I Wayan ''Cenk Blonk'' Nardayana
Saya Ingin Wayang
Jadi Hiburan Favorit
Jika
mendengar nama dalang I Wayan Nardayana, kening Anda pasti
berkerut, siapakah dia? Tetapi kalau mendengar nama Cenk Blonk,
pastilah langsung ingatan Anda melayang pada pertunjukan wayang
yang sangat digemari banyak kalangan. Wayang Cenk Blonk memang
tengah naik daun, namun tahukah Anda bahwa perjalanan suksesnya
tidak gampang? Dalang laris yang tengah mengambil kuliah di
Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar ini pernah bekerja
sebagai tukang parkir di swalayan Tiara Dewata. Namun demikian
ia tetap mengasah kemampuannya dalam mendalang. Ia mengakui
bahwa lakon wayang yang dibawakan dulunya lebih banyak yang
ngomong jorok, namun sekarang ia berusaha memasukkan banyak
tuntunan pada masyarakat. Lantas, mengapa dalang yang berpentas
sedikitnya 20 kali per bulan ini menolak didokumentasikan
pementasannya? Tetapi, mengapa ia justru bangga banyak dalang
yang menirunya? Berikut wawancara Bali Post dengan dalang Cenk
Blonk. Hasil wawancara ini juga disiarkan Radio Global 99,15 FM,
Sabtu (28/6) kemarin.
MENGAPA
Anda memakai nama Cenk Blonk?
Dalam pewayangan ada beberapa tokoh punakawan yang namanya Nang
Klenceng, Nang Ceblong, Nang Ligir, Nang Semangat dan sebagainya.
Tokoh-tokoh itu sudah dikenal masyarakat. Pada mulanya, nama
wayang saya bukan Cenk Blonk, namun Gitaloka. Makanya setiap
pementasan saya cantumkan di kelir nama "Wayang Gitaloka
dari Belayu". Setiap pentas saya menampilkan dua tokoh itu,
Nang Kleceng dan Nang Ceblong selain Tualen, Merdah, Sangut dan
Delem. Tetapi setiap pentas, tidak ada orang yang menyebut nama
pertunjukan saya Wayang Gitaloka. Waktu pentas di Jempayah,
Mengwitani, saat saya masih duduk di mobil dan ada penonton yang
bertanya pada temannya, "Wayang apa yang pentas?"
Temannya menjawab, "Wayang Cenk Blonk." Saya kaget,
lho saya kok dibilang Wayang Cenk Blonk? Padahal nama wayang
saya Wayang Kulit Gitaloka. Mungkin bagi masyarakat nama itu
lebih gampang. Maka akhirnya saya ubah nama Gitaloka menjadi
Wayang Kulit Cenk Blonk, di kelir saya isi dengan gambar Cenk
Blonk, lalu saya beri tulisan Cenk Blonk. Cenk saya ambil dari
nama Nang Klenceng dan Blonk dari Nang Ceblong.
Anda banyak berimprovisasi
dalam pewayangan yang tidak lazim di Bali, mengapa?
Suatu kesenian menurut saya tidak boleh kaku, diam, sementara
zaman bergelinding terus. Jadi, suatu kesenian harus mengikuti
zamannya. Saya melirik apa yang disenangi penonton saat ini.
Kita tahu, fungsi wayang sebagai wali, tuntunan dan tontonan.
Sebagai tontonan harus bisa menarik dan menghibur masyarakat.
Bagaimana dalang bisa memberikan tuntunan pada masyarakat,
sementara penontonnya enggak suka. Sekarang kebanyakan orang
stres dengan pekerjaannya, jadi mereka menonton itu untuk
mencari hiburan atau menghilangkan kepenatan sehingga banyak
lelucon yang saya tampilkan.
Setelah saya kuliah di
STSI Denpasar, saya diingatkan terus-menerus bahwa wayang itu
sebagai tontonan dan tuntunan, sehingga saya berusaha
mengembalikan ke fungsi semula yaitu tuntunan. Saya melucu tetap
melucu namun leluconnya saya isi dengan muatan-muatan agama,
politik, ekonomi dan sebagainya. Ini mungkin yang membuat kita
semakin eksis.
Dari mana dan bagaimana
proses mendapatkan ide pementasan?
Ide-ide itu muncul dari baca buku, koran, banyak bergaul dan
banyak bertanya. Dari percakapan sehari-hari dengan tidak
sengaja kita mendapatkan suatu poin atau ide. Saya tidak menutup
diri bahwa saya pun meniru dalang-dalang yang lain. Misalnya
dalang favorit saya IB Ngurah (alm) dari Buduk, dalang Jagra
dari Bongkasa, ada beberapa dialognya yang saya tiru namun tidak
jiplak begitu saja, saya kembangkan sesuai dengan kemampuan saya.
Apa resep yang bisa
diterapkan agar wayang semakin menarik?
Saya kembalikan pada saya sendiri. Wayang beberapa tahun yang
lalu hanya ditonton orang-orang dewasa atau orang tua. Lalu saya
berpikir, bagaimana caranya agar wayang itu menarik untuk
anak-anak remaja, makanya saya cari apa yang disenangi remaja
tanpa lepas dari norma-norma. Melucu boleh, namun ada aturannya.
Perlu diketahui, membuat lelucon lebih sulit daripada membuat
filsafat. Membuat filsafat bisa kita dapatkan dari membaca buku,
lalu kita tulis dan hafalkan. Tetapi membuat lelucon? Bisa saja
kita tulis lalu kita bacakan, lantas apakah penonton mau tertawa?
Makanya saya mengimbau kepada dalang-dalang agar terus mengasah
diri, terjun ke masyarakat dan mencari tahu apa yang mereka
sukai dan apa yang diingini. Kesenian bukan untuk diri sendiri
sang seniman, namun hasil karyanya untuk orang lain.
Bagaimana suatu kesenian
itu bisa dikatakan bagus kalau yang nonton tidak ada?
Mengapa Anda kuliah di STSI? Denpasar? Setelah laris seperti
sekarang, bagi seniman, ini adalah tantangan. Kita tidak boleh
berdiam diri atau berbangga diri sebab penonton punya rasa bosan.
Untuk mengantisipasi ini, saya terus mengasah diri. Setelah
kuliah di STSI Denpasar saya dapat rasakan bergaul dengan
seniman-seniman, dengan dosen yang tahu tentang wayang. Akan
semakin terbuka wawasan kita untuk memandang bagaimana wayang
itu agar dapat kita kembangkan sejauh kemampuan kita. Sebelumnya
saya tidak punya guru khusus mendalang. Selain itu, sebelum kita
kembangkan harus tahu dasar-dasar tradisinya, barulah kita akan
melangkah pada pengembangan.
Apa ilmu yang dapat Anda
terapkan dari kuliah di STSI?
Seperti yang sering penonton lihat, artistik kelir itu saya
dapatkan dari STSI. Pengaruhnya memang banyak dari Jawa, namun
saya transfer dengan gaya Bali. Ada tambahan sinden. Sebelum
kuliah, wacana leluconnya pasti agak norak atau porno, namun
sekarang saya berusaha terus-menerus untuk menekan hal-hal
seperti itu. Rasa tidak puas mendapatkan kuliah pasti ada.
Itulah sebabnya saya sering bertanya pada dosen baik di dalam
kelas maupun di luar kelas.
Bagaimana awalnya Anda
mendalang?
Saya tamat SMA tidak punya pekerjaan. Ekonomi morat-marit. Saya
tidak punya keterampilan sehingga melakoni pekerjaan apa saja,
termasuk sebagai tukang parkir. Namun saya terus berpikir,
apakah kehidupan saya akan terus begini? Saya masih mencari jati
diri, itulah sebabnya saya kuliah di IHD (Institut Hindu Dharma,
red), namun terbentur dengan biaya. Akhirnya terpaksa berhenti
dan menikah. Pekerjaan dalang ini sudah saya tekuni. Namun
demikian, saat itu pentasnya tidak tentu. Kalau ada orang yang
meminta saya mendalang barulah pentas, enam bulan belum tentu.
Saya lakoni sebagai tukang parkir sambil melirik peluang
pekerjaan lain.
Saya rasakan payah sekali
waktu itu, sebab dari Blayu ke Gemeh, Denpasar, saya
pulang-perginya naik sepeda gayung. Tetapi waktu itu perasaan
sakit atau kurang sehat tidak pernah saya rasakan. Mungkin
karena sering olah raga. Enggak seperti sekarang sakit-sakitan.
Setelah saya kawin, entah bagaimana, pekerjaan mendalang itu
mulai laris. Awalnya saya pentas di Blahkiuh, lalu merembet ke
Abiansemal dan seterusnya. Jadi cerita tentang pementasan wayang
saya dari mulut ke mulut, akhirnya banyak sekali orang yang
meminta saya pentas.
Sebelum laris mendalang,
seperti apa perangkat wayang yang Anda miliki?
Saya tidak punya warisan wayang dari leluhur. Tetapi sejak kecil
saya suka mengukir dan menggambar. Saya bikin wayang sendiri.
Awalnya saya punya 20 buah wayang dan di-pelaspas di pura. Saya
di-winten jro mangku, maka saya sah jadi dalang. Sambil jalan
saya bikin lagi dan kalau punya uang saya beli wayang. Hingga
sekarang saya masih membuat wayang sendiri. Saya punya satu
gedog wayang untuk koleksi. Saya belum pernah terima pesanan
wayang. Tetapi kalau dipesan untuk bikin wayang, saya enggak
sanggup, enggak sempat.
Setelah laris, Anda justru
membatasi pementasan, mengapa?
Pertama, untuk kesehatan. Sebab pekerjaan dalang banyak begadang.
Kalori untuk begadang lebih banyak dikeluarkan. Di samping itu,
untuk menjaga agar penonton tidak bosan. Semakin sering kita
pentas, penonton akan semakin cepat bosan. Sebab kita akui,
sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan. Bagaimana kita
setiap malam bisa memuaskan penonton? Sementara penonton terus
menginginkan hal-hal yang baru. Kita belum tentu mendapatkan
hal-hal baru. Sekitar dua tahun yang lalu saya pernah tifus dan
opname 10 hari, lalu saya mengaso satu bulan. Ada yang bilang
kalau dalang Cenk Blonk sudah meninggal. Itu namanya gosip,
namanya juga seniman atau selebritis kan biasa diisukan, ha, ha,
ha...
Seberapa banyak Anda
pentas dalam satu hari?
Kalau dulu saya pernah pentas satu malam dua kali. Misalnya
pukul 20.00 sampai 22.30 wita, lalu sisanya ke tempat lain.
Karena orang senang, maka jam berapa pun orang akan menunggu.
Sekarang saya enggak mau seperti itu, semalam hanya pentas
sekali saja. Sebab persiapan untuk pentas satu kali itu lama
sekali. Selain itu, sekarang saya bekerja sama dengan sanggar.
Personelnya berasal dari desa-desa yang jauh. Biasanya, personel
kami 30 orang termasuk penabuh, gerong, dan
pendamping-pendamping saya. Normalnya, kami mulai pentas pukul
21.00 wita, pukul 19.00 sudah sampai di tempat.
Apakah ada pesan-pesan
yang diselipkan penanggap wayang Anda?
Itu tidak tentu. Kalau penanggapnya ingin memasukkan pesan dalam
pertunjukan wayang, biasanya disampaikan jauh-jauh hari saat ia
pesan untuk pementasan. Lebih banyak diserahkan pada kreasi kami.
Biasanya saya pentas dalam rangka upacara, misalnya upacara
manusa yadnya atau dewa yadnya.
Usia Anda masih muda,
namun seakan sudah jadi dalang senior, bagaimana perasaan Anda?
Maaf, saya bukan merasa diri senior. Saya masih tetap belajar.
Sejak umur delapan tahun saya sudah mulai belajar mendalang.
Saya pakai wayang kertas atau wayang karton. Di desa kami
ngumpul delapan orang lalu membuat satu grup gamelan wayang yang
diiringi tingklik. Hampir setiap malam pentas. Kalau ada orang
ngotonan, kami diminta pentas dengan alat sederhana, kelir
seadanya dan wayangnya dari karton serta gedog-nya dari triplek.
Saat kenaikan kelas, rapor saya semuanya merah. Lalu orangtua
saya marah. Wayangnya dibakar. Orang tua saya petani dan beliau
menginginkan saya jadi pegawai. Tetapi saya tidak berkeinginan
seperti itu. Sebelum mendalang saya juga punya grup drama gong
yang sering juga pentas.
Setamat SMA, saya belum
juga serius mendalang. Lalu ada tukang topeng, I Gusti Ketut
Putra yang mengajak saya untuk gabung dengan sekaa topengnya.
Sampai sekarang pun saya masih punya topeng satu set. Kalau ada
yang minta menari topeng Sidakarya, saya ladeni. Kalau di luar
desa saya tidak mau, karena saya eksis di pedalangan.
Bagaimana pengalaman Anda
nonton wayang waktu anak-anak?
Sejak kecil saya senang sekali melihat dalang memainkan wayang.
Saya enggak senang melihat bayangannya dari depan, tetapi saya
suka lihat dari belakang. Di samping itu, ketika dalang itu
datang, ia sangat dihormati sekali. Melihat itu saya kagum,
"Wah enak sekali jadi dalang, saya ingin seperti itu."
Waktu saya kecil kesenian wayang ini sangat favorit. Di desa
saya ada wayang Pan Yusa yang sering ditanggap, setiap
pementasannya saya menonton.
Anda ingin mengembangkan
wayang seperti apa?
Saya ingin suatu saat wayang Bali menjadi hiburan yang favorit
seperti konser-konser musik pop Bali sekarang. Makanya, saya
terus melakukan pembenahan baik di bidang manajemen, dengan
sanggar, dalam cerita, wacana, teknik-teknik mendalang terus
saya asah. Saya berharap, dalang-dalang yang lain juga melakukan
hal itu. Jadi terus mengasah diri agar wayang menjadi hiburan
yang favorit. Saya memang belum berkolaborasi dengan penyanyi
pop Bali, walaupun seperti di Jawa ada yang namanya wayang
campur sari. Kita tetap pada inti wayang kulit, namun kita tetap
menyelidiki, apa yang disenangi masyarakat, apa yang harus
dibenahi dengan tidak menghilangkan akar-akar tradisi.
Menurut Anda, pakem wayang
itu apa?
Misalnya pakem Sukawati, sebelum ada pakem itu apakah sebelumnya
tidak ada pakem wayang sebelumnya? Bentuknya lain, masyarakat
tidak puas, lalu dikembangkan lagi seperti yang kita temukan di
Buduk. Seniman tidak puas, ia kembangkan lagi, ia ingin punya
ciri tersendiri. Jadi kita keluar dari pakem yang mana? Saya
juga punya pakem. Pakem di Buleleng beda dengan Gianyar, juga
beda dengan Buduk. Saya buat pakem sendiri, syukur kalau ditiru
orang lain. Sekarang saya lihat di kelir-kelir itu sudah banyak
diisi tulisan. Gambar kayak Cenk Blonk sudah banyak sekali
ditiru, lalu muncul dengan nama Co Blank, Ce Klin. Kita
mendalang bukan menantang hal itu, yang penting mendalang, itu
saja! Ritual yang dilakukan apa?
Dalam pedalangan ada kitab
Dharma Pewayangan untuk aturan dalang. Dalang juga memiliki
pantangan, misalnya jangan makan jejeron. Dari segi medis,
jejeron itu panas, karena kita duduk. Kalau dari segi ilmu
pewayangan, jejeron merupakan tempat-tempat wayang itu berada di
dalam diri kita. Untuk protein saya mengkonsumsi kacang, tahu,
dan tempe. Saya suka jalan-jalan supaya keluar keringat. Yang
pasti pikiran jangan stres sebab penyakit berasal dari pikiran.
* Pewawancara:
Asti Musman
BIODATA
Nama : I Wayan Nardayana
empat/tanggal lahir : Tabanan, 5 Juli 1966
Nama istri : Sagung Putri Puspadhi
Nama anak :
Bintang Sruti
Damar Sari Dewi
Pendidikan :
MA Dwi Tunggal Tabanan
Unhi Denpasar
TSI Denpasar
Pekerjaan :
Dalang Cenk Blonk
Tukang Parkir Swalayan Tiara Dewata
|