kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 29 Juni 2003 tarukan valas
 

SURAT PEMBACA


Peninggalan Danghyang Nirartha

Di dalam buku ''Perjalanan Danghyang Nirartha'' terbitan Bali Post oleh Dr. Soegianto Dastrodiwiryo halaman 262 dengan judul ''Peninggalan Pribadi Danghyang Nirartha'' antara lain disebutkan sebagai berikut: Benda-benda yang dianggap peninggalan Danghyang Nirartha adalah sebilah keris bernama Ki Sekar Sandat dan sebuah baju yang karena usianya yang lama berubah seperti kulit pisang disebut Kelambi. Kedua benda berharga itu kini disimpan di Geria Selat, Banjar di Desa Mas, Gianyar. Kedua benda yang dikeramatkan ini hanya bisa dikeluarkan pada saat tertentu, yaitu pada Tumpek Kuningan dan diarak ke Pura Taman Pule di Mas Gianyar.

Sementara genta Ki Samprangan yang suaranya sempat memukau sang Maha Resi Nirartha konon masih disimpan di Sanur sampai saat ini. Di samping peninggalan tersebut masih ada peninggalan Danghyang Nirartha berupa keris bernama Ki Baru Gajah yang sampai saat ini disimpan di Pemerajan Agung Puri Kediri, Tabanan. Keris tersebut juga setiap Tumpek Kuningan waktu piodalan di Pura Luhur Pakendungan oleh banjar-banjar di Desa Adat Kediri diarak berjalan kaki ke Pura Pakendungan dengan jarak 11 km sebagai pratima dan ikut nyejer selama tiga hari. Banjar yang mengiringi langsung ikut upacara ngerebegin dalam rangkaian upacara piodalan di pura tersebut.

Keris Ki Baru Gajah ini dihadiahkan oleh Danghyang Nirartha kepada murid beliau yang sangat setia Ki Bendesa Beraban. Beliau mengajar di atas batu besar di bawah pohon kendung tempat Pura Pakendungan didirikan. Oleh Ki Bendesa Beraban keris ini pernah dibawa ke Buleleng di Kalianget untuk membantu Raja Buleleng membebaskan beliau dari gangguan Buta Gajah. Setelah Buta Gajah dikalahkan Raja Buleleng menawarkan hadiah apa saja diinginkan oleh Ki Bendesa Beraban. Akhirnya yang diminta istri raja yang sedang mengandung. Dari Bendesa Beraban diberi nama Pungakan Ngurah. Nama Pungakan diberikan sebagai keturunan Raja Buleleng.

Salah seorang keturunan Ngakan Ngurah bernama Ngakan Nyoman Kekeran bertempat tinggal di Kediri mengawini Gusti Luh Dangin, puteri Sri Megada Sakti. Saat perkawinan ini Ngakan Nyoman Kekeran bersikap seperti yang dilakukan oleh raja-raja pada waktu itu. Perbuatan itu dianggap berani memada-mada (menyamai kedudukan raja) lancang berani berbuat menyamai tata-cara seorang raja. Melihat ini baginda Bhatara Da Cokorda Sekar marah, lalu menghapus status kebangsawanan Ngakan Nyoman Kekeran.

Ketika Cokorda Ngurah Agung bertahta beliau memiliki dua orang saudara laki-laki I Gusti Ngurah Demung yang bertepat tinggal di Puri Kaleran dan I Gusti Ngurah Celuk yang kadang-kadang tinggal di Puri Agung Tabanan dan kadang-kadang di Puri Kaleran. Oleh Raja I Gusti Ngurah Celuk ditawari bertempat tinggal di Puri Kediri sebagai pengawal di perbatasan kerajaan Mengwi yang sedang berperang dengan kerjaan Tabanan dan Badung. Beliau mau tinggal di Kediri asalkan diizinkan membawa keris pusaka Ki Baru Gajah. Maka itu sampai saat ini keris Ki Baru Gajah berstana di Pemerajan Agung Pura Kediri.

I Gusti Ngurah Oka
Penglingsir Puri Kediri/
Penganceng Pura Luhur
Pekendungan

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com