Keramik Bali
Kuno
PENGERTIAN
istilah "keramik" dalam buku "Dictionary of
Art" tulisan Bernard. S. Myers (1969), dikatakan berasal
dari bahasa Yunani kuno keramos yang berarti tanah liat.
Ditelusuri lebih jauh, sebenarnya kata keramos itu adalah nama
salah satu Dewa Yunani. "Encyclopedia of The Art"
menjelaskan bahwa dalam mitologi Yunani, Keramos merupakan dewa
pelindung dari para pembuat kerajinan tanah liat atau keramik.
Keramos adalah putra dari Dewa Baccus dan Dewi Ariadne. Dalam
hal ini, gerabah termasuk dalam pengertian keramik jenis bakaran
rendah (di bawah suhu 1000øC, sekitar 350ø-500øC) disebut
juga earthenware atau aardewerk atau terracotta, dimana struktur
dan teksturnya sangat rapuh, kasar, berpori-pori dan merupakan
kualitas paling rendah.
Telah ditemukan
stupa-stupa kecil dari tanah liat yang termasuk gerabah lunak di
daerah Pejeng, Blahbatuh dan Batuan, Gianyar, dalam jumlah
ribuan dan ada di antaranya terdapat tulisan Pallawa dan
Sansekerta yang bermakna mantra-mantra Budha. Beberapa buah
stempel tanah liat yang ditemukan di Pejeng (koleksi Museum
Bali), tertulis data tahun 882 AD memuat mantram agama Budha
dalam bahasa Sanskrit yang mirip dengan yang ditemukan di Candi
Kalasan (778 AD).
Berdasarkan penemuan
tersebut, diperkirakan pengaruh agama Budha di Bali datangnya
lebih dulu dari agama Hindu. Ada sumber menyebutkan, tujuh di
antaranya memuat data mulai tahun 882 sampai 914 AD
menyebut-nyebut nama seorang Raja Kesari Warmadewa yang bertahta
di kerajaan Singadwala. Sembilan tulisan tanah liat memberitakan
adanya seorang raja lainnya yaitu Sang Ratu Ugrasena yang
bertahta semasa dengan Empu Sindok dari Jawa Timur (914-942 AD).
Disebutkan pula adanya empat orang raja lagi dari keturunan
dinasti Warmadewa yang menguasai pulau Bali. Hubungan Bali
dengan Jawa Timur tampaknya sangat erat, yaitu dengan adanya
dinasti Warmadewa -- Dharma Udayana Warmadewa mempermaisurikan
Sri Gunapriya Dharmapatni, putri raja dari Jawa yaitu cucu dari
Empu Sindok yang berkuasa pada tahun 989 s.d. 1001 Masehi. Dari
perkawinan ini lahirlah Raja Airlangga yang kemudian berkuasa di
Jawa dan kawin dengan putri Jawa. Tidak hanya stempel dan
stupika yang ditemukan, tetapi juga ada patung Budha dan
linggayoni yang semuanya diperkirakan abad ke-13 s.d. 14 Masehi.
Masuknya agama Hindu ke
Bali diperkirakan pada saat Raja Jaya Pangus ditaklukkan oleh
Patih Gajah Mada dari Majapahit tahun 1343 Masehi. Dalam
kekuasaan Majapahit, Bali diperintah oleh Raja Dalem Samprangan
yang bertahta di Klungkung. Masuknya agama Hindu di Bali sangat
berpengaruh pada pembuatan benda-benda keramik, yaitu dengan
adanya berbagai motif dewa dalam bentuk Trimurti (Tritunggal)
Dewi Sri dan lainnya. Motif Dewi Sri banyak dijumpai di Bali
dalam wujud cili sebagai lambang kesuburan atau Dewi Padi.
Nilai Keduniawian
Abad ke-14 di Bali diketahui telah dipengaruhi tradisi Hindu
Jawa Timur. Ini terlihat dari benda-benda terracotta yang
bernilai keduniawian yang menggambarkan kehidupan sehari-hari,
yaitu perwujudan dari tokoh-tokoh sosial seperti penari, pemain
musik menjadi objek utama. Semuanya bergaya bebas mencerminkan
suasana gembira, namun di Bali terjadi perubahan karena
kepercayaan sebelumnya turut mempengaruhi. Pada masa Majapahit,
patung-patung figur tampak realistik, sedangkan di Bali
tampaknya melalui stilasi yang kaku, seakan tokoh-tokoh pria
maupun wanita memancarkan kekuatan magis dengan wajah yang
"dingin" dan "kaku". Bentuk ini dimungkinkan
bernilai sakral untuk pelengkap upacara.
Dalam kepercayaan Hindu
Bali, benda-benda keramik diperlukan untuk berbagai keperluan
suatu upacara, baik berujud bentuk patung maupun sebagai benda
pakai seperti tempat tirta (air suci). Ada patung-patung yang
menggambarkan tokoh Rahwana, raksasa, dewa-dewi, tokoh yang
meninggal, sampai di dapur pun terdapat patung yang
menggambarkan bentuk punakawan.
Disamping benda hiasan,
kebanyakan dari bentuk patung tersebut melambangkan Dewa Brahma
yang sangat dipuja di lingkungan dapur, karena ada anggapan
bahwa dapur adalah tempat bersemayamnya Dewa Brahma. Patung
lainnya ada yang berbentuk raksasa dengan perisai di tangannya,
merupakan lambang penjaga yang ditempatkan di tempat-tempat suci
atau rumah tinggal. Juga kendaraan Wisnu atau Wilmana sering
dijumpai dalam berbagai bentuk, misalnya dalam bentuk pasepan
atau pedupaan sebagai lambang Dewa Wisnu. Ada pula singa
bersayap dan gajah mina yang merupakan perpaduan dua binatang
yaitu singa dengan burung dan gajah dengan ikan (banaspati),
sebagai lambang kekuatan alam. Bentuk ini dibuat dengan berbagai
variasi sesuai dengan imajinasi setiap kelompok masyarakat/daerah
yang membuat. Patung Garuda Wisnu, kemudian banyak menjadi
inspirasi dalam material tanah liat/keramik, maupun dari kayu
dan batu.
* Agus Mulyadi
Utomo
|