kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 5 Januari 2004

 Bali


10 Penerima Anugerah Pers Ketut Nadha Nugraha 2004 --
 
Dari Kapolda, Bupati sampai Petani

HARI ini, 5 Januari 2004, tiga tahun sudah Perintis Pers Bali Ketut Nadha amor ring acintya. Perjuangan beliau lewat pers untuk mengajegkan Bali, tak lepas dari peran serta seluruh masyarakat Bali. Untuk menghargai dan memberi arti bagi pejuang-pejuang yang berjuang tanpa pamrih di bidangnya, sejak tahun 2002 Bali Post mempersembahkan Anugerah Pers Ketut Nadha Nugraha. Tahun ini dipersembahkan 10 anugerah untuk tokoh-tokoh yang berjasa bagi Bali. Tokoh-tokoh pejuang tersebut, tidak saja dalam arti pejuang kemerdekaan secara fisik, juga pejuang desa, pejuang dalam bidang ilmu, keamanan maupun kemanusiaan. Berikut tokoh-tokoh penerima Ketut Nadha Nugraha tahun 2004.

----------------------------------------------------------

1. Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi, S.H. (1945 - )
Bijak pada saat Tepat

Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi, S.H. kini menjabat sebagai Bupati Badung. Bapak dua orang putra ini adalah salah satu sesepuh PDI Perjuangan Bali. Kiprahnya dalam dunia politik tak bisa diragukan. Jiwa nasionalismenya tak pernah surut, bahkan saat pemerintahan orde baru, di mana PDI pimpinan Megawati mendapat perlakuan tak adil. Kini, saat PDI Perjuangan memegang kekuasaan, jiwa nasionalis suami Ida Ayu Putu Manik ini justru sedang diuji. Saat lelaki asal Puri Satria Denpasar ini dicalonkan sebagai Gubernur Bali dalam pemilihan gubernur tahun 2003, ia mampu bertindak bijak pada saat yang tepat. Saat itu lelaki kelahiran 2 November 1945 ini memilih mengundurkan diri dari pencalonan gubernur, padahal dukungan kepadanya begitu kuat. ''Waktu itu saya memilih mundur, karena kalau saya maju terus, saya khawatir dengan keadaan Bali. Bagaimana pun saya lebih menginginkan Bali aman dan ajeg,'' katanya.

Baginya, kekuasaan bukan tujuan berpolitik, apalagi kalau sampai harus mengorbankan Bali dan Indonesia. Ratmadi menyadari saat itu Bali sedang terpuruk akibat ledakan bom Kuta. Mundurnya Ratmadi saat itu, mampu meredam suhu politik yang sempat memanas. ''Walaupun pendukung-pendukung saya tak puas, tetapi syukur tak terjadi apa-apa,'' katanya mengenang.

Bupati yang suka bersepeda ini mengaku justru tantangan terberatnya ketika ia harus bertindak sebagai komandan pecalang, saat berlangsung Kongres PDI Perjuangan di Padanggalak, Sanur tahun 1999. Saat itu pengamanan diserahkan sepenuhnya kepada PDI Perjuangan, dan ia merasa bersyukur karena tak terjadi kekacauan seperti yang dikhawatirkan banyak orang.

Bagi Ratmadi, berpolitik adalah hak dan kewajiban sebagai warga negara. Dengan ikut partai politik, warga negara bisa terlibat dalam proses bernegara. Karena yang terpenting adalah pemerintahan yang demokratis, maka Ratmadi berharap partai yang menang dalam pemilu tahun 2004 adalah partai yang demokratis. Selain itu, Ratmadi juga punya komitmen yang kuat pada keajegan Bali dan kelangsungan hidup bernegara. ''Demi keamanan Bali, demi suksesnya pemilu, saya sepakat dengan semua pihak selaku kader partai untuk bersama-sama menjaga Bali, walaupun seandainya Megawati mengalami kekalahan dan tidak menjadi presiden lagi,'' katanya saat bertemu dengan wartawan, KPU dan tokoh masyarakat di Taman Ayun, Desember 2003 lalu.

2. I Made Mangku Pastika (1951 - )
Komitmen pada Bali dan Angkat Citra Polisi

Kalau di kalangan umat Hindu di Bali ada tokoh Lubdaka dikenal sebagai pemburu, maka dalam konteks Bali kini, pemburu itu adalah I Made Mangku Pastika. Bedanya, jika pertapaan Lubdaka membawanya ke sorga, maka kegigihan Mangku Pastika dalam memburu pelaku bom Bali membuahkan sanjungan dan pujian. Juga berdampak pada berangsur-pulihnya kepercayaan internasional terhadap keamanan Bali dan Indonesia. Tidak itu saja, sebagai orang yang dipercaya memangku jabatan Kapolda Bali, secara perlahan-lahan Mangku Pastika menata keamanan Bali. Ia secara bersungguh-sungguh berupaya membebaskan Bali dari penyakit masyarakat seperti prostitusi, narkoba dan judi yang seringkali dikatakan dibekingi oknum aparat. Ia memang menuai banyak protes, bahkan kehadirannya di Art Centre suatu ketika pernah dibayang-bayangi preman-preman judi, tetapi Mangku Pastika tetap dengan prinsipnya. Ketegasan dan komitmen Mangku Pastika pada keamanan Bali mengangkat citra polisi secara keseluruhan.

Mantan Ketua Tim Investigasi Bom Bali Inspektur Jenderal Polisi I Made Mangku Pastika oleh majalah Time dipilih sebagai Asian newsmaker of the year. Hasil kerjanya dinilai ''layak diacungi jempol'' karena selama ini polisi di negara dunia ketiga memiliki reputasi buruk.

Sedikit demi sedikit terungkapnya misteri pengeboman di Bali menjadi ujung tombak perbaikan citra polisi dan mengangkat nama Mangku Pastika. Lelaki kelahiran 22 Juni 1951 ini menjabat sebagai Kapolda Bali. Ia sadar masih banyak persoalan yang mesti segera dibenahi di Bali. Pemulihan keamanan Bali mesti dilakukan secara terus-menerus. ''Bukan sebatas pada sektor pariwisata yang ujung-ujungnya berupaya mendatangkan tetamu asing sebanyak mungkin ke Bali,'' paparnya suatu kali.

3. Ir. Tjokorda Raka Sukawati
Kisah Sosrobahu

ORANG Bali sebagai seniman, itu sudah lazim. Tetapi orang Bali sebagai teknokrat dan penemu, terbilang langka. Dari yang langka inilah nama Ir. Tjokorda Raka Sukawati dari Puri Ubud muncul. Ia berjasa menemukan alat putar silinder yang mencengangkan teknologi konstruksi, mengangkat citra Indonesia di mata para teknokrat dunia.

Ditemui di rumahnya Jalan Tukad Unda VIII No. 8 Renon, Denpasar, Tjok. Sukawati menceritakan kisah ditemukannya landasan putar Sosrobahu. Penemuan besar tersebut bermula ketika lelaki yang kini berusia 60 tahun itu duduk santai di serambi rumahnya Jalan Cililin II/13, Jakarta. Waktu itu Minggu pagi, pertengahan Agustus 1987. Tjokorda Raka Sukawati merasa tak ada kesibukan, ia bergegas menuju garasi hendak memperbaiki mobil sendiri.

Kendaraan dimasukkan ke garasi. Karena garasi rada miring, roda belakang mobil pun diganjal oleh pembantunya. Tetapi, hanya satu ban belakang diganjal. Si pembantu rupanya juga lupa menarik rem tangan, sehingga begitu Tjok. Raka mulai memompa dongkrak hidrolik untuk mengangkat roda depan mobil, tiba-tiba mobil agak berputar. Selain akibat ban belakang yang diganjal cuma satu, lantai garasi juga licin.

Peristiwa itu membuatnya kreatif. Ia teringat dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi obsesinya, bagaimana cara memutar beton? Persoalan ini sempat dibahas mendalam pada rapat di Kantor Departemen PU, di Jakarta. ''Karena saya yang mengusulkan, saya ditanyakan caranya. Ya... saya bilang saja saya tak tahu, karena saya memang belum menemukan caranya,'' kata Tjok. Sukawati mengenang. Sejak saat itu ia habiskan waktunya untuk menemukan cara memutar beban yang begitu berat. Manakala melihat pompa hidrolik kecil tadi sanggup mengangkat lalu memutar mobil yang berat, kontan saja Tjok. Raka membayangkan sistem hidrolik itulah jawaban yang pas. Polanya pasti: angkat sedikit, lalu putar. ''Saya bisa membuat alat untuk memutar beton,'' serunya.

Pagi itu Tjok. Raka urung memperbaiki mobil. Ia mulai menggambar alat yang dibayangkannya buat memutar beton dengan berat berton-ton. Ia datangi bengkel, melihat lift yang mampu mengangkat mobil menyerupai lift itu. Setelah dicoba diisi beban, lalu diangkat. Macet. Jangankan berputar, turun saja sulit.

Ia menganalisis lagi, mencari-cari titik kekeliruan. Inspirasi dari lift di bengkel mobil ditanggalkan. Dibuat lagi alat baru dengan rumus baru. Ia padukan hukum gesekan buat memutar beban, dengan hukum Pascal buat mengangkat beban. Ia meminta Pak Danapunia asal Kerobokan, Denpasar, Bali untuk membuatkannya model untuk dicoba. Saat alat jadi, orang mengejeknya sebagai alat untuk membuat martabak. Tetapi, ayah Cok. Abi ini tak menggubris segala ejekan. Hasilnya, beban berkekuatan 85 ton maupun 180 ton coba diputar. Berhasil pula. ''Saya menangis terharu, penuh rasa syukur,'' kenang Tjok. Raka.

Alat temuan Tjok. Raka itu kelak, oleh Presiden Soeharto, diresmikan bernama Sosrobahu. Artinya, si berbahu seribu --dalam teks susastra Jawa Kuna dinamakan Sahasrabahu. Dalam image Presiden Soeharto itu berarti ada seribu bahu atau pundak menahan beban berat jembatan layang.

Bagi lelaki asal Ubud ini, Sosrobahu tercipta akibat kesulitan menyelesaikan proyek jalan layang di kawasan Cawang, Jakarta tahun 1987, berpanjang total 16,5 km. Ada tiga kontraktor Indonesia menggarap proyek jalan layang itu. Saat teknologi Sosrobahu temuannya diterapkan untuk menggarap proyek jalan layang di Manila, Filipina, perhatian masyarakat begitu besar. Presiden Filipina Fidel Ramos penuh bangga berujar, ''Inilah temuan Indonesia sekaligus buah ciptaan putra ASEAN.''

4. Nang Pelung
Si Pembuat Terowongan

NANG Pelung, demikian panggilan lelaki yang sebetulnya punya nama asli I Wayam Mandra ini. Pria kelahiran Desa Bunutin, Kintamani, 18 Agustus 1910 memang sedikit tampil beda dan memiliki kelebihan tersendiri. Di tahun 1977, Desa Bunutin dan desa tetangganya mengalami paceklik. Penduduk kesulitan air bersih. Hamparan sawah yang sebelumnya subur berubah tandus. Masyarakat terpaksa hanya bisa makan umbi-umbian. Tak seperti umumnya masyarakat desa yang cenderung pasrah pada nasib, lelaki yang biasa dipanggil Nang Pelung ini melontarkan ide membangun tanggul di Tukad Payuk, tak jauh dari Bunutin. Ia mengajak serta 150 warga masyarakat. Tetapi apes, tanggul itu jebol dan air tak bisa dialirkan ke Bunutin. Kegagalan ini membuat penduduk putus asa. Tidak demikian halnya dengan Nang Pelung. Ia adalah sosok yang pantang menyerah. Ia masih berusaha mengajak warga, tetapi warga yang mendukung idenya menyusut dan tinggal 70 orang. Jumlah itu pun kembali menyusut tinggal empat orang yakni Nang Kayun, Nang Ngurah, Nang Janten dan Nang Pelung sendiri.

Berbekal sepucuk senapan angin merek Diana MD 50, ia mulai merencanakan membangun terowongan air sejauh 9 kilometer yang dipergunakan untuk mengairi sawah penduduk. Pada laras senapan dipasangi ''terpas'' dengan maksud untuk mencari kelurusan jarak sebelum dilakukan penggalian. ''Saya sengaja menggunakan senapan karena larinya peluru sebuah senapan sepanjang jarak 50 meter tidak mungkin akan menipu. Dengan peluru itu akan diketahui kelurusan naik-turunnya dataran,'' ujarnya.

Tiap 50 meter akhirnya Nang Pelung memberikan tanda pada pepohonan ataupun tebing yang dijumpainya. Berbagai suka-duka dilewati dalam penggalian itu. Penduduk desa mencemooh dan mengatakan ide Nang Pelung adalah ide gila. Ada yang mengumpat seraya menarikan sebuah punggalan barong dengan berkata tak mungkin ide ini akan berhasil. Apa yang dilakukan tak lebih sebagai ide orang gila. Mendapatkan cercaan dan cemooh masyarakat itu, tidak membuat lelaki ini mundur.

18 Januari 1977, Nang Pelung bersama tiga rekannya memulai perjuangan membuat terowongan air. Biaya pembangunan ini pun sepenuhnya ditanggungnya. Ia mengaku terpaksa menjual 19 ekor sapi miliknya sebagai bekal satu tahun melakukan penggalian. Lelaki dengan tujuh orang istri ini pun setapak demi setapak menggali. Genap setahun menggali dan bergelut dengan pengapnya lubang galian, sempat datang staf ahli dari Dinas PU Tingkat I Bali melakukan pengukuran dengan alat canggih. Lagi-lagi Nang Pelung harus perang urat saraf. Soalnya, apa yang dilakukan tak lebih sebagai pekerjaan sia-sia. Sebab, setelah diukur dengan alat canggih, aliran air berada 7 meter di bawah galian. Jadi, tidak mungkin air itu akan mampu dialirkan melalui terowongan. ''Saya tak mau mendengar perkataan itu. Buruh dan teman tetap dimintakan untuk bekerja dan tak usah lagi mendengarkan apa omongan orang,'' ujarnya.

Akhirnya melewati setahun melakukan penggalian, cita-citanya kesampain juga. Air yang diharapkan akan mengubah tatanan kehidupan masyarakat Bunutin menjadi lebih sejahtera setetes demi setetes mulai mengalir. Awalnya air itu adalah untuk kebutuhan minum warga. Karena jumlahnya berlebihan muncul ide mengalirkan ke ladang yang waktu itu masih tandus.

Persoalannya, mengalirkan air ke sawah dihadapkan pada masalah besar. Bersama 12 orang lainnya, ia berusaha mengalirkan air menuju sawah. Usahanya ini pun nyaris menemui kegagalan. Karena tepat berada pada sebuah bukit yang dinamai Bukit Munduk Batu, air tidak bisa mengalir karena dihadang sebongkah batu besar. Akhirnya Nang Pelung menghadap Bupati Bangli, atas petunjuknya warga diminta untuk nunas (mohon petunjuk) di Pura Batu Madeg Besakih.

Aneh bin ajaib, setelah melewati upacara di Batu Madeg, berbekal sebuah ''panyong'' batu sebesar bukit itu mampu dibelahnya. Keberhasilannya tercium beberapa desa tetangga, bahkan hingga wilayah Gianyar. Spirit dan kegigihanya dalam membuat terowongan membuat beberapa desa meminta bantuannya. Mereka meminta Nang Pelung membuat terowongan air yang sama di desanya. Beberapa terowongan hasil karya Nang Pelung adalah terowongan di Desa Mengani Kintamani (sepanjang 5,100 kilometer), Desa Munduk Plik (5,50 kilometer), Singaperang Gianyar (5,5 kilometer). Selain memiliki raut muka awet muda, ternyata Nang Pelung mempunyai keunikan lain dari yang lainnya. Ia memiliki tujuh orang istri. Dari ketujuh istrinya ini, ia dikaruniai 18 anak. Anak tertuanya sudah berusia 70 tahun, sementara yang paling muda masih berusia tujuh tahun.

5. Haji Bambang (1960 - )
Relawan Bom Bali

HAJI Bambang, begitu orang biasa memanggil lelaki ini. Sebenarnya ia bernama lengkap H. Agus Bambang Priyanto, S.H., dilahirkan di Kuta, 20 April 1960. Ia adalah sosok yang low profile. Nama Haji Bambang atau sering juga disebut Haji Bondres mulai dikenal masyarakat Bali, ketika ia rajin menyuarakan persoalan-persoalan Bali di Radio Global.

Kepedulian dan rasa solidaritasnya teruji saat terjadi ledakan bom di Kuta, 12 Oktober 2002. Saat itu, didorong rasa kemanusiaan yang tinggi, Kepala Sentral Parkir Kuta ini berbaur dengan para pemuka dan penduduk Kuta berdiri di depan menjadi relawan untuk menolong para korban. Ia menolong para korban seperti kesurupan, tak tahu dari mana ia mendapatkan tenaga yang begitu besar, sehingga bisa menggotong korban yang rata-rata bertubuh besar. Saat ia masuk ke api menyelamatkan korban, banyak kalangan yang melarangnya, tetapi Haji Bambang tak peduli, ia malah histeris. ''Kalau memang harus ada korban lagi, biarlah saya yang jadi korban,'' teriaknya. Saat itu, Haji Bambang merasa jengah. ''Kenapa Bali yang tak pernah memusuhi suku lain, agama lain, bangsa lain, diperlakukan seperti itu. Apa salah Bali dan orang-orang Bali,'' batinnya. Karena rasa jengah, tekadnya yang kuat dan kecintaannya yang besar pada Bali, ia mampu bertindak di luar akal sehat.

6. Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus (1932-2003)
Bapak Antropolog Bali

Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus dilahirkan 12 Juli 1932 di Jero Tengah Peguyangan, Denpasar. Perjalanan panjangnya dimulai dari Jurusan Sastra Timur Universitas Gajah Mada Yogyakarta, program pascasarjana Jurusan Linguistik Umum dan Nusantara Universitas Leiden di Belanda, sampai program doktor di Jurusan Antropologi Universitas Indonesia. Ngurah Bagus adalah sosok yang kritis, bahkan sampai menjelang kepergiannya. Dalam serasehan Pesta Kesenian Bali tahun 2003 lalu, ia dengan suara lantang malah mengatakan bosan dengan seminar-seminar yang tak ada hasilnya. Saat itu ia masih berapi-api. ''Kita harus bertindak, berani mendobrak dan melawan sistem yang membuat keropos budaya kita,'' katanya meledak-ledak.

Sepanjang hidupnya, Ngurah Bagus sangat rajin mempelajari semua ilmu, juga melakukan penelitian. Ia adalah sosok tua, yang berbeda dari yang lain. Ia bisa menerima segala permikiran baru dan pandangan-pandangan kritis. Keilmuan dan karakternya ikut bergerak seiring gerak zaman, sehingga tak aneh bisa peneliti-peneliti asing menyebutnya sebagai Bapak Antropolog Bali. Salah satu penelitian pentingnya yang sangat maju (dalam arti orang lain belum memikirkannya ketika itu) adalah mengenai dampak pariwisata terhadap kebudayaan Bali. Studi ''Bali dalam Sentuhan Pariwisata'' ini dikerjakan awal tahun 1970-an bersama sarjana Amerika, Philip McKean, yang membahas gejala hippies yang berkembang di arena global dan merasuk ke Bali lewat pariwisata waktu itu.

Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus meninggal Kamis, 16 Oktober 2003 karena komplikasi liver-diabetes. Kendati ia telah tiada, semangatnya dan ''gugatan-gugatannya'' akan selalu dikenang.

7. K. Kebek Sukarsa (1932-2000)
Membagi Pengetahuan Pewarigaan

Ketut Kebek Sukarsa dilahirkan di Sidemen, Karangasem, Bali, September 1932. Ia mulai menekuni kalender Bali bermula dari usahanya menerbitkan kalender Bali karya Ketut Bambang Gede Rawi. Setelah kalender itu terbit, justru banyak yang bertanya padanya tentang hari baik dan bagaimana cara menghitungnya. Ia merasa bertanggung jawab untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, sehingga memaksanya untuk terus belajar. ''Mau tak mau saya harus bisa menjelaskan segala yang ada dalam kalender Gde Rawi, makanya saya harus belajar keras,'' katanya saat diwawancarai tahun 1998 lalu. Sejak saat itulah ia mulai belajar pewarigaan secara otodidak.

Akhirnya tahun 1982 ia mulai membuat kalender 1983 sendiri. Kalender tersebut dibuat untuk menyambut dan mengenang gerhana matahari total 11-6-1983. Saat kalendernya muncul banyak yang curiga kalender Kebek menjiplak kalender Bambang Gede Rawi. Bahkan, kecurigaan tersebut sampai dituangkan dalam sebuah buku.

''Karena itulah, saya merasa jengah untuk membuktikan bahwa saya tidak menjiplak. Saya kemudian belajar wariga lebih dalam lagi,'' tambahnya. Untuk menambah pengetahuan ini ia harus belajar tentang kalender-kalender di seluruh dunia, seperti India, Hawaii maupun Jepang. Hasilnya, ia bisa membuat perhitungan pewarigaan Bali yang bisa dipakai untuk membuat kalender.

Sebelum berpulang, suami Etmy ini sedang menyusun rancangan buku kalender sampai tahun 2050. Kebek meninggal 24 Desember 2000. Sampai akhir ayatnya, Kebek Sukarsa yang punya dua orang putra, Palayasa dan Kusumayasa, menjabat sebagai Ketua Ikatan Penyusun Kalender Bali.

8. Prof. dr. H. Abdul Hamid Sutohardjo, Sp.A(K). (1941-2003)
Menjadi Dokter secara Benar

KENDATI jasad Prof. dr. H. Abdul Hamid Sutohardjo, Sp.A(K). sudah bermakam di liang lahat, album memori seputar integritas pribadinya seolah masih berjiwa. Sosoknya kerap dibahasakan sebagai menceritakan sederet pesan berharga. Bagaimana menjadi dokter secara benar? Dokter yang bekerja karena panggilan hati nurani dan spirit kemanusiaan. Ia menyimpulkan ini sebagai makna yang benar di balik sosok profesionalitas seorang dokter.

Sikap hidup dan pandangan-pandangannya membuat Hamid dikagumi dan diteladani rekan sejawat, kolega, mahasiswa dan kalangan intelektual lainnya. Kepergiannya tak saja membuat keluarga, rekan, para orangtua merasa kehilangan tempat berbagi duka tentang anak-anak mereka, bahkan vibrasi kehilangan dokter anak ini mengimbas pada pedagang kaki lima yang kehilangan sumber nafkahnya. Pedagang kaki lima yang hidupnya tergantung pada melubernya pasien yang datang di tempat praktik sang dokter, akhirnya memilih jalan bunuh diri. Tempat praktik sang dokter di Jalan Diponegoro Denpasar, yang dulu ramai berubah sepi oleh para pelanggannya.

Di kalangan keluarga, sejawat, para mahasiswa, maupun handaitaulannya, sikap dan pandangan hidup Hamid senantiasa menjadi panutan. Bagi keluarganya, Hamid sungguh hadir sebagai seorang suami sekaligus ayah yang baik. Sikap hidupnya selalu memancarkan getaran seorang pembimbing. Para residen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Unud sungguh merasakannya. Kalau ada residen atau mahasiswa bersalah, ia menuntun ke jalan yang benar. Bahkan, ia dorong untuk belajar lebih giat agar kian maju secara akademis.

Ia mengembuskan napas terakhir di ruang HCU RS Sanglah sekitar pukul 07.00, 13 Agustus 2003. Mendiang Hamid sebelumnya harus menjalani perawatan medis selama 38 hari menyusul serangan stroke pada 4 Juli 2003. Saat Sang Pencipta menjemput, Hamid masih menjabat Kepala Subdivisi Perinatologi RS Sanglah/FK Unud.

9. I Made Widjakusuma/Pak Djoko (1923-1999)
Pejuang di Bawah Tanah yang Menolak Penghargaan

JAUH sebelum terjadi perang besar di Margarana, telah dilakukan perang di bawah tanah. Saat itu tahun 1944, almarhum I Made Widjakusuma alias Pak Joko telah menyusun gerakan di bawah tanah bersama I Gusti Ngurah Rai, I Made Regog, Anom Gangga, Nyoman Pegeg (Badung/Denpasar), Wayan Bina (Tabanan), Gede Puger (Badung/Denpasar), Gusti Lanang Rai, Ketut Gebun (Karangasem), Ngurah Anom, Gusti Bagus Sugianyar (Klungkung), dan Anom Dada (Gianyar). Perjuangan bawah tanah inilah yang menjadi dasar perjuangan selanjutnya.

Saat itu I Made Widjakusuma yang lahir di Denpasar, 1 Mei 1923 bekerja di toko roti yang kebetulan pimpinannya seorang Jepang. Menurut istrinya, Made Sudarmi, agar perjuangannya tak diketahui, Widjakusuma merekrut hanya tiga orang terpercaya. Tiga orang inilah yang merekrut orang-orang lagi. ''Jadi, antara yang satu dan yang lainnya tidak saling kenal. Gerakannya rapi dan tak kentara,'' katanya. Istri almarhum Widjakusuma yang dinikahi tahun 1956 ini, menjelaskan bahwa saat itu bos suaminya yang orang Jepang juga sangat baik. Jika almarhum terkantuk-kantuk saat bekerja karena harus begadang menyusun strategi perjuangan di malam harinya, dia tak marah. Apalagi melaporkannya kepada Jepang. ''Malahan bos bapak, memberi tahu bapak, jika ia dapat kabar akan ada penangkapan terhadap bapak. Jadi bapak bisa kabur,'' tambah Sudarmi. Karakter berjuang di bawah tanah dan tanpa pamrih tetap dilakoni Pak Djoko, kendati Indonesia telah mengenyam alam kemerdekaan. Selama hidupnya, Pak Djoko pantang berpamrih atas perjuangannya, bahkan ia selalu menolak untuk diberi penghargaan.

10. I Ketut Widjana alias Pak Item (1918-2002)
Berjuang sebagai Spionase untuk Jepang

Tak semua orang bisa dan mau menjadi spionase atau mata-mata, apalagi dalam zaman perang. Tetapi untuk mencapai tujuan bersama, harus ada yang mau jadi spionase atau mata-mata. Pada zaman menjelang kemerdekaan, pejuang I Ketut Widjana-lah ditugaskan oleh teman-temannya untuk pura-pura sebagai spionase Jepang. Tugas itu baginya sangatlah berat, sebab kalau diketahui Jepang akan kena hukuman yang sangat berat. Namun, bagi teman-temannya sesama pejuang akan dianggap berpihak pada Jepang. Betapapun sulit dan riskannya pekerjaan itu, harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. I Ketut Widjana sejak kecil hidup pada zaman Perang Dunia I dan disusul dengan zaman malaise.

I Ketut Widjana alias Pak Item adalah anak kampung biasa. Ayahnya seorang tukang kayu, yang hidupnya sangat tergantung pada pesanan orang. Ia berasal dari Banjar Panataran, dilahirkan 13 Maret 1918. Ayahnya bernama Nyoman Gelgel, sedangkan ibunya bernama Ni Nyoman Asih. I Ketut Widjana adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ia beristrikan Ni Nyoman Pudjawati. Ia dikaruniai tujuh orang putra-putri masing-masing Putu Widjanaya, S.H. (pensiunan Sekda Propinsi Bali), Drs. Made Pudjanaya, Ir. Nyoman Udhi Sastria Winaya, Drs. Ketut Warmaya, B.S. dan L. Putu Sri Hardani. Dari ketujuh putra-putrinya itu, I Ketut Widjana memiliki 14 orang cucu.

Sebelum berjuang bersama pemuda-pemuda Bali lainnya, Widjana kecil berkesempatan mengenyam pendidikan di Sekolah Melayu di Banjar Paketan, tempat ayah Bung Karno mengajar. Ia dipindahkan ke HIS di Singaraja. Setamat HIS ia mengikuti kakaknya, Ketut Nuridja, di Surabaya yang tinggal di rumah Tuan Hysener, seorang Jerman. Di sana ia bekerja sebagai pembantu. Nasibnya mulai berubah saat ia lulus sebagai Prayoda dan ditugaskan di Gianyar tahun 1936. Tahun 1938 ia pindah ke Singaraja sebagai Komandan Regu Kortverband, kemudian sebagai instruktur mendidik dan melatih Prayoda. Berkat kemampuannya, I Ketut Widjana diberi tugas belajar mengikuti pendidikan calon perwira di Magelang. Namun baru tiga bulan berada di Magelang, serdadu Jepang mulai menguasai kota-kota di Jawa, termasuk Magelang. Karena tidak mau menyerah kepada serdadu Jepang, I Ketut Widjana bersama kawan-kawannya ditawan oleh serdadu Jepang dan harus mengikuti segala perlakuan sebagai tawanan perang. Perlakuan sebagai tawanan Jepang dirasakan sampai tahun 1942.

Lepas dari tawanan Jepang, I Ketut Widjana memutuskan untuk pulang ke Bali. Ia selanjutnya bekerja sebagai manteri hewan dan pindah ke Tabanan.

Setelah beberapa lama Jepang berkuasa, maka para pemuda di Bali makin menyadari bahwa kedatangan Jepang di Indonesia (Bali) bertujuan sebagai penjajah, bahkan cara-cara yang dipakai lebih keras. Hal yang demikian menyebabkan para pemuda menghimpun diri untuk melakukan perlawanan. I Ketut Widjana ikut melakukan perlawanan di bawah pimpinan I Gusti Bagus Putu Wisnu. Beliau wafat tanggal 12 November 2002, meninggalkan namanya yang harum, yang berjuang tiada henti.

(mas ruscita/syam kelilauw/pujawan/litbang)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)