Film "Finding Nemo"
Memadu Gambar Indah
dan Pesan Moral
Walt Disney sekali lagi
menunjukkan keunggulan dalam menyuguhkan tayangan untuk segala
lapisan umur yang tak hanya menghibur, namun juga mengandung
pesan dan tuntunan. Bekerja sama dengan Pixar, yang terkenal
dengan karya computer graphic image (CGI), lahirlah
"Finding Nemo". Ini bukan kerja sama yang pertama,
karena sebelumnya Disney dan Pixar sudah menghasilkan "Toy
Story", "A Bug's Life" dan "Monxter
Inc." Yang menawarkan gaya baru dalam genre film animasi.
Dengan sentuhan CGI, film animasi tidak lagi tampil dua dimensi
seperti yang sudah-sudah atau masih banyak digunakan untuk
tayangan televisi.
JIKA
diurut sejak "Toy Story" hingga "Finding Nemo",
terlihat banyak kemajuan yang dilakukan. Gambar yang dihasilkan
makin halus, gerakannya makin luwes mendekati gerak asli, juga
kian cerdas dalam menggarap detil gambar sampai ke hal-hal kecil
dan efek pencahayaan. Memang, semua proses dituntaskan oleh
mesin, oleh komputer. Namun apalah artinya program komputer
tanpa ide-ide brilian mereka yang bergerak di belakangnya. Bagi
Disney sendiri, ini bukan pertama kali menggarap film animasi
yang mengangkat kehidupan di bawah laut. 11 tahun silam, Disney
sudah menghasilkan "Little Mermaid" yang mencetak
sukses besar. Bedanya, film tentang putri duyung itu masih
menjadi kartun dua dimensi. Selain itu "Finding Nemo"
juga lebih banyak menampilkan karakter mahluk penghuni dasar
laut, mulai dari ikan berbagai spesies sampai pasukan ubur-ubur
dan kuda laut.
Selain gambar yang bersih
dan indah, hal lain yang membuat "Finding Nemo" bisa
menjadi tontonan menarik yang seakan begitu dekat dengan
penonton, karena kepiawaian Disney dalam menggarap karakter
tokohnya, kemudian mempersonifikasikannya. Lihat saja bagaimana
ikan-ikan punya sekolah di bawah laut sana, sementara
anak-anaknya diajak keliling untuk belajar pengetahuan oleh ikan
pari, orangtua masing-masing berkumpul menunggu sambil ngobrol.
Bagaimana pula di bawah laut ternyata ada ikan yang berfungsi
sebagai "polisi pengatur lalu lintas" agar ikan-ikan
yang sedang berenang tidak tabrakan.
Kisah "Finding Nemo"
sebetulnya sederhana saja, tentang ayah yang kehilangan anaknya
dan berusaha dengan segenap tenaga serta upaya mencarinya
kembali. Kisah itu kemudian digarap sedemikian rupa hingga
berkembang menjadi petualangan yang menegangkan juga memberi
banyak pelajaran. Adalah Marlin, seekor ikan badut yang sangat
sayang kepada putranya, Nemo. Saking sayang, sikapnya begitu
overprotektif. Bahkan kepada guru di sekolah anaknya, Marlin
masih belum percaya penuh. Sementara Nemo yang mulai mengenal
pergaulan, lama-kelamaan ingin juga menunjukkan kepada sang ayah
kalau ia sudah besar dan bisa mengenal baik dan buruk. Justru
sikap melawan Nemo (yang antara lain tidak mengindahkan larangan
sang ayah untuk mendekati sebuah kapal) membawa bencana. Nemo
ditangkap seorang penyelam.
Sia-sia saja Marlin
mengejar kapal yang membawa si penyelam dan anaknya. Toh Marlin
menemukan kacamata selam berisi tulisan yang terjatuh dari kapal.
Berbekal inilah ia minta bantuan seekor ikan betina bernama
Dory. Mulanya Marlin dan Dory tidak cocok, namun akhirnya kompak
menuju ke Sidney (berdasarkan petunjuk di kaca mata) untuk
mencari jejak Nemo. Perjalanan dan berbagai rintangan ganasnya
kehidupan di bawah laut diam-diam menggembleng Marlin yang
semula phobia terhadap dunia luar menjadi tegar dan kuat. Di
sisi lain, Nemo yang tertangkap ditempatkan di sebuah akuarium
di ruangan seorang dokter gigi.
Bersama ikan lainnya, di
bawah pimpinan ikan loreng bernama Gill, mereka merencanakan
sebuah pelarian. Apalagi Nemo mendengar kabar dari seekor burung
pelikan yang sering bertengger di jendela dekat akuarium, kalau
ada ikan badut yang menjadi perbincangan karena kegigihannya
mengarungi samudera mencari putranya yang hilang. Happy ending,
itu sudah pasti, namun liku-liku hingga Nemo bertemu lagi dengan
ayahnya, pasti membuat penonton terkesan. Sejumlah pesan moral
tertangkap jelas dari "Finding Nemo". Hubungan dan
kasih sayang yang begitu kuat antara ayah dan anak, ternyata
bisa mengalahkan rasa takut. Marlin yang dulunya penakut, tanpa
disadari malah menjadi jagoan dan pahlawan. Demi bertemu kembali
dengan anaknya, ia mampu mengatasi berbagai rintangan mulai dari
menghadapi tiga ikan hiu, dihadang pasukan ubur-ubur, hingga
tertahan di dalam perut ikan paus. Padahal sebelumnya, naik ke
permukaan saja tak berani. Arti penting sahabat dalam suka dan
duka juga terungkap dari hubungan antara Marlin dan Dory, atau
antara Nemo dengan ikan penghuni akuarium.
* Adnyana
|