kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Kliwon, 21 September 2003 tarukan valas
 

OPINI


''Seppuku'' dan Sumpah Pocong

MEROKOK dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin! Setiap perokok yang bukan buta huruf pasti pernah membaca peringatan itu tertulis pada setiap bungkus rokok yang dibelinya. Kemudian dari kawasan mancanegara, peringatan serupa juga ada. Bahkan pabrik rokok terkenal dan mendunia, yang sering tampil di iklan televisi dengan alam desa penuh rimba pinus serta cowboy menunggang mustang, tidak tanggung-tanggung. Tiga jenis kalimat iklan untuk produk yang sama dibuatnya. Quitting Smoking Now Greatly Reduces Serious Risks to Your Health! Smoking By Pregnant Women may Result in Fetal Injury, Premature Birth, and Low birth Weight! Cigarette Smoke Contains Carbon Monoxide!

Rubag skeptis atas semua bunyi iklan tersebut. Tidak peduli siapa pun konseptornya. Baginya, kemunafikan telah mengglobal dan bahasa digunakan untuk menyembunyikannya. Namun ada yang diabaikan, bahwa meluasnya teknologi informatika dan berbagai cabang sains, justru membuat otak manusia semakin tebal ditumbuhi skeptisme. Khususnya dalam produk rokok, tidak bisa dipungkiri kalau dari industri ini, baik pemerintah maupun pengusaha, sangat mengharapkan pendapatan. Malah di Indonesia, bila terbit sebuah kebijakan yang melarang rakyatnya merokok, bukan hanya perokok yang blingsatan, buruh pabrik rokok dan keluarganya yang jutaan jumlahnya akan kehilangan pekerjaan. Bahkan, pemerintah yang selama ini mendongkrak APBN dari cukai rokok akan kelabakan atau mungkin menempuh cara paling mudah yakni menaikkan segala jenis pajak.

Sebenarnya Rubag tidak begitu memusingkan, apakah merokok akan dilarang atau tidak, tapi kebohongan dan kemunafikan yang meluaslah yang menjadi inti perhatiannya. Satu hal yang membuatnya tidak habis pikir, begitu seringnya dia mendengar atau membaca pokok-pokok pikiran positif dan mulia dari mereka yang berstatus terhormat, namun perbuatan orang-orang tersebut ternyata bertolak belakang dengan kebaikan yang diwacanakannya. Sikap diam yang ditunjukkan para pendengar, mereka anggap sebagai tanda percaya dan mengamini apa pun yang mereka ucapkan. Celakanya lagi, ada oknum-oknum yang menganggap rakyat begitu bodoh, lalu mengumbar logika klenik yang irasional. Lucunya, entah sadar atau tidak, ada di antara pengumbar kebohongan dan kemunafikan tersebut bertitel akademik mentereng. Dia kira, gelar kesarjanaannya merupakan jaminan yang membuat orang tidak perlu ragu akan kredibilitasnya. Segala ucapannya diharapkan sejajar dengan dogma seperti ayat-ayat suci yang tidak perlu diperdebatkan. ''Saya siap ditelanjangi, bahkan saya berani disumpah pocong!'' ujar oknum tersebut guna menanggapi tuduhan jual beli lisensi kepramuwisataan yang bernilai jutaan rupiah untuk setiap lembar, seperti dimuat sebuah koran terbitan Denpasar baru-baru ini.

Respons seperti ucapan oknum tersebut terlalu sering didengar Rubag akhir-akhir ini. Dia sadar bahwa biasanya tidak setiap tuduhan mengandung fakta-fakta yang bisa dibuktikan, baik dalam taraf penyidikan maupun di pengadilan. Malah banyak juga tuduhan tanpa disertai saksi, karena kebanyakan orang yang -- kendati melihat tindakan penyelewengan -- takut dan enggan menjadi saksi. Sebab, tidak jarang terjadi, seseorang yang dipanggil ke kepolisian sebagai saksi, berubah statusnya jadi tersangka. Itu lantaran ketidakmampuan lidahnya mengungkapkan alibi atau fakta hukum, terlebih-lebih karena awam mengenai masalah hukum, menyebabkannya jadi pecundang.

Karena itu, kasus-kasus penyelewengan, penyuapan, penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan yang lebih dikenal dengan istilah KKN sejak reformasi bergulir hingga sekarang, sangat sedikit berhasil diungkapkan. Bahkan, Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) lebih sering didengar masyarakat dibanding berita koruptor yang masuk penjara.

***

Soal sumpah yang terlontar bila seseorang diduga berbuat curang, lebih cocok dilontarkan orang-orang dari kalangan tak terdidik. Namun bila sumpah diucapkan seorang pejabat, Rubag terpaksa bertanya dalam hati. Bukankah pejabat tersebut telah pernah bersumpah ketika dilantik saat awal menerima jabatannya? Malah secara rutin, sekali seminggu, juga memimpin para bawahannya mengucapkan sumpah dan janji untuk menunaikan tugasnya secara jujur dan disiplin sebagai abdi masyarakat. Lalu, kalau sampai menantang masyarakat yang mencurigainya di koran dengan mengatakan siap ditelanjangi dan sumpah pocong, tidakkah itu berlebihan?

Untuk menunjukkan kejujuran dan loyalitas terhadap sumpah jabatan, kesiapan untuk ditelanjangi dan sumpah pocong, bukanlah jawaban yang pas. Kecuali kalau ingin terjerat dalam salah satu pasal KUHP yang menyangkut ketatasusilaan, cuma orang-orang tidak waras berani menelanjangi seseorang di depan umum, apalagi yang ditelanjangi seorang pejabat. Rubag pernah punya kenalan yang biasa menantang orang-orang di sekitarnya bersumpah bila pernyataannya dibantah atau diragukan kebenarannya. Sambil menggebrak meja di depannya, dia menantang lawan bicaranya untuk bersumpah di Pura Besakih. Mendengar gertakan seperti itu, kawan-kawan terpaksa diam, karena di samping enggan ribut, mereka juga memahami hakikat sumpah. Apalagi bila dilaksanakan di tempat yang dianggap paling suci bagi umat Hindu. Celakanya, keengganan kawan-kawan dimanfaatkan si maniak sumpah itu dan dijadikan kebiasaan untuk mendukung otoriterismenya.

Suatu hari dia menabrak tembok, karena tiga rekan yang diajaknya berdebat dan ditantang bersumpah sehari sebelumnya, datang membawa sesajen lengkap untuk bersumpah serta berbusana adat serba putih. Lucunya, si penantang bukannya siap untuk berangkat, melainkan menarik tangan ketiga kawannya disertai bisik-bisik minta maaf dan menyatakan bahwa tantangan tersebut hanya untuk bercanda. Ternyata, tantangan sumpah itu cuma gertak, mirip peringatan rokok untuk menakut-nakuti orang, namun dalam hati mengharap agar konsumen rokok bertambah setiap saat.

Tantangan bersumpah pocong atau sumpah ke sebuah tempat suci, bagi Rubag, adalah perbuatan orang yang kehabisan akal. Bisa jadi, di mata kawan-kawan dekatnya, dia dianggap sering berbohong atau berbuat kemunafikan. Misalnya, di telinganya sering bertengger bunga tanda habis sembahyang dan dalam bertutur selalu mengungkap kebaikan sesuai ajaran agama, bahkan segala mantra dihafalnya seperti bernafas, ditambah demonstrasi memainkan genta, namun perbuatannya senantiasa bertolak belakang dengan ucapan dan kemampuannya. Bahkan ketika melihat tumpukan uang, yang meskipun berasal dari perbuatan ilegal, putih matanya segera berubah hijau. Dalam mengais uang haram dengan para anak buahnya, dia menerapkan motto, ''tut wuri menandahi'' dengan sistem yang menurutnya adil dan pantas, ''one for you one for me, two for you all for me''.

***

Kemunafikan dan kebohongan kini mengglobal, seperti halnya kejahatan dan terorisme. Sikap ksatria pemimpin, yang pernah dimiliki para penguasa Jepang, akhirnya menjadi puing-puing sejarah dan tidak sempat ditularkan ke bekas-bekas negeri jajahannya. Seppuku, upacara vulgar untuk menghukum diri sendiri, yakni dengan menoreh perut hingga usus terburai dengan pisau pendek bernama tanken, merupakan kebiasaan para pemimpin Zaman Tokugawa (1602-1868). Perbuatan yang kemudian lazim disebut harakiri tersebut tetap berlanjut hingga berakhirnya Perang Pasifik, bahkan keudian dilanjutkan oleh kelompok kriminal Yakuza hingga zaman modern ini.

Tragisnya, tindakan bunuh diri tersebut, bukan saja dilakukan karena kesalahan sendiri, juga untuk mempertanggungjawabkan perbuatan dan kesalahan para anak buah. Sebab, kegagalan dan ketidakdisiplinan anak buah, dianggap juga kesalahan pemimpin. Sekarang, harakiri dari tradisi zeppuku diganti dengan mengundurkan diri. ''Aneh, di sini siap untuk ditelanjangi dan disumpah pocong kok dianggap sikap ksatria? Mudah-mudahan wisatawan Jepang yang menempati peringakt kedua dalam jumlah kunjungan ke Bali tidak mendengar berita yang menggelikan itu,'' gumam Rubag, yang meskipun bukan bangsa Jepang, namun geli juga membaca pernyataan di koran itu.

* aridus

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com