Psikologi Anak Oleh
Retno W. Kusuma
Mongoloid Syndrome,
Apa Itu?
Pada umumnya bayi dengan
sindrom mongoloid akan memiliki IQ antara 20-60. Jadi potensi
kecerdasan anak cenderung berfungsi pada mental retardasi ringan,
menengah atau berat. Mereka membutuhkan lebih banyak perhatian
dan perangsangan agar perkembangan fisik/motorik, sosial
kognitif maupun bahasanya mendekati anak normal.
SEBULAN
yang lalu, adik ipar saya melahirkan anak pertamanya, seorang
laki-laki, setelah 5 tahun menunggu untuk bisa hamil. Namun
mereka sekarang justru bersedih karena menurut dokter anaknya
menderita mongoloid syndrome, yang bisa dideteksi dari raut
wajahnya yang seperti orang Mongol.
Pertanyaan saya:
Apa sebenarnya penyebab seorang bayi bisa kena syndrome
mongoloid? Apakah ada faktor keturunan, tapi dari keturunan kami
tidak ada yang seperti itu, semua norma-normal saja.
Apakah benar anak ini akan
berkembang menjadi anak idiot dan harus sekolah di SLB nantinya?
Benarkah umurnya akan pendek? Apakah sepanjang hidupnya akan
terus tergantung pada keluarga?
Apakah wajahnya bisa dioperasi agar lebih mirip dengan kedua
orangtuanya?
Mohon jawaban ibu segera
untuk membuka wawasan kami ke depan tentang anak tersebut serta
sedikit memberikan hiburan dan harapan pada keluarga besar kami.
Terima kasih.
X, Denpasar
Bagaimana pun kondisi anak,
mari kita terima ''anugerah dari Tuhan'' ini dengan tangan
terbuka dan rasa syukur. Segera bangkit ya Bu dari rasa pesimis
dan khawatir yang berlebihan. Bayi itu membutuhkan air susu,
rasa aman, ketenangan dan lingkungan yang penuh kasih sayang
untuk bisa tumbuh secara optimal.
Syndrome Mongoloid atau
sering dikenal dengan Syndrome Down, disebabkan oleh banyak
faktor. Kemungkinan pertama, faktor genetik, yaitu adanya
sejarah keluarga yang menderita Sindrom Mongoloid. Ataupun
adanya kelainan kromosom pada orangtuanya, ini membutuhkan biaya
yang cukup mahal untuk mendeteksinya.
Kemungkinan kedua, keadaan
ibu selama hamil. Misalnya pada 3 bulan pertama kehamilan,
pernah terkena penyakit cacar atau rubella, menggunakan
obat-obatan tertentu untuk jangka waktu yang cukup lama, terkena
radiasi sinar X, hypothyroid bawaan sejak dalam kandungan,
kelahiran premature sebelum kehamilan 38 minggu, infeksi
toxoplasmosis, ibu perokok berat, alkoholoc maupun mengalami
malnutrisi berat.
Kemungkinan ketiga, saat
kelahiran. Misalnya terjadi anoxia juga kekurangan O2 saat lahir
sehingga bayi tidak menangis. Atau pada kelahiran yang sulit dan
menggunakan alat.
Kemungkinan keempat,
keadaan setelah lahir. Misalnya infeksi encephalitis,
hydrocephalus, meningitis (sering mengalami kejang-kejang) atau
malnutrisi berat.
Pada umumnya bayi dengan
sindrom mongoloid akan memiliki IQ berkisar antara 20-60.
Istilah idiot rasanya kok terlalu kejam dan tidak menghargai
kemampuan yang masih mereka miliki, meskipun sedikit. Jadi
potensi kecerdasan anak akan cenderung berfungsi pada mental
retardasi ringan, menengah atau berat. Memang perkembangannya
akan jauh di bawah anak-anak yang normal, demikian pula daya
tangkap atau kecerdasannya. Mereka membutuhkan lebih banyak
perhatian dan perangsangan agar perkembangan fisik/motorik,
sosial kognitif maupun bahasanya mendekati anak normal.
Maka sebaiknya, terima dia
sebagai ''anugerah Tuhan'', berilah kasih sayang, perhatian dan
kelekatan sehingga dia merasakan lingkungan yang aman, bukan
perasaan ditolak dan dianggap memiliki ''kelainan''. Niscaya dia
akan tumbuh menjadi anak yang sehat, percaya diri dan mampu
mengembangkan emosinya dengan hangat pada lingkungannya.
Perlakukan dia seperti anak normal lainnya, rangsanglah secara
optimal dan intensif kemampuan yang dimilikinya dengan
mempertimbangkan keterbatasan-keterbatasannya. Latihlah motorik
kasar maupun motorik halusnya, terus ajak berbicara untuk
merangsang kemampuan berkomunikasinya, lebih banyaklah untuk
memeluk dan mengajaknya bercanda untuk menunjukkan bahwa kita
tetap menerima dan menyayangi dia apa adanya.
Beranjak besar nanti,
jangan terlalu melindungi atau overproteksi karena ''keterbatasan''
yang dimilikinya, kondisi ini justru sering membuat mereka ''tidak
berdaya'' dan menghambat perkembangannya. Maka secara bertahap
latihlah dia untuk mengerjakan tugas-tugas sederhana terutama
yang berkaitan dengan kemandiriannya kelak. Misalnya biarkan dia
belajar makan sendiri, memakai baju, mandi, memakai sepatu dan
sebagainya, bahkan ajarkan pula untuk tugas-tugas sederhana yang
tidak berbahaya dan berfungsi membantu orang lain seperti
menyapu, mengepel lantai atau menyiram bunga. Paling tidak
dengan kemandiriannya ini akan meminimalisasi ketergantungannya
pada orang lain.
Pada usia 4-5 tahun ''titipkan''
pada taman bermain atau TK untuk merangsang kemampuan
bersosialisasi maupun bahasanya. Biarkan dia bermain dan
menikmati masa kanak-kanak tanpa merasa berbeda dengan anak
lainnya. Apabila sudah siap masuk sekolah dasar, tentu lebih
baik dia masuk SLB-C, lembaga pendidikan yang memang
dipersiapkan untuk membantu anak dengan kemampuan terbatas
dengan kurikulum yang disesuaikan dengan kemampuan yang
dimilikinya.
Bedah plastik agar
wajahnya mirip kedua orangtuanya, rasanya terlalu berisiko
tinggi Bu. Toh tidak akan mengubah kecerdasannya, dan tentu ini
hanya akan menyakitkannya. Masalah panjang pendeknya umur, Tuhan
yang menentukan Bu, ini tidak perlu terlalu dicemaskan dan
membuat kita bersedih hati.
Sekali lagi, mari kita
terima dia apa adanya sebagai ''titipan'' Tuhan yang harus kita
jaga dan rawat sebaik-baiknya dengan ketulusan dan kasih sayang.
Ini merupakan langkah pertama untuk merangsangnya tumbuh lebih
optimal. Kalau Ibu berkenan untuk memperluas wawasan sekaligus
merencanakan program tumbuh kembangnya agar lebih optimal,
silakan datang ke Klinik Tumbuh Kembang Perjan RS Sanglah setiap
hari Kamis. Saya tunggu Bu. Salam manis.
|