kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 2 Agustus 2003

 Budaya


Inilah Tari Tradisional NTB

TARI tradisional NTB cukup beragam dan kaya makna. Namun, tidak semua bisa lestari, walaupun tidak punah. Di Lombok misalnya, terdapat tari oncer, batak baris, zikir zaman, dan lain-lain. Hanya beberapa kemudian yang cukup populer. Namun, sangat sulit memaksakan seluruh tari tradisional menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di masa mendatang. Berikut beberapa tari tradisional di NTB.

-----------------------

* Gandrung: Tarian rakyat suku Sasak yang berkembang sejak lama dan dimainkan oleh kaum laki-laki maupun perempuan. Tari ini terdiri atas tiga babak, yakni bapangan, gandrangan dan parianom.

* Oncer: Tari tradisional Lombok yang berasal dari kata "ngoncer" atau berenang. Gerakan diambil dari gerakan ikan sepat yang sedang berenang, yang dalam bahasa Sasak disebut pepait ngoncer (ikan sepat berenang). Tari ini erat hubungannya dengan Gendang Beleq.

* Randak Geroq: Tari tradisional Lombok yang berarti tindakan gotong royong. Dalam gotong royong tidak dibedakan golongan, pangkat, jabatan, kaya, miskin dan lain-lain.

* Rudat: Tari ini dilakukan sambil bernyanyi dengan irama Timur Tengah. Menggunakan gerak-gerak silat dan dilakukan sekelompok anak muda justru dengan pakaian yang mirip jauh berbeda dengan pakaian khas Sasak.

* Hadrah: merupakan tari tradisional Bima yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT. Hadrah yang dimainkan oleh anak-anak maupun orang dewasa masuk ke Bima sekitar abad XIV sejak masuknya Islam ke daerah itu.

* Kanja: Tari tradisional Bima yang diciptakan Sultan Abdul Kahir Sirajuddin tahun 1673 setelah mendapatkan inspirasi sejarah masuknya Islam ke Bima. Kanja berarti tantang, karena dalam tarian ini ada gambaran pertarungan dua orang panglima yang tangguh.

* Karaenta: Tari tradisional Bima diawali dengan sebuah lagu berbahasa Makassar yang bernama Karaengta. Penarinya anak kecil berusia sekitar 10 tahun, tidak memakai baju, kecuali hiasan yang dalam bahasa Bima disebut Kawari atau dokoh. Tari hiburan ini merupakan dasar untuk mempelajari tarian kerajaan Bima yang lain.

* Katumbu: Tari tradisional Bima yang berarti berdegup ini menggambarkan keluwesan dan keterampilan remaja putri. Tarian ini diperkirakan sudah ada sejak abad XV dan ditarikan keluarga istana.

* Toja: Tari tradisional Bima yang diangkat dari legenda Indra Zamrud. Penciptanya Sulta Abdul Kahir Sirajuddin tahun 1651. Tari ini menggambarkan lemah-gemulainya penari yang turun dari khayangan. * Lenggo: Tari tradisional Bima yang berarti melenggok, yang telah diadatkan dalam upacara Sirih Puan setiap perayaan Maulid. Tari ini menceritakan bagaimana guru agama Islam mengadakan penghormatan kepada muridnya, yaitu Sultan sebagai pernyataan saling menghormati.

* Lengsara: Tari tradisional Bima yang dahulu dipertunjukkan dalam sidang eksekutif dan upacara Ndiha Molu (Maulid Nabi). Tari ini terakhir dipertunjukkan pada tahun 1963 dalam perkawinan keluarga raja, dan sekarang telah dihidupkan kembali.

* Mpa'a: Tari rakyat Bima yang berisi gerak-gerak silat.
* Sere: Tari tradisional Bima yang berarti mengajak berperang yang semula ditarikan perwira perang bergelar Anangguru Sere. Tari ini dipertunjukkan di arena yang cukup luas di hadapan tamu yang berkunjung ke Bima.

* Tamak Lamung: Tari tradisional Sumbawa. Tamak berarti memasukkan, lamung berarti baju wanita khas Sumbawa atau memasukkan baju. Tari ini menggambarkan urutan upacara tamak lamung, dari persiapan upacara hingga puncaknya, yakni pemakaian tamak lamung. (rab)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)