kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 29 Juni 2003 tarukan valas
 

CERMIN


Psikologi Anak Oleh Retno W. Kusuma

Mongoloid Syndrome, Apa Itu?

Pada umumnya bayi dengan sindrom mongoloid akan memiliki IQ antara 20-60. Jadi potensi kecerdasan anak cenderung berfungsi pada mental retardasi ringan, menengah atau berat. Mereka membutuhkan lebih banyak perhatian dan perangsangan agar perkembangan fisik/motorik, sosial kognitif maupun bahasanya mendekati anak normal.

SEBULAN yang lalu, adik ipar saya melahirkan anak pertamanya, seorang laki-laki, setelah 5 tahun menunggu untuk bisa hamil. Namun mereka sekarang justru bersedih karena menurut dokter anaknya menderita mongoloid syndrome, yang bisa dideteksi dari raut wajahnya yang seperti orang Mongol.

Pertanyaan saya:
Apa sebenarnya penyebab seorang bayi bisa kena syndrome mongoloid? Apakah ada faktor keturunan, tapi dari keturunan kami tidak ada yang seperti itu, semua norma-normal saja.

Apakah benar anak ini akan berkembang menjadi anak idiot dan harus sekolah di SLB nantinya?
Benarkah umurnya akan pendek? Apakah sepanjang hidupnya akan terus tergantung pada keluarga?
Apakah wajahnya bisa dioperasi agar lebih mirip dengan kedua orangtuanya?

Mohon jawaban ibu segera untuk membuka wawasan kami ke depan tentang anak tersebut serta sedikit memberikan hiburan dan harapan pada keluarga besar kami. Terima kasih.

X, Denpasar

Bagaimana pun kondisi anak, mari kita terima ''anugerah dari Tuhan'' ini dengan tangan terbuka dan rasa syukur. Segera bangkit ya Bu dari rasa pesimis dan khawatir yang berlebihan. Bayi itu membutuhkan air susu, rasa aman, ketenangan dan lingkungan yang penuh kasih sayang untuk bisa tumbuh secara optimal.

Syndrome Mongoloid atau sering dikenal dengan Syndrome Down, disebabkan oleh banyak faktor. Kemungkinan pertama, faktor genetik, yaitu adanya sejarah keluarga yang menderita Sindrom Mongoloid. Ataupun adanya kelainan kromosom pada orangtuanya, ini membutuhkan biaya yang cukup mahal untuk mendeteksinya.

Kemungkinan kedua, keadaan ibu selama hamil. Misalnya pada 3 bulan pertama kehamilan, pernah terkena penyakit cacar atau rubella, menggunakan obat-obatan tertentu untuk jangka waktu yang cukup lama, terkena radiasi sinar X, hypothyroid bawaan sejak dalam kandungan, kelahiran premature sebelum kehamilan 38 minggu, infeksi toxoplasmosis, ibu perokok berat, alkoholoc maupun mengalami malnutrisi berat.

Kemungkinan ketiga, saat kelahiran. Misalnya terjadi anoxia juga kekurangan O2 saat lahir sehingga bayi tidak menangis. Atau pada kelahiran yang sulit dan menggunakan alat.

Kemungkinan keempat, keadaan setelah lahir. Misalnya infeksi encephalitis, hydrocephalus, meningitis (sering mengalami kejang-kejang) atau malnutrisi berat.

Pada umumnya bayi dengan sindrom mongoloid akan memiliki IQ berkisar antara 20-60. Istilah idiot rasanya kok terlalu kejam dan tidak menghargai kemampuan yang masih mereka miliki, meskipun sedikit. Jadi potensi kecerdasan anak akan cenderung berfungsi pada mental retardasi ringan, menengah atau berat. Memang perkembangannya akan jauh di bawah anak-anak yang normal, demikian pula daya tangkap atau kecerdasannya. Mereka membutuhkan lebih banyak perhatian dan perangsangan agar perkembangan fisik/motorik, sosial kognitif maupun bahasanya mendekati anak normal.

Maka sebaiknya, terima dia sebagai ''anugerah Tuhan'', berilah kasih sayang, perhatian dan kelekatan sehingga dia merasakan lingkungan yang aman, bukan perasaan ditolak dan dianggap memiliki ''kelainan''. Niscaya dia akan tumbuh menjadi anak yang sehat, percaya diri dan mampu mengembangkan emosinya dengan hangat pada lingkungannya. Perlakukan dia seperti anak normal lainnya, rangsanglah secara optimal dan intensif kemampuan yang dimilikinya dengan mempertimbangkan keterbatasan-keterbatasannya. Latihlah motorik kasar maupun motorik halusnya, terus ajak berbicara untuk merangsang kemampuan berkomunikasinya, lebih banyaklah untuk memeluk dan mengajaknya bercanda untuk menunjukkan bahwa kita tetap menerima dan menyayangi dia apa adanya.

Beranjak besar nanti, jangan terlalu melindungi atau overproteksi karena ''keterbatasan'' yang dimilikinya, kondisi ini justru sering membuat mereka ''tidak berdaya'' dan menghambat perkembangannya. Maka secara bertahap latihlah dia untuk mengerjakan tugas-tugas sederhana terutama yang berkaitan dengan kemandiriannya kelak. Misalnya biarkan dia belajar makan sendiri, memakai baju, mandi, memakai sepatu dan sebagainya, bahkan ajarkan pula untuk tugas-tugas sederhana yang tidak berbahaya dan berfungsi membantu orang lain seperti menyapu, mengepel lantai atau menyiram bunga. Paling tidak dengan kemandiriannya ini akan meminimalisasi ketergantungannya pada orang lain.

Pada usia 4-5 tahun ''titipkan'' pada taman bermain atau TK untuk merangsang kemampuan bersosialisasi maupun bahasanya. Biarkan dia bermain dan menikmati masa kanak-kanak tanpa merasa berbeda dengan anak lainnya. Apabila sudah siap masuk sekolah dasar, tentu lebih baik dia masuk SLB-C, lembaga pendidikan yang memang dipersiapkan untuk membantu anak dengan kemampuan terbatas dengan kurikulum yang disesuaikan dengan kemampuan yang dimilikinya.

Bedah plastik agar wajahnya mirip kedua orangtuanya, rasanya terlalu berisiko tinggi Bu. Toh tidak akan mengubah kecerdasannya, dan tentu ini hanya akan menyakitkannya. Masalah panjang pendeknya umur, Tuhan yang menentukan Bu, ini tidak perlu terlalu dicemaskan dan membuat kita bersedih hati.

Sekali lagi, mari kita terima dia apa adanya sebagai ''titipan'' Tuhan yang harus kita jaga dan rawat sebaik-baiknya dengan ketulusan dan kasih sayang. Ini merupakan langkah pertama untuk merangsangnya tumbuh lebih optimal. Kalau Ibu berkenan untuk memperluas wawasan sekaligus merencanakan program tumbuh kembangnya agar lebih optimal, silakan datang ke Klinik Tumbuh Kembang Perjan RS Sanglah setiap hari Kamis. Saya tunggu Bu. Salam manis.

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com