kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 29 Juni 2003 tarukan valas
 

BERITA


Putu Wijaya Bawa ''Setan'' ke PKB

SENIMAN Putu Wijaya dalam pentas teaternya di Taman Budaya Denpasar, Sabtu (28/6) malam kemarin membawakan garapan ''Setan'' dalam bentuk monolog. Penampilan pimpinan Teater Mandiri serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-25 itu didukung pula oleh sejumlah seniman Bali asal Singaraja dan Denpasar. Selain ''Setan'', Putu Wijaya juga membawakan tiga cerita lain yang menjadi satu kesatuan yakni ''Demokrasi'', ''Kemerdekaan'' dan ''Memek''.

Putu Wijaya dalam PKB kali ini rencananya membawa pertunjukan lengkap dengan melibatkan sejumlah personel Teater Mandiri. Tetapi karena pertimbangan teknis, ia akhirnya hanya menampilkan monolog. Selain dibantu seniman Bali, juga empat seniman yang tergabung dalam Teater Mandiri seperti Alung Saroja, Ucok Utagaul, Kardi dan Agung Wibisana. Dalam penampilan itu mereka berkreasi di belakang layar, dan sekali-kali muncul bersama di panggung.

Pertunjukan yang sarat dengan kritik sosial itu mampu memukau penonton di gedung Ksirarnawa. Garapan yang berdurasi sekitar dua jam itu merupakan bentuk-bentuk kesaksian dan opini Putu Wijaya yang putra Bali kelahiran Tabanan. Apa yang dilihat dan disaksikan dalam negeri ini kembali diungkap dalam bahasa seni, seperti setan yang ingin menjadi pahlawan. Dalam bahasa Putu Wijaya, setan-setan telah merasuki relung hati manusia.

Demikian juga dalam cerita berjudul ''Demokrasi'', Putu mengungkapkan bahwa kata itu telah diinterpretasikan berbeda-beda, termasuk praktiknya yang berbeda dari makna sesungguhnya. Atas nama demokrasi, segala sesuatunya bisa dihalalkan.

Dalam cerita ''Memek'', Putu sesungguhnya ingin menyampaikan bahwa kebenaran adalah hal yang mahal. Orang jarang berani mengungkap kebenaran, terkadang nyawa taruhannya. Cerita itu memang terkesan porno, karena tokoh Agus dalam cerita itu ingin tahu apa sesungguhnya barang yang bernama memek. Karena hal itu dianggap tabu, Agus tidak mendapatkan jawaban yang benar. Terakhir, Agus menanyakan makna itu kepada Bu Guru di sekolah. Sebagai seorang pendidik, Bu Guru harus bersedia menjelaskan sejelas-jelasnya. Bu Guru pun memperlihatkan ''anu''-nya kepada Agus dan teman-temannya. Apa yang terjadi, Bu Guru harus kehilangan nyawa karena telah dianggap tidak bermoral dan mengajarkan hal-hal yang jorok kepada murid. (lun)

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com