Lagu bukan
Milik Agama Tertentu
COBALAH
hidupkan televisi atau cari gelombang radio, Anda akan mudah
mendengar lagu-lagu pop Bali. Ada yang berlirik kocak, ada pula
yang melankolis. Sementara yang bernapas religius agak sulit
ditemukan, kecuali hari-hari raya tertentu. Itu pun hanya ada
beberapa lagu.
"Kebetulan saya
tertarik dengan tema-tema agama atau yang religius. Sebab saya
lihat pengarang lagu-lagu rohani Hindu sangat jarang," kata
pencipta lagu yang "memborong" juara pada lomba cipta
lagu Bali Post, I Komang Darmayuda.
Ketertarikan untuk membuat
lagu-lagu yang lebih "serius" memang tertanam dalam
jiwa dosen ISI Denpasar itu. Ia mengamati lagu-lagu bernapas
religius baru diciptakan oleh personel band Gigi, Dewa Bujana
dan Jelantik. Sayangnya, lagu-lagu itu kurang bergema di Bali.
Alasan Komang cukup kuat.
Menurutnya, lewat lagu cukup efektif untuk meresapkan
pesan-pesan agama. Ini sebuah alternatif dakwah selain lewat
dharma wacana. "Kita lihat hari raya umat lain itu semarak
dengan lagu-lagunya. Kenapa kita tidak?" tanya alumnus ISI
Yogyakarta ini.
Menurut Komang, lagu itu
bukan milik agama tertentu, musik itu universal. Ia mencontohkan,
di India agama Hindu disebarkan dengan nyanyian. Ia mengambil
kasus lain, misalnya simbol Dewi Saraswati memegang wina.
"Kita umat Hindu juga menyebarkan ajaran-ajaran agama
melalui musik," tandasnya seraya mengamati kemarakan dharma
santi yang dilakukan di perguruan tinggi dan pura.
Di sanalah tempat dan
waktunya umat Hindu menampilkan lagu-lagu rohani yang
bernapaskan agama dan disesuaikan dengan hari raya yang tengah
diperingatinya. Misalnya hari raya Galungan kita bicara tentang
kemenangan dharma (mus)
|