Taman Bacaan
Ilmu Memimpin Raja Badung
NAIK
tahta Kerajaan Badung dalam usia 26 tahun dengan menggantikan I
Gusti Alit Ngurah Pemecutan yang wafat tanggal 28 Februari 1902,
satu setengah tahun kemudian Cokorda Mantuk Ring Rana (Cokorda
Ngurah Made Agung) selesai menulis geguritan Nitiraja Sasana.
Karya puisi bertembang ini dinyatakan oleh Cokorda Made selesai
disurat malam hari, bertepatan dengan Purnama, pada "Soma
Manis Bala/ purnamaning Kapat sasih/ Isakane lima likur sangang
atak.
Penyusuran lebih lanjut
terhadap penanggalan yang dicantumkan Cokorda Made itu menemukan,
bahwa saat itu kalender Masehi menunjuk tanggal 7 September
1903. Sasih Kapat biasanya bertepatan dengan bulan September-Oktober
dalam perhitungan Masehi. Tahun 2003 ini, misalnya, Kapat jatuh
26 September hingga 25 Oktober. Tahun 1903 (Isakane lima likur
sangang atak, 1825 Saka), hari Senin (Soma) Umanis (Manis) pekan
(wuku) Bala, sasih Kapat (bulan keempat kalender Bali)
kemungkinan besar memang bertepatan dengan tanggal 7 September
itu. Di bulan Oktober memang ada juga Soma Umanis, yakni tanggal
12 Oktober, namun wuku-nya bukan Bala, melainkan Watugunung.
Adapun wuku Bala tahun 1903 jatuh hanya dua kali. Selain
September, juga Februari. Tanggal 9 Februari 1903 memang
bertepatan dengan hari Senin (Soma) Umanis, namun penegasan
Cokorda Made bahwa Nitiraja Sasana usai ditulis bertepatan
dengan "purnamaning Kapat", bulan keempat, rasanya
terlampau jauh dari tepat bila dimaksudkan bulan Februari ini.
Jadi, yang paling mungkin adalah Senin Umanis, wuku Bala,
tanggal 7 September 1903. Bila perhitungan tersebut diterima,
maka itu berarti sang raja-pujangga saat menyelesaikan karyanya
ini baru satu setengah tahun duduk di tahta Kerajaan Badung.
Berarti usianya baru 27 tahun, lahir tanggal 5 April 1876.
Berarti, geguritan Nitiraja Sasana ditulis tiga tahun sebelum
sang Raja berpuputan menentang kolonial asing Belanda, 20
September 1906.
Nitiraja Sasana dibangun
dengan 151 bait, dipilah ke dalam lima jenis pupuh (metrum
tembang). Masing-masing: Smarandana 39 bait (pada), Ginanti 30,
Dandanggula 15, Mijil 33, Pucung 33. Yang menarik, oleh Cokorda
Made karyanya ini disebut dengan istilah "piturun saking
sastra nguni-nguni", artinya turunan dari sumber-sumber
susastra terdahulu. Pernyataan ini membuka jalan penafsiran
sekaligus kesimpulan bahwa Cokorda Made sebagai pemimpin negara,
Raja Badung, memang membaca karya-karya susastra klasik dalam
kepustakaan Bali yang berisi ilmu-ilmu kepemimpinan. Kemungkinan
besar karya-karya susastra nguni-nguni itu dijadikan pedoman
dalam menulis karya terbaru sekaligus pedoman dalam memimpin
negeri.
Dalam taman kepustakaan
Bali (berbahasa Jawa Kuno, Kawi-Bali, maupun bahasa Bali) memang
bertebaran teks-teks sastra berisikan ajaran-ajaran kepemimpinan.
Teks-teks itu ada yang langsung bertajuk Niti, semisal Nitisara,
Nitisastra, Rajaniti, Nitipraya, Prasadaniti, dan lain-lain. Ada
pula yang tidak eksplisit menggunajan judul Niti, namun
bertaburan ilmu-ilmu dan etika kepemimpinan, seperti Bagawan
Kamandaka, Bagawan Indraloka.
Ini tentu belum termasuk
ajaran-ajaran kepemimpinan yang kerap terselip dalam karya-karya
sastra kakawin maupun parwa berbahasa Jawa Kuno, semisal kakawin
Ramayana, Bharatayuddha, Sutasoma, Bomantaka, Bhismaparwa,
Udyogaparwa. Di luar itu ilmu memimpin sebagai bagian ilmu
politik jelas tersurat dalam Kidung Tantri atau dengan tajuk
Kamandaka.
Taman kepustakaan Bali
memang menghamparkan demikian luas, mendalam, dan beragam ajaran
atau ilmu kepemimpinan dengan basis estetika menuju etika hingga
berpuncak spiritual. Ada memang yang berkait rapat dengan zaman
agraris persawahan-perladangan maupun kelautan, dengan corak
negara-kerajaan, namun tidak sedikit di antara ilmu kepemimpin
itu bersifat universal. Bahkan sebagai pengetahuan dan modal
dasar yang wajib dimiliki pemimpin di mana pun dan kapan pun,
dari tingkat pemimpin kelompok, desa, kecamatan, bupati hingga
kepala negara.
Yang mengagumkan, Raja
Badung Cokorda Made ini tampak amat akrab dan memahami secara
mendalam isi taman kepustakaan ilmu kepemimpinan Bali itu.
Simpulan ini dapat dicermati dari Nitiraja Sasana karyanya ini,
maupun geguritan Dharma Sasana. Dua karya Cokorda Made ini
begitu kaya menyajikan kembali ilmu-ilmu kepemimpinan dari taman
kepustakaan Bali lampau. Di sana Cokorda Made tidak hanya
menuturkan kembali ilmu kepemimpinan yang sudah disuratkan para
pendahulu, tapi lebih penting lagi justru memberikan penafsiran
baru, pemaknaan segar.
Tentu amat istimewa bila
seorang raja, pemimpin negeri, melakukan penghayatan ilmu
kepemimpinan tidak hanya dengan perilaku nyata dalam memimpin
negeri, tapi juga dengan jalan menulis, dalam bentuk puisi
bertembang berirama pula. Dengan begitu sang pemimpin dapat
berbagi penghayatan tidak hanya dengan orang-orang, rakyat yang
dipimpinnya pada zaman kepemimpinannya, tapi juga dapat terus
berdialog dengan manusia-manusia lintas zaman lintas generasi
sesudahnya.
Dari sisi ini jelas
kedudukan teks ilmu kepemimpinan Nitiraja Sasana dan Dharma
Sasana karya Cokorda Made ini terbilang istimewa. Karya perihal
kepemimpinan ini ditulis langsung oleh orang yang sedang
berpraktik-laku menjadi pemimpin negeri. Ini jelas unik-otentik
memperkaya memperaneka-ragam taman kepustakaan bacaan ilmu
kepemimpinan dan peradaban kerohanian Bali.
Kearifan berkeunggulan
semacam inilah yang tiada lagi ada tanda-tandanya bersinyal
bersinar pada pemimpin Bali, pemimpin se-Bali, bahkan pemimpin
negeri ini, kini -yang nota bene sudah berkesempatan bersekolah
formal, malah bergelar kesarjanaan ijasah universitas dengan
kemelimpahan material dan fasilitas serba berkemudahan. Tapi,
kenapa Cokorda Made yang cuma dan hanya "bersekolah
universitas perguruan tradisi" plus otodidak tulen lengkap
dengan ketegangan konflik ancaman kolonialisasi asing Belanda
justru bisa tenang tenteram memperkaya taman kepustakaan aksara
peradaban, kini kok ya tidak? Bahkan sekadar berkomitmen
sungguh-sungguh senyata-nyatanya pada kepustakaan peradaban
aksara pun tidak. Entah, ini parodi, ironi, atau malah musibah
zaman.
I Made Prabaswara
|