kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 29 Juni 2003 tarukan valas
 

OPINI


Eritis Sicut Dei!

Manusia telah makan buah terlarang (pengetahuan). Dia belum mati, sebagaimana iblis telah memperkirakannya. Dia sudah menjadi (seperti) Tuhan. Hanya ketidakkekalan membuatnya berbeda dengan Tuhan. Dicipta dalam gambaran Tuhan, menjadi seperti Tuhan, tapi dia bukan Tuhan. Untuk mencegah manusia jadi Tuhan, adam dan hawa diusir dari surga. Sebelum turun ke bumi, iblis membisikinya, "Eritis sicut Dei! (Kaum bisa seperti Tuhan!)". (Manusia Menjadi Tuhan, Erich Fromm, 1978).

RUBAG tidak menyangkal pendapat yang mengatakan bahwa yang bergerak paling cepat di dunia adalah pikiran. Juga ukuran terbesar di tata surya ini adalah pikiran. Pikiran tidak harus selalu tersusun secara ilmiah, epistemologik sesuai kadiah sains, bisa juga berupa angan-angan, fantasi dan bayangan tanpa bentuk yang melintas di depan mata. Rangsangan dari objek-objek pikiran menimbulkan kehendak dan hasrat, termasuk juga keinginan untuk berkuasa. Hasil fantasi tentang superman melahirkan tokoh-tokoh yang merasa diri paling kuat dan berkuasa sepanjang rentang sejarah manusia. Akibatnya, korban-korban jiwa dari golongan tidak berdaya atau inferman tidak terhitung jumlahnya, karena manusia-manusia super dengan dada membusung berdiri tegak di atas tumpukan mayatnya sambil berceloteh tentang keperkasaan dan kemuliaan.

Memang benar, setelah kisah nabi-nabi ditutup dan dinyatakan tidak ada nabi baru lahir ke dunia, suasana dunia tetap bergolak dan teriakan kematian terus menggema. Ironis, meskipun Tuhan telah menurunkan beberapa nabi guna menyelamatkan dunia beserta isinya, ternyata ketentraman dan kedamaian masih tergantung di awang-awang. Bahkan hasil kemurtadan adam dan hawa mencuri buah pengetahuan yang terlarang, justru banyak menciptakan hasil teknologi yang menyengsarakan manusia. Dari hikuk-pikuk dunia yang dipenuhi problematika yang tidak terpecahkan saat ini, keputusan Tuhan untuk tidak menganugerahkan immortalitas atau berkah kekekalan pada manusia adalah keputusan yang tepat. Kalau saja manusia tidak bisa mati, bisa jadi mereka akan meniru tingkah Niwatakwaca yang menyerbu Indraloka, seperti kisah pewayangan. Malah Nietzche yang mati kekalahan akibat neurotis pernah meneriakkan, "Tuhan telah mati!". Tragisnya, tokoh eksistensialisme tersebut sudah lama jadi debu, namun Tuhan tetap eksis dan sebagian besar umat manusia mengakui keberadaannya.

Agaknya bisikan iblis, seperti ditulis Erich Fromm -- eritis sicut Dei, telah memasuki kuping dan menyelaputi benar manusia-manusia modern saat ini. Bukan hanya mempengaruhi perilaku manusia global yang benar-benar menguasai sains dan teknologi di Barat, manusia "glokal" atau global lokal -- meminjam istilah Hikmat Budiman -- yang kehebatannya bercampur mistik dan klenik pun sudah terpengaruh dan menganggap diri mereka jadi Tuhan. George W Bush dan Tony Blair mengirim pasukan dan mesin perangnya mencabuti nyawa manusia di Afghanistan, Irak dan kemungkinan juga Iran, Suriah dan Korea Utara, Amrozy, Imam Samudra dkk. juga memanggang ratusan tubuh korbannya lewat pemboman 12 Oktober 2002 di Legian Kuta, padahal mereka tidak tahu apa dosa korbannya. Belum lagi pembunuhan akibat konflik politik, ekonomi dan kriminal, seakan-akan posisi Tuhan telah dikudeta manusia-manusia yang telah menganggap dirinya Tuhan.

***

Rubag serta kawan-kawannya sempat terpingkal-pingkal membaca sebuah tabloid yang diantara artikelnya memuat tulisan tentang pawisik atau wahyu. Bila masalah suara atau bisikan gaib tersebut dituturkan seorang paranormal atau balian, tidak akan menimbulkan gelak karena masih menawarkan opsi, boleh percaya boleh tidak, seperti penayangan kisah-kisah misteri di teve. Tapi bila soal pawisik dituturkan seorang penyandang S-3 yang notabene cendekiawan, menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat yang kini semakin tersentak biaya kuliah yang berbanding terbalik dengan kualitas out put-nya. Akankah lembaga pendidikan tinggi kelak melahirkan sarjana-sarjana yang memformulasikan pawisik dengan teori thermodinamika atau mekanika quantum, seperti doktor di tabloid tersebut yang memprosentasekan dukungan untuk jabatan gubernur Bali, 2003-2008, berdasarkan pawisik?

Pawisik berbau matematik atau statistik! Ironisnya, doktor yang sebenarnya cendekiawan tersebut melupakan kredensialnya sebagai pemegang industriae et eruditionis testimonium et documentum yakni jaminan perguruan tinggi atas keterpelajarannya. Sebab dalam ulasannya, konon sekarang Bali harus dipimpin seorang ksatria dan periode 2008-2013 baru giliran sudra. Manusia kok dikotak-kotakkan seperti barang yang berbeda kelas dan kualitas?

Berita tentang Ratu Sejagat 2002, Justin Pasek yang diangkat jadi warga sebuah klan di Bali juga menjadi bahan etrtawaan masyarakat. Entah sudah mendapat persetujuan seluruh warga klan tersebut, tiba-tiba saja saat kunjungan in cognito-nya ke Pulau Dewata, warga negara Panama yang memang benar-benar cantik tersebut mendapat pengangkatan yang dia sendiri tidak mengerti maknanya. Tidak ada alasan berseloroh atau guyon dalam berita, sehingga pengangkatan menjadi warga sebuah klan yang anggotanya terbesar di Bali tersebut bukanlah main-main. Terlebih-lebih yang mengangkatnya adalah seorang doktor, bahkan guru besar di PTN bergengsi di Bali dan juga menjabat sebagai kepala instansi pariwisata di daerah ini.

Rubag mendapat beberapa pertanyaan dari rekan-rekannya, tidakkah tindakan seperti itu merupakan akibat bisikan eritis sicut Dei? Apakah tokoh dan selebritis terkenal seperti Pande Raja Silalahi, Pande Lubis, Gusti Randa, Cok Simbara, Dayu AG dan Alex Komang juga akan mendapat pengangkatan serupa kalau berkunjung ke Bali? Sebab nama-nama mereka mirip nama orang Bali.

Virus megalomania atau merasa paling besar, paling kuat dan paling berkuasa menyebabkan manusia sering melupakan hakikatnya. Pangkat, jabatan dan kekayaan adalah pemicu yang membesarkan virus, yang sebenarnya ada dalam setiap individu tersebut. Di tengah-tengah kegagapan manusia modern yang digertak hantu globalisasi yang muncul lewat kapitalisme, menyebabkan orang-orang rebutan mencari simbol status agar bisa dimasukkan ke kelompok cendekiawan. Sebagai cendekiawan yang dianggap paspor paling afdol saat ini, orang akan mudah mengakses sumber-sumber kekuasaan, ekonomi, politik, dan budaya. Undangan berbicara di berbagai forum akan mengalir, meskipun ungkapan maupun materi yang dilontarkannya sama dan serupa untuk topik yang berbeda-beda.

Ketika jabatan maupun pangkat meninggi dan sumber keuangan mengalir dari berbagai sektor, maka virus megalomania merambat dari ujung kaki hingga ujung rambut pula. Segala ucapannya dianggap firman dan merasa diri sudah jadi Tuhan. Satu hal yang dilupakannya, bahwa dirinya masih mahluk mortal yang jiwanya tiba-tiba bisa melayang meninggalkan raga yang berkondisi seperti Hercules atau cantik bagai Justin Pasek.

***

Tuhan wajar untuk takut kalau manusia jadi Tuhan. Mortalitas atau kepastian untuk mati, seharusnya disadari setiap manusia agar bisa menekan arogansi dan egoismenya untuk mencederai manusia lain. Kata-kata bersayap, "giatlah bekerja seakan-akan kau akan hidup seribu tahun lagi!" seyogyanya diimbangi dengan "berdoalah, seakan-akan kau mati besok!".

Rubag, di usia yang sudah berkepala lima, sering menyaksikan peristiwa kematian. Banyak wajah pucat pias dan kaku disertai bau kurang sedap dilihatnya membujur tanpa daya, meski beberapa tahun sebelumnya pemilik tubuh tersebut sangat perkasa. Ada yang bercucuran air mata, bahkan ada yang histeris, melepas kepergiannya, meski tidak dipungkiri ada juga yang pura-pura bersedih karena pernah merasa disakiti almarhum. Dalam kondisi seperti itu, biar ribuan iblis berkumpul meneriakkan, eritis sicut Dei!, tubuh kaku tersebut tidak akan beranjak dari pembaringannya. Sebab dia lebih asyik mendengar kidung "Mamuit Narendra" dibanding irama "Asereje" dari Tri Las Ketchups.

* Aridus

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com