kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 29 Juni 2003 tarukan valas
 

GEBYAR


Ketika Karya-karya Unggulan Dipentaskan

Dari FKI III di Surabaya

Festival Kesenian Indonesia (FKI) adalah ajang unjuk karya seni unggulan perguruan tinggi seni se-Indonesia. Dalam FKI III di Surabaya yang berlangsung pada 19-23 Juli lalu, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang, STSI Bandung, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, STSI Surakarta, STSI Denpasar, dan Sekolah Tinggi Seni Wilwatikta (STKW) yang bertindak sebagai tuan rumah, telah menggelar dan memamerkan karya-karya seni pilihannya.

PERHELATAN seni dua tahun sekali ini, pada penyelenggaraannya kali ini mengangkat tema utama "Seni dan Identitas Bangsa". Dengan sub-tema "Etnisitas, Kreativitas, Identitas", menurut ketua panitia festival Prof. Dr. I Made Bandem, MA, diharapkan akan hadir karya-karya seni unggul yang tetap berakar pada seni tradisi Indonesia disertai semangat kreatif dan inovatif yang mampu mencuatkan identitas di tengah multikulturalisme nasional maupun global.

Tujuh program tinggi seni yang tersebar di Sumatera, Jawa, dan Bali itu hadir dengan nuansa etnik, gagasan kreatif, dan semangat pencarian estetiknya masing-masing. Dalam bidang seni pertunjukan, pada malam pertama, Jumat (20/6), tampil STSI Denpasar, STSI Padang Panjang dan ISI Yogyakarta. Selanjutnya, malam kedua, Sabtu (21/6), adalah giliran IKJ Jakarta, STKW Surabaya, STSI Bandung, dan STSI Surakarta.

Dengan judul "Kerta Ilang Sirnaning Bhumi" STSI Denpasar menyuguhkan paket pementasan teater wayang, konser musik dan gelar tari. STSI Padang Panjang menyusul dengan sajian drama "Ratok Gaek Palo" dan sebuah karya tari "Pengemis". Dalam sebuah olah seni teater wayang, ISI Yogyakarta hadir dengan lakon "Pesta Desa". STKW Surabaya menghentak dengan "Topeng Getak", tari "Selor", dan konser musik "Konser Timur". STSI Bandung menggebrak dengan tari kontemporer "Topeng Berokan". Sedangkan STSI Surakarta menyajikan kolaborasi seni tari, karawitan, dan pedalangan "Luluh Ngrengkuh Panggayuh" dalam bingkai artistik nan kontemplatif.

Pementasan karya-karya seni unggulan tujuh perguruan tinggi seni yang berlangsung di Surabaya itu kiranya sebuah peristiwa kesenian penting di pertengahan tahun 2003 ini. Surat kabar Jawa Pos misalnya, memuat gambar berwarna bleganjur tari "Sunda Upasunda" STSI Denpasar sebagai headline terbitan 20 Juni 2003. Tetapi sungguhkah pesta seni perguruan tinggi se-Indonesia itu cukup signifikan, khususnya bagi kalangan insan-insan seni dan masyarakat Surabaya?

Jika dicermati, pementasan seni pertunjukan yang dipusatkan di kampus STKW di kompleks perumahan Jalan Klampis Anom, Surabaya tersebut terasa "eksklusif". Sekitar 800-1000 penonton yang hadir selama dua malam itu sebagiannya adalah para peserta festival. Ke mana masyarakat umum, seniman, budayawan, dan para pemerhati seni setempat? Bukankah keberadaan seni sangat memerlukan dukungan masyarakat?

Kendati kurang bergaung di tengah masyarakat Surabaya, namun beragam pentas seni yang disajikan sungguh merupakan terobosan-terobosan yang menyegarkan bagi perjalanan seni pertunjukan kita. Para seniman akademis ini menawarkan, menggedor, memberi harapan-harapan dan kontribusinya pada jagat seni. Dialog seni dan silang apresiasi mengemuka elegan, jujur, tulus.

Karya seni pentas STSI Denpasar diguyur dengan beragam tanggapan yang melegakan. Dua penari STSI Bandung, Fitria Safini dan Wiwin Winarsih, mengungkapkan rasa kagumnya dengan penampilan STSI Denpasar. "Ini jujur lho, STSI Denpasar the best, pokoknya hebat deh," ujar mahasiswi semester VIII dan VI Jurusan Tari STSI Bandung itu. Menurutnya, "Kerta Ilang Sirnaning Bhumi" STSI Denpasar nanti akan dijadikan bahan kajian di kampusnya. Sementara itu, Clair Sumrall, penari ballet asal AS yang sedang getol mengamati kesenian Indonesia juga merasa salut atas pentas seni STSI Denpasar itu. "Anda harus berbangga," ujarnya kepada beberapa tim STSI Denpasar.

Sukses itu, menurut Dr. I Wayan Rai S.,MA, justru menjadi tantangan bagi perguruan tinggi yang dipimpinnya yang dalam waktu dekat ini akan diresmikan menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. "Ingat cakra yadnya, dalam dunia seni tidak ada istilah berhenti, terus berproses, bersemi dan berkembang," ujarnya di tengah berondongan salam hangat para pimpinan perguruan tinggi seni lainnya, seusai pementasan.

Seni Jadi Obat
Paket kreasi wayang, konser musik, dan garapan tari STSI Denpasar ini bertutur tentang prahara yang mengguncang bumi. Alkisah, dari langit di atas langit, Hyang Siwa melenggang ke mayapada, memadu cinta dengan Dewi Uma. Temu birahi nan mabuk kepayang lepas kendali ini tak urung mengoyak harmoni semesta yang berakibat sangat mengerikan. Siklus alam menjadi kacau, bumi gonjang-ganjing. Seisi jagat merana.

Ketika segenap makhluk hidup merintih, sedih dan pilu, sebaliknya setan-setan bersorak girang, berpesta pora. Para buta kala dan buta kali itu membujuk, menghasut, meracuni, dan mengadu domba manusia. Antarkelompok masyarakat, suku, agama dibenturkan dan dibiakkan dengan dendam kesumat. Sesama manusia digiring saling menyeringai, saling menghabisi dan baku bunuh.

Sang Tri Semaya gundah gulana menyaksikan tragedi yang menimpa alam semesta dan makhluk hidup penghuninya. Kelompok dewata ini turun menata kembali harmoni jagat dan keselarasan masyarakat manusia dengan latamahosadi kelanguan: seni dijadikan obat penyejuk kegersangan nurani dan penggugah perdamaian.

"Kerta Ilang Sirnaning Bhumi" yang disuguhkan dalam implementasi estetik wayang, karawitan, dan tari itu berlangsung selama satu jam. Wayang yang berdurasi 35 menit ini menguak menggugah. Melalui semptrotan LCD proyektor dan olahan gambar bergerak yang dikendalikan komputer, wayang yang dimainkan dari dua sisi layarnya dengan sorot lampu listrik warna-warni ini terasa menggigit. Kontekstualisasi cerita yang dilontarkan begitu menyentuh. Wayang multimedia ini mencengangkan penonton.

Sekitar 12 menit kemudian, bergulir konser musik yang bertutur tentang keserasian alam dan kedamaian yang terkoyak-koyak disebabkan oleh ketamakan dan carut marut krisis moral yang bergentayangan menggoda manusia. Melalui eksplorasi beberapa instrumen gong kebyar, olah vokal, dan angklung kocok, simbol-simbol musikal yang dihadirkan membersihkan keheningan, kegetiran, kengerian, kepasrahan, dan kenestapaan.

Delapan penari -- empat wanita dan empat pria -- kemudian berkisah tentang episode ketika para dewata menyusun siasat untuk menata kembali harmoni kehidupan di bumi. Selama 13 menit penonton terkesima. Raga tari yang mantap, pola lantai yang variatif dengan permainan tempo yang dinamis, ditambah dengan aksi konfigurasi nan rampak, baik dalam rentang vertikal dan cuatan-cuatan herisontal, menggetarkan rasa takjub penonton. Ending garapan ini dengan trik amat cepat menjadi raksasa berkepala bertingkat-tingkat dan bertangan banyak, direspons eluan pekik histeris disertai tepuk tangan yang membahana panjang.

Sebelumnya, ada dua raksasa kembar Sunda dan Upasunda mati saling membunuh karena mabuk birahi. Hasrat semula dari dua raksasa bersaudara ini adalah memperoleh kekuatan mahasakti mandraguna. Tetapi karena tergoda oleh kecantikan bidadari yang sengaja ditugaskan oleh para dewa untuk menggalkan tapa semadi raksasa itu, perang saudara pun tak terhindarkan Sunda dan Upasunda saling baku bunuh untuk mereguk cinta asmara sang bidadari.

Tragedi itu disajikan dalam sebuah seni pertunjukan bleganjur tari oleh STSI Denpasar pada pembukaan Festival Kesenian Indonesia (FKI) di kampus Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya pada Kamis (19/6). Sebelum penampilan bleganjur tari "Sunda Upasunda" STSI Denpasar -- setelah dimeriahkan dengan atraksi Reog -- diawali dengan pementasan "Rampak Kencak" STKW Surabaya yang dibawakan oleh puluhan penari putri. STSI Padang Panjang yang menyusul kemudian hadir dengan olah tari yang kental dengan lagak dan senyum cerianya. STSI Surakarta dengan iringan musik yang bising mementaskan aksi seni tari yang memadukan kelembutan tari putri dan kegarangan karakter tari pria.

"Sunda Upasunda" yang unjuk kebolehan pada bagian akhir pembukaan FKI itu memukau penonton. Garapan bleganjur tari yang dibawakan oleh empat penari putri, empat penari putra, dan diiringi oleh 20 orang penabuh bleganjur ini hadir padat, sekitar tujuh menit. Seni pentas yang tarinya ditata oleh Budiasa dan Parwata serta karawitannya oleh duet Diana dan Suwendra ini mempesona dengan nuansa segar dan tampak tetap berakar pada identitas seni tradisi Bali. Penari dan penabuh masuk arena pentas diiringi musik melodi anggun dengan ayunan langkah pelan tertata. Di tengah arena, tempo musik menanjak, delapan penari bergerak dengan ekspresi mantap. Pola lantai yang variatif dan dinamika yang gesit, mengalirkan getar-getar estetik. Simbol-simbol yang diformulasikn dan konfigurasi yang dicuatkan menggiring penonton pada tragedi mengenaskan drama kehidupan dari kisah Sunda dan Upasunda.

Seusai STSI Denpasar menyajikan kebolehannya, seluruh kontingen berpawai sepanjang dua kilometer, dari kampus STKW menuju Wisma Haji Sukolilo, tempat seluruh kontingen menginap. Sepanjang jalan yang dilalui, lalu lintas jadi semerawut dan suasana hiruk pikuk. Sementara kendaraan berseliweran lalu lalang, para peserta pawai asyik dengan beragam aksinya. Di bagian depan, empat penari cantik STSI Bandung, dengan geliat dan gelinjang erotis membuat penonton tertegun. Sedang di bagian belakang, derap gamelan bleganjur STSI Denpasar membuat penonton tercengang-cengang.

Tampak, baik saat pementasan pembukaan di STKW maupun ketika pawai, kurangnya sosialisasi atau barangkali tak acuhnya masyarakat kota Surabaya terhadap peristiwa seni. Antusiasme penonton tak begitu terasa. Masyarakat di sekitar kampus di Jalan Kelampis Anom itu terasa tak begitu tahu menahu dengan kegiatan seni bertahap nasional di Lingkungannya. Begitu juga sepanjang pawai yang dilalui, yang tampak menyaksikan adalah penonton yang kepergok, bukan masyarakat penonton yang dengan sengaja datang untuk menonton.

Kendati demikian, seluruh peserta festival tidak kehilangan gereget untuk mempersiapkan penyajian seninya. Pada malam pertama, Jumat (20/6) digelar karya seni STSI Denpasar, STSI Padang Panjang, IKJ Jakarta, dan ISI Yogyakarta. Pada malam kedua, Sabtu (21/6) disajikan karya seni STKW Surabaya, STSI Badung, dan STSI Surakarta.
* Kadek Suartaya

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com