kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 29 Juni 2003 tarukan valas
 

ARSITEKTUR


Keramik Bali Kuno

PENGERTIAN istilah "keramik" dalam buku "Dictionary of Art" tulisan Bernard. S. Myers (1969), dikatakan berasal dari bahasa Yunani kuno keramos yang berarti tanah liat. Ditelusuri lebih jauh, sebenarnya kata keramos itu adalah nama salah satu Dewa Yunani. "Encyclopedia of The Art" menjelaskan bahwa dalam mitologi Yunani, Keramos merupakan dewa pelindung dari para pembuat kerajinan tanah liat atau keramik. Keramos adalah putra dari Dewa Baccus dan Dewi Ariadne. Dalam hal ini, gerabah termasuk dalam pengertian keramik jenis bakaran rendah (di bawah suhu 1000øC, sekitar 350ø-500øC) disebut juga earthenware atau aardewerk atau terracotta, dimana struktur dan teksturnya sangat rapuh, kasar, berpori-pori dan merupakan kualitas paling rendah.

Telah ditemukan stupa-stupa kecil dari tanah liat yang termasuk gerabah lunak di daerah Pejeng, Blahbatuh dan Batuan, Gianyar, dalam jumlah ribuan dan ada di antaranya terdapat tulisan Pallawa dan Sansekerta yang bermakna mantra-mantra Budha. Beberapa buah stempel tanah liat yang ditemukan di Pejeng (koleksi Museum Bali), tertulis data tahun 882 AD memuat mantram agama Budha dalam bahasa Sanskrit yang mirip dengan yang ditemukan di Candi Kalasan (778 AD).

Berdasarkan penemuan tersebut, diperkirakan pengaruh agama Budha di Bali datangnya lebih dulu dari agama Hindu. Ada sumber menyebutkan, tujuh di antaranya memuat data mulai tahun 882 sampai 914 AD menyebut-nyebut nama seorang Raja Kesari Warmadewa yang bertahta di kerajaan Singadwala. Sembilan tulisan tanah liat memberitakan adanya seorang raja lainnya yaitu Sang Ratu Ugrasena yang bertahta semasa dengan Empu Sindok dari Jawa Timur (914-942 AD). Disebutkan pula adanya empat orang raja lagi dari keturunan dinasti Warmadewa yang menguasai pulau Bali. Hubungan Bali dengan Jawa Timur tampaknya sangat erat, yaitu dengan adanya dinasti Warmadewa -- Dharma Udayana Warmadewa mempermaisurikan Sri Gunapriya Dharmapatni, putri raja dari Jawa yaitu cucu dari Empu Sindok yang berkuasa pada tahun 989 s.d. 1001 Masehi. Dari perkawinan ini lahirlah Raja Airlangga yang kemudian berkuasa di Jawa dan kawin dengan putri Jawa. Tidak hanya stempel dan stupika yang ditemukan, tetapi juga ada patung Budha dan linggayoni yang semuanya diperkirakan abad ke-13 s.d. 14 Masehi.

Masuknya agama Hindu ke Bali diperkirakan pada saat Raja Jaya Pangus ditaklukkan oleh Patih Gajah Mada dari Majapahit tahun 1343 Masehi. Dalam kekuasaan Majapahit, Bali diperintah oleh Raja Dalem Samprangan yang bertahta di Klungkung. Masuknya agama Hindu di Bali sangat berpengaruh pada pembuatan benda-benda keramik, yaitu dengan adanya berbagai motif dewa dalam bentuk Trimurti (Tritunggal) Dewi Sri dan lainnya. Motif Dewi Sri banyak dijumpai di Bali dalam wujud cili sebagai lambang kesuburan atau Dewi Padi.

Nilai Keduniawian
Abad ke-14 di Bali diketahui telah dipengaruhi tradisi Hindu Jawa Timur. Ini terlihat dari benda-benda terracotta yang bernilai keduniawian yang menggambarkan kehidupan sehari-hari, yaitu perwujudan dari tokoh-tokoh sosial seperti penari, pemain musik menjadi objek utama. Semuanya bergaya bebas mencerminkan suasana gembira, namun di Bali terjadi perubahan karena kepercayaan sebelumnya turut mempengaruhi. Pada masa Majapahit, patung-patung figur tampak realistik, sedangkan di Bali tampaknya melalui stilasi yang kaku, seakan tokoh-tokoh pria maupun wanita memancarkan kekuatan magis dengan wajah yang "dingin" dan "kaku". Bentuk ini dimungkinkan bernilai sakral untuk pelengkap upacara.

Dalam kepercayaan Hindu Bali, benda-benda keramik diperlukan untuk berbagai keperluan suatu upacara, baik berujud bentuk patung maupun sebagai benda pakai seperti tempat tirta (air suci). Ada patung-patung yang menggambarkan tokoh Rahwana, raksasa, dewa-dewi, tokoh yang meninggal, sampai di dapur pun terdapat patung yang menggambarkan bentuk punakawan.

Disamping benda hiasan, kebanyakan dari bentuk patung tersebut melambangkan Dewa Brahma yang sangat dipuja di lingkungan dapur, karena ada anggapan bahwa dapur adalah tempat bersemayamnya Dewa Brahma. Patung lainnya ada yang berbentuk raksasa dengan perisai di tangannya, merupakan lambang penjaga yang ditempatkan di tempat-tempat suci atau rumah tinggal. Juga kendaraan Wisnu atau Wilmana sering dijumpai dalam berbagai bentuk, misalnya dalam bentuk pasepan atau pedupaan sebagai lambang Dewa Wisnu. Ada pula singa bersayap dan gajah mina yang merupakan perpaduan dua binatang yaitu singa dengan burung dan gajah dengan ikan (banaspati), sebagai lambang kekuatan alam. Bentuk ini dibuat dengan berbagai variasi sesuai dengan imajinasi setiap kelompok masyarakat/daerah yang membuat. Patung Garuda Wisnu, kemudian banyak menjadi inspirasi dalam material tanah liat/keramik, maupun dari kayu dan batu.

* Agus Mulyadi Utomo

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com