kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Kliwon, 4 April 2003

 Nusatenggara


Flores tak Putus Dirundung Bencana

FLORES berasal dari kata flower yang berarti bunga. Oleh karena itu, pulau terbesar di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini kerap juga disapa Nusa Bunga. Membentang dari ujung barat Kabupaten Manggarai, menyusul Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, Kabupaten Sikka dan di ujung timur sesuai namanya terhampar Kabupaten Flores Timur.

Sayang, nasib para penduduk Flores tak seindah namanya. Dalam tiga dasa warsa terakhir, telah terjadi beberapa kali bencana alam (gempa bumi, tsunami, banjir bandang dan longsor) yang bertumbal harta benda dan merenggut ribuan korban jiwa. Yang paling tragis terjadi tahun 1992, ketika tsunami melumatkan pesisir Pantai Maumere dan menenggelamkan Pulau Babi. Sedikitnya 2.000 warga terenggut nyawanya kala itu.

Awal bulan ini, bencana kembali meminta tumbal. Terjadi secara beruntun, gempa berkekuatan 5,3 skala richter mengguncang Kabupaten Manggarai bagian utara, tepatnya di Reo, ibu kota Kecamatan Reok. Gempa yang terjadi Kamis (27/3) malam itu menyebabkan lima orang meninggal dunia. Menyusul awal April 2003, hujan lebat tiada henti dua hari dua malam yang menguyur Pulau Flores. Tak pelak, banjir bandang dan longsor terjadi di sejumlah tempat di empat kabupaten.

Kawasan yang selama ini dikenal rentan, kembali ambruk. Larantuka misalnya, untuk kedua kalinya menuai petaka. Rabu (2/3) dini hari, terjadi longsoran tanah yang menghanyutkan rumah penduduk dan sejumlah tempat ibadah. Tercatat, 11 orang meninggal dunia, puluhan lainnya terluka dan yang lainnya dinyatakan hilang di ibu kota kabupaten Flores Timur itu.

Tragedi ini seolah melempar ingatan kita pada kejadian serupa 24 tahun silam, tepatnya Selasa (27/2) tahun 1979. Di lokasi yang sama, kala itu 154 orang meninggal dunia dan ratusan rumah hanyut dan terbenam di antara lumpur batu yang mengalir dari lereng Gunung Ilemandiri. Peristiwa ini kemudian diabadikan menjadi kenangan bagi warga setempat dan sangat populer di NTT pada awal tahun 80-an. Ternyata kenangan itu bukan yang terakhir.

Banjir bandang juga terjadi di Kabupaten Ende. Sampai Jumat (4/4) kemarin, dilaporkan sedikitnya 45 orang meninggal dunia terseret banjir. Kisah duka juga menyelimuti warga kabupaten tentangganya, Ngada dan Sikka. Beberapa warga tewas. Ratusan rumah penduduk dan infrastruktur seperti jembatan juga juga tak luput dari terjangan banjir. Bencana kali ini tak lepas dari amukan badai siklon tropis Inigo, yang menyulut hujan turun tiada henti sampai dua hari dua malam disertai petir dan hempasan angin kencang. Tak aneh, kalau sejumlah kapal yang tengah berlayar di seputar Laut Flores dan Sawu juga ikut terhempas. Sejauh ini belum ada data pasti berapa orang korban tewas.

Bencana kali ini bisa dipastikan bukan yang terakhir. Untuk sementara mungkin segala perhatian masyarakat masih diarahkan untuk mengevakuasi korban, merawat yang luka-luka serta mengupayakan bantuan logistik. Pola penyelamatan seperti ini nyaris menjadi sesuatu yang rutin bagi Indonesia, tak terkecuali dalam menangani Bencana Flores.

Tanpa bermaksud mengecilkan berbagai tindakan rescue, sebagian energi seyogianya disisikan untuk menyiapkan langkah yang bersifat ke depan. Menghadapi perangai alam yang tak terduga memang bukan pekerjaan mudah. Namun, tetap tersedia ruang dan waktu bagi upaya preventif untuk menghindari jatuhnya korban jiwa.

Menyadari bahwa Pulau Flores merupakan salah satu langganan bencana alam, merupakan pelajaran penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Pemetaan wilayah rawan longsor serta mengintesifkan kinerja otoritas meteorologi berikut sosialisasi prakiraan cuaca serta tindakan preventifnya merupakan sejumlah agenda yang tak boleh dilalaikan.

Dalam konteks mengurangi murka alam, segala keegoan yang bersifat antroposentris dalam pola pembangunan Flores tampaknya perlu dilenyapkan. Perangai ladang berpindah dengan melumat hutan yang terus terjadi di Flores tampaknya harus diakhiri.

Hanya dengan jelmaan manajemen krisis dan usaha sadar semacam itulah, manusia Flores di Pulau Bunga itu lolos dapat terhindar dari amukan alam. Kalau tidak alam selalu akan memandang manusia di sana seperti keledai; terperosok ke dalam lubang yang sama untuk kesekian kalinya. (gre)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)