Peninggalan Danghyang
Nirartha
Di dalam buku ''Perjalanan
Danghyang Nirartha'' terbitan Bali Post oleh Dr. Soegianto
Dastrodiwiryo halaman 262 dengan judul ''Peninggalan Pribadi
Danghyang Nirartha'' antara lain disebutkan sebagai berikut:
Benda-benda yang dianggap peninggalan Danghyang Nirartha adalah
sebilah keris bernama Ki Sekar Sandat dan sebuah baju yang
karena usianya yang lama berubah seperti kulit pisang disebut
Kelambi. Kedua benda berharga itu kini disimpan di Geria Selat,
Banjar di Desa Mas, Gianyar. Kedua benda yang dikeramatkan ini
hanya bisa dikeluarkan pada saat tertentu, yaitu pada Tumpek
Kuningan dan diarak ke Pura Taman Pule di Mas Gianyar.
Sementara genta Ki Samprangan
yang suaranya sempat memukau sang Maha Resi Nirartha konon masih
disimpan di Sanur sampai saat ini. Di samping peninggalan
tersebut masih ada peninggalan Danghyang Nirartha berupa keris
bernama Ki Baru Gajah yang sampai saat ini disimpan di Pemerajan
Agung Puri Kediri, Tabanan. Keris tersebut juga setiap Tumpek
Kuningan waktu piodalan di Pura Luhur Pakendungan oleh
banjar-banjar di Desa Adat Kediri diarak berjalan kaki ke Pura
Pakendungan dengan jarak 11 km sebagai pratima dan ikut nyejer
selama tiga hari. Banjar yang mengiringi langsung ikut upacara
ngerebegin dalam rangkaian upacara piodalan di pura tersebut.
Keris Ki Baru Gajah ini
dihadiahkan oleh Danghyang Nirartha kepada murid beliau yang
sangat setia Ki Bendesa Beraban. Beliau mengajar di atas batu
besar di bawah pohon kendung tempat Pura Pakendungan didirikan.
Oleh Ki Bendesa Beraban keris ini pernah dibawa ke Buleleng di
Kalianget untuk membantu Raja Buleleng membebaskan beliau dari
gangguan Buta Gajah. Setelah Buta Gajah dikalahkan Raja Buleleng
menawarkan hadiah apa saja diinginkan oleh Ki Bendesa Beraban.
Akhirnya yang diminta istri raja yang sedang mengandung. Dari
Bendesa Beraban diberi nama Pungakan Ngurah. Nama Pungakan
diberikan sebagai keturunan Raja Buleleng.
Salah seorang keturunan Ngakan
Ngurah bernama Ngakan Nyoman Kekeran bertempat tinggal di Kediri
mengawini Gusti Luh Dangin, puteri Sri Megada Sakti. Saat
perkawinan ini Ngakan Nyoman Kekeran bersikap seperti yang
dilakukan oleh raja-raja pada waktu itu. Perbuatan itu dianggap
berani memada-mada (menyamai kedudukan raja) lancang berani
berbuat menyamai tata-cara seorang raja. Melihat ini baginda
Bhatara Da Cokorda Sekar marah, lalu menghapus status
kebangsawanan Ngakan Nyoman Kekeran.
Ketika Cokorda Ngurah Agung
bertahta beliau memiliki dua orang saudara laki-laki I Gusti
Ngurah Demung yang bertepat tinggal di Puri Kaleran dan I Gusti
Ngurah Celuk yang kadang-kadang tinggal di Puri Agung Tabanan
dan kadang-kadang di Puri Kaleran. Oleh Raja I Gusti Ngurah
Celuk ditawari bertempat tinggal di Puri Kediri sebagai pengawal
di perbatasan kerajaan Mengwi yang sedang berperang dengan
kerjaan Tabanan dan Badung. Beliau mau tinggal di Kediri asalkan
diizinkan membawa keris pusaka Ki Baru Gajah. Maka itu sampai
saat ini keris Ki Baru Gajah berstana di Pemerajan Agung Pura
Kediri.
I Gusti Ngurah Oka
Penglingsir Puri Kediri/
Penganceng Pura Luhur
Pekendungan
|