kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 29 Juni 2003 tarukan valas
 

BERITA


Inong Bale, Tentara Wanita GAM

Karena Balas Dendam dan akibat Kekerasan

Peperangan dan kekerasan bagian yang tak terpisahkan. Disengaja atau tidak, pastilah akan melahirkan dendam. Begitulah yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Sampai akhirnya memunculkan Inong Bale atau tentara perempuannya Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Bagaimana keberadaan mereka sebenarnya?

SELAIN operasi pemulihan keamanan dalam bagian operasi terpadu di Aceh, menyusul diberlakukannya darurat militer, operasi intelijen dilakukan di sana. Hasilnya? Dua Inong Bale atau tentara wanita GAM, telah ditangkap. Mereka itu, Rosmawati (52) dan Nurlaela Lawat (25). Apakah mereka itu benar-benar Inong Bale, seperti yang diklaim aparat keamanan?

Penangkapan terhadap dua wanita itu sendiri dilakukan saat mereka hendak mengambil mayat Abdul Jabar bin Abdul Mutholib (25). Mayat yang diamankan aparat di rumah sakit di Tapak Tuan, itu merupakan Panglima Sagoe Kreung Luwas, Trumon, Aceh Selatan. Penangkapan itu, tak lebih didasari kecurigaan intelijen terhadap kedua wanita tersebut yang ingin mengurus sesosok mayat yang penuh luka tembak.

Apakah benar, wanita seperti Rosmawati dan Nurlaela Lawat yang dituduh sebagai Inong Bale itu ada? Arti Inong Bale menurut bahasa Aceh, sebenarnya bukanlah tentara perempuan. Melainkan perempuan yang telah ditinggal suaminya atau janda. Suaminya itu meninggal dunia, bisa karena ditembak atau mendapat perlakuan keras dari pihak militer atau kepolisian Indonesia. Hal ini yang menyebabkan mereka akhirnya menjanda.

Fenomena Inong Bale ini muncul sekitar tahun 1989, saat "Operasi Jaring Merah" atau OJM diberlakukan di Daerah Istimewa Aceh--sebelum otonomi khusus diberikan kepada Aceh. Operasi ini digelar karena adanya penyerangan-penyerangan secara sporadis terhadap pos-pos polisi atau tentara di beberapa wilayah Aceh.

Dari penyerangan itu, bukan cuma senjata api yang hilang. Nyawa aparat keamanan juga banyak yang ikut melayang. Pelakunya tentu saja aktivis bersenjata Aceh yang menginginkan kemerdekaan dan lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, saat itu kekuatannya masih kecil. Tidak sebesar seperti sekarang ini.

OJM lebih banyak difokuskan kepada kegiatan intelijen. Penangkapan, kekerasan sampai pembunuhan dilakukan aparat yang mestinya mengayomi masyarakat. Dampaknya, tentu saja memunculkan rasa tak simpatik di kalangan masyarakat Aceh. Karena rasa itu, kaum muda dan tua bergabung dengan GAM. Para janda yang suaminya hilang atau meninggal dunia karena perlakuan aparat, akhirnya ikut pula bergabung. Dendam kesumatlah yang memotivasi mereka.

OJM justru malah memperbesar jumlah mereka. Aksi penyerangan dan sabotase terhadap fasilitas militer dan kepolisian, justru makin intens. Dinilai kurang cocok, akhirnya OJK dihentikan. Namun, operasi ala militer itu cuma berhenti tak lama. Era orde baru pun berganti menjadi era reformasi. Namun, pada 1999, di Aceh lagi-lagi diberlakukan operasi militer dan mendapat cap baru menjadi Daerah Operasi Militer (DOM).

DOM ternyata setali tiga uang. Tak jauh berbeda dengan OJM. Aksi kekerasan yang terjadi pun tak kalah serunya. Di sana-sani meninggalkan kekerasan dan menghilangkan nyawa. Di sana-sini pula menimbulkan dendam. Sebutan Inong Bale yang tadinya untuk janda, kini beralih. Kaum perempuan muda Aceh yang simpatik terhadap penderitaan rakyatnya sendiri, akhirnya ikut bergabung. Mereka memberikan segala kekuatan untuk mendukung perjuangan yang mereka yakini itu. Tak jarang, bergabung karena pelecehan atau diperkosa aparat.

Julukan Inong Bale sebagai tentara perempuan itu diberikan Panglima GAM Tengku Abdullah Syafei. Tetapi nama itu sempat diganti menjadi Laskariyah dengan arti yang sama sebagai tentara wanita GAM. Nama itu diberikan Panglima GAM Wilayah Jeunib yakni Tengku Darwis Jeunib. Sebutan itu berubah dan kembali ke julukan seperti sebelumnya. Dari Inong Bale menjadi Laskariyah dan kembali jadi Inong Bale.

Jumlah mereka tak ada yang pasti. Mediang Tengku Abdullah Syafei sempat mengklaim jumlah Inong Bale sekitar 2.000 orang. Klaim itu tak jauh berbeda dengan yang dikatakan juru bicara GAM Tengku Sofyan Daud. Namun, sumber Satgas Intelijen Komando Operasi (Koops) TNI di Lhokseumawe, Aceh Utara, menyebutnya sekitar 200-300 orang. Keberadaan mereka tersebar seantero Tanah Rencong.

Keberadaan mereka memang tak perlu diragukan. Dalam penyergapan yang menewaskan tujuh anggota marinir di perbukitan daerah Matang Kumbang, Jeumpa, Bireuen, ditemukan mayat perempuan. Senapan laras panjang juga ditemukan di dekat dirinya. Baik pihak Koops TNI dan GAM, sama-sama mengklaim mayat wanita itu adalah tentara wanita GAM. Kenyataan seperti itu sudah cukup membuktikan Inong Bale memang benar-benar ada.

Bukan cuma itu, pengakuan seorang anggota Brimob berpangkat bintara, juga ikut membuktikannya. Seorang Inong Bale pernah ditangkap Satuan Gabungan Intelijen (SGI) di kamp pengungsi Cot Gapu, Bireuen. Dia langsung digelandang ke pos keamanan. Interograsi yang dilakukan aparat intelijen mendapat hasil yang memuaskan bahwa ia benar-benar Inong Bale. Namun, sebelumnya pernah ditangkap dan ditahan sampai beberapa lama. Setelah keluar, ia menjadi "orang binaan" aparat intelijen.

''Kalau bisa dikatakan wanita itu sudah menjadi cuak (intelijen TNI-red). Kemungkinan yang dia lakukan di pengungsian, kegiatan kontra intelijen untuk memantau para cantoi (mata-mata GAM-red) yang menyusup dan berbaur dengan pengungsi,'' kata bintara polisi itu.

Bukan Pasukan Penyerang Dari informasi yang berhasil dihimpun Bali Post menyebutkan, aktivitas Inong Bale lebih banyak sebagai pemberi dukungan. Bukan sebagai pasukan penyerang. Mereka banyak memberikan informasi kegiatan TNI dan Polri dan dukungan logistik serta lainnya. Mengetahui perempuan itu Inong Bale atau bukan, lebih sukar ketimbang para pria. Mereka seperti ibu-ibu atau kaum wanita umumnya di Aceh.

Memang benar, kekerasan akan memunculkan kekerasan. Namun, sudah waktunya Jakarta memikirkan langkah yang lebih bijak dan diterima rakyat Aceh. Kekerasan sejak dulu, bukanlah jalan untuk menyelesaikan krisis di Tanah Rencong. Bahkan, sebaliknya akan memunculkan kekerasan baru dan terus-menerus. * Nasrudin

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com