Ketika Karya-karya Unggulan
Dipentaskan
Dari FKI III
di Surabaya
Festival Kesenian
Indonesia (FKI) adalah ajang unjuk karya seni unggulan perguruan
tinggi seni se-Indonesia. Dalam FKI III di Surabaya yang
berlangsung pada 19-23 Juli lalu, Sekolah Tinggi Seni Indonesia
(STSI) Padang Panjang, STSI Bandung, Institut Kesenian Jakarta (IKJ),
Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, STSI Surakarta, STSI
Denpasar, dan Sekolah Tinggi Seni Wilwatikta (STKW) yang
bertindak sebagai tuan rumah, telah menggelar dan memamerkan
karya-karya seni pilihannya.
PERHELATAN
seni dua tahun sekali ini, pada penyelenggaraannya kali ini
mengangkat tema utama "Seni dan Identitas Bangsa".
Dengan sub-tema "Etnisitas, Kreativitas, Identitas",
menurut ketua panitia festival Prof. Dr. I Made Bandem, MA,
diharapkan akan hadir karya-karya seni unggul yang tetap berakar
pada seni tradisi Indonesia disertai semangat kreatif dan
inovatif yang mampu mencuatkan identitas di tengah
multikulturalisme nasional maupun global.
Tujuh program tinggi seni
yang tersebar di Sumatera, Jawa, dan Bali itu hadir dengan
nuansa etnik, gagasan kreatif, dan semangat pencarian estetiknya
masing-masing. Dalam bidang seni pertunjukan, pada malam pertama,
Jumat (20/6), tampil STSI Denpasar, STSI Padang Panjang dan ISI
Yogyakarta. Selanjutnya, malam kedua, Sabtu (21/6), adalah
giliran IKJ Jakarta, STKW Surabaya, STSI Bandung, dan STSI
Surakarta.
Dengan judul "Kerta
Ilang Sirnaning Bhumi" STSI Denpasar menyuguhkan paket
pementasan teater wayang, konser musik dan gelar tari. STSI
Padang Panjang menyusul dengan sajian drama "Ratok Gaek
Palo" dan sebuah karya tari "Pengemis". Dalam
sebuah olah seni teater wayang, ISI Yogyakarta hadir dengan
lakon "Pesta Desa". STKW Surabaya menghentak dengan
"Topeng Getak", tari "Selor", dan konser
musik "Konser Timur". STSI Bandung menggebrak dengan
tari kontemporer "Topeng Berokan". Sedangkan STSI
Surakarta menyajikan kolaborasi seni tari, karawitan, dan
pedalangan "Luluh Ngrengkuh Panggayuh" dalam bingkai
artistik nan kontemplatif.
Pementasan karya-karya
seni unggulan tujuh perguruan tinggi seni yang berlangsung di
Surabaya itu kiranya sebuah peristiwa kesenian penting di
pertengahan tahun 2003 ini. Surat kabar Jawa Pos misalnya,
memuat gambar berwarna bleganjur tari "Sunda Upasunda"
STSI Denpasar sebagai headline terbitan 20 Juni 2003. Tetapi
sungguhkah pesta seni perguruan tinggi se-Indonesia itu cukup
signifikan, khususnya bagi kalangan insan-insan seni dan
masyarakat Surabaya?
Jika dicermati, pementasan
seni pertunjukan yang dipusatkan di kampus STKW di kompleks
perumahan Jalan Klampis Anom, Surabaya tersebut terasa "eksklusif".
Sekitar 800-1000 penonton yang hadir selama dua malam itu
sebagiannya adalah para peserta festival. Ke mana masyarakat
umum, seniman, budayawan, dan para pemerhati seni setempat?
Bukankah keberadaan seni sangat memerlukan dukungan masyarakat?
Kendati kurang bergaung di
tengah masyarakat Surabaya, namun beragam pentas seni yang
disajikan sungguh merupakan terobosan-terobosan yang menyegarkan
bagi perjalanan seni pertunjukan kita. Para seniman akademis ini
menawarkan, menggedor, memberi harapan-harapan dan kontribusinya
pada jagat seni. Dialog seni dan silang apresiasi mengemuka
elegan, jujur, tulus.
Karya seni pentas STSI
Denpasar diguyur dengan beragam tanggapan yang melegakan. Dua
penari STSI Bandung, Fitria Safini dan Wiwin Winarsih,
mengungkapkan rasa kagumnya dengan penampilan STSI Denpasar.
"Ini jujur lho, STSI Denpasar the best, pokoknya hebat deh,"
ujar mahasiswi semester VIII dan VI Jurusan Tari STSI Bandung
itu. Menurutnya, "Kerta Ilang Sirnaning Bhumi" STSI
Denpasar nanti akan dijadikan bahan kajian di kampusnya.
Sementara itu, Clair Sumrall, penari ballet asal AS yang sedang
getol mengamati kesenian Indonesia juga merasa salut atas pentas
seni STSI Denpasar itu. "Anda harus berbangga,"
ujarnya kepada beberapa tim STSI Denpasar.
Sukses itu, menurut Dr. I
Wayan Rai S.,MA, justru menjadi tantangan bagi perguruan tinggi
yang dipimpinnya yang dalam waktu dekat ini akan diresmikan
menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. "Ingat
cakra yadnya, dalam dunia seni tidak ada istilah berhenti, terus
berproses, bersemi dan berkembang," ujarnya di tengah
berondongan salam hangat para pimpinan perguruan tinggi seni
lainnya, seusai pementasan.
Seni Jadi Obat
Paket kreasi wayang, konser musik, dan garapan tari STSI
Denpasar ini bertutur tentang prahara yang mengguncang bumi.
Alkisah, dari langit di atas langit, Hyang Siwa melenggang ke
mayapada, memadu cinta dengan Dewi Uma. Temu birahi nan mabuk
kepayang lepas kendali ini tak urung mengoyak harmoni semesta
yang berakibat sangat mengerikan. Siklus alam menjadi kacau,
bumi gonjang-ganjing. Seisi jagat merana.
Ketika segenap makhluk
hidup merintih, sedih dan pilu, sebaliknya setan-setan bersorak
girang, berpesta pora. Para buta kala dan buta kali itu membujuk,
menghasut, meracuni, dan mengadu domba manusia. Antarkelompok
masyarakat, suku, agama dibenturkan dan dibiakkan dengan dendam
kesumat. Sesama manusia digiring saling menyeringai, saling
menghabisi dan baku bunuh.
Sang Tri Semaya gundah
gulana menyaksikan tragedi yang menimpa alam semesta dan makhluk
hidup penghuninya. Kelompok dewata ini turun menata kembali
harmoni jagat dan keselarasan masyarakat manusia dengan
latamahosadi kelanguan: seni dijadikan obat penyejuk kegersangan
nurani dan penggugah perdamaian.
"Kerta Ilang
Sirnaning Bhumi" yang disuguhkan dalam implementasi estetik
wayang, karawitan, dan tari itu berlangsung selama satu jam.
Wayang yang berdurasi 35 menit ini menguak menggugah. Melalui
semptrotan LCD proyektor dan olahan gambar bergerak yang
dikendalikan komputer, wayang yang dimainkan dari dua sisi
layarnya dengan sorot lampu listrik warna-warni ini terasa
menggigit. Kontekstualisasi cerita yang dilontarkan begitu
menyentuh. Wayang multimedia ini mencengangkan penonton.
Sekitar 12 menit kemudian,
bergulir konser musik yang bertutur tentang keserasian alam dan
kedamaian yang terkoyak-koyak disebabkan oleh ketamakan dan
carut marut krisis moral yang bergentayangan menggoda manusia.
Melalui eksplorasi beberapa instrumen gong kebyar, olah vokal,
dan angklung kocok, simbol-simbol musikal yang dihadirkan
membersihkan keheningan, kegetiran, kengerian, kepasrahan, dan
kenestapaan.
Delapan penari -- empat
wanita dan empat pria -- kemudian berkisah tentang episode
ketika para dewata menyusun siasat untuk menata kembali harmoni
kehidupan di bumi. Selama 13 menit penonton terkesima. Raga tari
yang mantap, pola lantai yang variatif dengan permainan tempo
yang dinamis, ditambah dengan aksi konfigurasi nan rampak, baik
dalam rentang vertikal dan cuatan-cuatan herisontal,
menggetarkan rasa takjub penonton. Ending garapan ini dengan
trik amat cepat menjadi raksasa berkepala bertingkat-tingkat dan
bertangan banyak, direspons eluan pekik histeris disertai tepuk
tangan yang membahana panjang.
Sebelumnya, ada dua
raksasa kembar Sunda dan Upasunda mati saling membunuh karena
mabuk birahi. Hasrat semula dari dua raksasa bersaudara ini
adalah memperoleh kekuatan mahasakti mandraguna. Tetapi karena
tergoda oleh kecantikan bidadari yang sengaja ditugaskan oleh
para dewa untuk menggalkan tapa semadi raksasa itu, perang
saudara pun tak terhindarkan Sunda dan Upasunda saling baku
bunuh untuk mereguk cinta asmara sang bidadari.
Tragedi itu disajikan
dalam sebuah seni pertunjukan bleganjur tari oleh STSI Denpasar
pada pembukaan Festival Kesenian Indonesia (FKI) di kampus
Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya pada Kamis
(19/6). Sebelum penampilan bleganjur tari "Sunda Upasunda"
STSI Denpasar -- setelah dimeriahkan dengan atraksi Reog --
diawali dengan pementasan "Rampak Kencak" STKW
Surabaya yang dibawakan oleh puluhan penari putri. STSI Padang
Panjang yang menyusul kemudian hadir dengan olah tari yang
kental dengan lagak dan senyum cerianya. STSI Surakarta dengan
iringan musik yang bising mementaskan aksi seni tari yang
memadukan kelembutan tari putri dan kegarangan karakter tari
pria.
"Sunda Upasunda"
yang unjuk kebolehan pada bagian akhir pembukaan FKI itu memukau
penonton. Garapan bleganjur tari yang dibawakan oleh empat
penari putri, empat penari putra, dan diiringi oleh 20 orang
penabuh bleganjur ini hadir padat, sekitar tujuh menit. Seni
pentas yang tarinya ditata oleh Budiasa dan Parwata serta
karawitannya oleh duet Diana dan Suwendra ini mempesona dengan
nuansa segar dan tampak tetap berakar pada identitas seni
tradisi Bali. Penari dan penabuh masuk arena pentas diiringi
musik melodi anggun dengan ayunan langkah pelan tertata. Di
tengah arena, tempo musik menanjak, delapan penari bergerak
dengan ekspresi mantap. Pola lantai yang variatif dan dinamika
yang gesit, mengalirkan getar-getar estetik. Simbol-simbol yang
diformulasikn dan konfigurasi yang dicuatkan menggiring penonton
pada tragedi mengenaskan drama kehidupan dari kisah Sunda dan
Upasunda.
Seusai STSI Denpasar
menyajikan kebolehannya, seluruh kontingen berpawai sepanjang
dua kilometer, dari kampus STKW menuju Wisma Haji Sukolilo,
tempat seluruh kontingen menginap. Sepanjang jalan yang dilalui,
lalu lintas jadi semerawut dan suasana hiruk pikuk. Sementara
kendaraan berseliweran lalu lalang, para peserta pawai asyik
dengan beragam aksinya. Di bagian depan, empat penari cantik
STSI Bandung, dengan geliat dan gelinjang erotis membuat
penonton tertegun. Sedang di bagian belakang, derap gamelan
bleganjur STSI Denpasar membuat penonton tercengang-cengang.
Tampak, baik saat
pementasan pembukaan di STKW maupun ketika pawai, kurangnya
sosialisasi atau barangkali tak acuhnya masyarakat kota Surabaya
terhadap peristiwa seni. Antusiasme penonton tak begitu terasa.
Masyarakat di sekitar kampus di Jalan Kelampis Anom itu terasa
tak begitu tahu menahu dengan kegiatan seni bertahap nasional di
Lingkungannya. Begitu juga sepanjang pawai yang dilalui, yang
tampak menyaksikan adalah penonton yang kepergok, bukan
masyarakat penonton yang dengan sengaja datang untuk menonton.
Kendati demikian, seluruh
peserta festival tidak kehilangan gereget untuk mempersiapkan
penyajian seninya. Pada malam pertama, Jumat (20/6) digelar
karya seni STSI Denpasar, STSI Padang Panjang, IKJ Jakarta, dan
ISI Yogyakarta. Pada malam kedua, Sabtu (21/6) disajikan karya
seni STKW Surabaya, STSI Badung, dan STSI Surakarta.
* Kadek Suartaya
|