Putu Wijaya
Bawa ''Setan'' ke PKB
SENIMAN
Putu Wijaya dalam pentas teaternya di Taman Budaya Denpasar,
Sabtu (28/6) malam kemarin membawakan garapan ''Setan'' dalam
bentuk monolog. Penampilan pimpinan Teater Mandiri serangkaian
Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-25 itu didukung pula oleh sejumlah
seniman Bali asal Singaraja dan Denpasar. Selain ''Setan'', Putu
Wijaya juga membawakan tiga cerita lain yang menjadi satu
kesatuan yakni ''Demokrasi'', ''Kemerdekaan'' dan ''Memek''.
Putu Wijaya dalam PKB kali
ini rencananya membawa pertunjukan lengkap dengan melibatkan
sejumlah personel Teater Mandiri. Tetapi karena pertimbangan
teknis, ia akhirnya hanya menampilkan monolog. Selain dibantu
seniman Bali, juga empat seniman yang tergabung dalam Teater
Mandiri seperti Alung Saroja, Ucok Utagaul, Kardi dan Agung
Wibisana. Dalam penampilan itu mereka berkreasi di belakang
layar, dan sekali-kali muncul bersama di panggung.
Pertunjukan yang sarat
dengan kritik sosial itu mampu memukau penonton di gedung
Ksirarnawa. Garapan yang berdurasi sekitar dua jam itu merupakan
bentuk-bentuk kesaksian dan opini Putu Wijaya yang putra Bali
kelahiran Tabanan. Apa yang dilihat dan disaksikan dalam negeri
ini kembali diungkap dalam bahasa seni, seperti setan yang ingin
menjadi pahlawan. Dalam bahasa Putu Wijaya, setan-setan telah
merasuki relung hati manusia.
Demikian juga dalam cerita
berjudul ''Demokrasi'', Putu mengungkapkan bahwa kata itu telah
diinterpretasikan berbeda-beda, termasuk praktiknya yang berbeda
dari makna sesungguhnya. Atas nama demokrasi, segala sesuatunya
bisa dihalalkan.
Dalam cerita ''Memek'',
Putu sesungguhnya ingin menyampaikan bahwa kebenaran adalah hal
yang mahal. Orang jarang berani mengungkap kebenaran, terkadang
nyawa taruhannya. Cerita itu memang terkesan porno, karena tokoh
Agus dalam cerita itu ingin tahu apa sesungguhnya barang yang
bernama memek. Karena hal itu dianggap tabu, Agus tidak
mendapatkan jawaban yang benar. Terakhir, Agus menanyakan makna
itu kepada Bu Guru di sekolah. Sebagai seorang pendidik, Bu Guru
harus bersedia menjelaskan sejelas-jelasnya. Bu Guru pun
memperlihatkan ''anu''-nya kepada Agus dan teman-temannya. Apa
yang terjadi, Bu Guru harus kehilangan nyawa karena telah
dianggap tidak bermoral dan mengajarkan hal-hal yang jorok
kepada murid. (lun)
|