Eritis Sicut Dei!
Manusia telah makan buah
terlarang (pengetahuan). Dia belum mati, sebagaimana iblis telah
memperkirakannya. Dia sudah menjadi (seperti) Tuhan. Hanya
ketidakkekalan membuatnya berbeda dengan Tuhan. Dicipta dalam
gambaran Tuhan, menjadi seperti Tuhan, tapi dia bukan Tuhan.
Untuk mencegah manusia jadi Tuhan, adam dan hawa diusir dari
surga. Sebelum turun ke bumi, iblis membisikinya, "Eritis
sicut Dei! (Kaum bisa seperti Tuhan!)". (Manusia Menjadi
Tuhan, Erich Fromm, 1978).
RUBAG
tidak menyangkal pendapat yang mengatakan bahwa yang bergerak
paling cepat di dunia adalah pikiran. Juga ukuran terbesar di
tata surya ini adalah pikiran. Pikiran tidak harus selalu
tersusun secara ilmiah, epistemologik sesuai kadiah sains, bisa
juga berupa angan-angan, fantasi dan bayangan tanpa bentuk yang
melintas di depan mata. Rangsangan dari objek-objek pikiran
menimbulkan kehendak dan hasrat, termasuk juga keinginan untuk
berkuasa. Hasil fantasi tentang superman melahirkan tokoh-tokoh
yang merasa diri paling kuat dan berkuasa sepanjang rentang
sejarah manusia. Akibatnya, korban-korban jiwa dari golongan
tidak berdaya atau inferman tidak terhitung jumlahnya, karena
manusia-manusia super dengan dada membusung berdiri tegak di
atas tumpukan mayatnya sambil berceloteh tentang keperkasaan dan
kemuliaan.
Memang benar, setelah
kisah nabi-nabi ditutup dan dinyatakan tidak ada nabi baru lahir
ke dunia, suasana dunia tetap bergolak dan teriakan kematian
terus menggema. Ironis, meskipun Tuhan telah menurunkan beberapa
nabi guna menyelamatkan dunia beserta isinya, ternyata
ketentraman dan kedamaian masih tergantung di awang-awang.
Bahkan hasil kemurtadan adam dan hawa mencuri buah pengetahuan
yang terlarang, justru banyak menciptakan hasil teknologi yang
menyengsarakan manusia. Dari hikuk-pikuk dunia yang dipenuhi
problematika yang tidak terpecahkan saat ini, keputusan Tuhan
untuk tidak menganugerahkan immortalitas atau berkah kekekalan
pada manusia adalah keputusan yang tepat. Kalau saja manusia
tidak bisa mati, bisa jadi mereka akan meniru tingkah
Niwatakwaca yang menyerbu Indraloka, seperti kisah pewayangan.
Malah Nietzche yang mati kekalahan akibat neurotis pernah
meneriakkan, "Tuhan telah mati!". Tragisnya, tokoh
eksistensialisme tersebut sudah lama jadi debu, namun Tuhan
tetap eksis dan sebagian besar umat manusia mengakui
keberadaannya.
Agaknya bisikan iblis,
seperti ditulis Erich Fromm -- eritis sicut Dei, telah memasuki
kuping dan menyelaputi benar manusia-manusia modern saat ini.
Bukan hanya mempengaruhi perilaku manusia global yang
benar-benar menguasai sains dan teknologi di Barat, manusia
"glokal" atau global lokal -- meminjam istilah Hikmat
Budiman -- yang kehebatannya bercampur mistik dan klenik pun
sudah terpengaruh dan menganggap diri mereka jadi Tuhan. George
W Bush dan Tony Blair mengirim pasukan dan mesin perangnya
mencabuti nyawa manusia di Afghanistan, Irak dan kemungkinan
juga Iran, Suriah dan Korea Utara, Amrozy, Imam Samudra dkk.
juga memanggang ratusan tubuh korbannya lewat pemboman 12
Oktober 2002 di Legian Kuta, padahal mereka tidak tahu apa dosa
korbannya. Belum lagi pembunuhan akibat konflik politik, ekonomi
dan kriminal, seakan-akan posisi Tuhan telah dikudeta
manusia-manusia yang telah menganggap dirinya Tuhan.
***
Rubag serta kawan-kawannya
sempat terpingkal-pingkal membaca sebuah tabloid yang diantara
artikelnya memuat tulisan tentang pawisik atau wahyu. Bila
masalah suara atau bisikan gaib tersebut dituturkan seorang
paranormal atau balian, tidak akan menimbulkan gelak karena
masih menawarkan opsi, boleh percaya boleh tidak, seperti
penayangan kisah-kisah misteri di teve. Tapi bila soal pawisik
dituturkan seorang penyandang S-3 yang notabene cendekiawan,
menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat yang kini
semakin tersentak biaya kuliah yang berbanding terbalik dengan
kualitas out put-nya. Akankah lembaga pendidikan tinggi kelak
melahirkan sarjana-sarjana yang memformulasikan pawisik dengan
teori thermodinamika atau mekanika quantum, seperti doktor di
tabloid tersebut yang memprosentasekan dukungan untuk jabatan
gubernur Bali, 2003-2008, berdasarkan pawisik?
Pawisik berbau matematik
atau statistik! Ironisnya, doktor yang sebenarnya cendekiawan
tersebut melupakan kredensialnya sebagai pemegang industriae et
eruditionis testimonium et documentum yakni jaminan perguruan
tinggi atas keterpelajarannya. Sebab dalam ulasannya, konon
sekarang Bali harus dipimpin seorang ksatria dan periode
2008-2013 baru giliran sudra. Manusia kok dikotak-kotakkan
seperti barang yang berbeda kelas dan kualitas?
Berita tentang Ratu
Sejagat 2002, Justin Pasek yang diangkat jadi warga sebuah klan
di Bali juga menjadi bahan etrtawaan masyarakat. Entah sudah
mendapat persetujuan seluruh warga klan tersebut, tiba-tiba saja
saat kunjungan in cognito-nya ke Pulau Dewata, warga negara
Panama yang memang benar-benar cantik tersebut mendapat
pengangkatan yang dia sendiri tidak mengerti maknanya. Tidak ada
alasan berseloroh atau guyon dalam berita, sehingga pengangkatan
menjadi warga sebuah klan yang anggotanya terbesar di Bali
tersebut bukanlah main-main. Terlebih-lebih yang mengangkatnya
adalah seorang doktor, bahkan guru besar di PTN bergengsi di
Bali dan juga menjabat sebagai kepala instansi pariwisata di
daerah ini.
Rubag mendapat beberapa
pertanyaan dari rekan-rekannya, tidakkah tindakan seperti itu
merupakan akibat bisikan eritis sicut Dei? Apakah tokoh dan
selebritis terkenal seperti Pande Raja Silalahi, Pande Lubis,
Gusti Randa, Cok Simbara, Dayu AG dan Alex Komang juga akan
mendapat pengangkatan serupa kalau berkunjung ke Bali? Sebab
nama-nama mereka mirip nama orang Bali.
Virus megalomania atau
merasa paling besar, paling kuat dan paling berkuasa menyebabkan
manusia sering melupakan hakikatnya. Pangkat, jabatan dan
kekayaan adalah pemicu yang membesarkan virus, yang sebenarnya
ada dalam setiap individu tersebut. Di tengah-tengah kegagapan
manusia modern yang digertak hantu globalisasi yang muncul lewat
kapitalisme, menyebabkan orang-orang rebutan mencari simbol
status agar bisa dimasukkan ke kelompok cendekiawan. Sebagai
cendekiawan yang dianggap paspor paling afdol saat ini, orang
akan mudah mengakses sumber-sumber kekuasaan, ekonomi, politik,
dan budaya. Undangan berbicara di berbagai forum akan mengalir,
meskipun ungkapan maupun materi yang dilontarkannya sama dan
serupa untuk topik yang berbeda-beda.
Ketika jabatan maupun
pangkat meninggi dan sumber keuangan mengalir dari berbagai
sektor, maka virus megalomania merambat dari ujung kaki hingga
ujung rambut pula. Segala ucapannya dianggap firman dan merasa
diri sudah jadi Tuhan. Satu hal yang dilupakannya, bahwa dirinya
masih mahluk mortal yang jiwanya tiba-tiba bisa melayang
meninggalkan raga yang berkondisi seperti Hercules atau cantik
bagai Justin Pasek.
***
Tuhan wajar untuk takut
kalau manusia jadi Tuhan. Mortalitas atau kepastian untuk mati,
seharusnya disadari setiap manusia agar bisa menekan arogansi
dan egoismenya untuk mencederai manusia lain. Kata-kata bersayap,
"giatlah bekerja seakan-akan kau akan hidup seribu tahun
lagi!" seyogyanya diimbangi dengan "berdoalah,
seakan-akan kau mati besok!".
Rubag, di usia yang sudah
berkepala lima, sering menyaksikan peristiwa kematian. Banyak
wajah pucat pias dan kaku disertai bau kurang sedap dilihatnya
membujur tanpa daya, meski beberapa tahun sebelumnya pemilik
tubuh tersebut sangat perkasa. Ada yang bercucuran air mata,
bahkan ada yang histeris, melepas kepergiannya, meski tidak
dipungkiri ada juga yang pura-pura bersedih karena pernah merasa
disakiti almarhum. Dalam kondisi seperti itu, biar ribuan iblis
berkumpul meneriakkan, eritis sicut Dei!, tubuh kaku tersebut
tidak akan beranjak dari pembaringannya. Sebab dia lebih asyik
mendengar kidung "Mamuit Narendra" dibanding irama
"Asereje" dari Tri Las Ketchups.
* Aridus
|