kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 21 September 2003 tarukan valas
 

APRESIASI


Taman Bacaan Ilmu Memimpin Raja Badung

NAIK tahta Kerajaan Badung dalam usia 26 tahun dengan menggantikan I Gusti Alit Ngurah Pemecutan yang wafat tanggal 28 Februari 1902, satu setengah tahun kemudian Cokorda Mantuk Ring Rana (Cokorda Ngurah Made Agung) selesai menulis geguritan Nitiraja Sasana. Karya puisi bertembang ini dinyatakan oleh Cokorda Made selesai disurat malam hari, bertepatan dengan Purnama, pada "Soma Manis Bala/ purnamaning Kapat sasih/ Isakane lima likur sangang atak.

Penyusuran lebih lanjut terhadap penanggalan yang dicantumkan Cokorda Made itu menemukan, bahwa saat itu kalender Masehi menunjuk tanggal 7 September 1903. Sasih Kapat biasanya bertepatan dengan bulan September-Oktober dalam perhitungan Masehi. Tahun 2003 ini, misalnya, Kapat jatuh 26 September hingga 25 Oktober. Tahun 1903 (Isakane lima likur sangang atak, 1825 Saka), hari Senin (Soma) Umanis (Manis) pekan (wuku) Bala, sasih Kapat (bulan keempat kalender Bali) kemungkinan besar memang bertepatan dengan tanggal 7 September itu. Di bulan Oktober memang ada juga Soma Umanis, yakni tanggal 12 Oktober, namun wuku-nya bukan Bala, melainkan Watugunung. Adapun wuku Bala tahun 1903 jatuh hanya dua kali. Selain September, juga Februari. Tanggal 9 Februari 1903 memang bertepatan dengan hari Senin (Soma) Umanis, namun penegasan Cokorda Made bahwa Nitiraja Sasana usai ditulis bertepatan dengan "purnamaning Kapat", bulan keempat, rasanya terlampau jauh dari tepat bila dimaksudkan bulan Februari ini. Jadi, yang paling mungkin adalah Senin Umanis, wuku Bala, tanggal 7 September 1903. Bila perhitungan tersebut diterima, maka itu berarti sang raja-pujangga saat menyelesaikan karyanya ini baru satu setengah tahun duduk di tahta Kerajaan Badung. Berarti usianya baru 27 tahun, lahir tanggal 5 April 1876. Berarti, geguritan Nitiraja Sasana ditulis tiga tahun sebelum sang Raja berpuputan menentang kolonial asing Belanda, 20 September 1906.

Nitiraja Sasana dibangun dengan 151 bait, dipilah ke dalam lima jenis pupuh (metrum tembang). Masing-masing: Smarandana 39 bait (pada), Ginanti 30, Dandanggula 15, Mijil 33, Pucung 33. Yang menarik, oleh Cokorda Made karyanya ini disebut dengan istilah "piturun saking sastra nguni-nguni", artinya turunan dari sumber-sumber susastra terdahulu. Pernyataan ini membuka jalan penafsiran sekaligus kesimpulan bahwa Cokorda Made sebagai pemimpin negara, Raja Badung, memang membaca karya-karya susastra klasik dalam kepustakaan Bali yang berisi ilmu-ilmu kepemimpinan. Kemungkinan besar karya-karya susastra nguni-nguni itu dijadikan pedoman dalam menulis karya terbaru sekaligus pedoman dalam memimpin negeri.

Dalam taman kepustakaan Bali (berbahasa Jawa Kuno, Kawi-Bali, maupun bahasa Bali) memang bertebaran teks-teks sastra berisikan ajaran-ajaran kepemimpinan. Teks-teks itu ada yang langsung bertajuk Niti, semisal Nitisara, Nitisastra, Rajaniti, Nitipraya, Prasadaniti, dan lain-lain. Ada pula yang tidak eksplisit menggunajan judul Niti, namun bertaburan ilmu-ilmu dan etika kepemimpinan, seperti Bagawan Kamandaka, Bagawan Indraloka.

Ini tentu belum termasuk ajaran-ajaran kepemimpinan yang kerap terselip dalam karya-karya sastra kakawin maupun parwa berbahasa Jawa Kuno, semisal kakawin Ramayana, Bharatayuddha, Sutasoma, Bomantaka, Bhismaparwa, Udyogaparwa. Di luar itu ilmu memimpin sebagai bagian ilmu politik jelas tersurat dalam Kidung Tantri atau dengan tajuk Kamandaka.

Taman kepustakaan Bali memang menghamparkan demikian luas, mendalam, dan beragam ajaran atau ilmu kepemimpinan dengan basis estetika menuju etika hingga berpuncak spiritual. Ada memang yang berkait rapat dengan zaman agraris persawahan-perladangan maupun kelautan, dengan corak negara-kerajaan, namun tidak sedikit di antara ilmu kepemimpin itu bersifat universal. Bahkan sebagai pengetahuan dan modal dasar yang wajib dimiliki pemimpin di mana pun dan kapan pun, dari tingkat pemimpin kelompok, desa, kecamatan, bupati hingga kepala negara.

Yang mengagumkan, Raja Badung Cokorda Made ini tampak amat akrab dan memahami secara mendalam isi taman kepustakaan ilmu kepemimpinan Bali itu. Simpulan ini dapat dicermati dari Nitiraja Sasana karyanya ini, maupun geguritan Dharma Sasana. Dua karya Cokorda Made ini begitu kaya menyajikan kembali ilmu-ilmu kepemimpinan dari taman kepustakaan Bali lampau. Di sana Cokorda Made tidak hanya menuturkan kembali ilmu kepemimpinan yang sudah disuratkan para pendahulu, tapi lebih penting lagi justru memberikan penafsiran baru, pemaknaan segar.

Tentu amat istimewa bila seorang raja, pemimpin negeri, melakukan penghayatan ilmu kepemimpinan tidak hanya dengan perilaku nyata dalam memimpin negeri, tapi juga dengan jalan menulis, dalam bentuk puisi bertembang berirama pula. Dengan begitu sang pemimpin dapat berbagi penghayatan tidak hanya dengan orang-orang, rakyat yang dipimpinnya pada zaman kepemimpinannya, tapi juga dapat terus berdialog dengan manusia-manusia lintas zaman lintas generasi sesudahnya.

Dari sisi ini jelas kedudukan teks ilmu kepemimpinan Nitiraja Sasana dan Dharma Sasana karya Cokorda Made ini terbilang istimewa. Karya perihal kepemimpinan ini ditulis langsung oleh orang yang sedang berpraktik-laku menjadi pemimpin negeri. Ini jelas unik-otentik memperkaya memperaneka-ragam taman kepustakaan bacaan ilmu kepemimpinan dan peradaban kerohanian Bali.

Kearifan berkeunggulan semacam inilah yang tiada lagi ada tanda-tandanya bersinyal bersinar pada pemimpin Bali, pemimpin se-Bali, bahkan pemimpin negeri ini, kini -yang nota bene sudah berkesempatan bersekolah formal, malah bergelar kesarjanaan ijasah universitas dengan kemelimpahan material dan fasilitas serba berkemudahan. Tapi, kenapa Cokorda Made yang cuma dan hanya "bersekolah universitas perguruan tradisi" plus otodidak tulen lengkap dengan ketegangan konflik ancaman kolonialisasi asing Belanda justru bisa tenang tenteram memperkaya taman kepustakaan aksara peradaban, kini kok ya tidak? Bahkan sekadar berkomitmen sungguh-sungguh senyata-nyatanya pada kepustakaan peradaban aksara pun tidak. Entah, ini parodi, ironi, atau malah musibah zaman.

I Made Prabaswara


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com