kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Pon, 10 Agustus 2003 tarukan valas
 

APRESIASI


Seni Karawitan Bali (1)

Mengenal Keindahan, Keasrian dan Kerumitannya

Oleh I Wayan Sinti, M.A.

KARAWITAN berasal dari kata rawit, yang artinya indah, asri, rumit. Maka, karawitan artinya keindahan, keasrian, kerumitan. Pengertian tersebut dapat dilihat misalnya pada kalimat "buka bukite johin katon rawit" yang artinya "dari kejauhan bukit terlihat indah dan asri".

Istilah "karawitan" akhirnya dipakai untuk menyatakan musik tradisi yang terdapat di wilayah Nusantara. Bahkan, istilah ini digunakan untuk nama Sekolah Kejuruan Bidang Seni Pertunjukan, dengan dibukanya Sekolah Konservatori Karawitan Indonesia pertama di Solo, Surakarta (Jawa Tengah) pada tahun 1952.

Pada sekolah itu, di samping mata pelajaran umum, bidang studi lebih difokuskan pada bidang karawitan, tari dan pedalangan Jawa, Sunda dan Bali. Hal ini menjadikan istilah karawitan makin populer. Guru-guru tabuh dan tari Bali terkenal seperti Guru Nyoman Kaler, Gusti Putu Made Gria, sampai Nyoman Rembang didatangkan dari Bali untuk mengajar di sana dalam tempo yang cukup lama.

Rupa-rupanya, dari pengalaman mengajar itu, lalu timbul ide dari Guru Nyoman dkk agar di Bali juga dibuka sekolah serupa karena Bali kaya dengan kesenian. Maka pada 1960, ide itu bisa terwujud dengan dibukanya Sekolah Konservatory Karawitan Indonesia (Kokar) Jurusan Bali yang berlokasi di Jalan Ratna, Denpasar.

Para guru saat itu, di samping memberikan pelajaran, sudah tentu mendapat tambahan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang karawitan. Beberapa istilah baru seperti karawitan, laras slendro dan pelog, hingga titi laras (notasi), diperkenalkan kepada anak didiknya di Kokar Bali, karena istilah itu secara umum belum dikenal masyarakat (seniman) Bali.

Saat itu, karawitan didifinisikan sebagai seni suara vokal atau instrumental yang berlaraskan slendro atau pelog. Laras slendro ialah urutan nada-nada dalam satu oktaf yang suarantaranya (intervalnya) sama atau hampir sama, sedangkan laras pelog adalah urutan nada-nada dalam satu oktaf yang intervalnya tidak sama.

Laras slendro maupun pelog tidak mengenal standar tuning (patokan nada) seperti halnya pada musik Barat (diatonis) dimana frekwensi nada dan intervalnya sudah tertentu. Pengetahuan itu terus ditanamkan kepada anak didik dari tahun ke tahun.

Penulis sendiri selaku abiturien (tamatan) dan kemudian sebagai pengajar pada sekolah itu, juga melanjutkan materi yang telah diberikan para guru sebelumnya.

Namun kemudian, setelah penulis melakukan penelitian lebih mendalam ke lapangan secara bersama maupun sendiri, terutama menyangkut masalah seni suara vokal dan barung gamelan yang tergolong tua, ternyata apa yang penulis dapatkan sebelumnya tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta di lapangan.

Tidak Dikenal
Pada seni suara vokal seperti wirama maupun kidung tidak dikenal adanya istilah slendro maupun pelog. Pun dalam barung gamelan tua seperti gambang, saron (caruk), slonding, gong luang, tidak dikenal istilah itu. Istilah slendro dan pelog untuk seni suara vokal (tembang) di Kokar Bali pertama-tama dimunculkan oleh salah seorang guru (tembang) penulis, yaitu Guru Nyoman Gerana (alm.) dari Desa Sesetan, Denpasar.

Guru Nyoman, begitu ia biasa dipanggil, sebelum menerapkan pelajarannnya mengakui sering bertukar pikiran dengan Nyoman Rembang (alm.) yang juga sama-sama dari desa Sesetan, terutama menyangkut perihal notasi (titi laras). Nyoman Rembang cukup berpengalaman selaku pengajar tabuh Bali di Kokar, Solo.

Demikian, dengan mempergunakan notasi (Kokar), tiap tembang yang akan diajarkan -- berupa macepat, kidung, maupun wirama -- lalu dibuatkan notasi dengan embel-embel laras slendro atau pelog.

Begitu seterusnya sehingga istilah slendro atau pelog makin dikenal di kalangan seniman Bali khususnya dalam seni suara vokal. Dalam bidang tabuh, hal serupa juga diperkenalkan (ditanamkan) oleh para guru kami seperti yang tersebut di atas.

Masuknya istilah slendro/pelog seperti yang terjadi saat ini, buat penulis tak jadi masalah, hanya saja harus dipilah-pilah, kapan istilah-istilah itu mesti digunakan.

Pada wirama misalnya, dikenal istilah guru (suara panjang) dan lagu (suara pendek). Nada-nada yang dipergunakan intervalnya sangat dekat sehingga tidak bisa disebut laras slendro atau pelog. Demikian juga halnya kidung yang banyak macamnya, ada istilah saih atau sih, yang pengertiannya mirip dengan patutan (scale). Mungkin saih-nya ada yang cocok dengan slendro atau pelog, namun banyak juga yang di luar slendro/pelog.

Gamelan gambang, saron (caruk), gong luang, slonding juga menggunakan istilah saih/sih. Kidung dengan gambang terkait erat, namun sudah lama terlupakan. Penulis sudah menggali (menghidupkannya) kembali mulai dengan "Kidung Malat". Saih atau sih yang dimainkan pada gamelan itu mungkin ada yang cocok dengan laras slendro atau pelog, namun ada yang tidak. Menurut penulis, karawitan Bali tak bisa digeneralisasi untuk dikelompokkan ke dalam laras slendro atau pelog saja.

Perbedaan Mendasar
Terkait masalah laras, antara Jawa dengan Bali ada perbedaan mendasar. Pendapat di Jawa, laras slendro dan pelog masing-masing berdiri sendiri -- yang satu bukan berasal dari yang lain. Guru Nyoman Kaler berpendapat, laras slendro dan pelog berasal dari tangga nada septatonis (saih pitu). Hal itu dibuktikannya dengan memberi contoh bahwa pada gamelan smarpegulingan (saih pitu) dan gong luang, ternyata dapat dimanfaatkan memainkan berbagai lagu (gending) angklung.

Terkait itu, penulis sangat sependapat dengan Guru Nyoman disertai beberapa contoh sbb.; 1. Pada gamelan gambang dapat dimainkan tujuh macam saih (sih) atau patutan, ada yang sama dengan laras slendro, pelog, dan ada pula yang lain.

2. Pada instrumen suling, para pemain suling pada suling yang sama bisa memainkan laras slendro, pelog maupun laras lain.
3. Sebagai perbandingan, tangga nada mayor dan minor dalam musik Barat berasal dari tangga nada musik diatonis (septatonis).
Istilah slendro dan pelog ada disinggung pada lontar Aji Ghurnnita (lontar yang memuat tentang tabuh gamelan Bali) antara lain smara aturu (gamelan smara pegulingan), smara petangian (gamelan pelegongan), smara palinggihan (joged pingitan), sampai smara pandirian (babarongan). Hanya, lontar ini tak menyinggung gamelan gambang, saron (caruk) maupun gamelan gong luang.

Notasi atau titi laras ialah tanda untuk dimanfaatkan mencatat lagu. Sebagaimana daerah atau negara lain, Bali juga punya tanda pencatatan lagu (notasi). Notasi tertua diperkirakan sudah ada pada abad ke-11 yaitu pada zaman Kerajaan Erlangga, raja yang memerintah Bali dan Jawa Timur. Hal itu didasarkan kepada notasi yang dipergunakan untuk menotasi "Kidung Jayendrya". Pada bagian akhir lontar milik Ida Pedanda Made Sidemen (alm.) dari Gria Taman Sari, Sanur, disebutkan bahwa "Kidung Jayendrya' dikarang oleh Mpu Yogiswara.

Nama Mpu Yogiswara mengingatkan pada pengarang Kakawin Ramayana yang juga disebut-sebut sebagai pengarangnya, walaupun masih ada anggapan bahwa nama itu bukanlah nama sesungguhnya. Namun dapat dipastikan, jarak waktu antara penulis Kakawin Ramayana dengan penulis "Kidung Jayendrya" tak banyak selisihnya, apalagi nama pengarangnya kebetulan sama.

Notasi dimaksud, yaitu: ding - dong - dang - deng - dung - dang - dong. Notasi ini biasa disebut notasi dingdong (gambang), sesuai dengan cara baca not ke-1 dan ke-2 dan bukan notasi ndingndong.

Notasi dingdong digunakan untuk menotasi gending (pupuh) gambang, kidung serta barung gamelan tua lainnya. Sayang notasi ini kini belum banyak dipelajari oleh musisi (pangerawit) muda. Di samping notasi itu, pada 1959 menjelang dibukanya Sekolah Kokar Bali di Denpasar, para sesepuh Kokar pada waktu itu yang dipelopori oleh Guru Nyoman Kaler, dibuat notasi baru dengan berpedoman kepada aksara Bali dan disesuaikan dengan keperluan.

Notasi tersebut bersistem pentatonis, kemudian dibaca: ndong, ndeng, ndung, ndang, nding. Kemudian di antara nada ndeng dan ndung disisipkan satu nada yang dibaca ndeung, dan antara nada ndang dan nding disisipkan lagi satu nada yang dibaca ndaing. Notasi selengkapnya menjadi (dibaca): ndong - ndeng - ndeung - ndung - ndang - ndaing - nding Dua nada yaitu ndeung dan ndaing diistilahkan sebagai nada pemero, sedangkan pada notasi dingdong istilah tersebut tidak dikenal. Semua nada punya kedudukan sama. Kalaupun di luar kedua notasi itu masih ada notasi lain, sifatnya masih perorangan atau lokal.

Notasi Kokar

Kini, notasi yang biasa dipergunakan di SMKN 3 Sukawati (dulu Kokar) maupun STSI/ISI adalah notasi yang bersistem pentatonis, sebut saja "notasi Kokar". Notasi Kokar oleh sementara pihak disebut notasi dingdong. Sangat mungkin yang bersangkutan belum mengenal notasi dingdong yang sesungguhnya. Notasi dingdong maupun notasi Kokar biasanya dipakai hanya untuk menotasi lagu pokok saja, selebihnya (variasinya) diajarkan dengan praktik langsung oleh guru kepada anak didiknya.

Cara seperti ini sudah berlangsung dalam tempo yang cukup lama dan turun temurun sampai kini. Sistem tersebut berlaku untuk komunitas lokal dan turis dari mancanegara yang mempelajari karawitan Bali di bidang vokal maupun instrumental.

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com