kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 29 Juni 2003 tarukan valas
 

GEBYAR


Jika ''Charlie's Angels'' Beraksi lagi

DUA cincin perak di tangan dua tokoh yang berbeda, hilang dicuri. Ini bukan cincin biasa, karena bila digabung akan dapat membaca kode untuk mengungkap database satu dokumen rahasia. Banyak pihak bahkan sampai kalangan kejahatan internasional menginginkan dokumen berisikan data mengenai mereka yang masuk dalam program perlindungan saksi pemerintah federal. Ketika korban mulai berjatuhan, Dylan Sanders, Natalie Cook, dan Alex Munday (tiga agen khusus dari biro detektif partikelir Townsend Detective Agency pimpinan Charlie) ditugaskan untuk turun tangan.

Beratnya, kali ini masalah sedikit melibatkan masa lalu Dylan yang ternyata salah satu saksi yang masuk program perlindungan dan masih dikejar-kejar mantan pacarnya yang hendak balas dendam, Seamus. Selain itu lawan utama mereka yang menjadi dalang di balik semua kejadian bukan orang asing bagi mereka, bahkan mengetahui seluk-beluk dan banyak hal tentang Charlie's Angels. Dia tak lain Madison Lee, mantan salah satu angel yang ambisius dan berubah jahat. Boleh juga, jagoannya wanita, lawan utamanya juga wanita.

Ketika ''Charlie's Angels'' dirilis dua tahun silam, sejumlah kalangan menganggap film yang diangkat dari serial televisi populer itu sebagai satu karya yang tidak ada apa-apanya. Ia tak bedanya dengan film laga kebanyakan yang menjual gelegar baku ledak dan baku tembak, serta pertarungan antartokohnya. Ia menarik ditonton karena kecantikan dan kesan seksi tiga pemeran utamanya, Cameron Diaz, Drew Barrymore dan Lucy Liu. Orang boleh saja menilai demikian, namun tak bisa dimungkiri, sebagai sebuah barang dagangan, Charlie's Angels termasuk laku keras dan memberi keuntungan tak sedikit bagi studio pembuatnya. Itu pula alasannya mengapa produsernya begitu semangat untuk menggarap sekuel atau kelanjutannya.

Seperti sekuel film lain yang diharapkan bisa lebih bagus dan lebih sukses dari film sebelumnya, "Charlie's Angels: Full Throttle" (CAFT) ini juga punya beban yang sama. Dari segi pemasukan memang belum bisa diketahui seberapa jauh film ini mampu menyedot uang, karena pemutaran perdana secara resmi di Amerika dan beberapa negara lain (termasuk di Bali) baru dimulai Jumat (27/6) lalu. Namun menyimak garapan McG (nama samaran Joseph McGinty Nicol) ini, bukan tak mungkin akan lebih berhasil dari film pertamanya. Ada beberapa alasan untuk itu bisa terjadi.

Dari segi bintang, selain tiga bidadari yang masih utuh tanpa penggantian pemain (Drew Barrymore, Cameron Diaz dan Lucy Liu), film ini juga menampilkan sederetan bintang yang cukup familiar di kalangan penggemar film, seperti Luke Wilson (sebagai pacar Cameron Diaz), Matt LeBlanc (sebagai pacar Lucy Liu), juga aktor kawakan Inggris John Cleese (sebagai ayah Lucy Liu).

Lain dari itu, perhatian pastilah tertuju pada munculnya aktris yang pernah menikmati bayaran tertinggi setelah melejit dengan film "Ghost", yakni Demi Moore. Sudah lama penggemar mantan istri aktor Bruce Willis ini tidak muncul dengan film terbaru yang mampu menyedot perhatian. Meskipun dalam CAFT porsinya bukan sebagai pemeran utama, malah menjadi tokoh antagonis yang harus dilenyapkan oleh trio bidadari jagoan. Sebagai pemeran Madison Lee, penampilan Demi Moore cukup mencuri perhatian, apalagi ia sempat terlibat duel tangan kosong dengan para bidadari jagoan. Suguhan adegan laga dalam CAFT juga digarap dengan apik, meskipun untuk beberapa bagian perkelahian maupun baku ledak film ini sangat mirip dengan gaya-gaya dalam film James Bond, Mission Impossible, atau perkelahian ala film The Matrix. Perhatikan saja prolognya yang mencekam ketika ketiga bidadari kabur dengan truk raksasa yang memuat helikopter, sementara di kedua ujung jembatan, dua bazoka siap menghantam.

Itu rada-rada mirip dengan prolog film "Die Another Day", "XXX", atau "The Transporter". Kalau gaya perkelahian para bidadari yang bisa berjumpalitan sambil menendang mengingatkan pada film laga Hongkong atau gaya The Matrix, maklum saja, karena penata kelahinya memang dari Hongkong, yakni Yuen Cheung Yan. Boleh disimak adegan yang tak kalah serunya di arena motocross, ketika tiga bidadari mengejar penjahat yang tengah memburu korban, sementara ada pihak ketiga yang berusaha menghabisi si penjahat untuk menghilangkan jejak. Semuanya berlangsung dari atas motor, sambil menendang juga jumpalitan lalu menembak dengan dua pistol.

CAFT bisa dibilang berhasil menjadi tontonan yang menghibur. Selain serangkaian adegan seru dan memanjakan mata (meskipun kadang terkesan muskil, lupakan saja dulu), film ini juga berhasil mencuatkan humor-humor segar. Lihat saja misalnya ketika Cameron Diaz kebelet buang air kecil dan terpaksa masuk kamar kecil pria, ia dengan santainya duduk di atas closet lalu memelorotkan celana dalam yang ternyata bergambar Spider-Man!

Kesan parodi yang juga mengundang senyum, ketika Jason (pacar Alex Munday yang diperankan Matt LeBlanc) diceritakan menjadi aktor dan sedang merilis film terbaru berjudul ''Measures Extreme 2" (ME-2), ada poster film dan baliho gede di depan gedung bioskop. Perhatikan saja, baik gambar maupun warna, posternya mencangkok film sukses Mission: Impossible 2 (MI-2). Menarik juga ketika adegan ayah Alex Munday yang diperankan John Cleese datang menjenguk putrinya, sang ayah mengatakan kalau hendak menjenguk ibu Alex yang sedang ada di Bali. Sayang tidak jadi, karena penerbangan ditunda. Hm, ditunda karena bom Bali atau karena SARS ya?
* Adnyana

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com