|
Nyepi di RS Sanglah------
Ada Dua Kantin
Buka 24 Jam
Amati karya saat
Nyepi, tampaknya tak berlaku bagi dokter dan paramedis di
sejumlah RS di Bali. Di RS Sanglah misalnya, selain
berkerja saat Nyepi, mereka juga dibebani tugas selama 36
jam (biasanya 12 jam). Bagaimana aktivitas medis di RS
Sanglah saat nyepi? Berikut laporan wartawan Bali Post
Nengah Suentra yang ikut Nyepi di RS terbesar di Bali itu.
---------------------------------------------------------
KEGIATAN
medis di bagian IRD RS Sanglah pada malam pangerupukan
(Selasa, 1/4) sampai Nyepi (Rabu, 2/4) tak menunjukkan
perubahan yang signifikan dibandingkan hari-hari biasa.
Masyarakat yang datang berobat silih berganti, dokter dan
perawat pun tampak sigap memberi pelayanan medis. Yang
beda pada dua hari itu, para pembesuk sangat jarang.
Bahkan, pada hari raya Nyepi tak ada pengunjung selain
keluarga pasien yang menunggu.
Tak ada tanda-tanda
petugas bekerja kurang gairah, justru Tim Trauma Centre
IRD melakukan tindakan dengan penuh semangat. ''Tarian''
gunting, pisau bedah, darah, dan jarum suntik seperti tak
pernah punya waktu istirahat. Begitulah, misi kemanusiaan
berjalan menembus filosofi Nyepi yang bagi orang Hindu
bermakna amati geni, amati lelanguan, amati lelungan dan
amati karya.
Khusus saat malam
pangerupukan, para tenaga medis di IRD RS Sanglah
mengalami rotasi dinas. Piket dokter di bagian kandungan
berganti pukul 24.00, sementara yang lain -- bedah, tulang
dan karyawan administrasi -- diputar pukul 04.00. Beban
berat memang diemban kelompok piket pengganti, lantaran
harus bekerja 36 jam tanpa bisa pulang ke rumah. RS
Sanglah menurunkan sekitar 20 dokter dan perawat di IRD,
selain tiga ambulans dan dokter spesialis yang siap
dipanggil. Kegiatan malam pangerupukan di Denpasar dan
Badung, ternyata relatif lebih aman dibandingkan tahun
lalu.
Setidaknya, korban
pawai ogoh-ogoh yang masuk RS Sanglah nyaris nihil. Hanya
dua warga yang terluka ringan akibat ledakan mercon. Ada
beberapa korban akibat mabuk dan mengalami kecalakaan lalu
lintas, seperti di Jalan Imam Bonjol, Singaraja, dan Kuta.
Pasien melahirkan tergolong paling banyak, di samping
anak-anak dengan keluhan panas. Nyepi 2003, bagi RS
Sanglah nihil pasien yang termasuk korban bentrokan
antarkelompok.
TV dan
Pembalut Wanita
RS Sanglah
menugaskan lima karyawan di bagian gizi untuk mensuplai
makanan pasien, dokter, dan perawat piket. Petugas di tiap
ruangan menjemput jatah masing-masing, sementara para
penunggu pasien menyerbu dua kantin yang buka 24 jam.
Sistem pelayanan obat terlihat rapi dan sangat membantu
pasien, lantaran IRD dan tiap bangsal punya apotek mini.
Khusus pada malam
pangerupukan dan nyepi, ruangan rawat inap RS Sanglah
hanya dijaga empat perawat dan dua tenaga dapur. Pelayanan
dan tindakan medis dipusatkan di bagian IRD, dan petugas
ruangan memanggil dokter saat ada masalah krusial. Situasi
benar-benar sepi tak hanya terasa di malam hari, seluruh
jalan dan ruang tunggu RS Sanglah juga lengang di siang
hari. Lantas, bagaimana membagi tugas 36 jam itu?
Pukul 01.00, empat
perawat di sal Angsoka masih bertahan dari rasa kantuk.
Adalah Ni Putu Sudiari, Kadek Dwiyanti, IA Yuniartini, dan
Diah Islamiah harus melayani 24 pasien dengan beragam
kasus -- kecelakaan, tumor, anak-anak. Jam tidur digilir,
tiga yang harus standby dan satu boleh merebahkan badan
saat rasa kantuk tiba. ''Kami piket 36 jam, jam tidur
harus digilir,'' tandas Yuniartini.
Ada TV berukuran
kecil yang ditaruh di meja ruangan kerja, selain beberapa
jenis surat kabar. Siaran perang AS-Irak menjadi tontonan
menarik bagi kelompok perawat yang sedang mengemban tugas
36 jam di sal Angsoka. Sarana hiburan tersebut merupakan
bagian dari bekal para tenaga medis yang piket saat Nyepi
2003, selain dalam bentuk makanan dan pakaian. ''Biar
enggak jenuh dan ngantuk, kan kerja 36 jam,'' ucap Diah.
Jatah makanan dari RS Sanglah tentu tak bisa memuaskan
seluruh karyawan piket. Para dokter dan perawat yang jaga
saat Nyepi, membawa berbagai jenis makanan ringan.
Sarana hiburan
memang sangat penting untuk menghapus rasa jenuh. Jika di
sal Angsoka ada TV kecil, petugas di IRD membawa radio
kecil dan alas tidur mini. Sementara penunggu pasien
menonton acara TV di samping loket pembayaran. Rasa lelah
petugas medis di IRD baru mulai agak tampak manakala
puluhan pasien harus dilayani pada Rabu (Nyepi-red) malam.
Toh, dr. IB Siwagata, dkk. tetap tersenyum menjalankan
tugas bersama stafnya. Begitulah, pelayanan medis di RS
Sanglah tak mengenal Nyepi dan kita yakini sebagai karma
baik dalam menjalani kehidupan ini. Semoga! (*)
|