kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 29 Juni 2003 tarukan valas
 

BERITA


Kilas Balik Penerima "K. Nadha Nugraha" 2003

Tjok Sayoga Berpengalaman Kewartawanan 

Tjokorda Bagus Sayoga (almarhum) lahir pada Rabu Pahing Wuku Kuningan, 26 September 1923 di Puri Satria, Denpasar. Keluarga Puri Satria dimotori Yayasan Kepustakaan Bung Karno (YKBK) bekerja sama dengan Yayasan Pengkaderan Nasional Shri Wedastera Suyasa menggelar pameran foto dan diskusi menyoal sosok almarhum selama tiga malam. Pembukaan aktivitas di Puri Satria itu dilaksanakan Menteri Tenaga Kerja RI Jacob Nuwa Wea pada Rabu (25/6) malam, selanjutnya ditutup Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Drs. Tarman Azzam pada Jumat (27/6) pukul 24.00, sesaat menjelang Hari Raya Kuningan, Sabtu (28/6).

DUA tahun lalu, 5 Januari 2001, tokoh pers Bali K. Nadha, perintis yang sekaligus mengabdikan sepenuh hidupnya di pers khususnya Bali Post dipanggil Yang Mahakuasa. Untuk menghargai jasa Sang Perintis, Kelompok Media Bali Post (KMB), sebagai penerus cita-cita perjuangan almarhum, mengabadikan nama K. Nadha untuk sebuah gedung kegiatan pers dengan sebutan "Gedung Pers Bali K. Nadha", berlokasi di Jalan Kebo Iwa Denpasar yang peresmiannya dilaksanakan pada Redite Umanis Wuku Merakih (Minggu, 5 Januari 2003). Nama K. Nadha sebagai perintis pers di Bali itu pun, juga diabadikan oleh Persatuan Wartawan Indonesia Cabang Bali. Bina Warta Graha, adalah nama lama Gedung PWI Bali di Lumintang; atas kesepakatan pengurus pleno, kini telah diganti namanya menjadi Pusat Pengembangan dan Pembinaan Pers Granadha PWI Cabang Bali.

Akan halnya "Gedung Pers Bali K. Nadha", akan dimanfaatkan oleh Kelompok Media Bali Post (KMB) untuk kegiatan pers multimedia. Di sinilah nanti diharapkan akan dapat ditemui catatan sejarah Bali khususnya dalam bentuk cetak maupun audio visual. Tokoh-tokoh Bali yang berperan penting berdasarkan pilihan pers khususnya KMB akan diabadikan dalam bentuk patung perunggu lengkap dengan hasil karya mereka dan peninggalannya. Diharapkan, dari gedung ini akan dapat disimak perjalanan sejarah Bali di kemudian hari oleh generasi penerusnya. Nantinya gedung ini akan dilengkapi seluruh data dan patung para bupati se-Bali, wali kota, gubernur, Ketua DPRD Bali, Panglima, dan Kapolda yang pernah menjabat di Bali.

Penerus cita-cita dan perjuangan K. Nadha melalui KMB menyadari bahwa perjuangannya mengajegkan Bali tidak bisa terwujud tanpa kerja bersama seluruh masyarakat Bali. Oleh karena itulah, tiap tahun sejak 2002 lalu, Bali Post mempersembahkan "K. Nadha Nugraha" kepada tokoh-tokoh berbagai bidang yang tak henti-hentinya mengabdikan dirinya dan menunjukkan komitmen mulia bagi Bali. Salah seorang yang memperoleh "K. Nadha Nugraha" tahun 2003 adalah almarhum Tjokorda Bagus Sayoga dalam kapasitasnya sebagai politikus.

*****

TJOKORDA Bagus Sayoga yang akrab dipanggil Pak Tjok atau Pak Tjok Bagus, lahir pada Rabu (Buda Pahing Wuku Kuningan) 26 September 1923 di Puri Satria, Denpasar. Menurut "kalender Bali" tanggal 25 Juni 2003 bertepatan dengan Buda Pahing Wuku Kuningan; hari yang dipilih menyoal sosok almarhum itu tadi.

Ayahnya, Tjokorda Alit Ngurah, adalah satu-satunya keturunan Raja Badung yang selamat dari perang Puputan Badung tahun 1906. Dengan demikian, almarhum Tjok Bagus Sayoga sesungguhnya adalah keturunan Raja Badung. Sebagai "orang puri", almarhum memiliki perhatian di bidang kesenian dan terjun dalam kancah perjuangan. Namun sesudah Proklamasi Kemerdekaan RI, waktunya banyak digunakan untuk terjun di gelanggang politik. Kancah perpolitikan membuat dirinya dekat dengan rakyat.

Almarhum masuk HIS (Holland Inlandsche School) di Denpasar, dan tahun 1940 melanjutkan ke MULO (Mer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Solo. Di antara sesama pelajar Bali di rantau inilah, Pak Tjok aktif di bidang seni dan tabuh serta olah raga seperti renang dan pencak silat. Tjok Bagus terpaksa pulang ke Bali, meninggalkan pendidikan, tahun 1942 menyusul kekacauan kehidupan sosial politik akibat penjajahan Jepang.

Sejak pulang dari Solo, Pak Tjok aktif dalam perjuangan, misalnya datang ke Jawa untuk menghadap Presiden Soekarno menyatakan surat kesetiaan kepada Republik Indonesia tahun 1946, dan menjadi Kepala Intelijen di Markas Kota Pusat (MKP) tahun 1947, dengan tugas antara lain menyampaikan informasi untuk penyusunan gerakan bawah tanah. Atas perjuangannya ini, almarhum pernah ditangkap NICA dan ditahan di tangsi Kesiman dan penjara Pekambingan. Tjok Bagus Sayoga juga memiliki pengalaman di bidang kewartawanan. Almarhum pernah menjadi penanggung jawab atau pemimpin redaksi majalah Damai, yang jabatan pemimpin umumnya dipegang oleh I Gusti Bagus Sugriwa. Di majalah Damai inilah Tjok Bagus sesekali menulis mengenai masalah agama, seperti bisa dibaca lewat artikelnya berjudul "Agama Hindu Bali dan Perkembangannya" (Damai, 17 April 1955). Minat tulis-menulis sempat diteruskan oleh Pak Tjok lewat koran Bali Post atau pun tatkala koran ini masih bernama Suara Indonesia. Dunia jurnalistik membuat dirinya dekat dengan tokoh wartawan Indonesia pada masa itu, seperti Adam Malik.

Hubungan Tjok Bagus Sayoga dengan Presiden Soekarno juga terjalin melalui dunia kesenian. Almarhum aktif di Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), yang membina seni-seni modern dan tradisional. Tim kesenian Cri Buddhaya Bali, binaan Tjokorda Bagus Sayoga dan I Gusti Bagus Sugriwa kerap tampil di Istana Tampaksiring dan di luar Bali seperti Jakarta dan Bandung. Pak Tjok juga pernah aktif di Listibiya Bali. Pada sisi lain, menurut seniman karawitan Bali, I Wayan Sinti, MA, almarhum pernah diminta pertimbangan oleh almarhum seniman Nyoman Kaler dari Pemogan-Denpasar dalam merintis berdirinya Kokar Bali (kini SMKI, terakhir menjadi SMK di Sukawati dan Denpasar). Selanjutnya Pak Tjok juga ikut dalam proses pendirian Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), kemudian menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) dan sekarang menjadi ISI.

Walaupun aktif di dunia kesenian, Pak Tjok lebih dikenal sebagai politikus, sampai akhir hayatnya menjadi tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang kini menjadi PDI-P. Tjok Bagus memasuki dunia politik sejak masa perjuangan melawan NICA. Sesudah kedaulatan Indonesia diakui kembali, dia aktif di PNI, didirikan di Bali 1950, mula-mula sebagai anggota, dan tahun 1955 Pak Tjok masuk ke jajaran pengurus PNI Badung. Pada tanggal 20 Januari 1967, Tjok Bagus Sayoga dipilih menjadi Ketua I PNI Bali, kemudian juga menjadi Ketua PDI Bali selama dua periode, yang mengantarkannya menjadi salah satu anggota DPR/MPR periode 1982-1987. Setelah menjadi anggota DPR/MPR, dia juga sempat jadi anggota DPRD Bali. Karena usia kurang mendukung, kiprahnya di dunia politik dikurangi, sehingga untuk kepengurusan PDI periode 1994-1999, Tjok Bagus Sayoga hanya duduk sebagai ketua dewan penasehat. Meski demikian, Pak Tjok berperan besar dalam menentukan arah PDI Bali untuk mendukung PDI-P pimpinan Megawati Soekarnoputri.

Namun lahir, hidup dan mati untuk kembali kepada-Nya tidak ditentukan oleh manusia. Setelah berbaring lama di tempat tidur karena sakit, Tjok Bagus Sayoga meninggal menjelang medio November 1998 dengan upacara palebon 11 Januari 1999, dan dikenang sebagai tokoh politik yang karismatik dan teguh memegang prinsip. Perjuangannya kini diteruskan oleh putra-putranya, walaupun sebetulnya almarhum sepertinya lebih senang melihat mereka menjadi seniman. Sangat mungkin, Tjok Bagus ingin agar keluarga, anak-anaknya menjadi politikus yang tahu seni, yang berbudaya dan beradab. Di satu sisi, istrinya yang mantan penari, Jro Made Puspawati sempat mengikuti misi kesenian ke-11 negara dan sampai saat ini masih mengajar tari tamu-tamu asing. Paling banyak orang Jepang. Hasilnya, antara lain dipentaskan pada awal penutupan pameran foto, Jumat (27/6) malam.

"Saya juga pernah gabung bersama sastrawan Sutan Takdir Alisyahbana dan Ibu Reneng (almarhum) di Toyabungkah, tepi Danau Batur mengembangkan garapan tari. Pak Sinti menggarap karawitannya," ujar Jro Puspa. Menantunya, istri Wali Kota Denpasar (Anak Agung Ngurah Puspayoga) juga gemar olah raga dan magambel diikuti anaknya (cucu Jro Puspawati). Mereka terkesan mewarisi bakat Pak Tjok yang suka mekendang.

*****

TJOKORDA Bagus Sayoga, "The Party Strategical Instinc" (sumber inspirasi/naluri dan strategi partai). Itulah tajuk bahasan para pembicara dalam diskusi selama 3 malam berturut-turut dengan pembicara Nyonya Yasmin Oka, Widminarko, Made Kembar Kerepun, Drs. I Gusti Ngurah Yadnya, B.A., Drs. IGB Artanegara, S.H., M.Pd. dan Putu Alit Bagiasna, Sm.HK. Di samping merupakan ajang nostalgia, para peserta diskusi juga menyoal implementasi ketokohan yang konsekuen almarhum oleh para kader/elite partai masa kini.

Kalau dipertanyakan, apakah Tjokorda Bagus Sayoga The Party Strategical Instinc? Jawaban yang tak dibantah oleh para pembicara dan peserta diskusi, adalah ya, bahwa memang benar diakui Pak Tjok adalah sumber inspirasi sekaligus strategi partai di mana almarhum pernah bernaung. Konsistensinya, katakan saja berawal pada paham partai yang dipimpinnya yakni marhaenisme dan dedikasinya pada NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) tidak bisa dipungkiri lagi. PNI (Partai Nasional Indonesia) yang kemudian menjadi cikal bakal PDI selanjutnya PDI-P, yang kini legitimit menjadi parpol dengan jumlah anggota terbesar di Bali, tidak bisa dilepaskan dari peran serta sepak terjang Tjok Bagus Sayoga yang akrab disebut Tjok Bagus.

Almarhum telah merintis kiprahnya di parpol sejak tahun 1950, yakni setahun setelah Belanda mengangkat kakinya dari bumi tercinta ini. Namun demikian jauh sebelum Indonesia merdeka, Tjok Bagus telah jatuh cinta pada ajaran-ajaran Bung Karno yang mengutamakan nasionalisme, kerakyatan dan anti pada segala bentuk penjajahan. Karena paham non-kompromi pada penjajah, Tjok Bagus Sayoga bersama kakak kandung (lain ibu), Tjokorda Ngurah Agung dimasukkan ke penjara oleh NICA. Itu terjadi setelah Proklamasi Kemerdekaan RI dan Belanda dengan serdadu NICA-nya ingin kembali menjajah republik ini dan berhasil diusir tahun 1949 disusul dengan penyerahan kedaulatan.

Bila mau menilai secara jujur, Tjok Bagus Sayoga merupakan figur yang sulit tertandingi patriotisme dan cita-citanya dalam berperan mewujudkan NKRI. Pengalamannya selama dua tahun hidup di Solo sebagai siswa MULO, menyebabkan pergaulannya menjadi luas, sehingga paham nasionalisme yang diserapnya baik lewat buku maupun dengan bertanya pada rekan-rekan yang lebih senior makin melekat. Ditambah lagi ajaran Bung Karno, yakni marhaenisme atau paham kerakyatan yang diserapnya secara mendalam, membuat Tjokorda Bagus Sayoga disenangi berbagai pihak, khususnya kalangan rakyat kecil atau wong cilik.

Sebagai media pergaulan, bakat genetik yang mengalir lewat kakeknya, Tjokorda Ngurah Made Agung, yang piawai dalam dunia sastra dan kesenian, menyebabkan Tjok Bagus juga mencintai kesenian tradisional, khususnya seni tabuh dan tari. Tokoh ini juga sangat gandrung pada seni silat, yang pernah dipelajarinya saat dia masih sekolah di Solo, yakni di Perguruan Silat Setia Hati. Lewat kedua media inilah Tjok Bagus Sayoga merintis pergaulannya ke pelosok-pelosok desa, baik untuk mengembangkan seni tari dan tabuh maupun jadi guru silat.

Di Bali, almarhum pernah mengintrodusir aliran silat Panca Bela namun belum sempat dikembangkan karena berbagai faktor terutama kesibukannya mengurus partai. Mungkin karena daya tarik yang terpancar lewat kemahirannya di dua bidang tersebut, maupun karena sifat kerakyatannya yang tidak membedakan status ningratnya (ksatria) sebagai cucu Raja Badung (Tjokorda Ngurah Made Agung yang tewas dalam Puputan Badung 1906), Tjokorda Bagus memilih mempersunting gadis desa dari warna Sudra.

Ni Made Sarji, kelahiran Renon (Sanur) yang dinikahi tahun 1945, kemudian diberi pungkusan Jro Ratna, melahirkan dua putra-putri, yakni Anak Agung Istri Putra Ratnasih dan Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi (kini Bupati Badung), yang populer dipanggil Cok Rat. Memang mengundang risiko menjadi orang yang berkarisma, ternyata sepuluh tahun kemudian yakni tahun 1955, Tjok Bagus kembali berhasil menarik simpati seorang penari legong bernama Ni Made Rupawati kelahiran Br. Tegehkori (Tonja-Denpasar), yang setelah menikah tahun 1955 diberi pungkusan Jro Made Puspawati. Dari perkawinan ini lahirlah Anak Agung Ngurah Puspayoga, Wali Kota Denpasar saat ini. Itu pun diikuti perkawinan ketiga kalinya dengan Anak Agung Made Tari, yang tidak membuahkan keturunan.

Berbicara masalah naluri/insting Tjok Bagus Sayoga dalam berpartai, agaknya sulit ditiru tokoh atau elite parpol saat ini. Dalam berpartai, Tjok Bagus memandang kawan maupun lawan politiknya bukanlah pihak yang harus diperangi. Baginya, semua pihak adalah rekan-rekan sebangsa dan setanah air. Baginya, perbedaan paham dalam berpolitik adalah bagian utama dari kehidupan berdemokrasi. Ini selaras dengan pendirian Bung Karno, yang tidak pernah membabat musuh-musuh politiknya, baik secara batiniah maupun rohaniah.

Kebencian Tjok Bagus hanya tertuju pada orang-orang yang melakukan tindakan politik yang tidak mengindahkan etika, cenderung kasar dan bernaluri menjajah. Terhadap orang-orang seperti ini, Tjok Bagus bersikap non-kompromis, namun tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Akan tetapi lewat strategi dan taktik yang cantik namun cerdas. Walhasil, pihak-pihak yang dikalahkan tidak akan menyimpan kekalahannya dalam hati, sehingga tidak menimbulkan sikap dan perilaku balas dendam.

Contoh kongkret dari tindakan Tjok Bagus, adalah ketika almarhum memimpin PNI Kabupaten Badung sejak tahun 1955, di mana kehidupan politik saat itu diwarnai multipartai. Dia tidak membenci kawan-kawannya yang bersikap seperti "kutu loncat" atau pindah ke lain partai yang berjumlah belasan saat itu. Pak Tjok konsisten dengan partai yang dianggapnya bersifat kerakyatan dan membela rakyat kecil yakni PNI.

Bahkan ketika Orde Baru berkuasa, jumlah partai dikecilkan menjadi tiga, Tjok Bagus tetap setia pada PNI selanjutnya berfusi dengan partai-partai lain yang beraliran nasionalis, yakni di bawah panji-panji Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Dia menolak untuk bergabung dengan golongan yang menawarkannya kedudukan dan kekuasaan tinggi, karena almarhum paling benci dengan pengkhianatan atau pun "menggadaikan" hati nurani. Apalagi mengkhianati rakyat kecil dengan intimidasi dan refresi.

Selanjutnya, kebesaran PDI-P saat ini tidak bisa dilepaskan dari sikap setia, konsistensi dan patriotisme yang ditularkan Tjok Bagus pada rekan-rekannya yang juga menjadi pendukung setia partai dengan simbol banteng gemuk bermulut putih dalam lingkaran ini. Sebab ketika PDI dipecah-belah kekuasaan Orba, almarhum bisa memilih pecahan mana yang tetap membela rakyat kecil dan bersikap nonkompromis pada kekuasaan yang intimidatif dan refresif. PDI-P yang ketika masih bernama PDI pimpinan Megawati Soekarnoputri merupakan partai yang dibikin babak belur oleh kekuasan. Bahkan ketika terjadi "Tragedi 27 Juli 1996" yang mengobrak-abrik, menganiaya bahkan "menghilangkan" anggota PDI dan kantor PDI di Jl. Diponegoro Jakarta, Tjok Bagus yang kala itu duduk sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Daerah DPD PDI Bali menyarankan pada para pendukung partainya tetap setia dan komit pada cita-cita perjuangan partai. Seharusnya jiwa serta kepemimpinan semacam inilah yang harus ditiru oleh orang-orang yang menyebut diri kader-kader maupun elite partai.

Selain sebagai seniman, Tjokorda Bagus Sayoga adalah politikus ulung yang berwawasan kenegaraan dan nasionalis tulen. Contohnya, menurut pustaka Made Sudira alias Aridus (Seksi Hubungan Luar Negeri Pengurus Pleno PWI Cabang Bali) yang domisilinya "sebanjar" dengan keluarga Puri Satria di Br. Belaluan Sadmerta Denpasar, adalah ketika Partai Sosialis Indonesia (PSI) memberontak pada pemerintah yang sah dengan gerakan LOGIS (Lanjutan Organisasi Gerakan Ilegal Sosialis) di Bali, Pak Tjok diminta untuk ikut membantu aparat keamanan yaitu Mobrig -- sekarang Brimob guna memadamkan pemberontakan. Karena kesetiaannya pada NKRI, walaupun beliau berstatus masyarakat sipil, tugas itu dilaksanakan melalui kerja sama dengan kawan-kawan seperjuangannya semasa revolusi.

Walaupun yang melakukan pemberontakan di antaranya adalah mereka yang juga para mantan pejuang, akhirnya pemberontakan yang tersulut sejak 1955-1959 tersebut berhasil dipadamkan. Meski para pentolan pemberontak banyak yang tewas, namun yang menyerah diperlakukan sebagai teman dan di antaranya ikut bersama Tjok Bagus mengembangkan PNI.

Sekarang, sudah hampir lima tahun Pak Tjok tiada, telah dipangil menghadap-Nya. Namun suritauladan serta semangat almarhum, mudah-mudahan merasuki raga dan sukma kader-kader partai yang kembali muncul bak jamur di musim hujan sebagai penerus perjuangan bangsa yang merdeka untuk mempertahankan wilayah dan kedaulatan negeri ini. Bahkan kalau bisa, kecerdasan dan etika dalam berpolitik, seharusnya meniru kecerdasan dan etika Pak Tjok, sehingga Bali yang kecil secara geografis dan demografis tidak senantiasa dikejutkan aroma gontok-gontokkan antarsesama.

Nah, sangat mungkin karena Pak Tjok juga pernah menggeluti dunia jurnalistik/kewartawanan, bahkan menjadi penanggung jawab alias pemimpin redaksi majalah Damai sekitar tahun 1955, akhirnya Ketua PWI Cabang Bali dipilih menjadi pemandu (moderator) dalam diskusi yang berlangsung maraton selama 3 malam berturut-turut itu. Yang patut pula dicatat serangkaian aktivitas ini adalah penegasan Pengurus Pusat/Ketua Umum PWI Drs. Tarman Azzam ketika menutup pameran foto koleksi YKBK & Yayasan Pengkaderan Nasional Shri Wedastera Suyasa. Tarman Azzam sependapat dengan Jacob Nuwa Wea maupun Widminarko yang menilai almarhum Tjokorda Bagus Sayoga adalah "sosok" Bung Karno di Bali. Bagi Ketua Umum PWI kelahiran Pulau Bangka itu, Pak Tjok terbukti menginginkan kebesaran dan keutamaan seperti halnya Bung Karno dan Mahatma Gandi yang terus-menerus bekerja keras menggapai cita-cita perjuangan umat manusia secara universal melalui tanggung jawab bersama rakyat yang dipimpinnya secara konsekuen mempertahankan idealismenya.

Untuk itu pula, perlu dicamkan makna "Geguritan Dharma Sesana" yang merupakan warisan yang tak ternilai buat semua pihak dari Raja Badung "Ida Tjokorda Mantuk Ring Rana" yakni Ida Cokorda Ngurah Made Agung yang gugur dalam peristiwa heroik Puputan Badung, 20 September 1906; tiada lain adalah kakek almarhum Tjokorda Bagus Sayoga.

* Djesna Winada
Ketua PWI Cabang

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com