Kilas Balik Penerima
"K. Nadha Nugraha" 2003
Tjok Sayoga
Berpengalaman Kewartawanan
Tjokorda Bagus Sayoga (almarhum)
lahir pada Rabu Pahing Wuku Kuningan, 26 September 1923 di Puri
Satria, Denpasar. Keluarga Puri Satria dimotori Yayasan
Kepustakaan Bung Karno (YKBK) bekerja sama dengan Yayasan
Pengkaderan Nasional Shri Wedastera Suyasa menggelar pameran
foto dan diskusi menyoal sosok almarhum selama tiga malam.
Pembukaan aktivitas di Puri Satria itu dilaksanakan Menteri
Tenaga Kerja RI Jacob Nuwa Wea pada Rabu (25/6) malam,
selanjutnya ditutup Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)
Drs. Tarman Azzam pada Jumat (27/6) pukul 24.00, sesaat
menjelang Hari Raya Kuningan, Sabtu (28/6).
DUA tahun
lalu, 5 Januari 2001, tokoh pers Bali K. Nadha, perintis yang
sekaligus mengabdikan sepenuh hidupnya di pers khususnya Bali
Post dipanggil Yang Mahakuasa. Untuk menghargai jasa Sang
Perintis, Kelompok Media Bali Post (KMB), sebagai penerus
cita-cita perjuangan almarhum, mengabadikan nama K. Nadha untuk
sebuah gedung kegiatan pers dengan sebutan "Gedung Pers
Bali K. Nadha", berlokasi di Jalan Kebo Iwa Denpasar yang
peresmiannya dilaksanakan pada Redite Umanis Wuku Merakih (Minggu,
5 Januari 2003). Nama K. Nadha sebagai perintis pers di Bali itu
pun, juga diabadikan oleh Persatuan Wartawan Indonesia Cabang
Bali. Bina Warta Graha, adalah nama lama Gedung PWI Bali di
Lumintang; atas kesepakatan pengurus pleno, kini telah diganti
namanya menjadi Pusat Pengembangan dan Pembinaan Pers Granadha
PWI Cabang Bali.
Akan halnya "Gedung
Pers Bali K. Nadha", akan dimanfaatkan oleh Kelompok Media
Bali Post (KMB) untuk kegiatan pers multimedia. Di sinilah nanti
diharapkan akan dapat ditemui catatan sejarah Bali khususnya
dalam bentuk cetak maupun audio visual. Tokoh-tokoh Bali yang
berperan penting berdasarkan pilihan pers khususnya KMB akan
diabadikan dalam bentuk patung perunggu lengkap dengan hasil
karya mereka dan peninggalannya. Diharapkan, dari gedung ini
akan dapat disimak perjalanan sejarah Bali di kemudian hari oleh
generasi penerusnya. Nantinya gedung ini akan dilengkapi seluruh
data dan patung para bupati se-Bali, wali kota, gubernur, Ketua
DPRD Bali, Panglima, dan Kapolda yang pernah menjabat di Bali.
Penerus cita-cita dan
perjuangan K. Nadha melalui KMB menyadari bahwa perjuangannya
mengajegkan Bali tidak bisa terwujud tanpa kerja bersama seluruh
masyarakat Bali. Oleh karena itulah, tiap tahun sejak 2002 lalu,
Bali Post mempersembahkan "K. Nadha Nugraha" kepada
tokoh-tokoh berbagai bidang yang tak henti-hentinya mengabdikan
dirinya dan menunjukkan komitmen mulia bagi Bali. Salah seorang
yang memperoleh "K. Nadha Nugraha" tahun 2003 adalah
almarhum Tjokorda Bagus Sayoga dalam kapasitasnya sebagai
politikus.
*****
TJOKORDA
Bagus Sayoga yang akrab dipanggil Pak Tjok atau Pak Tjok Bagus,
lahir pada Rabu (Buda Pahing Wuku Kuningan) 26 September 1923 di
Puri Satria, Denpasar. Menurut "kalender Bali" tanggal
25 Juni 2003 bertepatan dengan Buda Pahing Wuku Kuningan; hari
yang dipilih menyoal sosok almarhum itu tadi.
Ayahnya, Tjokorda Alit
Ngurah, adalah satu-satunya keturunan Raja Badung yang selamat
dari perang Puputan Badung tahun 1906. Dengan demikian, almarhum
Tjok Bagus Sayoga sesungguhnya adalah keturunan Raja Badung.
Sebagai "orang puri", almarhum memiliki perhatian di
bidang kesenian dan terjun dalam kancah perjuangan. Namun
sesudah Proklamasi Kemerdekaan RI, waktunya banyak digunakan
untuk terjun di gelanggang politik. Kancah perpolitikan membuat
dirinya dekat dengan rakyat.
Almarhum masuk HIS
(Holland Inlandsche School) di Denpasar, dan tahun 1940
melanjutkan ke MULO (Mer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Solo. Di
antara sesama pelajar Bali di rantau inilah, Pak Tjok aktif di
bidang seni dan tabuh serta olah raga seperti renang dan pencak
silat. Tjok Bagus terpaksa pulang ke Bali, meninggalkan
pendidikan, tahun 1942 menyusul kekacauan kehidupan sosial
politik akibat penjajahan Jepang.
Sejak pulang dari Solo,
Pak Tjok aktif dalam perjuangan, misalnya datang ke Jawa untuk
menghadap Presiden Soekarno menyatakan surat kesetiaan kepada
Republik Indonesia tahun 1946, dan menjadi Kepala Intelijen di
Markas Kota Pusat (MKP) tahun 1947, dengan tugas antara lain
menyampaikan informasi untuk penyusunan gerakan bawah tanah.
Atas perjuangannya ini, almarhum pernah ditangkap NICA dan
ditahan di tangsi Kesiman dan penjara Pekambingan. Tjok Bagus
Sayoga juga memiliki pengalaman di bidang kewartawanan. Almarhum
pernah menjadi penanggung jawab atau pemimpin redaksi majalah
Damai, yang jabatan pemimpin umumnya dipegang oleh I Gusti Bagus
Sugriwa. Di majalah Damai inilah Tjok Bagus sesekali menulis
mengenai masalah agama, seperti bisa dibaca lewat artikelnya
berjudul "Agama Hindu Bali dan Perkembangannya" (Damai,
17 April 1955). Minat tulis-menulis sempat diteruskan oleh Pak
Tjok lewat koran Bali Post atau pun tatkala koran ini masih
bernama Suara Indonesia. Dunia jurnalistik membuat dirinya dekat
dengan tokoh wartawan Indonesia pada masa itu, seperti Adam
Malik.
Hubungan Tjok Bagus Sayoga
dengan Presiden Soekarno juga terjalin melalui dunia kesenian.
Almarhum aktif di Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), yang
membina seni-seni modern dan tradisional. Tim kesenian Cri
Buddhaya Bali, binaan Tjokorda Bagus Sayoga dan I Gusti Bagus
Sugriwa kerap tampil di Istana Tampaksiring dan di luar Bali
seperti Jakarta dan Bandung. Pak Tjok juga pernah aktif di
Listibiya Bali. Pada sisi lain, menurut seniman karawitan Bali,
I Wayan Sinti, MA, almarhum pernah diminta pertimbangan oleh
almarhum seniman Nyoman Kaler dari Pemogan-Denpasar dalam
merintis berdirinya Kokar Bali (kini SMKI, terakhir menjadi SMK
di Sukawati dan Denpasar). Selanjutnya Pak Tjok juga ikut dalam
proses pendirian Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), kemudian
menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) dan sekarang
menjadi ISI.
Walaupun aktif di dunia
kesenian, Pak Tjok lebih dikenal sebagai politikus, sampai akhir
hayatnya menjadi tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai
Demokrasi Indonesia (PDI) yang kini menjadi PDI-P. Tjok Bagus
memasuki dunia politik sejak masa perjuangan melawan NICA.
Sesudah kedaulatan Indonesia diakui kembali, dia aktif di PNI,
didirikan di Bali 1950, mula-mula sebagai anggota, dan tahun
1955 Pak Tjok masuk ke jajaran pengurus PNI Badung. Pada tanggal
20 Januari 1967, Tjok Bagus Sayoga dipilih menjadi Ketua I PNI
Bali, kemudian juga menjadi Ketua PDI Bali selama dua periode,
yang mengantarkannya menjadi salah satu anggota DPR/MPR periode
1982-1987. Setelah menjadi anggota DPR/MPR, dia juga sempat jadi
anggota DPRD Bali. Karena usia kurang mendukung, kiprahnya di
dunia politik dikurangi, sehingga untuk kepengurusan PDI periode
1994-1999, Tjok Bagus Sayoga hanya duduk sebagai ketua dewan
penasehat. Meski demikian, Pak Tjok berperan besar dalam
menentukan arah PDI Bali untuk mendukung PDI-P pimpinan Megawati
Soekarnoputri.
Namun lahir, hidup dan
mati untuk kembali kepada-Nya tidak ditentukan oleh manusia.
Setelah berbaring lama di tempat tidur karena sakit, Tjok Bagus
Sayoga meninggal menjelang medio November 1998 dengan upacara
palebon 11 Januari 1999, dan dikenang sebagai tokoh politik yang
karismatik dan teguh memegang prinsip. Perjuangannya kini
diteruskan oleh putra-putranya, walaupun sebetulnya almarhum
sepertinya lebih senang melihat mereka menjadi seniman. Sangat
mungkin, Tjok Bagus ingin agar keluarga, anak-anaknya menjadi
politikus yang tahu seni, yang berbudaya dan beradab. Di satu
sisi, istrinya yang mantan penari, Jro Made Puspawati sempat
mengikuti misi kesenian ke-11 negara dan sampai saat ini masih
mengajar tari tamu-tamu asing. Paling banyak orang Jepang.
Hasilnya, antara lain dipentaskan pada awal penutupan pameran
foto, Jumat (27/6) malam.
"Saya juga pernah
gabung bersama sastrawan Sutan Takdir Alisyahbana dan Ibu Reneng
(almarhum) di Toyabungkah, tepi Danau Batur mengembangkan
garapan tari. Pak Sinti menggarap karawitannya," ujar Jro
Puspa. Menantunya, istri Wali Kota Denpasar (Anak Agung Ngurah
Puspayoga) juga gemar olah raga dan magambel diikuti anaknya (cucu
Jro Puspawati). Mereka terkesan mewarisi bakat Pak Tjok yang
suka mekendang.
*****
TJOKORDA
Bagus Sayoga, "The Party Strategical Instinc" (sumber
inspirasi/naluri dan strategi partai). Itulah tajuk bahasan para
pembicara dalam diskusi selama 3 malam berturut-turut dengan
pembicara Nyonya Yasmin Oka, Widminarko, Made Kembar Kerepun,
Drs. I Gusti Ngurah Yadnya, B.A., Drs. IGB Artanegara, S.H.,
M.Pd. dan Putu Alit Bagiasna, Sm.HK. Di samping merupakan ajang
nostalgia, para peserta diskusi juga menyoal implementasi
ketokohan yang konsekuen almarhum oleh para kader/elite partai
masa kini.
Kalau dipertanyakan,
apakah Tjokorda Bagus Sayoga The Party Strategical Instinc?
Jawaban yang tak dibantah oleh para pembicara dan peserta
diskusi, adalah ya, bahwa memang benar diakui Pak Tjok adalah
sumber inspirasi sekaligus strategi partai di mana almarhum
pernah bernaung. Konsistensinya, katakan saja berawal pada paham
partai yang dipimpinnya yakni marhaenisme dan dedikasinya pada
NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) tidak bisa dipungkiri
lagi. PNI (Partai Nasional Indonesia) yang kemudian menjadi
cikal bakal PDI selanjutnya PDI-P, yang kini legitimit menjadi
parpol dengan jumlah anggota terbesar di Bali, tidak bisa
dilepaskan dari peran serta sepak terjang Tjok Bagus Sayoga yang
akrab disebut Tjok Bagus.
Almarhum telah merintis
kiprahnya di parpol sejak tahun 1950, yakni setahun setelah
Belanda mengangkat kakinya dari bumi tercinta ini. Namun
demikian jauh sebelum Indonesia merdeka, Tjok Bagus telah jatuh
cinta pada ajaran-ajaran Bung Karno yang mengutamakan
nasionalisme, kerakyatan dan anti pada segala bentuk penjajahan.
Karena paham non-kompromi pada penjajah, Tjok Bagus Sayoga
bersama kakak kandung (lain ibu), Tjokorda Ngurah Agung
dimasukkan ke penjara oleh NICA. Itu terjadi setelah Proklamasi
Kemerdekaan RI dan Belanda dengan serdadu NICA-nya ingin kembali
menjajah republik ini dan berhasil diusir tahun 1949 disusul
dengan penyerahan kedaulatan.
Bila mau menilai secara
jujur, Tjok Bagus Sayoga merupakan figur yang sulit tertandingi
patriotisme dan cita-citanya dalam berperan mewujudkan NKRI.
Pengalamannya selama dua tahun hidup di Solo sebagai siswa MULO,
menyebabkan pergaulannya menjadi luas, sehingga paham
nasionalisme yang diserapnya baik lewat buku maupun dengan
bertanya pada rekan-rekan yang lebih senior makin melekat.
Ditambah lagi ajaran Bung Karno, yakni marhaenisme atau paham
kerakyatan yang diserapnya secara mendalam, membuat Tjokorda
Bagus Sayoga disenangi berbagai pihak, khususnya kalangan rakyat
kecil atau wong cilik.
Sebagai media pergaulan,
bakat genetik yang mengalir lewat kakeknya, Tjokorda Ngurah Made
Agung, yang piawai dalam dunia sastra dan kesenian, menyebabkan
Tjok Bagus juga mencintai kesenian tradisional, khususnya seni
tabuh dan tari. Tokoh ini juga sangat gandrung pada seni silat,
yang pernah dipelajarinya saat dia masih sekolah di Solo, yakni
di Perguruan Silat Setia Hati. Lewat kedua media inilah Tjok
Bagus Sayoga merintis pergaulannya ke pelosok-pelosok desa, baik
untuk mengembangkan seni tari dan tabuh maupun jadi guru silat.
Di Bali, almarhum pernah
mengintrodusir aliran silat Panca Bela namun belum sempat
dikembangkan karena berbagai faktor terutama kesibukannya
mengurus partai. Mungkin karena daya tarik yang terpancar lewat
kemahirannya di dua bidang tersebut, maupun karena sifat
kerakyatannya yang tidak membedakan status ningratnya (ksatria)
sebagai cucu Raja Badung (Tjokorda Ngurah Made Agung yang tewas
dalam Puputan Badung 1906), Tjokorda Bagus memilih mempersunting
gadis desa dari warna Sudra.
Ni Made Sarji, kelahiran
Renon (Sanur) yang dinikahi tahun 1945, kemudian diberi
pungkusan Jro Ratna, melahirkan dua putra-putri, yakni Anak
Agung Istri Putra Ratnasih dan Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi (kini
Bupati Badung), yang populer dipanggil Cok Rat. Memang
mengundang risiko menjadi orang yang berkarisma, ternyata
sepuluh tahun kemudian yakni tahun 1955, Tjok Bagus kembali
berhasil menarik simpati seorang penari legong bernama Ni Made
Rupawati kelahiran Br. Tegehkori (Tonja-Denpasar), yang setelah
menikah tahun 1955 diberi pungkusan Jro Made Puspawati. Dari
perkawinan ini lahirlah Anak Agung Ngurah Puspayoga, Wali Kota
Denpasar saat ini. Itu pun diikuti perkawinan ketiga kalinya
dengan Anak Agung Made Tari, yang tidak membuahkan keturunan.
Berbicara masalah naluri/insting
Tjok Bagus Sayoga dalam berpartai, agaknya sulit ditiru tokoh
atau elite parpol saat ini. Dalam berpartai, Tjok Bagus
memandang kawan maupun lawan politiknya bukanlah pihak yang
harus diperangi. Baginya, semua pihak adalah rekan-rekan
sebangsa dan setanah air. Baginya, perbedaan paham dalam
berpolitik adalah bagian utama dari kehidupan berdemokrasi. Ini
selaras dengan pendirian Bung Karno, yang tidak pernah membabat
musuh-musuh politiknya, baik secara batiniah maupun rohaniah.
Kebencian Tjok Bagus hanya
tertuju pada orang-orang yang melakukan tindakan politik yang
tidak mengindahkan etika, cenderung kasar dan bernaluri menjajah.
Terhadap orang-orang seperti ini, Tjok Bagus bersikap non-kompromis,
namun tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Akan tetapi
lewat strategi dan taktik yang cantik namun cerdas. Walhasil,
pihak-pihak yang dikalahkan tidak akan menyimpan kekalahannya
dalam hati, sehingga tidak menimbulkan sikap dan perilaku balas
dendam.
Contoh kongkret dari
tindakan Tjok Bagus, adalah ketika almarhum memimpin PNI
Kabupaten Badung sejak tahun 1955, di mana kehidupan politik
saat itu diwarnai multipartai. Dia tidak membenci kawan-kawannya
yang bersikap seperti "kutu loncat" atau pindah ke
lain partai yang berjumlah belasan saat itu. Pak Tjok konsisten
dengan partai yang dianggapnya bersifat kerakyatan dan membela
rakyat kecil yakni PNI.
Bahkan ketika Orde Baru
berkuasa, jumlah partai dikecilkan menjadi tiga, Tjok Bagus
tetap setia pada PNI selanjutnya berfusi dengan partai-partai
lain yang beraliran nasionalis, yakni di bawah panji-panji
Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Dia menolak untuk bergabung
dengan golongan yang menawarkannya kedudukan dan kekuasaan
tinggi, karena almarhum paling benci dengan pengkhianatan atau
pun "menggadaikan" hati nurani. Apalagi mengkhianati
rakyat kecil dengan intimidasi dan refresi.
Selanjutnya, kebesaran PDI-P
saat ini tidak bisa dilepaskan dari sikap setia, konsistensi dan
patriotisme yang ditularkan Tjok Bagus pada rekan-rekannya yang
juga menjadi pendukung setia partai dengan simbol banteng gemuk
bermulut putih dalam lingkaran ini. Sebab ketika PDI
dipecah-belah kekuasaan Orba, almarhum bisa memilih pecahan mana
yang tetap membela rakyat kecil dan bersikap nonkompromis pada
kekuasaan yang intimidatif dan refresif. PDI-P yang ketika masih
bernama PDI pimpinan Megawati Soekarnoputri merupakan partai
yang dibikin babak belur oleh kekuasan. Bahkan ketika terjadi
"Tragedi 27 Juli 1996" yang mengobrak-abrik,
menganiaya bahkan "menghilangkan" anggota PDI dan
kantor PDI di Jl. Diponegoro Jakarta, Tjok Bagus yang kala itu
duduk sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Daerah DPD PDI Bali
menyarankan pada para pendukung partainya tetap setia dan komit
pada cita-cita perjuangan partai. Seharusnya jiwa serta
kepemimpinan semacam inilah yang harus ditiru oleh orang-orang
yang menyebut diri kader-kader maupun elite partai.
Selain sebagai seniman,
Tjokorda Bagus Sayoga adalah politikus ulung yang berwawasan
kenegaraan dan nasionalis tulen. Contohnya, menurut pustaka Made
Sudira alias Aridus (Seksi Hubungan Luar Negeri Pengurus Pleno
PWI Cabang Bali) yang domisilinya "sebanjar" dengan
keluarga Puri Satria di Br. Belaluan Sadmerta Denpasar, adalah
ketika Partai Sosialis Indonesia (PSI) memberontak pada
pemerintah yang sah dengan gerakan LOGIS (Lanjutan Organisasi
Gerakan Ilegal Sosialis) di Bali, Pak Tjok diminta untuk ikut
membantu aparat keamanan yaitu Mobrig -- sekarang Brimob guna
memadamkan pemberontakan. Karena kesetiaannya pada NKRI,
walaupun beliau berstatus masyarakat sipil, tugas itu
dilaksanakan melalui kerja sama dengan kawan-kawan
seperjuangannya semasa revolusi.
Walaupun yang melakukan
pemberontakan di antaranya adalah mereka yang juga para mantan
pejuang, akhirnya pemberontakan yang tersulut sejak 1955-1959
tersebut berhasil dipadamkan. Meski para pentolan pemberontak
banyak yang tewas, namun yang menyerah diperlakukan sebagai
teman dan di antaranya ikut bersama Tjok Bagus mengembangkan PNI.
Sekarang, sudah hampir
lima tahun Pak Tjok tiada, telah dipangil menghadap-Nya. Namun
suritauladan serta semangat almarhum, mudah-mudahan merasuki
raga dan sukma kader-kader partai yang kembali muncul bak jamur
di musim hujan sebagai penerus perjuangan bangsa yang merdeka
untuk mempertahankan wilayah dan kedaulatan negeri ini. Bahkan
kalau bisa, kecerdasan dan etika dalam berpolitik, seharusnya
meniru kecerdasan dan etika Pak Tjok, sehingga Bali yang kecil
secara geografis dan demografis tidak senantiasa dikejutkan
aroma gontok-gontokkan antarsesama.
Nah, sangat mungkin karena
Pak Tjok juga pernah menggeluti dunia jurnalistik/kewartawanan,
bahkan menjadi penanggung jawab alias pemimpin redaksi majalah
Damai sekitar tahun 1955, akhirnya Ketua PWI Cabang Bali dipilih
menjadi pemandu (moderator) dalam diskusi yang berlangsung
maraton selama 3 malam berturut-turut itu. Yang patut pula
dicatat serangkaian aktivitas ini adalah penegasan Pengurus
Pusat/Ketua Umum PWI Drs. Tarman Azzam ketika menutup pameran
foto koleksi YKBK & Yayasan Pengkaderan Nasional Shri
Wedastera Suyasa. Tarman Azzam sependapat dengan Jacob Nuwa Wea
maupun Widminarko yang menilai almarhum Tjokorda Bagus Sayoga
adalah "sosok" Bung Karno di Bali. Bagi Ketua Umum PWI
kelahiran Pulau Bangka itu, Pak Tjok terbukti menginginkan
kebesaran dan keutamaan seperti halnya Bung Karno dan Mahatma
Gandi yang terus-menerus bekerja keras menggapai cita-cita
perjuangan umat manusia secara universal melalui tanggung jawab
bersama rakyat yang dipimpinnya secara konsekuen mempertahankan
idealismenya.
Untuk itu pula, perlu
dicamkan makna "Geguritan Dharma Sesana" yang
merupakan warisan yang tak ternilai buat semua pihak dari Raja
Badung "Ida Tjokorda Mantuk Ring Rana" yakni Ida
Cokorda Ngurah Made Agung yang gugur dalam peristiwa heroik
Puputan Badung, 20 September 1906; tiada lain adalah kakek
almarhum Tjokorda Bagus Sayoga.
* Djesna Winada
Ketua PWI Cabang
|