|
10 Penerima
Anugerah Pers Ketut Nadha Nugraha 2004 --
Dari
Kapolda, Bupati sampai Petani
HARI
ini, 5 Januari 2004, tiga tahun sudah Perintis Pers Bali
Ketut Nadha amor ring acintya. Perjuangan beliau lewat
pers untuk mengajegkan Bali, tak lepas dari peran serta
seluruh masyarakat Bali. Untuk menghargai dan memberi arti
bagi pejuang-pejuang yang berjuang tanpa pamrih di
bidangnya, sejak tahun 2002 Bali Post mempersembahkan
Anugerah Pers Ketut Nadha Nugraha. Tahun ini
dipersembahkan 10 anugerah untuk tokoh-tokoh yang berjasa
bagi Bali. Tokoh-tokoh pejuang tersebut, tidak saja dalam
arti pejuang kemerdekaan secara fisik, juga pejuang desa,
pejuang dalam bidang ilmu, keamanan maupun kemanusiaan.
Berikut tokoh-tokoh penerima Ketut Nadha Nugraha tahun
2004.
----------------------------------------------------------
1.
Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi, S.H. (1945 - )
Bijak pada saat Tepat
Anak
Agung Ngurah Oka Ratmadi, S.H. kini menjabat sebagai
Bupati Badung. Bapak dua orang putra ini adalah salah satu
sesepuh PDI Perjuangan Bali. Kiprahnya dalam dunia politik
tak bisa diragukan. Jiwa nasionalismenya tak pernah surut,
bahkan saat pemerintahan orde baru, di mana PDI pimpinan
Megawati mendapat perlakuan tak adil. Kini, saat PDI
Perjuangan memegang kekuasaan, jiwa nasionalis suami Ida
Ayu Putu Manik ini justru sedang diuji. Saat lelaki asal
Puri Satria Denpasar ini dicalonkan sebagai Gubernur Bali
dalam pemilihan gubernur tahun 2003, ia mampu bertindak
bijak pada saat yang tepat. Saat itu lelaki kelahiran 2
November 1945 ini memilih mengundurkan diri dari
pencalonan gubernur, padahal dukungan kepadanya begitu
kuat. ''Waktu itu saya memilih mundur, karena kalau saya
maju terus, saya khawatir dengan keadaan Bali. Bagaimana
pun saya lebih menginginkan Bali aman dan ajeg,'' katanya.
Baginya,
kekuasaan bukan tujuan berpolitik, apalagi kalau sampai
harus mengorbankan Bali dan Indonesia. Ratmadi menyadari
saat itu Bali sedang terpuruk akibat ledakan bom Kuta.
Mundurnya Ratmadi saat itu, mampu meredam suhu politik
yang sempat memanas. ''Walaupun pendukung-pendukung saya
tak puas, tetapi syukur tak terjadi apa-apa,'' katanya
mengenang.
Bupati
yang suka bersepeda ini mengaku justru tantangan
terberatnya ketika ia harus bertindak sebagai komandan
pecalang, saat berlangsung Kongres PDI Perjuangan di
Padanggalak, Sanur tahun 1999. Saat itu pengamanan
diserahkan sepenuhnya kepada PDI Perjuangan, dan ia merasa
bersyukur karena tak terjadi kekacauan seperti yang
dikhawatirkan banyak orang.
Bagi
Ratmadi, berpolitik adalah hak dan kewajiban sebagai warga
negara. Dengan ikut partai politik, warga negara bisa
terlibat dalam proses bernegara. Karena yang terpenting
adalah pemerintahan yang demokratis, maka Ratmadi berharap
partai yang menang dalam pemilu tahun 2004 adalah partai
yang demokratis. Selain itu, Ratmadi juga punya komitmen
yang kuat pada keajegan Bali dan kelangsungan hidup
bernegara. ''Demi keamanan Bali, demi suksesnya pemilu,
saya sepakat dengan semua pihak selaku kader partai untuk
bersama-sama menjaga Bali, walaupun seandainya Megawati
mengalami kekalahan dan tidak menjadi presiden lagi,''
katanya saat bertemu dengan wartawan, KPU dan tokoh
masyarakat di Taman Ayun, Desember 2003 lalu.
2.
I Made Mangku Pastika (1951 - )
Komitmen pada Bali dan Angkat Citra Polisi
Kalau
di kalangan umat Hindu di Bali ada tokoh Lubdaka dikenal
sebagai pemburu, maka dalam konteks Bali kini, pemburu itu
adalah I Made Mangku Pastika. Bedanya, jika pertapaan
Lubdaka membawanya ke sorga, maka kegigihan Mangku Pastika
dalam memburu pelaku bom Bali membuahkan sanjungan dan
pujian. Juga berdampak pada berangsur-pulihnya kepercayaan
internasional terhadap keamanan Bali dan Indonesia. Tidak
itu saja, sebagai orang yang dipercaya memangku jabatan
Kapolda Bali, secara perlahan-lahan Mangku Pastika menata
keamanan Bali. Ia secara bersungguh-sungguh berupaya
membebaskan Bali dari penyakit masyarakat seperti
prostitusi, narkoba dan judi yang seringkali dikatakan
dibekingi oknum aparat. Ia memang menuai banyak protes,
bahkan kehadirannya di Art Centre suatu ketika pernah
dibayang-bayangi preman-preman judi, tetapi Mangku Pastika
tetap dengan prinsipnya. Ketegasan dan komitmen Mangku
Pastika pada keamanan Bali mengangkat citra polisi secara
keseluruhan.
Mantan
Ketua Tim Investigasi Bom Bali Inspektur Jenderal Polisi I
Made Mangku Pastika oleh majalah Time dipilih sebagai
Asian newsmaker of the year. Hasil kerjanya dinilai ''layak
diacungi jempol'' karena selama ini polisi di negara dunia
ketiga memiliki reputasi buruk.
Sedikit
demi sedikit terungkapnya misteri pengeboman di Bali
menjadi ujung tombak perbaikan citra polisi dan mengangkat
nama Mangku Pastika. Lelaki kelahiran 22 Juni 1951 ini
menjabat sebagai Kapolda Bali. Ia sadar masih banyak
persoalan yang mesti segera dibenahi di Bali. Pemulihan
keamanan Bali mesti dilakukan secara terus-menerus. ''Bukan
sebatas pada sektor pariwisata yang ujung-ujungnya
berupaya mendatangkan tetamu asing sebanyak mungkin ke
Bali,'' paparnya suatu kali.
3.
Ir. Tjokorda Raka Sukawati
Kisah Sosrobahu
ORANG
Bali sebagai seniman, itu sudah lazim. Tetapi orang Bali
sebagai teknokrat dan penemu, terbilang langka. Dari yang
langka inilah nama Ir. Tjokorda Raka Sukawati dari Puri
Ubud muncul. Ia berjasa menemukan alat putar silinder yang
mencengangkan teknologi konstruksi, mengangkat citra
Indonesia di mata para teknokrat dunia.
Ditemui
di rumahnya Jalan Tukad Unda VIII No. 8 Renon, Denpasar,
Tjok. Sukawati menceritakan kisah ditemukannya landasan
putar Sosrobahu. Penemuan besar tersebut bermula ketika
lelaki yang kini berusia 60 tahun itu duduk santai di
serambi rumahnya Jalan Cililin II/13, Jakarta. Waktu itu
Minggu pagi, pertengahan Agustus 1987. Tjokorda Raka
Sukawati merasa tak ada kesibukan, ia bergegas menuju
garasi hendak memperbaiki mobil sendiri.
Kendaraan
dimasukkan ke garasi. Karena garasi rada miring, roda
belakang mobil pun diganjal oleh pembantunya. Tetapi,
hanya satu ban belakang diganjal. Si pembantu rupanya juga
lupa menarik rem tangan, sehingga begitu Tjok. Raka mulai
memompa dongkrak hidrolik untuk mengangkat roda depan
mobil, tiba-tiba mobil agak berputar. Selain akibat ban
belakang yang diganjal cuma satu, lantai garasi juga licin.
Peristiwa
itu membuatnya kreatif. Ia teringat dengan
pertanyaan-pertanyaan yang menjadi obsesinya, bagaimana
cara memutar beton? Persoalan ini sempat dibahas mendalam
pada rapat di Kantor Departemen PU, di Jakarta. ''Karena
saya yang mengusulkan, saya ditanyakan caranya. Ya... saya
bilang saja saya tak tahu, karena saya memang belum
menemukan caranya,'' kata Tjok. Sukawati mengenang. Sejak
saat itu ia habiskan waktunya untuk menemukan cara memutar
beban yang begitu berat. Manakala melihat pompa hidrolik
kecil tadi sanggup mengangkat lalu memutar mobil yang
berat, kontan saja Tjok. Raka membayangkan sistem hidrolik
itulah jawaban yang pas. Polanya pasti: angkat sedikit,
lalu putar. ''Saya bisa membuat alat untuk memutar beton,''
serunya.
Pagi
itu Tjok. Raka urung memperbaiki mobil. Ia mulai
menggambar alat yang dibayangkannya buat memutar beton
dengan berat berton-ton. Ia datangi bengkel, melihat lift
yang mampu mengangkat mobil menyerupai lift itu. Setelah
dicoba diisi beban, lalu diangkat. Macet. Jangankan
berputar, turun saja sulit.
Ia
menganalisis lagi, mencari-cari titik kekeliruan.
Inspirasi dari lift di bengkel mobil ditanggalkan. Dibuat
lagi alat baru dengan rumus baru. Ia padukan hukum gesekan
buat memutar beban, dengan hukum Pascal buat mengangkat
beban. Ia meminta Pak Danapunia asal Kerobokan, Denpasar,
Bali untuk membuatkannya model untuk dicoba. Saat alat
jadi, orang mengejeknya sebagai alat untuk membuat
martabak. Tetapi, ayah Cok. Abi ini tak menggubris segala
ejekan. Hasilnya, beban berkekuatan 85 ton maupun 180 ton
coba diputar. Berhasil pula. ''Saya menangis terharu,
penuh rasa syukur,'' kenang Tjok. Raka.
Alat
temuan Tjok. Raka itu kelak, oleh Presiden Soeharto,
diresmikan bernama Sosrobahu. Artinya, si berbahu seribu
--dalam teks susastra Jawa Kuna dinamakan Sahasrabahu.
Dalam image Presiden Soeharto itu berarti ada seribu bahu
atau pundak menahan beban berat jembatan layang.
Bagi
lelaki asal Ubud ini, Sosrobahu tercipta akibat kesulitan
menyelesaikan proyek jalan layang di kawasan Cawang,
Jakarta tahun 1987, berpanjang total 16,5 km. Ada tiga
kontraktor Indonesia menggarap proyek jalan layang itu.
Saat teknologi Sosrobahu temuannya diterapkan untuk
menggarap proyek jalan layang di Manila, Filipina,
perhatian masyarakat begitu besar. Presiden Filipina Fidel
Ramos penuh bangga berujar, ''Inilah temuan Indonesia
sekaligus buah ciptaan putra ASEAN.''
4.
Nang Pelung
Si Pembuat Terowongan
NANG
Pelung, demikian panggilan lelaki yang sebetulnya punya
nama asli I Wayam Mandra ini. Pria kelahiran Desa Bunutin,
Kintamani, 18 Agustus 1910 memang sedikit tampil beda dan
memiliki kelebihan tersendiri. Di tahun 1977, Desa Bunutin
dan desa tetangganya mengalami paceklik. Penduduk
kesulitan air bersih. Hamparan sawah yang sebelumnya subur
berubah tandus. Masyarakat terpaksa hanya bisa makan
umbi-umbian. Tak seperti umumnya masyarakat desa yang
cenderung pasrah pada nasib, lelaki yang biasa dipanggil
Nang Pelung ini melontarkan ide membangun tanggul di Tukad
Payuk, tak jauh dari Bunutin. Ia mengajak serta 150 warga
masyarakat. Tetapi apes, tanggul itu jebol dan air tak
bisa dialirkan ke Bunutin. Kegagalan ini membuat penduduk
putus asa. Tidak demikian halnya dengan Nang Pelung. Ia
adalah sosok yang pantang menyerah. Ia masih berusaha
mengajak warga, tetapi warga yang mendukung idenya
menyusut dan tinggal 70 orang. Jumlah itu pun kembali
menyusut tinggal empat orang yakni Nang Kayun, Nang Ngurah,
Nang Janten dan Nang Pelung sendiri.
Berbekal
sepucuk senapan angin merek Diana MD 50, ia mulai
merencanakan membangun terowongan air sejauh 9 kilometer
yang dipergunakan untuk mengairi sawah penduduk. Pada
laras senapan dipasangi ''terpas'' dengan maksud untuk
mencari kelurusan jarak sebelum dilakukan penggalian. ''Saya
sengaja menggunakan senapan karena larinya peluru sebuah
senapan sepanjang jarak 50 meter tidak mungkin akan menipu.
Dengan peluru itu akan diketahui kelurusan naik-turunnya
dataran,'' ujarnya.
Tiap 50
meter akhirnya Nang Pelung memberikan tanda pada pepohonan
ataupun tebing yang dijumpainya. Berbagai suka-duka
dilewati dalam penggalian itu. Penduduk desa mencemooh dan
mengatakan ide Nang Pelung adalah ide gila. Ada yang
mengumpat seraya menarikan sebuah punggalan barong dengan
berkata tak mungkin ide ini akan berhasil. Apa yang
dilakukan tak lebih sebagai ide orang gila. Mendapatkan
cercaan dan cemooh masyarakat itu, tidak membuat lelaki
ini mundur.
18
Januari 1977, Nang Pelung bersama tiga rekannya memulai
perjuangan membuat terowongan air. Biaya pembangunan ini
pun sepenuhnya ditanggungnya. Ia mengaku terpaksa menjual
19 ekor sapi miliknya sebagai bekal satu tahun melakukan
penggalian. Lelaki dengan tujuh orang istri ini pun
setapak demi setapak menggali. Genap setahun menggali dan
bergelut dengan pengapnya lubang galian, sempat datang
staf ahli dari Dinas PU Tingkat I Bali melakukan
pengukuran dengan alat canggih. Lagi-lagi Nang Pelung
harus perang urat saraf. Soalnya, apa yang dilakukan tak
lebih sebagai pekerjaan sia-sia. Sebab, setelah diukur
dengan alat canggih, aliran air berada 7 meter di bawah
galian. Jadi, tidak mungkin air itu akan mampu dialirkan
melalui terowongan. ''Saya tak mau mendengar perkataan itu.
Buruh dan teman tetap dimintakan untuk bekerja dan tak
usah lagi mendengarkan apa omongan orang,'' ujarnya.
Akhirnya
melewati setahun melakukan penggalian, cita-citanya
kesampain juga. Air yang diharapkan akan mengubah tatanan
kehidupan masyarakat Bunutin menjadi lebih sejahtera
setetes demi setetes mulai mengalir. Awalnya air itu
adalah untuk kebutuhan minum warga. Karena jumlahnya
berlebihan muncul ide mengalirkan ke ladang yang waktu itu
masih tandus.
Persoalannya,
mengalirkan air ke sawah dihadapkan pada masalah besar.
Bersama 12 orang lainnya, ia berusaha mengalirkan air
menuju sawah. Usahanya ini pun nyaris menemui kegagalan.
Karena tepat berada pada sebuah bukit yang dinamai Bukit
Munduk Batu, air tidak bisa mengalir karena dihadang
sebongkah batu besar. Akhirnya Nang Pelung menghadap
Bupati Bangli, atas petunjuknya warga diminta untuk nunas
(mohon petunjuk) di Pura Batu Madeg Besakih.
Aneh
bin ajaib, setelah melewati upacara di Batu Madeg,
berbekal sebuah ''panyong'' batu sebesar bukit itu mampu
dibelahnya. Keberhasilannya tercium beberapa desa tetangga,
bahkan hingga wilayah Gianyar. Spirit dan kegigihanya
dalam membuat terowongan membuat beberapa desa meminta
bantuannya. Mereka meminta Nang Pelung membuat terowongan
air yang sama di desanya. Beberapa terowongan hasil karya
Nang Pelung adalah terowongan di Desa Mengani Kintamani (sepanjang
5,100 kilometer), Desa Munduk Plik (5,50 kilometer),
Singaperang Gianyar (5,5 kilometer). Selain memiliki raut
muka awet muda, ternyata Nang Pelung mempunyai keunikan
lain dari yang lainnya. Ia memiliki tujuh orang istri.
Dari ketujuh istrinya ini, ia dikaruniai 18 anak. Anak
tertuanya sudah berusia 70 tahun, sementara yang paling
muda masih berusia tujuh tahun.
5.
Haji Bambang (1960 - )
Relawan Bom Bali
HAJI
Bambang, begitu orang biasa memanggil lelaki ini.
Sebenarnya ia bernama lengkap H. Agus Bambang Priyanto,
S.H., dilahirkan di Kuta, 20 April 1960. Ia adalah sosok
yang low profile. Nama Haji Bambang atau sering juga
disebut Haji Bondres mulai dikenal masyarakat Bali, ketika
ia rajin menyuarakan persoalan-persoalan Bali di Radio
Global.
Kepedulian
dan rasa solidaritasnya teruji saat terjadi ledakan bom di
Kuta, 12 Oktober 2002. Saat itu, didorong rasa kemanusiaan
yang tinggi, Kepala Sentral Parkir Kuta ini berbaur dengan
para pemuka dan penduduk Kuta berdiri di depan menjadi
relawan untuk menolong para korban. Ia menolong para
korban seperti kesurupan, tak tahu dari mana ia
mendapatkan tenaga yang begitu besar, sehingga bisa
menggotong korban yang rata-rata bertubuh besar. Saat ia
masuk ke api menyelamatkan korban, banyak kalangan yang
melarangnya, tetapi Haji Bambang tak peduli, ia malah
histeris. ''Kalau memang harus ada korban lagi, biarlah
saya yang jadi korban,'' teriaknya. Saat itu, Haji Bambang
merasa jengah. ''Kenapa Bali yang tak pernah memusuhi suku
lain, agama lain, bangsa lain, diperlakukan seperti itu.
Apa salah Bali dan orang-orang Bali,'' batinnya. Karena
rasa jengah, tekadnya yang kuat dan kecintaannya yang
besar pada Bali, ia mampu bertindak di luar akal sehat.
6.
Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus (1932-2003)
Bapak Antropolog Bali
Prof.
Dr. I Gusti Ngurah Bagus dilahirkan 12 Juli 1932 di Jero
Tengah Peguyangan, Denpasar. Perjalanan panjangnya dimulai
dari Jurusan Sastra Timur Universitas Gajah Mada
Yogyakarta, program pascasarjana Jurusan Linguistik Umum
dan Nusantara Universitas Leiden di Belanda, sampai
program doktor di Jurusan Antropologi Universitas
Indonesia. Ngurah Bagus adalah sosok yang kritis, bahkan
sampai menjelang kepergiannya. Dalam serasehan Pesta
Kesenian Bali tahun 2003 lalu, ia dengan suara lantang
malah mengatakan bosan dengan seminar-seminar yang tak ada
hasilnya. Saat itu ia masih berapi-api. ''Kita harus
bertindak, berani mendobrak dan melawan sistem yang
membuat keropos budaya kita,'' katanya meledak-ledak.
Sepanjang
hidupnya, Ngurah Bagus sangat rajin mempelajari semua ilmu,
juga melakukan penelitian. Ia adalah sosok tua, yang
berbeda dari yang lain. Ia bisa menerima segala permikiran
baru dan pandangan-pandangan kritis. Keilmuan dan
karakternya ikut bergerak seiring gerak zaman, sehingga
tak aneh bisa peneliti-peneliti asing menyebutnya sebagai
Bapak Antropolog Bali. Salah satu penelitian pentingnya
yang sangat maju (dalam arti orang lain belum
memikirkannya ketika itu) adalah mengenai dampak
pariwisata terhadap kebudayaan Bali. Studi ''Bali dalam
Sentuhan Pariwisata'' ini dikerjakan awal tahun 1970-an
bersama sarjana Amerika, Philip McKean, yang membahas
gejala hippies yang berkembang di arena global dan merasuk
ke Bali lewat pariwisata waktu itu.
Prof.
Dr. I Gusti Ngurah Bagus meninggal Kamis, 16 Oktober 2003
karena komplikasi liver-diabetes. Kendati ia telah tiada,
semangatnya dan ''gugatan-gugatannya'' akan selalu
dikenang.
7.
K. Kebek Sukarsa (1932-2000)
Membagi Pengetahuan Pewarigaan
Ketut
Kebek Sukarsa dilahirkan di Sidemen, Karangasem, Bali,
September 1932. Ia mulai menekuni kalender Bali bermula
dari usahanya menerbitkan kalender Bali karya Ketut
Bambang Gede Rawi. Setelah kalender itu terbit, justru
banyak yang bertanya padanya tentang hari baik dan
bagaimana cara menghitungnya. Ia merasa bertanggung jawab
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, sehingga
memaksanya untuk terus belajar. ''Mau tak mau saya harus
bisa menjelaskan segala yang ada dalam kalender Gde Rawi,
makanya saya harus belajar keras,'' katanya saat
diwawancarai tahun 1998 lalu. Sejak saat itulah ia mulai
belajar pewarigaan secara otodidak.
Akhirnya
tahun 1982 ia mulai membuat kalender 1983 sendiri.
Kalender tersebut dibuat untuk menyambut dan mengenang
gerhana matahari total 11-6-1983. Saat kalendernya muncul
banyak yang curiga kalender Kebek menjiplak kalender
Bambang Gede Rawi. Bahkan, kecurigaan tersebut sampai
dituangkan dalam sebuah buku.
''Karena
itulah, saya merasa jengah untuk membuktikan bahwa saya
tidak menjiplak. Saya kemudian belajar wariga lebih dalam
lagi,'' tambahnya. Untuk menambah pengetahuan ini ia harus
belajar tentang kalender-kalender di seluruh dunia,
seperti India, Hawaii maupun Jepang. Hasilnya, ia bisa
membuat perhitungan pewarigaan Bali yang bisa dipakai
untuk membuat kalender.
Sebelum
berpulang, suami Etmy ini sedang menyusun rancangan buku
kalender sampai tahun 2050. Kebek meninggal 24 Desember
2000. Sampai akhir ayatnya, Kebek Sukarsa yang punya dua
orang putra, Palayasa dan Kusumayasa, menjabat sebagai
Ketua Ikatan Penyusun Kalender Bali.
8.
Prof. dr. H. Abdul Hamid Sutohardjo, Sp.A(K). (1941-2003)
Menjadi Dokter secara Benar
KENDATI
jasad Prof. dr. H. Abdul Hamid Sutohardjo, Sp.A(K). sudah
bermakam di liang lahat, album memori seputar integritas
pribadinya seolah masih berjiwa. Sosoknya kerap
dibahasakan sebagai menceritakan sederet pesan berharga.
Bagaimana menjadi dokter secara benar? Dokter yang bekerja
karena panggilan hati nurani dan spirit kemanusiaan. Ia
menyimpulkan ini sebagai makna yang benar di balik sosok
profesionalitas seorang dokter.
Sikap
hidup dan pandangan-pandangannya membuat Hamid dikagumi
dan diteladani rekan sejawat, kolega, mahasiswa dan
kalangan intelektual lainnya. Kepergiannya tak saja
membuat keluarga, rekan, para orangtua merasa kehilangan
tempat berbagi duka tentang anak-anak mereka, bahkan
vibrasi kehilangan dokter anak ini mengimbas pada pedagang
kaki lima yang kehilangan sumber nafkahnya. Pedagang kaki
lima yang hidupnya tergantung pada melubernya pasien yang
datang di tempat praktik sang dokter, akhirnya memilih
jalan bunuh diri. Tempat praktik sang dokter di Jalan
Diponegoro Denpasar, yang dulu ramai berubah sepi oleh
para pelanggannya.
Di
kalangan keluarga, sejawat, para mahasiswa, maupun
handaitaulannya, sikap dan pandangan hidup Hamid
senantiasa menjadi panutan. Bagi keluarganya, Hamid
sungguh hadir sebagai seorang suami sekaligus ayah yang
baik. Sikap hidupnya selalu memancarkan getaran seorang
pembimbing. Para residen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran
Unud sungguh merasakannya. Kalau ada residen atau
mahasiswa bersalah, ia menuntun ke jalan yang benar.
Bahkan, ia dorong untuk belajar lebih giat agar kian maju
secara akademis.
Ia
mengembuskan napas terakhir di ruang HCU RS Sanglah
sekitar pukul 07.00, 13 Agustus 2003. Mendiang Hamid
sebelumnya harus menjalani perawatan medis selama 38 hari
menyusul serangan stroke pada 4 Juli 2003. Saat Sang
Pencipta menjemput, Hamid masih menjabat Kepala Subdivisi
Perinatologi RS Sanglah/FK Unud.
9.
I Made Widjakusuma/Pak Djoko (1923-1999)
Pejuang di Bawah Tanah yang Menolak Penghargaan
JAUH
sebelum terjadi perang besar di Margarana, telah dilakukan
perang di bawah tanah. Saat itu tahun 1944, almarhum I
Made Widjakusuma alias Pak Joko telah menyusun gerakan di
bawah tanah bersama I Gusti Ngurah Rai, I Made Regog, Anom
Gangga, Nyoman Pegeg (Badung/Denpasar), Wayan Bina (Tabanan),
Gede Puger (Badung/Denpasar), Gusti Lanang Rai, Ketut
Gebun (Karangasem), Ngurah Anom, Gusti Bagus Sugianyar (Klungkung),
dan Anom Dada (Gianyar). Perjuangan bawah tanah inilah
yang menjadi dasar perjuangan selanjutnya.
Saat
itu I Made Widjakusuma yang lahir di Denpasar, 1 Mei 1923
bekerja di toko roti yang kebetulan pimpinannya seorang
Jepang. Menurut istrinya, Made Sudarmi, agar perjuangannya
tak diketahui, Widjakusuma merekrut hanya tiga orang
terpercaya. Tiga orang inilah yang merekrut orang-orang
lagi. ''Jadi, antara yang satu dan yang lainnya tidak
saling kenal. Gerakannya rapi dan tak kentara,'' katanya.
Istri almarhum Widjakusuma yang dinikahi tahun 1956 ini,
menjelaskan bahwa saat itu bos suaminya yang orang Jepang
juga sangat baik. Jika almarhum terkantuk-kantuk saat
bekerja karena harus begadang menyusun strategi perjuangan
di malam harinya, dia tak marah. Apalagi melaporkannya
kepada Jepang. ''Malahan bos bapak, memberi tahu bapak,
jika ia dapat kabar akan ada penangkapan terhadap bapak.
Jadi bapak bisa kabur,'' tambah Sudarmi. Karakter berjuang
di bawah tanah dan tanpa pamrih tetap dilakoni Pak Djoko,
kendati Indonesia telah mengenyam alam kemerdekaan. Selama
hidupnya, Pak Djoko pantang berpamrih atas perjuangannya,
bahkan ia selalu menolak untuk diberi penghargaan.
10.
I Ketut Widjana alias Pak Item (1918-2002)
Berjuang sebagai Spionase untuk Jepang
Tak
semua orang bisa dan mau menjadi spionase atau mata-mata,
apalagi dalam zaman perang. Tetapi untuk mencapai tujuan
bersama, harus ada yang mau jadi spionase atau mata-mata.
Pada zaman menjelang kemerdekaan, pejuang I Ketut
Widjana-lah ditugaskan oleh teman-temannya untuk pura-pura
sebagai spionase Jepang. Tugas itu baginya sangatlah berat,
sebab kalau diketahui Jepang akan kena hukuman yang sangat
berat. Namun, bagi teman-temannya sesama pejuang akan
dianggap berpihak pada Jepang. Betapapun sulit dan
riskannya pekerjaan itu, harus dilakukan dengan
sebaik-baiknya. I Ketut Widjana sejak kecil hidup pada
zaman Perang Dunia I dan disusul dengan zaman malaise.
I Ketut
Widjana alias Pak Item adalah anak kampung biasa. Ayahnya
seorang tukang kayu, yang hidupnya sangat tergantung pada
pesanan orang. Ia berasal dari Banjar Panataran,
dilahirkan 13 Maret 1918. Ayahnya bernama Nyoman Gelgel,
sedangkan ibunya bernama Ni Nyoman Asih. I Ketut Widjana
adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ia beristrikan Ni
Nyoman Pudjawati. Ia dikaruniai tujuh orang putra-putri
masing-masing Putu Widjanaya, S.H. (pensiunan Sekda
Propinsi Bali), Drs. Made Pudjanaya, Ir. Nyoman Udhi
Sastria Winaya, Drs. Ketut Warmaya, B.S. dan L. Putu Sri
Hardani. Dari ketujuh putra-putrinya itu, I Ketut Widjana
memiliki 14 orang cucu.
Sebelum
berjuang bersama pemuda-pemuda Bali lainnya, Widjana kecil
berkesempatan mengenyam pendidikan di Sekolah Melayu di
Banjar Paketan, tempat ayah Bung Karno mengajar. Ia
dipindahkan ke HIS di Singaraja. Setamat HIS ia mengikuti
kakaknya, Ketut Nuridja, di Surabaya yang tinggal di rumah
Tuan Hysener, seorang Jerman. Di sana ia bekerja sebagai
pembantu. Nasibnya mulai berubah saat ia lulus sebagai
Prayoda dan ditugaskan di Gianyar tahun 1936. Tahun 1938
ia pindah ke Singaraja sebagai Komandan Regu Kortverband,
kemudian sebagai instruktur mendidik dan melatih Prayoda.
Berkat kemampuannya, I Ketut Widjana diberi tugas belajar
mengikuti pendidikan calon perwira di Magelang. Namun baru
tiga bulan berada di Magelang, serdadu Jepang mulai
menguasai kota-kota di Jawa, termasuk Magelang. Karena
tidak mau menyerah kepada serdadu Jepang, I Ketut Widjana
bersama kawan-kawannya ditawan oleh serdadu Jepang dan
harus mengikuti segala perlakuan sebagai tawanan perang.
Perlakuan sebagai tawanan Jepang dirasakan sampai tahun
1942.
Lepas
dari tawanan Jepang, I Ketut Widjana memutuskan untuk
pulang ke Bali. Ia selanjutnya bekerja sebagai manteri
hewan dan pindah ke Tabanan.
Setelah
beberapa lama Jepang berkuasa, maka para pemuda di Bali
makin menyadari bahwa kedatangan Jepang di Indonesia
(Bali) bertujuan sebagai penjajah, bahkan cara-cara yang
dipakai lebih keras. Hal yang demikian menyebabkan para
pemuda menghimpun diri untuk melakukan perlawanan. I Ketut
Widjana ikut melakukan perlawanan di bawah pimpinan I
Gusti Bagus Putu Wisnu. Beliau wafat tanggal 12 November
2002, meninggalkan namanya yang harum, yang berjuang tiada
henti.
(mas
ruscita/syam kelilauw/pujawan/litbang)
|