Anak Belajar
Sejak dalam Kandungan
Kelahiran seorang anak
bukan suatu kebetulan, bukan sekadar lahir tanpa persiapan,
bukan juga tanpa rasa aman, kasih sayang dan pengharapan. Apa
yang dialami anak selama dalam kandungan ibunya merupakan proses
belajar yang tersimpan rapi dalam otaknya yang merupakan dasar
kepribadian anak itu dalam menghadapi kehidupannya setelah lahir.
Proses belajar yang dialami anak memberikan masukan akan
terbetuknya otak jantan atau otak betina atau kedua-duanya dalam
peran seimbang.
SEORANG
ibu datang membawa anak laki-laki berumur 6 tahun karena teman
sekolahnya dicekik sampai pingsan. Anak ini sering membunuh
binatang dengan keji. Ia dengan susah-payah menemukan seekor
katak atau binatang lainnya untuk dibawa pulang, namun beberapa
lama kemudian ia dengan tenang membunuhnya dengan mematahkan
kakinya, tangannya dan memotong-motong tubuhnya tanpa perasaan
takut atau kasihan. Sejak sekolah TK ia tak bisa diajak bercanda
oleh temannya. Kalau ia diajak bercanda, ia tidak menyahuti
dengan canda, namun langsung memukul temannya itu. Misalnya
hanya karena dipanggil namanya sambil tertawa, tertabrak oleh
teman, atau kakinya terinjak, ia langsung memukul dan terakhir
mencekik temannya. Teman-teman perempuannya pun sering menjadi
sasaran dipukul tanpa merasa belas kasihan.
Di rumah dengan siapapun
ia berani melawan dan berontak, hanya dengan bapaknya ia merasa
takut. Kalau diberitahu sesuatu oleh ibunya, ia langsung melawan
dengan berteriak lantang dan melemparinya dengan batu. Ia sulit
disuruh atau ditegur. Masalah uang jajan yang terlambat
diberikan saja sudah membuatnya ngamuk, melempar semua benda
yang ditemui dan semua mainannya dihancurkan. Di depan orang
banyak pun ia tidak merasa malu untuk memaki-maki orang yang
menegurnya.
Anak ini biasanya tidur
pada pukul 21.00-07.00, sering gelisah, dan mimpi yang
menakutkan. Sejak berumur 3 tahun, anak ini sudah tidur dengan
kakak perempuannya. Ia pun sering berkelahi dengan kakaknya
sehingga kakaknya suka memukul adiknya dengan kejam,
kadang-kadang dengan menginjak perutnya, dan bergulat.
Selama mewawancarai kedua
orangtuanya, anak ini tidak mau memandang pemeriksa, selalu
duduk dengan ibunya atau dengan bapaknya. Anak ini tidak
mengganggu jalannya wawancara walaupun membicarakan dirinya.
Waktu diminta agar ia menunggu di luar dengan kakaknya, ia pun
mengikutinya tanpa membantah.
Sejak dalam
Kandungan
Waktu mengandung anak ini, ibunya belum mempunyai kesesuaian
paham dengan mertua. Ia merasa tertekan dengan mertua perempuan
yang mengendalikan rumah tangganya karena ia tinggal dengan
mertua. Di dalam hati ia marah, takut tidur karena ibu mertua
galak, namun cepat baik. Bapak mertua pendiam, tidak banyak ikut
campur urusan anak dan menantunya. Di samping masalah dengan
mertuanya, ia pun punya masalah dengan suaminya karena suaminya
mempunyai perempuan lain yang sudah hamil dan tidak bisa
dipisahkan.
Ia selalu menangis, kesal,
ingin marah, ingin membunuh pacar suaminya, menjerit dan ngamuk.
Pernah ia melakukan percobaan bunuh diri dengan minum pil tidur
sebanyak 24 biji. Selama hamil, ia tidak pernah merasakan
kemesraan suami atau perasaan cinta. Ia sangat jarang melakukan
hubungan seksual dengan suaminya selama mengandung. Kalau ia
menyinggung masalah pacar suaminya, maka suaminya marah dengan
ngamuk dan memukulnya. Pernah tangannya dipukul sampai bengkak.
Ia sudah biasa ditempeleng karena terus menyinggung perempuan
itu. Sebelum anaknya lahir pun ia terus ribut dengan suaminya,
apakah suaminya memilih dirinya atau memilih perempuan itu.
Ibu itu merasa terpukul
ketika diajak mengingat kembali peristiwa waktu mengandung
anaknya. Suaminya tidak bisa bicara banyak karena ia pun
merasakan perasaan sama. Menurut ibu anak itu, sekarang suaminya
sudah di rumah dan ikut mendidik anaknya.
Belajar dari kasus ini,
ternyata anak ini sudah belajar sejak dalam kandungan. Ia hanya
merasakan kekejaman situasi, tidak ada apa yang dinamakan cinta,
tidak ada apa yang dinamakan kemesraan. Walaupun ada, mungkin
tidak banyak berbekas karena perasaan ibu yang marah, dendam,
ingin membunuh dan menghabisi apa yang dilihat seakan-akan
program rutin yang kemudian tersimpan rapi dalam memori anak.
Anak ini memukul, melawan,
membunuh binatang-binatang yang dicarinya dengan susah payah
karena ia merasa terancam, merasa tidak aman, merasa tidak ada
yang menyenanginya. Ia mencoba mempertahankan harga dirinya
dengan melawan dengan ngamuk dan dengan membunuh kalau perlu. Ia
tidak bisa merasakan perasaan orang karena yang tertanam dalam
dirinya kemarahan dan kebencian dengan orang lain, keinginan
membunuh orang lain dan terakhir kalau mengalami putus asa ia
akan membunuh dirinya karena merasa tidak ada orang yang bisa
menyayangi dirinya. Waktu saya memandang mata anak ini, ia
menunjukkan mata yang ketakutan, ingin mencari perlindungan,
ingin merasakan kasih sayang. Namun waktu kecil pun ia dipukul,
dibentak, ditentang oleh lingkungannya, ibunya, bapaknya dan
saudaranya. Ia memang dimasuki situasi marah yang tidak
terkendali. Sehingga suasana di sekolah, suasana nyaman, suasana
bercanda tidak ada dalam memorinya. Ia merasa terancam, merasa
akan mengalami bahaya dan ia pun bereaksi seperti apa yang biasa
ia rasakan.
Kalau dibiarkan tumbuh
tanpa kasih, maka anak ini akan menjadi calon-calon orang yang
bertindak brutal, kejam, bisa lahir anak pembunuh, pemerkosa,
perampok dan kekejaman lainnya, tanpa rasa, tanpa harapan.
Suasana Kasih dan
Spiritual
Sebelum memperbaiki anak ini, sebaiknya orangtuanya harus
diperbaiki dahulu. Rasa marah, mudah memukul, mudah memaki,
harus sudah dihilangkan. Orangtua harus merasa bertanggung jawab
pada keadaan ini dengan bukan menyalahkan anak, namun berkaca
pada apa yang telah dilakukan sejak anak itu ada dalam kandungan
sampai selama ia balita. Kasih sayang, rasa aman, rasa dicintai
dan dihargai yang tidak pernah dirasakan bisa diberikan kembali
secara bertahap.
Mulailah menghilangkan
kebiasaan marah, memukul dan menghancurkan barang di rumah. Buat
suasana ngobrol dan diskusi dengan merasakan semua anggota
keluarga adalah sebuah tim yang saling memerlukan dan saling
menghargai. Dekati anak pertama agar ia pun merasa nyaman dan
menyayangi adiknya. Adiknya bukan musuhnya, bukan saingannya.
Adiknya adalah anak yang ingin merasakan kasih sayang kakak.
Adakan makan bersama
dengan suasana lobbying. Tidak boleh marah selama makan untuk
menghargai Dewi Sri atau Dewi Padi yang merupakan sumber
kehidupan manusia. Selama makan, masing-masing membicarakan apa
yang dialami tanpa suatu beban dan yang lainnya bisa merasakan
suasana itu dan menolongnya dengan memberikan pendapat dan
masukan tanpa ada perasaan menggurui atau merasa paling tahu.
Semuanya sama walaupun berbeda umur, namun harus menghargai dan
menghormati orang tua atau yang lebih tua.
Cerita sebelum tidur
adalah cara yang terbaik diberikan kepada anak. Anak tanpa
merasakan atau tanpa sadar dibawa ke suasana dirinya melalui
cerita yang diubah isinya sesuai dengan keadaan anak. Dalam
suasana ini, kemampuan anak berimajinasi dikembangkan, kemampuan
anak untuk mengajukan pendapat, menerima pendapat orang lain,
mendebat pendapat orang lain dengan bijak dan yang paling
penting suasana keluarga harus diciptakan sehingga memori kasih
sayang, saling menghargai, dan saling memerlukan masuk di dalam
memori anak. Kebesaran Tuhan pun perlu dimasukkan bagaimana para
Dewa membantu anak kecil agar menjadi anak pandai, suka menolong
dan sayang kepada orang lain. Bagaimana Sang Hyang Widi membantu
umatNya dengan membebaskan anak-anak dari penyakit. Banyak hal
yang bisa dimasukkan untuk meningkatkan motivasi juang,
meningkatkan kebersamaan, meningkatkan kasih sayang dan rasa
saling mencintai.
Sadari Sedini
Mungkin
Menyadari keadaan anak sedini mungkin memberikan kemungkinan
anak itu bisa berubah dengan baik dan memanfaatkan waktunya
untuk meningkatkan intelegensianya. Waktu belajarnya tidak
dihabiskan untuk melawan apa yang dianggap mengancam
kehidupannya.
* Orangtua sebaiknya
memahami keadaan perkembangan anak.
* Kalau ada hal-hal yang mengkhawatirkan, secepatnya
mengkonsultasikan diri ke ahlinya psikiater atau
psikolog
klinik.
* Guru-guru yang banyak bergaul dengan siswa secepatnya
memahami keadaan anak, merujuk ke guru BP atau ke
ahli
jiwa.
* Tim guru-orangtua-psikiater-psikolog harusnya sudah ada di
setiap sekolah kalau ingin anak tidak kehilangan
masa
depannya.
* Berikan anak berkembang wajar dalam suasana bahagia.
* luh ketut
suryani
|