Nyepi,
Momentum Tepat untuk Pengendalian Diri
Mataram
(Bali Post) -
Renungan dan introspeksi diri adalah hal penting dari
brata penyepian. Orang tidak pernah melakukan instrospeksi
bisa bersifat jumawa (menang sendiri) dan sulit
mendengarkan nasihat apalagi kritik orang lain.
Wakil Sekretaris
Jenderal (Sekjen) Pengurus Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu
Dharma Indonesia (PP KMHDI) I.Gde Wiska mengatakan hal
itu, di Mataram, Selasa (1/4). Wiska menyebut invasi
Amerika Serikat (AS) ke Irak sebagai salah satu contoh.
"Jika seluruh umat manusia di muka bumi ini
melaksanakan brata penyepian, melakukan perenungan dan
introspeksi diri, maka agresi yang menelan korban jiwa tak
berdosa itu tidak akan terjadi," ujarnya.
Menurut Wiska dalam
Nyepi, umat Hindu selain melakukan instrospeksi diri, juga
diharapkan mengasah kepedulian pada sesama manusia dan
membantu penderitaan mereka yang terkena musibah.
"Pada saat Nyepi kali ini, marilah kita berdoa semoga
penderitaan rakyat Irak segera berlalu," ajaknya.
Ditambahkan, makna
Nyepi juga mengajarkan agar umat Hindu melakukan kerja
sama yang baik dan menggalang solidaritas antarsesama
manusia. "Sebagai manusia kita tidak bisa hidup
sendiri-sendiri. Kita selalu tergantung pada pihak lain,
tetapi kita pun harus bisa melepaskan ketergantungan itu
jika tidak diperlukan," katanya.
Ribuan Umat
Sementara itu,
ribuan umat Hindu di Lombok merayakan Nyepi dengan damai.
Perayaan catur brata penyepian sesuai dengan prosesi yang
dilakukan umat Hindu di Bali yang diawali dengan pawai
ogoh-ogoh sehari menjelang Nyepi. Sejumlah perkampungan
Hindu pada perayaan Nyepi 2 April 2003 tampak sepi pada
pagi hari, sedangkan malam hari suasana gelap gulita.
Gang-gang pada perkampungan Hindu diberi tanda khusus,
sebagai isyarat sedang terjadi pelaksanaan catur brata
penyepian. Sedangkan masyarakat yang tidak merayakannya
memberikan penghargaan yang cukup berarti bagi
kelangsungan pelaksanaan Nyepi selama sehari semalam itu.
Ketua PHDI NTB I Gde
Mandia, S.H., mengatakan, tidak ada sesuatu yang spesifik
pada perayaan Nyepi tahun ini. Prosesi perayaan dilakukan
sebagaimana perayaan Nyepi tahun-tahun sebelumnya, baik
menyangkut ritual agama maupun prosesi budaya. Para
pecalang tampak masih aktif menjaga keamanan di
lingkungannya dengan menggunakan pakaian adat. Pada
beberapa gang tampak pajangan ogoh-ogoh yang semula ikut
serta dalam pawai.
Sementara sehari
sebelum perayaan Nyepi diisi dengan rangkaian pawai
ogoh-ogoh yang menampilkan 74 peserta dari seluruh banjar
yang ada di Mataram. Acara yang dibuka Gubernur NTB Harun
Al Rasyid itu, disaksikan ribuan penonton dari segala
penjuru Lombok. Masing-masing ogoh-ogoh yang tampil
memiliki makna tersendiri yang tidak jauh dari upaya
menghindari sifat-sifat butakala. Setelah pawai, ogoh-ogoh
dibakar, dipajang atau pun di-prelina.
Selain pawai
ogoh-ogoh di kota Mataram, pawai serupa pun terdapat di
kecamatan Narmada melibatkan 12 ogoh-ogoh. Kendati
pelaksanaan dilakukan di Narmada, dalam upacara tawur
kesanga dilakukan di satu tempat, yakni di Pura Mayura.
Kata Gde Mandia, masing-masing kecamatan berhak melakukan
pawai ogoh-ogoh tanpa harus berkonsentrasi melakukannya di
kota Mataram.
Sementara Gubernur
NTB melepas acara itu dengan memukul kentongan. Sebelum
melepas peserta pertama, Harun mengatakan kegiatan pawai
ogoh-ogoh tidak hanya mengandung nilai agama, melainkan
juga nilai budaya. Oleh karena itu, Harun meminta agar
kegiatan semacam itu dipertahankan. Sedangkan Wali Kota
Mataram, Moh.Ruslan, S.H., mengemukakan catur brata
penyepian bisa memperkokoh kerukunan antarumat beragama,
persatuan dan kesatuan. Hal yang unik pada perayaan Nyepi
di Lombok adalah dilakukannya perang api di Negarasaka,
Sweta. Namun atraksi ini nyaris luput dari penonton,
karena waktu yang dibutuhkan relatif singkat. Esensi dari
perang api yang menggunakan bahan baku daun kelapa yang
disulut api tersebut adalah untuk mengusir butakala yang
bersarang dalam diri manusia, baik sifat serakah, tamak,
loba, dan lain-lain. (049/045)
|