Manuver Heli Mi-35 Memukau
Panglima
Umumkan Kekuatan TNI kepada ASEAN
Jakarta (Bali
Post) -
Empat pesawat tempur Sukhoi dan dua helikopter Mi-35 resmi
diserahkan pemerintah Rusia yang diwakili Baturin dan Alexander
Khaminov kepada pemerintah Republik Indonesia diwakili Direktur
Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Widjanarko Puspoyo,
dalam suatu acara di Skadron Teknik 021 Lanud Halim
Perdanakusuma Jakarta, Sabtu (20/9) kemarin.
Setelah
serah terima, Dirut Perum Bulog menyerahkan empat pesawat dan
dua helikopter itu kepada Sekjen Departemen Pertahanan (Dephan)
Marsekal Madya (Marsdya) Supriyadi yang langsung menyerahkannya
kepada Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. Usai menerima
keempat Sukhoi dan dua heli Mi-35 itu Panglima TNI langsung
"membaginya" kepada Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau)
Marsekal Chappy Hakim sebagai pengguna empat pesawat Sukhoi dan
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Ryamizard
Ryacudu, sebagai pengguna Helikopter Mi-35. Turut menyaksikan
serah terima itu, Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag)
Rini Soewandi, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana
Bernard Kent Sondakh, serta pejabat di lingkungan Dephan dan
Mabes TNI.
Sebelum upacara serah
terima dilakukan, hadirin dibuat terpukau oleh kecanggihan
manuver helikopter Mi-35. Heli supercanggih ini bisa berjalan
maju-mundur, menukik hingga kemiringan 45 derajat dengan ekor di
atas. Heli ini juga bisa berputar dengan poros di hidung.
Kecepatan maksimal heli
sekitar 300 km/jam. Heli ini memang dipersiapkan untuk
pertempuran di medan laga. Maka jangan kaget bila sejumlah
persenjataan juga menjadi bagian penting heli racikan Rusia ini.
Sebenarnya, uji terbang terhadap empat pesawat tempur Sukhoi di
Lanud Iswahyudi, Maospati, Magetan, Jawa Timur. Uji ini
dilakukan karena Sukhoi dibawa ke Indonesia dalam kondisi
pretelan. Sedangkan, Helikopter Mi-35 menjalani uji terbang di
Lanud Halim Jumat (19/9) lalu.
Umumkan ke ASEAN
Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto mengemukakan, Mabes
TNI Cilangkap akan memberitahu negara negara ASEAN berkaitan
penambahan kekuatan TNI. "Ini kita lakukan karena ada etika
kalau kita menambah pesawat, kita saling memberikan informasi
mengenai penambahan kekuatan baru tersebut," tegasnya.
Dijelaskan Panglima,
penambahan pesawat ini dilakukan agar TNI tidak tertinggal dalam
teknologi kemiliteran. "Kami harapkan nantinya, pesawat ini
menjadi kekuatan real sistem pertahanan negara," ujarnya.
Tentu saja, untuk hal itu, Panglima menyebut keperluan minimal
persenjataan. Misalnya, pesawat jenis Sukhoi diperlukan satu
skuadron atau 16 pesawat. Panglima tetap mengandalkan cara-cara
imbal beli sebagai jalan keluar dari sulitnya anggaran negara
dewasa ini. "DPR kan tidak keberatan dan Rusia juga bisa
menerima cara ini," tambah dia.
Sementara itu, Widjanarko
berjanji akan membeli kembali pesawat serupa dari Rusia demi
melengkapi kekuatan sistem pertahanan TNI. Janji Widjanarko ini
seakan menyepelekan kerja Pansus Sukhoigate DPR yang sempat
mempersoalkan prosedur pembelian. Selain tidak prosedural,
pembelian itu dinilai cacat karena menabrak sejumlah
undang-undang. Pembelian pesawat tempur dari Rusia itu dilakukan
melalui Rosoborron Export dengan sistem imbal beli. "Tetapi,
nanti kami tetap akan melakukannya dengan cara-cara prosedural
dan sesuai UU," kata mantan anggota DPR asal Fraksi PDI-P
itu.
Widjanarko mengaku tak
punya pilihan lain. Anggaran negara cekak. Sementara, imbal beli
dianggap satu-satunya cara yang cukup murah untuk menambah
kekuatan TNI. Sementara bila mengandalkan barang canggih dari
negara-negara Barat, misalnya AS, DPR sepertinya sudah
ogah-ogahan. Sebab, pengalaman menunjukkan, AS sering
mengembargo spare part peralatan tempur yang diproduksinya.
Barat juga acap melarang pesawatnya dipakai menumpas pemberontak.
Tambah Kapal Selam
Setelah melengkapi pesawat tempur sebagai kekuatan pertahanan
udara, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto mengatakan, TNI
berencana akan melengkapi kekuatan laut dengan kapal selam.
''Kita memang ada rencana akan membeli kapal selam untuk
pembangunan pertahanan ke depan, karena memang harus begitu,''
katanya.
Rencana tersebut, menurut
Tarto, bertujuan untuk memiliki kemampuan mempertahankan negara
secara maksimal. Sebab, kalau tidak punya program memperbarui
apa yang ada, dikhawatirkan TNI tidak punya kemampuan
mempertahankan negara secara maksimal. Kapal selam yang ada
sekarang ini, jelas Tarto, usianya sudah 20 tahun, maka perlu
diremajakan. Jadi memang sudah sangat urgen untuk memiliki kapal
selam.
Kondisi sekarang, tutur
dia, Indonesia memang punya 12 kapal selam sejak tahun 1960-an.
Tetapi sekarang tinggal 2 kapal selam yang bisa beroperasi.
Tarto mengungkapkan, kapal selam itu senjata paling ampuh dalam
perang laut. Negara yang mempunyai kapal selam, kata Tarto,
selama ini akan ditakuti, bahkan paling ditakuti. ''Orang akan
berpikir 20 kali jika ingin menyerang negara yang memiliki
banyak persenjataan kapal selam,'' papar Tarto memberi alasan. (010/kmb7)
|