kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 21 September 2003 tarukan valas
 

POTRET


Lagu bukan Milik Agama Tertentu

COBALAH hidupkan televisi atau cari gelombang radio, Anda akan mudah mendengar lagu-lagu pop Bali. Ada yang berlirik kocak, ada pula yang melankolis. Sementara yang bernapas religius agak sulit ditemukan, kecuali hari-hari raya tertentu. Itu pun hanya ada beberapa lagu.

"Kebetulan saya tertarik dengan tema-tema agama atau yang religius. Sebab saya lihat pengarang lagu-lagu rohani Hindu sangat jarang," kata pencipta lagu yang "memborong" juara pada lomba cipta lagu Bali Post, I Komang Darmayuda.

Ketertarikan untuk membuat lagu-lagu yang lebih "serius" memang tertanam dalam jiwa dosen ISI Denpasar itu. Ia mengamati lagu-lagu bernapas religius baru diciptakan oleh personel band Gigi, Dewa Bujana dan Jelantik. Sayangnya, lagu-lagu itu kurang bergema di Bali.

Alasan Komang cukup kuat. Menurutnya, lewat lagu cukup efektif untuk meresapkan pesan-pesan agama. Ini sebuah alternatif dakwah selain lewat dharma wacana. "Kita lihat hari raya umat lain itu semarak dengan lagu-lagunya. Kenapa kita tidak?" tanya alumnus ISI Yogyakarta ini.

Menurut Komang, lagu itu bukan milik agama tertentu, musik itu universal. Ia mencontohkan, di India agama Hindu disebarkan dengan nyanyian. Ia mengambil kasus lain, misalnya simbol Dewi Saraswati memegang wina. "Kita umat Hindu juga menyebarkan ajaran-ajaran agama melalui musik," tandasnya seraya mengamati kemarakan dharma santi yang dilakukan di perguruan tinggi dan pura.

Di sanalah tempat dan waktunya umat Hindu menampilkan lagu-lagu rohani yang bernapaskan agama dan disesuaikan dengan hari raya yang tengah diperingatinya. Misalnya hari raya Galungan kita bicara tentang kemenangan dharma (mus)


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com