kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 29 Juni 2003 tarukan valas
 

GEBYAR


Film "Finding Nemo"

Memadu Gambar Indah dan Pesan Moral

Walt Disney sekali lagi menunjukkan keunggulan dalam menyuguhkan tayangan untuk segala lapisan umur yang tak hanya menghibur, namun juga mengandung pesan dan tuntunan. Bekerja sama dengan Pixar, yang terkenal dengan karya computer graphic image (CGI), lahirlah "Finding Nemo". Ini bukan kerja sama yang pertama, karena sebelumnya Disney dan Pixar sudah menghasilkan "Toy Story", "A Bug's Life" dan "Monxter Inc." Yang menawarkan gaya baru dalam genre film animasi. Dengan sentuhan CGI, film animasi tidak lagi tampil dua dimensi seperti yang sudah-sudah atau masih banyak digunakan untuk tayangan televisi.

JIKA diurut sejak "Toy Story" hingga "Finding Nemo", terlihat banyak kemajuan yang dilakukan. Gambar yang dihasilkan makin halus, gerakannya makin luwes mendekati gerak asli, juga kian cerdas dalam menggarap detil gambar sampai ke hal-hal kecil dan efek pencahayaan. Memang, semua proses dituntaskan oleh mesin, oleh komputer. Namun apalah artinya program komputer tanpa ide-ide brilian mereka yang bergerak di belakangnya. Bagi Disney sendiri, ini bukan pertama kali menggarap film animasi yang mengangkat kehidupan di bawah laut. 11 tahun silam, Disney sudah menghasilkan "Little Mermaid" yang mencetak sukses besar. Bedanya, film tentang putri duyung itu masih menjadi kartun dua dimensi. Selain itu "Finding Nemo" juga lebih banyak menampilkan karakter mahluk penghuni dasar laut, mulai dari ikan berbagai spesies sampai pasukan ubur-ubur dan kuda laut.

Selain gambar yang bersih dan indah, hal lain yang membuat "Finding Nemo" bisa menjadi tontonan menarik yang seakan begitu dekat dengan penonton, karena kepiawaian Disney dalam menggarap karakter tokohnya, kemudian mempersonifikasikannya. Lihat saja bagaimana ikan-ikan punya sekolah di bawah laut sana, sementara anak-anaknya diajak keliling untuk belajar pengetahuan oleh ikan pari, orangtua masing-masing berkumpul menunggu sambil ngobrol. Bagaimana pula di bawah laut ternyata ada ikan yang berfungsi sebagai "polisi pengatur lalu lintas" agar ikan-ikan yang sedang berenang tidak tabrakan.

Kisah "Finding Nemo" sebetulnya sederhana saja, tentang ayah yang kehilangan anaknya dan berusaha dengan segenap tenaga serta upaya mencarinya kembali. Kisah itu kemudian digarap sedemikian rupa hingga berkembang menjadi petualangan yang menegangkan juga memberi banyak pelajaran. Adalah Marlin, seekor ikan badut yang sangat sayang kepada putranya, Nemo. Saking sayang, sikapnya begitu overprotektif. Bahkan kepada guru di sekolah anaknya, Marlin masih belum percaya penuh. Sementara Nemo yang mulai mengenal pergaulan, lama-kelamaan ingin juga menunjukkan kepada sang ayah kalau ia sudah besar dan bisa mengenal baik dan buruk. Justru sikap melawan Nemo (yang antara lain tidak mengindahkan larangan sang ayah untuk mendekati sebuah kapal) membawa bencana. Nemo ditangkap seorang penyelam.

Sia-sia saja Marlin mengejar kapal yang membawa si penyelam dan anaknya. Toh Marlin menemukan kacamata selam berisi tulisan yang terjatuh dari kapal. Berbekal inilah ia minta bantuan seekor ikan betina bernama Dory. Mulanya Marlin dan Dory tidak cocok, namun akhirnya kompak menuju ke Sidney (berdasarkan petunjuk di kaca mata) untuk mencari jejak Nemo. Perjalanan dan berbagai rintangan ganasnya kehidupan di bawah laut diam-diam menggembleng Marlin yang semula phobia terhadap dunia luar menjadi tegar dan kuat. Di sisi lain, Nemo yang tertangkap ditempatkan di sebuah akuarium di ruangan seorang dokter gigi.

Bersama ikan lainnya, di bawah pimpinan ikan loreng bernama Gill, mereka merencanakan sebuah pelarian. Apalagi Nemo mendengar kabar dari seekor burung pelikan yang sering bertengger di jendela dekat akuarium, kalau ada ikan badut yang menjadi perbincangan karena kegigihannya mengarungi samudera mencari putranya yang hilang. Happy ending, itu sudah pasti, namun liku-liku hingga Nemo bertemu lagi dengan ayahnya, pasti membuat penonton terkesan. Sejumlah pesan moral tertangkap jelas dari "Finding Nemo". Hubungan dan kasih sayang yang begitu kuat antara ayah dan anak, ternyata bisa mengalahkan rasa takut. Marlin yang dulunya penakut, tanpa disadari malah menjadi jagoan dan pahlawan. Demi bertemu kembali dengan anaknya, ia mampu mengatasi berbagai rintangan mulai dari menghadapi tiga ikan hiu, dihadang pasukan ubur-ubur, hingga tertahan di dalam perut ikan paus. Padahal sebelumnya, naik ke permukaan saja tak berani. Arti penting sahabat dalam suka dan duka juga terungkap dari hubungan antara Marlin dan Dory, atau antara Nemo dengan ikan penghuni akuarium.

* Adnyana

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com