel

Denpasar (Bali Post) -
Ketika daging sapi dari AS dilarang masuk ke Indonesia, sebenarnya sapi Bali punya peluang untuk bisa bersaing di pasar ekspor. Paling tidak daging sapi Bali bisa menggantikan daging impor yang digunakan di hotel-hotel besar, yang jumlahnya cukup banyak di Bali. Namun agaknya, peningkatan penggunaan daging sapi Bali ini tidak mungkin dilakukan tanpa memperbaiki tekstur dagingnya terlebih dahulu.

Demikian diungkapkan Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Unud Prof. IB Arka belum lama ini terkait alasan mengapa daging sapi Bali sangat sulit menembus pasar internasional. Dia menjelaskan kualitas daging sapi Bali berbeda dengan sapi-sapi dari New Zealand, Australia, AS, dan Eropa. Umumnya daging sapi Bali lebih alot dibandingkan daging sapi lain. ''Guna bisa bersaing dengan daging sapi impor, sapi Bali harus paling tidak memiliki tekstur daging yang lebih empuk,'' katanya.

Berbedanya kualitas daging ini, menurut Arka, disebabkan usia sapi yang dipotong. Sapi Bali biasanya dipotong ketika berusia sekitar empat tahun, sedangkan sapi yang berasal dari luar dipotong pada usia 12-14 bulan. Dia menilai sebenarnya bila pemotongan sapi Bali dilakukan pada usia sekitar 1 tahun, kualitas dagingnya tidak akan jauh berbeda dengan daging yang diimpor. Namun, melihat kondisi dan jenis pakan ternak yang digunakan peternak, sulit mencapai berat potong yang sesuai dalam waktu setahun. Umumnya sapi Bali hanya mengkonsumsi rumput, baru sekitar tahun 1980 pola konsumsi tersebut diubah dengan menambahkan dedak sebagai pakan sampingannya.

''Kalau di Australia atau New Zealand selain bibitnya memang sapi potong, pertumbuhannya pun relatif cepat, yakni 1 kg/hari. Jadi dalam setahun sapi akan memiliki berat sekitar 360 kg. Sedangkan sapi Bali, sehari pertumbuhannya tidak sampai 250 gram, sehingga baru ketika sapi berumur 4 tahun mereka mencapai berat layak potong,'' paparnya. Disampaikannya, hingga saat ini telah banyak penelitian FKH Unud yang dilakukan untuk mengubah kondisi daging sapi Bali. Guna mengubah kualitas daging yang agak alot, di antaranya digunakan penyuntikan enzim papaine. Sementara itu, diajurkan pula agar setelah dipotong, sapi dilayukan selama beberapa waktu di ruang yang bersuhu dingin. Cara ini merupakan metode aging (dilayukan) yang dilakukan di Barat untuk memperlembut daging. Di samping dua metode tersebut, mempercepat pertumbuhan agar lebih cepat dipotong juga telah diupayakan dengan memberikan enzim perangsang tumbuh usia.

Namun, kesemua metode ini, kata Arka, terbentur masalah pembiayaan karena perubahan kualitas tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit. ''Meski telah dilakukan penelitian kualitas daging sapi sejak tahun 80-an, namun sampai saat ini belum banyak terlihat hasilnya karena terbentur masalah pembiayaan,'' ujarnya. Kalau saja, lanjut Arka, modal yang dimiliki peternak cukup untuk menjalankan berbagai metode perbaikan kualitas daging ini tentu produksi Bali bisa bersaing dengan daging impor.

Hingga saat ini pemasukan daging sapi beku ke Bali berasal dari Australia dan New Zealand. Dari data Dinas Peternakan Propinsi Bali, sampai November 2003 tercatat pemasukan daging sapi beku sebanyak 103.995,04 kg. Sedangkan daging sapi beku yang dikeluarkan dari Bali mencapai 23.198 kg. Di samping daging beku, Bali juga mengeluarkan kulit sapi dan tulang sapi, masing-masing sebanyak 13.638 lembar dan 54.000 kg. (iah)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)