kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Paing, 15 Juni 2003 tarukan valas
 

GEBYAR


24 Tahun Sanggar Kukuruyuk

Bernyanyi, Bermain, Bercerita

TAK banyak ada sanggar yang mampu mewadahi atau mengakomodasikan kegiatan anak-anak di Bali. Diantara yang sedikit itu, hanya satu-dua yang mampu bertahan dan berkreativitas dalam kurun waktu panjang. Sanggar Kukuruyuk bisa dipakai contoh. Pada 15 Juni 2003, hari ini, sanggar pimpinan Made Taro ini tepat berusia 24 tahun. Bagaimana sanggar ini dulu terbentuk? Apa resep bertahannya sanggar yang segera akan mendapat penghargaan Pramana Patram Budaya dari Pemda Bali ini?

Nama Sanggar Kukuruyuk memang tak terlepas dari nama Made Taro, pendiri dan pengasuhnya sampai saat ini. Tentang ikhwal gagasan Made Taro membentuk sanggar ini, bisa dirunut perjalanannya sejak tahun 1968. "Waktu itu, saya tinggal di mess guru-guru SMA 2 di Jalan Kartini, Denpasar. Saya melihat anak-anak tetangga bengong, tidak berbuat apa-apa," cerita Made Taro yang masa kanak-kanaknya banyak diwarnai kegiatan yang ceria dan mengasyikkan di Desa Sengkidu, Karangasem ini.

Made Taro mengakui, saat itu timbul kesannya bahwa anak-anak telah kehilangan dunianya yaitu bermain, bernyanyi dan mendengarkan cerita. Ia mencoba bermain dengan anak-anak yang bengong itu. Anak-anak itu dibuatkannya layang-layang, mobil-mobilan dan kapal-kapalan. Kemudian ia mencoba bercerita. Ternyata anak-anak yang berjumlah enam orang ketika itu amat senang dan makin akrab.

Akhirnya pada 1973, Made Taro mendirikan semacam sanggar cerita, yang pada waktu itu belum diberi nama. Hampir tiap hari ia berburu cerita dari gudang perpustakaan, majalah dan koran-koran. Dalam kegiatan itu ia berhasil menerapkan kedisiplinan anak-anak yang ternyata sangat ditaati. Kedisiplinan itu diantaranya, anak-anak boleh mendengarkan cerita asalkan sudah selesai mandi, makan, mengerjakan PR dan berpakaian rapi. Kegiatan kecil-kecilan semacam itu ternyata didorong pula oleh orangtua sehingga anak-anak merasa rugi kalau sekali dua kali tidak hadir mengikuti cerita Made Taro.

Lalu, setelah stasiun TVRI Denpasar berdiri pada 1978, Made Taro mendirikan Teater Si Paku-paku di SMA 2 Denpasar. Teater Si Paku-paku yang sebelumnya sering mengudara di RRI Denpasar ini mengkhususkan kegiatan drama televisi dan musikalisasi puisi berbahasa Indonesia dan Bali. Di sela sibuk menggarap beberapa tayangan, tiba-tiba ada usul agar Made Taro mendirikan sanggar anak-anak untuk tampil di televisi. Usul ini disambut Made Taro, dihimpunlah sekitar 15 anak SD, dan sebuah sanggar anak-anak bernama Sanggar Kukuruyuk pun terbentuk.

Garapan perdana sanggar ini, sebuah operet anak-anak berjudul "Kaki Cubling" yang diangkat dari cerita rakyat Bali mengenai persahabatan manusia dengan kera. Garapan ini ditayangkan TVRI Denpasar pada 15 Juni 1979 dan tanggal ini secara resmi dipakai sebagai "hari lahir" Sanggar Kukuruyuk. Perihal nama sanggar, menurut Made Taro, itu memang diambil dari kata "kukuruyuk" -- suara atau "nyanyian" ayam menyambut fajar menyingsing itu. "Maknanya, berilah anak-anak kesempatan menikmati dunianya yang indah dan menyambut kehidupan dalam semangat optimisme," jelas Made Taro.

Lokal dan Universal
Untuk merealisasikan semangat pendirian Sanggar Kukuruyuk itu, maka kegiatan sanggar diarahkan kepada penanaman nilai-nilai budaya lokal dan universal. Menurut Made Taro, ada tiga bidang kegiatan yang menonjol di Sanggar Kukuruyuk yakni bernyanyi, bermain dan bercerita. "Di Sanggar Kukuruyuk, anak-anak diharapkan tidak hanya menghafal materi yang diberikan tetapi juga menghayati, menyikapi dan berperilaku luhur sesuai dengan cita-cita bangsa. Materi-materi itu diaktualisasikan dan dikembangkan dalam bentuk bunga rampai budaya bangsa sehingga tertanam sikap kehidupan yang beridentitas budaya dalam suasana bhineka tunggal ika," ujar Made Taro.

Memang, awalnya tayangan Sanggar Kukuruyuk di TVRI Denpasar dianggap asing oleh kebanyakan anak, tetapi justru disambut baik oleh orang tua. "Orang tua merasa bernostalgia. Hal itu disebabkan materi-materinya adalah genre-genre yang sudah 'mati' atau sudah dilupakan oleh generasi sekarang. Unsur budaya unggulan yang tak ternilai harganya itu harus segera dihidupkan kembali, bukan saja dipandang sebagai khasanah kekayaan bangsa tetapi juga sebagai wahana pendidikan budaya," kata Made Taro. Dengan begitu, bagi Made Taro, Sanggar Kukuruyuk bukan saja menjadi media apresiasi tetapi juga sebagai "laboratorium" untuk menggali, merekonstruksi, merevitalisasi dan kemudian mensosialisasikan kepada masyarakat umum.

Selanjutnya, setelah "Kaki Cubling", produktivitas Sanggar Kukuruyuk termasuk cukup tinggi. Disamping di TVRI Denpasar, sanggar ini pentas pula di sejumlah tempat. Tercatat judul-judul operet yang pernah dimainkan seperti "Nanang Cangklong", "Tuwung Kuning", dan seterusnya.

Pada 1991, Sanggar Kukuruyuk mulai mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB), sanggar ini diberi kesempatan untuk menampilkan nyanyian rakyat dan permainan rakyat. Ditampilkanlah beragam permainan rakyat yang langka, dengan nyanyian rakyat dan kreasi baru serrta iringan tabuh sederhana. Pentas itu, pada awalnya berjudul "Plalian Bali", selanjutnya "Permainan Rakyat", lalu "Permainan Tradisional" atau "Plalian".

Kini, ketika menapak usia 24 tahun, sanggar ini tercatat telah memiliki alumni lebih dari 1.800 orang. Dari sejumlah pentas 186 kali, paling banyak adalah pentas di TVRI Denpasar dan TVRI Jakarta, sisanya di PKB, di hotel-hotel berbintang di kawasan Nusa Dua, di Bali TV, di TPI, di Indosiar, di kantor-kantor pemerintah dan sekolah, menghibur anak-anak dalam event-event tertentu dan sekali di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Sanggar ini tercatat pula telah mengoleksi lebih dari 200 jenis permainan, lebih dari 200 nyanyian anak-anak, menciptakan 12 jenis permainan kreasi baru dan menciptakan sekitar 100 nyanyian anak-anak kreasi baru khususnya gending plalian. Sanggar Kukuruyuk, selamat ulang tahun, mari bermain, bernyanyi, dan bercerita. (tin)


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com