kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 21 September 2003 tarukan valas
 

KELUARGA


Anak Belajar Sejak dalam Kandungan

Kelahiran seorang anak bukan suatu kebetulan, bukan sekadar lahir tanpa persiapan, bukan juga tanpa rasa aman, kasih sayang dan pengharapan. Apa yang dialami anak selama dalam kandungan ibunya merupakan proses belajar yang tersimpan rapi dalam otaknya yang merupakan dasar kepribadian anak itu dalam menghadapi kehidupannya setelah lahir. Proses belajar yang dialami anak memberikan masukan akan terbetuknya otak jantan atau otak betina atau kedua-duanya dalam peran seimbang.

SEORANG ibu datang membawa anak laki-laki berumur 6 tahun karena teman sekolahnya dicekik sampai pingsan. Anak ini sering membunuh binatang dengan keji. Ia dengan susah-payah menemukan seekor katak atau binatang lainnya untuk dibawa pulang, namun beberapa lama kemudian ia dengan tenang membunuhnya dengan mematahkan kakinya, tangannya dan memotong-motong tubuhnya tanpa perasaan takut atau kasihan. Sejak sekolah TK ia tak bisa diajak bercanda oleh temannya. Kalau ia diajak bercanda, ia tidak menyahuti dengan canda, namun langsung memukul temannya itu. Misalnya hanya karena dipanggil namanya sambil tertawa, tertabrak oleh teman, atau kakinya terinjak, ia langsung memukul dan terakhir mencekik temannya. Teman-teman perempuannya pun sering menjadi sasaran dipukul tanpa merasa belas kasihan.

Di rumah dengan siapapun ia berani melawan dan berontak, hanya dengan bapaknya ia merasa takut. Kalau diberitahu sesuatu oleh ibunya, ia langsung melawan dengan berteriak lantang dan melemparinya dengan batu. Ia sulit disuruh atau ditegur. Masalah uang jajan yang terlambat diberikan saja sudah membuatnya ngamuk, melempar semua benda yang ditemui dan semua mainannya dihancurkan. Di depan orang banyak pun ia tidak merasa malu untuk memaki-maki orang yang menegurnya.

Anak ini biasanya tidur pada pukul 21.00-07.00, sering gelisah, dan mimpi yang menakutkan. Sejak berumur 3 tahun, anak ini sudah tidur dengan kakak perempuannya. Ia pun sering berkelahi dengan kakaknya sehingga kakaknya suka memukul adiknya dengan kejam, kadang-kadang dengan menginjak perutnya, dan bergulat.

Selama mewawancarai kedua orangtuanya, anak ini tidak mau memandang pemeriksa, selalu duduk dengan ibunya atau dengan bapaknya. Anak ini tidak mengganggu jalannya wawancara walaupun membicarakan dirinya. Waktu diminta agar ia menunggu di luar dengan kakaknya, ia pun mengikutinya tanpa membantah.

Sejak dalam Kandungan
Waktu mengandung anak ini, ibunya belum mempunyai kesesuaian paham dengan mertua. Ia merasa tertekan dengan mertua perempuan yang mengendalikan rumah tangganya karena ia tinggal dengan mertua. Di dalam hati ia marah, takut tidur karena ibu mertua galak, namun cepat baik. Bapak mertua pendiam, tidak banyak ikut campur urusan anak dan menantunya. Di samping masalah dengan mertuanya, ia pun punya masalah dengan suaminya karena suaminya mempunyai perempuan lain yang sudah hamil dan tidak bisa dipisahkan.

Ia selalu menangis, kesal, ingin marah, ingin membunuh pacar suaminya, menjerit dan ngamuk. Pernah ia melakukan percobaan bunuh diri dengan minum pil tidur sebanyak 24 biji. Selama hamil, ia tidak pernah merasakan kemesraan suami atau perasaan cinta. Ia sangat jarang melakukan hubungan seksual dengan suaminya selama mengandung. Kalau ia menyinggung masalah pacar suaminya, maka suaminya marah dengan ngamuk dan memukulnya. Pernah tangannya dipukul sampai bengkak. Ia sudah biasa ditempeleng karena terus menyinggung perempuan itu. Sebelum anaknya lahir pun ia terus ribut dengan suaminya, apakah suaminya memilih dirinya atau memilih perempuan itu.

Ibu itu merasa terpukul ketika diajak mengingat kembali peristiwa waktu mengandung anaknya. Suaminya tidak bisa bicara banyak karena ia pun merasakan perasaan sama. Menurut ibu anak itu, sekarang suaminya sudah di rumah dan ikut mendidik anaknya.

Belajar dari kasus ini, ternyata anak ini sudah belajar sejak dalam kandungan. Ia hanya merasakan kekejaman situasi, tidak ada apa yang dinamakan cinta, tidak ada apa yang dinamakan kemesraan. Walaupun ada, mungkin tidak banyak berbekas karena perasaan ibu yang marah, dendam, ingin membunuh dan menghabisi apa yang dilihat seakan-akan program rutin yang kemudian tersimpan rapi dalam memori anak.

Anak ini memukul, melawan, membunuh binatang-binatang yang dicarinya dengan susah payah karena ia merasa terancam, merasa tidak aman, merasa tidak ada yang menyenanginya. Ia mencoba mempertahankan harga dirinya dengan melawan dengan ngamuk dan dengan membunuh kalau perlu. Ia tidak bisa merasakan perasaan orang karena yang tertanam dalam dirinya kemarahan dan kebencian dengan orang lain, keinginan membunuh orang lain dan terakhir kalau mengalami putus asa ia akan membunuh dirinya karena merasa tidak ada orang yang bisa menyayangi dirinya. Waktu saya memandang mata anak ini, ia menunjukkan mata yang ketakutan, ingin mencari perlindungan, ingin merasakan kasih sayang. Namun waktu kecil pun ia dipukul, dibentak, ditentang oleh lingkungannya, ibunya, bapaknya dan saudaranya. Ia memang dimasuki situasi marah yang tidak terkendali. Sehingga suasana di sekolah, suasana nyaman, suasana bercanda tidak ada dalam memorinya. Ia merasa terancam, merasa akan mengalami bahaya dan ia pun bereaksi seperti apa yang biasa ia rasakan.

Kalau dibiarkan tumbuh tanpa kasih, maka anak ini akan menjadi calon-calon orang yang bertindak brutal, kejam, bisa lahir anak pembunuh, pemerkosa, perampok dan kekejaman lainnya, tanpa rasa, tanpa harapan.

Suasana Kasih dan Spiritual
Sebelum memperbaiki anak ini, sebaiknya orangtuanya harus diperbaiki dahulu. Rasa marah, mudah memukul, mudah memaki, harus sudah dihilangkan. Orangtua harus merasa bertanggung jawab pada keadaan ini dengan bukan menyalahkan anak, namun berkaca pada apa yang telah dilakukan sejak anak itu ada dalam kandungan sampai selama ia balita. Kasih sayang, rasa aman, rasa dicintai dan dihargai yang tidak pernah dirasakan bisa diberikan kembali secara bertahap.

Mulailah menghilangkan kebiasaan marah, memukul dan menghancurkan barang di rumah. Buat suasana ngobrol dan diskusi dengan merasakan semua anggota keluarga adalah sebuah tim yang saling memerlukan dan saling menghargai. Dekati anak pertama agar ia pun merasa nyaman dan menyayangi adiknya. Adiknya bukan musuhnya, bukan saingannya. Adiknya adalah anak yang ingin merasakan kasih sayang kakak.

Adakan makan bersama dengan suasana lobbying. Tidak boleh marah selama makan untuk menghargai Dewi Sri atau Dewi Padi yang merupakan sumber kehidupan manusia. Selama makan, masing-masing membicarakan apa yang dialami tanpa suatu beban dan yang lainnya bisa merasakan suasana itu dan menolongnya dengan memberikan pendapat dan masukan tanpa ada perasaan menggurui atau merasa paling tahu. Semuanya sama walaupun berbeda umur, namun harus menghargai dan menghormati orang tua atau yang lebih tua.

Cerita sebelum tidur adalah cara yang terbaik diberikan kepada anak. Anak tanpa merasakan atau tanpa sadar dibawa ke suasana dirinya melalui cerita yang diubah isinya sesuai dengan keadaan anak. Dalam suasana ini, kemampuan anak berimajinasi dikembangkan, kemampuan anak untuk mengajukan pendapat, menerima pendapat orang lain, mendebat pendapat orang lain dengan bijak dan yang paling penting suasana keluarga harus diciptakan sehingga memori kasih sayang, saling menghargai, dan saling memerlukan masuk di dalam memori anak. Kebesaran Tuhan pun perlu dimasukkan bagaimana para Dewa membantu anak kecil agar menjadi anak pandai, suka menolong dan sayang kepada orang lain. Bagaimana Sang Hyang Widi membantu umatNya dengan membebaskan anak-anak dari penyakit. Banyak hal yang bisa dimasukkan untuk meningkatkan motivasi juang, meningkatkan kebersamaan, meningkatkan kasih sayang dan rasa saling mencintai.

Sadari Sedini Mungkin
Menyadari keadaan anak sedini mungkin memberikan kemungkinan anak itu bisa berubah dengan baik dan memanfaatkan waktunya untuk meningkatkan intelegensianya. Waktu belajarnya tidak dihabiskan untuk melawan apa yang dianggap mengancam kehidupannya.

* Orangtua sebaiknya memahami keadaan perkembangan anak.
* Kalau ada hal-hal yang mengkhawatirkan, secepatnya  
   mengkonsultasikan diri ke ahlinya psikiater atau psikolog 
   klinik.
* Guru-guru yang banyak bergaul dengan siswa secepatnya 
   memahami keadaan anak, merujuk ke guru BP atau ke ahli 
   jiwa.
* Tim guru-orangtua-psikiater-psikolog harusnya sudah ada di 
   setiap sekolah kalau ingin anak tidak kehilangan masa 
   depannya.
* Berikan anak berkembang wajar dalam suasana bahagia.

* luh ketut suryani


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com