''Seppuku''
dan Sumpah Pocong
MEROKOK
dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan
gangguan kehamilan dan janin! Setiap perokok yang bukan buta
huruf pasti pernah membaca peringatan itu tertulis pada setiap
bungkus rokok yang dibelinya. Kemudian dari kawasan mancanegara,
peringatan serupa juga ada. Bahkan pabrik rokok terkenal dan
mendunia, yang sering tampil di iklan televisi dengan alam desa
penuh rimba pinus serta cowboy menunggang mustang, tidak
tanggung-tanggung. Tiga jenis kalimat iklan untuk produk yang
sama dibuatnya. Quitting Smoking Now Greatly Reduces Serious
Risks to Your Health! Smoking By Pregnant Women may Result in
Fetal Injury, Premature Birth, and Low birth Weight! Cigarette
Smoke Contains Carbon Monoxide!
Rubag
skeptis atas semua bunyi iklan tersebut. Tidak peduli siapa pun
konseptornya. Baginya, kemunafikan telah mengglobal dan bahasa
digunakan untuk menyembunyikannya. Namun ada yang diabaikan,
bahwa meluasnya teknologi informatika dan berbagai cabang sains,
justru membuat otak manusia semakin tebal ditumbuhi skeptisme.
Khususnya dalam produk rokok, tidak bisa dipungkiri kalau dari
industri ini, baik pemerintah maupun pengusaha, sangat
mengharapkan pendapatan. Malah di Indonesia, bila terbit sebuah
kebijakan yang melarang rakyatnya merokok, bukan hanya perokok
yang blingsatan, buruh pabrik rokok dan keluarganya yang jutaan
jumlahnya akan kehilangan pekerjaan. Bahkan, pemerintah yang
selama ini mendongkrak APBN dari cukai rokok akan kelabakan atau
mungkin menempuh cara paling mudah yakni menaikkan segala jenis
pajak.
Sebenarnya Rubag tidak
begitu memusingkan, apakah merokok akan dilarang atau tidak,
tapi kebohongan dan kemunafikan yang meluaslah yang menjadi inti
perhatiannya. Satu hal yang membuatnya tidak habis pikir, begitu
seringnya dia mendengar atau membaca pokok-pokok pikiran positif
dan mulia dari mereka yang berstatus terhormat, namun perbuatan
orang-orang tersebut ternyata bertolak belakang dengan kebaikan
yang diwacanakannya. Sikap diam yang ditunjukkan para pendengar,
mereka anggap sebagai tanda percaya dan mengamini apa pun yang
mereka ucapkan. Celakanya lagi, ada oknum-oknum yang menganggap
rakyat begitu bodoh, lalu mengumbar logika klenik yang irasional.
Lucunya, entah sadar atau tidak, ada di antara pengumbar
kebohongan dan kemunafikan tersebut bertitel akademik mentereng.
Dia kira, gelar kesarjanaannya merupakan jaminan yang membuat
orang tidak perlu ragu akan kredibilitasnya. Segala ucapannya
diharapkan sejajar dengan dogma seperti ayat-ayat suci yang
tidak perlu diperdebatkan. ''Saya siap ditelanjangi, bahkan saya
berani disumpah pocong!'' ujar oknum tersebut guna menanggapi
tuduhan jual beli lisensi kepramuwisataan yang bernilai jutaan
rupiah untuk setiap lembar, seperti dimuat sebuah koran terbitan
Denpasar baru-baru ini.
Respons seperti ucapan
oknum tersebut terlalu sering didengar Rubag akhir-akhir ini.
Dia sadar bahwa biasanya tidak setiap tuduhan mengandung
fakta-fakta yang bisa dibuktikan, baik dalam taraf penyidikan
maupun di pengadilan. Malah banyak juga tuduhan tanpa disertai
saksi, karena kebanyakan orang yang -- kendati melihat tindakan
penyelewengan -- takut dan enggan menjadi saksi. Sebab, tidak
jarang terjadi, seseorang yang dipanggil ke kepolisian sebagai
saksi, berubah statusnya jadi tersangka. Itu lantaran
ketidakmampuan lidahnya mengungkapkan alibi atau fakta hukum,
terlebih-lebih karena awam mengenai masalah hukum,
menyebabkannya jadi pecundang.
Karena itu, kasus-kasus
penyelewengan, penyuapan, penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan
yang lebih dikenal dengan istilah KKN sejak reformasi bergulir
hingga sekarang, sangat sedikit berhasil diungkapkan. Bahkan,
Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) lebih sering
didengar masyarakat dibanding berita koruptor yang masuk penjara.
***
Soal sumpah yang terlontar
bila seseorang diduga berbuat curang, lebih cocok dilontarkan
orang-orang dari kalangan tak terdidik. Namun bila sumpah
diucapkan seorang pejabat, Rubag terpaksa bertanya dalam hati.
Bukankah pejabat tersebut telah pernah bersumpah ketika dilantik
saat awal menerima jabatannya? Malah secara rutin, sekali
seminggu, juga memimpin para bawahannya mengucapkan sumpah dan
janji untuk menunaikan tugasnya secara jujur dan disiplin
sebagai abdi masyarakat. Lalu, kalau sampai menantang masyarakat
yang mencurigainya di koran dengan mengatakan siap ditelanjangi
dan sumpah pocong, tidakkah itu berlebihan?
Untuk menunjukkan
kejujuran dan loyalitas terhadap sumpah jabatan, kesiapan untuk
ditelanjangi dan sumpah pocong, bukanlah jawaban yang pas.
Kecuali kalau ingin terjerat dalam salah satu pasal KUHP yang
menyangkut ketatasusilaan, cuma orang-orang tidak waras berani
menelanjangi seseorang di depan umum, apalagi yang ditelanjangi
seorang pejabat. Rubag pernah punya kenalan yang biasa menantang
orang-orang di sekitarnya bersumpah bila pernyataannya dibantah
atau diragukan kebenarannya. Sambil menggebrak meja di depannya,
dia menantang lawan bicaranya untuk bersumpah di Pura Besakih.
Mendengar gertakan seperti itu, kawan-kawan terpaksa diam,
karena di samping enggan ribut, mereka juga memahami hakikat
sumpah. Apalagi bila dilaksanakan di tempat yang dianggap paling
suci bagi umat Hindu. Celakanya, keengganan kawan-kawan
dimanfaatkan si maniak sumpah itu dan dijadikan kebiasaan untuk
mendukung otoriterismenya.
Suatu hari dia menabrak
tembok, karena tiga rekan yang diajaknya berdebat dan ditantang
bersumpah sehari sebelumnya, datang membawa sesajen lengkap
untuk bersumpah serta berbusana adat serba putih. Lucunya, si
penantang bukannya siap untuk berangkat, melainkan menarik
tangan ketiga kawannya disertai bisik-bisik minta maaf dan
menyatakan bahwa tantangan tersebut hanya untuk bercanda.
Ternyata, tantangan sumpah itu cuma gertak, mirip peringatan
rokok untuk menakut-nakuti orang, namun dalam hati mengharap
agar konsumen rokok bertambah setiap saat.
Tantangan bersumpah pocong
atau sumpah ke sebuah tempat suci, bagi Rubag, adalah perbuatan
orang yang kehabisan akal. Bisa jadi, di mata kawan-kawan
dekatnya, dia dianggap sering berbohong atau berbuat kemunafikan.
Misalnya, di telinganya sering bertengger bunga tanda habis
sembahyang dan dalam bertutur selalu mengungkap kebaikan sesuai
ajaran agama, bahkan segala mantra dihafalnya seperti bernafas,
ditambah demonstrasi memainkan genta, namun perbuatannya
senantiasa bertolak belakang dengan ucapan dan kemampuannya.
Bahkan ketika melihat tumpukan uang, yang meskipun berasal dari
perbuatan ilegal, putih matanya segera berubah hijau. Dalam
mengais uang haram dengan para anak buahnya, dia menerapkan
motto, ''tut wuri menandahi'' dengan sistem yang menurutnya adil
dan pantas, ''one for you one for me, two for you all for me''.
***
Kemunafikan dan kebohongan
kini mengglobal, seperti halnya kejahatan dan terorisme. Sikap
ksatria pemimpin, yang pernah dimiliki para penguasa Jepang,
akhirnya menjadi puing-puing sejarah dan tidak sempat ditularkan
ke bekas-bekas negeri jajahannya. Seppuku, upacara vulgar untuk
menghukum diri sendiri, yakni dengan menoreh perut hingga usus
terburai dengan pisau pendek bernama tanken, merupakan kebiasaan
para pemimpin Zaman Tokugawa (1602-1868). Perbuatan yang
kemudian lazim disebut harakiri tersebut tetap berlanjut hingga
berakhirnya Perang Pasifik, bahkan keudian dilanjutkan oleh
kelompok kriminal Yakuza hingga zaman modern ini.
Tragisnya, tindakan bunuh
diri tersebut, bukan saja dilakukan karena kesalahan sendiri,
juga untuk mempertanggungjawabkan perbuatan dan kesalahan para
anak buah. Sebab, kegagalan dan ketidakdisiplinan anak buah,
dianggap juga kesalahan pemimpin. Sekarang, harakiri dari
tradisi zeppuku diganti dengan mengundurkan diri. ''Aneh, di
sini siap untuk ditelanjangi dan disumpah pocong kok dianggap
sikap ksatria? Mudah-mudahan wisatawan Jepang yang menempati
peringakt kedua dalam jumlah kunjungan ke Bali tidak mendengar
berita yang menggelikan itu,'' gumam Rubag, yang meskipun bukan
bangsa Jepang, namun geli juga membaca pernyataan di koran itu.
* aridus
|