Flores
tak Putus Dirundung Bencana
FLORES
berasal dari kata flower yang berarti bunga. Oleh karena
itu, pulau terbesar di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)
ini kerap juga disapa Nusa Bunga. Membentang dari ujung
barat Kabupaten Manggarai, menyusul Kabupaten Ngada,
Kabupaten Ende, Kabupaten Sikka dan di ujung timur sesuai
namanya terhampar Kabupaten Flores Timur.
Sayang, nasib para
penduduk Flores tak seindah namanya. Dalam tiga dasa warsa
terakhir, telah terjadi beberapa kali bencana alam (gempa
bumi, tsunami, banjir bandang dan longsor) yang bertumbal
harta benda dan merenggut ribuan korban jiwa. Yang paling
tragis terjadi tahun 1992, ketika tsunami melumatkan
pesisir Pantai Maumere dan menenggelamkan Pulau Babi.
Sedikitnya 2.000 warga terenggut nyawanya kala itu.
Awal bulan ini,
bencana kembali meminta tumbal. Terjadi secara beruntun,
gempa berkekuatan 5,3 skala richter mengguncang Kabupaten
Manggarai bagian utara, tepatnya di Reo, ibu kota
Kecamatan Reok. Gempa yang terjadi Kamis (27/3) malam itu
menyebabkan lima orang meninggal dunia. Menyusul awal
April 2003, hujan lebat tiada henti dua hari dua malam
yang menguyur Pulau Flores. Tak pelak, banjir bandang dan
longsor terjadi di sejumlah tempat di empat kabupaten.
Kawasan yang selama
ini dikenal rentan, kembali ambruk. Larantuka misalnya,
untuk kedua kalinya menuai petaka. Rabu (2/3) dini hari,
terjadi longsoran tanah yang menghanyutkan rumah penduduk
dan sejumlah tempat ibadah. Tercatat, 11 orang meninggal
dunia, puluhan lainnya terluka dan yang lainnya dinyatakan
hilang di ibu kota kabupaten Flores Timur itu.
Tragedi ini seolah
melempar ingatan kita pada kejadian serupa 24 tahun silam,
tepatnya Selasa (27/2) tahun 1979. Di lokasi yang sama,
kala itu 154 orang meninggal dunia dan ratusan rumah
hanyut dan terbenam di antara lumpur batu yang mengalir
dari lereng Gunung Ilemandiri. Peristiwa ini kemudian
diabadikan menjadi kenangan bagi warga setempat dan sangat
populer di NTT pada awal tahun 80-an. Ternyata kenangan
itu bukan yang terakhir.
Banjir bandang juga
terjadi di Kabupaten Ende. Sampai Jumat (4/4) kemarin,
dilaporkan sedikitnya 45 orang meninggal dunia terseret
banjir. Kisah duka juga menyelimuti warga kabupaten
tentangganya, Ngada dan Sikka. Beberapa warga tewas.
Ratusan rumah penduduk dan infrastruktur seperti jembatan
juga juga tak luput dari terjangan banjir. Bencana kali
ini tak lepas dari amukan badai siklon tropis Inigo, yang
menyulut hujan turun tiada henti sampai dua hari dua malam
disertai petir dan hempasan angin kencang. Tak aneh, kalau
sejumlah kapal yang tengah berlayar di seputar Laut Flores
dan Sawu juga ikut terhempas. Sejauh ini belum ada data
pasti berapa orang korban tewas.
Bencana kali ini
bisa dipastikan bukan yang terakhir. Untuk sementara
mungkin segala perhatian masyarakat masih diarahkan untuk
mengevakuasi korban, merawat yang luka-luka serta
mengupayakan bantuan logistik. Pola penyelamatan seperti
ini nyaris menjadi sesuatu yang rutin bagi Indonesia, tak
terkecuali dalam menangani Bencana Flores.
Tanpa bermaksud
mengecilkan berbagai tindakan rescue, sebagian energi
seyogianya disisikan untuk menyiapkan langkah yang
bersifat ke depan. Menghadapi perangai alam yang tak
terduga memang bukan pekerjaan mudah. Namun, tetap
tersedia ruang dan waktu bagi upaya preventif untuk
menghindari jatuhnya korban jiwa.
Menyadari bahwa
Pulau Flores merupakan salah satu langganan bencana alam,
merupakan pelajaran penting bagi pemerintah daerah dan
masyarakat setempat. Pemetaan wilayah rawan longsor serta
mengintesifkan kinerja otoritas meteorologi berikut
sosialisasi prakiraan cuaca serta tindakan preventifnya
merupakan sejumlah agenda yang tak boleh dilalaikan.
Dalam konteks
mengurangi murka alam, segala keegoan yang bersifat
antroposentris dalam pola pembangunan Flores tampaknya
perlu dilenyapkan. Perangai ladang berpindah dengan
melumat hutan yang terus terjadi di Flores tampaknya harus
diakhiri.
Hanya dengan jelmaan
manajemen krisis dan usaha sadar semacam itulah, manusia
Flores di Pulau Bunga itu lolos dapat terhindar dari
amukan alam. Kalau tidak alam selalu akan memandang
manusia di sana seperti keledai; terperosok ke dalam
lubang yang sama untuk kesekian kalinya. (gre)
|