Tragedi Serangan-Sakenan,
500 Tahun Kemudian
BERSAMAAN
dengan Tilem Sadha, Redite Umanis, Langkir, 29 Juni 2003 ini
arus manusia Bali, terutama Bali Selatan, pastilah tersedot kuat
ke Pura Sakenan di Serangan. Di tumit kaki Pulau Bali yang
berjarak cuma 8,5 km arah selatan Denpasar itu, sesama manusia
Bali berintegrasi, bersimpuh bersama memohon karunia suka, seger,
sadya, dan rahayu. Tentu sudah sejak Sabtu Kliwon, Kuningan, 28
Juni pagi kemarin, bersamaan dengan hari Kuningan dan Kajeng
Kliwon Uwudan, arus manusia itu tersedot ke Sakenan.
Arus kendaraan bermotor
itu kini mungkin tiada lagi mengenal memilah-milah waktu, karena
teknologi dan fasilitas transportasi sudah memanjakan dengan
jalan darat tembus hingga ke jaba sisi pura. Tiada perlu lagi
bersusah-susah bernikmat berbasah-basah menyeberangi jalan air
laut dengan perahu jukung, sebagaimana lazim dilakukan untuk
menapak di pulau berluas 1,119 km2 itu beberapa tahun lalu. Toh,
ada saja yang tetap berkangen-kangen berumit-rumit menempuh
jalan susah berbasah-basah itu, dan penuh sadar menampik jalan
mudah lewat darat.
Beberapa
lainnya bahkan memilih ''mogok'' tangkil ke Pura Sakenan justru
karena jalan basah air laut itu dihapuskan dengan jalan darat
sehingga dirasakan hambar, kehilangan kekhusyukan dan kekhasan.
Keistimewaan perjalanan mabakti ke Pura Sakenan bagi mereka
justru sesungguhnya adalah kisah keberangkatan dengan perahu
atau jukung menyibak jalan air yang dibayangkan seperti
perjuangan Bima dan kisah Dewa Ruci mengarungi samudra kehidupan
guna mendapatkan tirta amerta sanjiwani, air kehidupan
berkeabadian nan suci-murni, dari Dewata Semesta Samudra raya.
Dalam teks susastra Bali
belakangan, kisah Bima itu seperti hendak disegarkan lagi dengan
mitos baru dengan tokoh Arya Kenceng. Petinggi kerajaan semasa
kepemimpinan Dalem Ketut Ngulesir di Gelgel ini dikisahkan
menceburkan diri ke tengah laut selatan Bali guna menghapus
jejak dari kejaran musuh, rakyat Bali Aga yang memberontak
terhadap Dalem. Arya Kenceng tidak mati, malah terdampar di
daratan mungil, ditemukan para nelayan. Ketika ditanyai oleh Ki
Bendesa Mas, penguasa setempat, dia menyembunyikan identitas
dengan menebar kisah simbolik: tubuhnya tiba-tiba saja
dimuntahkan mulut burung garuda. Orang-orang pun kasihan
mendengar kisahnya.
Orang kasihan dalam bahasa
Bali ada kalanya diistilahkan ''sira angen'', sehingga
ditebak-tebak dari frase sira angen inilah nama Serangan kelak
berbiak. Orang-orang Serangan pun kerap membahasakan keberadaan
diri mereka sebagai akibat ''utah geruda'', muntahan garuda,
Simbolik logisnya mungkin berarti dihanyutkan air samudra,
mengingat garuda sebagai kendaraan Batara Wisnu, dan Wisnu
berwujud fisik air.
Ada pula penafsiran lain:
merunut nama Serangan dari posisi geografisnya sebagai pulau
yang miring, atau sirang dalam bahasa Bali. Dari istilah sirang
inilah diperkirakan pengucapan serang, lalu menjadi serangan
bermula, sebagai nama pulau yang tepat berada di ujung tumit
peta Pulau Bali itu. Di tumit Bali itulah Pura Dalem Sakenan
berada, menjadi satu di antara simpul spiritual-kosmologis jagat
Bali.
Dalam versi babad,
keberadaan Pura Sakenan terkait dengan kisah perjalanan dharma
Mpu Nirartha. Dari Desa Mas, Gianyar, sang pendeta visioner asal
Jawa Timur itu hendak melanjutkan perjalanan suci ke arah
selatan, menuju Masceti. Di sini muncul teja gumulung, sinar
berpedar-pedar, kemudian menuntun sang mpu ke arah barat daya,
hingga sampai di Serangan, sebelum jenak di Uluwatu.
Ditawari menetap, sang mpu
menampik, tapi memberi warga Serangan anugerah sekar sumpang.
Kelak dibuatkan dua palinggih: untuk sang mpu dan Batara Masceti.
Kini menjadi Pura Pasamuhan Agung di belahan timur dan Pura
Dalem Sakenan di bagian barat. Di Pura Dalem Sakenan inilah
terdapat candi berbahan batu kapur, berpintu kecil di bagian
tubuhnya. Di depan pintu terdapat dua arca pandita, Siwa dan
Buddha. Warga Serangan membahasakan candi ini palinggih Ida
Batara Siwa-Buddha. Arca pandita juga menghiasi bagian samping
dan belakang candi.
Di areal jeroan ini juga
berdiri gapura candi kurung dengan dua arca Ganesa. Corak dan
pola hias gapura candi kurung ini serupa dengan gapura candi
kurung dan arca Ganesa di Pura Luhur Uluwatu. Kalangan arkeolog
memperkirakan corak dan pola hias itu berasal dari abad ke-15.
Secara kosmologis dan kearsitekturan juga diyakini gapura candi
kurung Pura Dalem Sakenan di tengah lautan ini berhadap-hadapan
segaris lurus dengan gapura candi kurung Pura Luhur Uluwatu di
ketinggian bukit Pecatu di barat dayanya.
Dalam catatan perjalanan
dharma sang mpu yang dapat dicermati dari kakawin Anyang
Nirartha, daratan yang menjadi lokasi Pura Dalem Sakenan semula
adalah ''nusa mungil, di ujung batu karang tumbuh pohon pandan,
ada pula batu datar menjorok di atas jurang''. Pulau mungil itu
''hanya ditumbuhi sebatang pohon kelapa gading yang sudah
miring, dan batangnya setengah patah karena kerap diterpa angin''.
Di pulau berluas tak lebih
dari 3 are itulah kelak Pura Dalem Sakenan didirikan,
dikelilingi kawasan kekeran berupa lautan, dan temboknya pun
memiliki pintu tembus ke empat arah penjuru mata angin catuspata.
Pertimbangan praktis berkemanjaan menggampang-gampangkan kelak
menjadikan batas air loloan di sisi timur pura itu ditimbun,
sehingga terhubunglah tanah Pura Dalem Sakenan dengan tanah
lokasi Pura Pasamuhan Agung di belakangnya. Kini bahkan Serangan
pun terhubungkan oleh jalan dengan daratan Denpasar, sehingga
praktis secara geografis Serangan tak berhak lagi diklaim pulau,
karena sudah terhubung daratan jalan bikinan.
Dalam potret udara bikinan
Belanda abad ke-19, Serangan memang pulau mungil dengan
pulau-pulau kecil di sekitarnya. Bentuknya sperti induk penyu
berenang di tengah lautan, dan lokasi yang menjadi Pura Dalem
Sakenan itu layaknya kepala penyu yang mengarah ke Luhur Uluwatu.
Kini, 500-an tahun lebih setelah Mpu Nirartha begitu terpesona
secara religius-spiritual oleh keindahan Serangan, justru di
kepala penyu itulah jalan jembatan bikinan disambungkan,
sehingga Serangan praktis tidak lagi memiliki kepala.
''Penyu'' Serangan kini
menjadi gelimpangan seonggok tubuh tanpa kepala, sehingga tak
sebatas berarti tidak punya orientasi jelas, tapi bahkan juga
tidak lagi berdenyut. Amatlah mustahil penyu hidup tanpa kepala,
meskipun masih punya jantung dan paru-paru. Apalagi paru-paru
Serangan berupa hutan bakau, dan jantungnya berupa satwa dan
flora laut dan pantai kini telah disulap menjadi laguna buatan
yang akhirnya mangkrak. Vegetasi hutan alaminya, seperti
nyamplung, kendaka, pandan, api-api, ambung, ketapang, waru,
seruni, bahkan juga alang-alang dan sejenisnya habis dibabat
atas nama ''kebersihan lingkungan''.
Akibat ikutannya: aneka
satwa laut, dari penyu sisik, penyu hijau, hingga bandeng, lindu,
semader pun bermigrasi menyusul perubahan suhu air, pusaran arus
dan ekosistem habitat karena dibendung daratan jalan bikinan.
Migrasi mausia asli setempat berhabitat laut pun tiada
terelakkan bakal terjadi, lebih-lebih bila si manusia tiada bisa
menyesuaikan diri dengan habitat asing baru itu, yang rentan
menghimpit kemiskinan dan pemiskinan terstruktur dan
tersistematisasi. Perubahan drastis ekologi laut Serangan memang
amat rentan menyisakan tragedi ketidakpastian masa depan bagi
penduduk asli Serangan, dan bahkan Bali.
* I Made
Prabaswara
|