kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Kliwon, 21 September 2003 tarukan valas
 

SURAT PEMBACA


Lestarikan Daerah Tangkapan Air

Kekeringan yang terjadi pada musim kemarau beberapa bulan terakhir sangat mempengaruhi produktivitas lahan pertanian dan juga menyebabkan beberapa sungai mengalami penurunan debit aliran air yang cukup signifikan. Kondisi tersebut tidak lepas dari adanya perubahan penggunaan (pengalihfungsian) lahan yang akhir-akhir ini banyak terjadi, termasuk pada daerah perbukitan. Begitu banyak pondok-pondok peristirahatan yang dibangun pada daerah lereng-lereng perbukitan. Memang, perbukitan merupakan tempat yang nyaman, sejuk dan indah untuk melepaskan penat setelah berhari-hari tenggelam dalam kesibukan dan rutinitas pekerjaan. Namun demikian, harus diingat bahwa begitu besar konsekuensi jangka panjang yang harus ditanggung.

Daerah perbukitan merupakan daerah tangkapan air (catchment area) yang berfungsi untuk menangkap air hujan, kemudian menyimpannya di dalam tanah melalui proses infiltrasi, dan selanjutnya mengalirkannya keluar tanah melalui mata air dan sungai. Apabila daerah tangkapan air tersebut berubah fungsi menjadi pondok-pondok peristirahatan lengkap dengan semua fasilitasnya, maka fungsinya akan berkurang atau bahkan hilang. Hal ini menyebabkan volume simpanan air berkurang bahkan menjadi sangat sedikit dan jika musim kemarau tiba, simpanan air yang tersedia hanya dapat mencukupi untuk waktu yang tidak lama dan yang terjadi selanjutnya adalah penurunan debit aliran air sungai dan bahkan kekeringan. Karena untuk dapat berfungsi sebagai daerah tangkapan air, bukit dan lerengnya harus mampu menahan atau menghambat aliran permukaan (runoff) agar air mempunyai peluang lebih besar untuk meresap ke dalam tanah melalui proses infiltrasi.

Oleh karena itu, diperlukan pepohonan untuk menahan runoff dan menciptakan kondisi tanah dengan kapasitas infiltrasi yang besar dengan luasan yang memadai, agar volume simpanan air dalam tanah cukup besar dan dapat mencukupi hingga musim kamarau. Dengan demikian kekurangan air dan kekeringan dapat diantisipasi dan keberlanjutan produksi hasil pertanian dapat dipertahankan untuk menyokong ketersediaan pangan sehingga bahaya krisis pangan terutama akibat kekeringan, dapat diantisipasi. Maka sudah selayaknya apabila pengalihfungsian lahan pada daerah perbukitan dan lerengnya dihentikan dan bila perlu dilakukan tindakan penghutanan kembali (reboisasi) untuk mengembalikan fungsi lahan sebagai daerah tangkapan air guna melestarikan daerah tangkapan air.

Di samping itu, luasan lahan pertanian yang ada hendaknya tetap dipertahankan agar tidak semakin menyusut. Karena penyusutan luasan lahan pertanian juga mempunyai peranan terhadap terjadinya krisis pangan.

Sumiyati
Jl. G. Batur Gg. Salak No. 11A Denpasar

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com