Inong Bale, Tentara Wanita
GAM
Karena Balas
Dendam dan akibat Kekerasan
Peperangan dan kekerasan
bagian yang tak terpisahkan. Disengaja atau tidak, pastilah akan
melahirkan dendam. Begitulah yang terjadi di Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD). Sampai akhirnya memunculkan Inong Bale atau
tentara perempuannya Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Bagaimana
keberadaan mereka sebenarnya?
SELAIN
operasi pemulihan keamanan dalam bagian operasi terpadu di Aceh,
menyusul diberlakukannya darurat militer, operasi intelijen
dilakukan di sana. Hasilnya? Dua Inong Bale atau tentara wanita
GAM, telah ditangkap. Mereka itu, Rosmawati (52) dan Nurlaela
Lawat (25). Apakah mereka itu benar-benar Inong Bale, seperti
yang diklaim aparat keamanan?
Penangkapan terhadap dua
wanita itu sendiri dilakukan saat mereka hendak mengambil mayat
Abdul Jabar bin Abdul Mutholib (25). Mayat yang diamankan aparat
di rumah sakit di Tapak Tuan, itu merupakan Panglima Sagoe
Kreung Luwas, Trumon, Aceh Selatan. Penangkapan itu, tak lebih
didasari kecurigaan intelijen terhadap kedua wanita tersebut
yang ingin mengurus sesosok mayat yang penuh luka tembak.
Apakah benar, wanita
seperti Rosmawati dan Nurlaela Lawat yang dituduh sebagai Inong
Bale itu ada? Arti Inong Bale menurut bahasa Aceh, sebenarnya
bukanlah tentara perempuan. Melainkan perempuan yang telah
ditinggal suaminya atau janda. Suaminya itu meninggal dunia,
bisa karena ditembak atau mendapat perlakuan keras dari pihak
militer atau kepolisian Indonesia. Hal ini yang menyebabkan
mereka akhirnya menjanda.
Fenomena Inong Bale ini
muncul sekitar tahun 1989, saat "Operasi Jaring Merah"
atau OJM diberlakukan di Daerah Istimewa Aceh--sebelum otonomi
khusus diberikan kepada Aceh. Operasi ini digelar karena adanya
penyerangan-penyerangan secara sporadis terhadap pos-pos polisi
atau tentara di beberapa wilayah Aceh.
Dari penyerangan itu,
bukan cuma senjata api yang hilang. Nyawa aparat keamanan juga
banyak yang ikut melayang. Pelakunya tentu saja aktivis
bersenjata Aceh yang menginginkan kemerdekaan dan lepas dari
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, saat itu
kekuatannya masih kecil. Tidak sebesar seperti sekarang ini.
OJM lebih banyak
difokuskan kepada kegiatan intelijen. Penangkapan, kekerasan
sampai pembunuhan dilakukan aparat yang mestinya mengayomi
masyarakat. Dampaknya, tentu saja memunculkan rasa tak simpatik
di kalangan masyarakat Aceh. Karena rasa itu, kaum muda dan tua
bergabung dengan GAM. Para janda yang suaminya hilang atau
meninggal dunia karena perlakuan aparat, akhirnya ikut pula
bergabung. Dendam kesumatlah yang memotivasi mereka.
OJM justru malah
memperbesar jumlah mereka. Aksi penyerangan dan sabotase
terhadap fasilitas militer dan kepolisian, justru makin intens.
Dinilai kurang cocok, akhirnya OJK dihentikan. Namun, operasi
ala militer itu cuma berhenti tak lama. Era orde baru pun
berganti menjadi era reformasi. Namun, pada 1999, di Aceh
lagi-lagi diberlakukan operasi militer dan mendapat cap baru
menjadi Daerah Operasi Militer (DOM).
DOM ternyata setali tiga
uang. Tak jauh berbeda dengan OJM. Aksi kekerasan yang terjadi
pun tak kalah serunya. Di sana-sani meninggalkan kekerasan dan
menghilangkan nyawa. Di sana-sini pula menimbulkan dendam.
Sebutan Inong Bale yang tadinya untuk janda, kini beralih. Kaum
perempuan muda Aceh yang simpatik terhadap penderitaan rakyatnya
sendiri, akhirnya ikut bergabung. Mereka memberikan segala
kekuatan untuk mendukung perjuangan yang mereka yakini itu. Tak
jarang, bergabung karena pelecehan atau diperkosa aparat.
Julukan Inong Bale sebagai
tentara perempuan itu diberikan Panglima GAM Tengku Abdullah
Syafei. Tetapi nama itu sempat diganti menjadi Laskariyah dengan
arti yang sama sebagai tentara wanita GAM. Nama itu diberikan
Panglima GAM Wilayah Jeunib yakni Tengku Darwis Jeunib. Sebutan
itu berubah dan kembali ke julukan seperti sebelumnya. Dari
Inong Bale menjadi Laskariyah dan kembali jadi Inong Bale.
Jumlah mereka tak ada yang
pasti. Mediang Tengku Abdullah Syafei sempat mengklaim jumlah
Inong Bale sekitar 2.000 orang. Klaim itu tak jauh berbeda
dengan yang dikatakan juru bicara GAM Tengku Sofyan Daud. Namun,
sumber Satgas Intelijen Komando Operasi (Koops) TNI di
Lhokseumawe, Aceh Utara, menyebutnya sekitar 200-300 orang.
Keberadaan mereka tersebar seantero Tanah Rencong.
Keberadaan mereka memang
tak perlu diragukan. Dalam penyergapan yang menewaskan tujuh
anggota marinir di perbukitan daerah Matang Kumbang, Jeumpa,
Bireuen, ditemukan mayat perempuan. Senapan laras panjang juga
ditemukan di dekat dirinya. Baik pihak Koops TNI dan GAM,
sama-sama mengklaim mayat wanita itu adalah tentara wanita GAM.
Kenyataan seperti itu sudah cukup membuktikan Inong Bale memang
benar-benar ada.
Bukan cuma itu, pengakuan
seorang anggota Brimob berpangkat bintara, juga ikut
membuktikannya. Seorang Inong Bale pernah ditangkap Satuan
Gabungan Intelijen (SGI) di kamp pengungsi Cot Gapu, Bireuen.
Dia langsung digelandang ke pos keamanan. Interograsi yang
dilakukan aparat intelijen mendapat hasil yang memuaskan bahwa
ia benar-benar Inong Bale. Namun, sebelumnya pernah ditangkap
dan ditahan sampai beberapa lama. Setelah keluar, ia menjadi
"orang binaan" aparat intelijen.
''Kalau bisa dikatakan
wanita itu sudah menjadi cuak (intelijen TNI-red). Kemungkinan
yang dia lakukan di pengungsian, kegiatan kontra intelijen untuk
memantau para cantoi (mata-mata GAM-red) yang menyusup dan
berbaur dengan pengungsi,'' kata bintara polisi itu.
Bukan Pasukan Penyerang
Dari informasi yang berhasil dihimpun Bali Post menyebutkan,
aktivitas Inong Bale lebih banyak sebagai pemberi dukungan.
Bukan sebagai pasukan penyerang. Mereka banyak memberikan
informasi kegiatan TNI dan Polri dan dukungan logistik serta
lainnya. Mengetahui perempuan itu Inong Bale atau bukan, lebih
sukar ketimbang para pria. Mereka seperti ibu-ibu atau kaum
wanita umumnya di Aceh.
Memang benar, kekerasan
akan memunculkan kekerasan. Namun, sudah waktunya Jakarta
memikirkan langkah yang lebih bijak dan diterima rakyat Aceh.
Kekerasan sejak dulu, bukanlah jalan untuk menyelesaikan krisis
di Tanah Rencong. Bahkan, sebaliknya akan memunculkan kekerasan
baru dan terus-menerus. * Nasrudin
|