Besar,
Peluang Daging Sapi Bali Masuk ke Hotel-hotel
Denpasar
(Bali Post) -
Ketika daging sapi dari AS dilarang masuk ke Indonesia,
sebenarnya sapi Bali punya peluang untuk bisa bersaing di
pasar ekspor. Paling tidak daging sapi Bali bisa
menggantikan daging impor yang digunakan di hotel-hotel
besar, yang jumlahnya cukup banyak di Bali. Namun agaknya,
peningkatan penggunaan daging sapi Bali ini tidak mungkin
dilakukan tanpa memperbaiki tekstur dagingnya terlebih
dahulu.
Demikian diungkapkan
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Unud Prof. IB Arka
belum lama ini terkait alasan mengapa daging sapi Bali
sangat sulit menembus pasar internasional. Dia menjelaskan
kualitas daging sapi Bali berbeda dengan sapi-sapi dari
New Zealand, Australia, AS, dan Eropa. Umumnya daging sapi
Bali lebih alot dibandingkan daging sapi lain. ''Guna bisa
bersaing dengan daging sapi impor, sapi Bali harus paling
tidak memiliki tekstur daging yang lebih empuk,'' katanya.
Berbedanya kualitas
daging ini, menurut Arka, disebabkan usia sapi yang
dipotong. Sapi Bali biasanya dipotong ketika berusia
sekitar empat tahun, sedangkan sapi yang berasal dari luar
dipotong pada usia 12-14 bulan. Dia menilai sebenarnya
bila pemotongan sapi Bali dilakukan pada usia sekitar 1
tahun, kualitas dagingnya tidak akan jauh berbeda dengan
daging yang diimpor. Namun, melihat kondisi dan jenis
pakan ternak yang digunakan peternak, sulit mencapai berat
potong yang sesuai dalam waktu setahun. Umumnya sapi Bali
hanya mengkonsumsi rumput, baru sekitar tahun 1980 pola
konsumsi tersebut diubah dengan menambahkan dedak sebagai
pakan sampingannya.
''Kalau di Australia
atau New Zealand selain bibitnya memang sapi potong,
pertumbuhannya pun relatif cepat, yakni 1 kg/hari. Jadi
dalam setahun sapi akan memiliki berat sekitar 360 kg.
Sedangkan sapi Bali, sehari pertumbuhannya tidak sampai
250 gram, sehingga baru ketika sapi berumur 4 tahun mereka
mencapai berat layak potong,'' paparnya. Disampaikannya,
hingga saat ini telah banyak penelitian FKH Unud yang
dilakukan untuk mengubah kondisi daging sapi Bali. Guna
mengubah kualitas daging yang agak alot, di antaranya
digunakan penyuntikan enzim papaine. Sementara itu,
diajurkan pula agar setelah dipotong, sapi dilayukan
selama beberapa waktu di ruang yang bersuhu dingin. Cara
ini merupakan metode aging (dilayukan) yang dilakukan di
Barat untuk memperlembut daging. Di samping dua metode
tersebut, mempercepat pertumbuhan agar lebih cepat
dipotong juga telah diupayakan dengan memberikan enzim
perangsang tumbuh usia.
Namun, kesemua
metode ini, kata Arka, terbentur masalah pembiayaan karena
perubahan kualitas tersebut memerlukan biaya yang tidak
sedikit. ''Meski telah dilakukan penelitian kualitas
daging sapi sejak tahun 80-an, namun sampai saat ini belum
banyak terlihat hasilnya karena terbentur masalah
pembiayaan,'' ujarnya. Kalau saja, lanjut Arka, modal yang
dimiliki peternak cukup untuk menjalankan berbagai metode
perbaikan kualitas daging ini tentu produksi Bali bisa
bersaing dengan daging impor.
Hingga saat ini
pemasukan daging sapi beku ke Bali berasal dari Australia
dan New Zealand. Dari data Dinas Peternakan Propinsi Bali,
sampai November 2003 tercatat pemasukan daging sapi beku
sebanyak 103.995,04 kg. Sedangkan daging sapi beku yang
dikeluarkan dari Bali mencapai 23.198 kg. Di samping
daging beku, Bali juga mengeluarkan kulit sapi dan tulang
sapi, masing-masing sebanyak 13.638 lembar dan 54.000 kg.
(iah)
|