kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Kliwon, 4 April 2003

 Bali


Nyepi di RS Sanglah------

Ada Dua Kantin Buka 24 Jam

Amati karya saat Nyepi, tampaknya tak berlaku bagi dokter dan paramedis di sejumlah RS di Bali. Di RS Sanglah misalnya, selain berkerja saat Nyepi, mereka juga dibebani tugas selama 36 jam (biasanya 12 jam). Bagaimana aktivitas medis di RS Sanglah saat nyepi? Berikut laporan wartawan Bali Post Nengah Suentra yang ikut Nyepi di RS terbesar di Bali itu.

---------------------------------------------------------

KEGIATAN medis di bagian IRD RS Sanglah pada malam pangerupukan (Selasa, 1/4) sampai Nyepi (Rabu, 2/4) tak menunjukkan perubahan yang signifikan dibandingkan hari-hari biasa. Masyarakat yang datang berobat silih berganti, dokter dan perawat pun tampak sigap memberi pelayanan medis. Yang beda pada dua hari itu, para pembesuk sangat jarang. Bahkan, pada hari raya Nyepi tak ada pengunjung selain keluarga pasien yang menunggu.

Tak ada tanda-tanda petugas bekerja kurang gairah, justru Tim Trauma Centre IRD melakukan tindakan dengan penuh semangat. ''Tarian'' gunting, pisau bedah, darah, dan jarum suntik seperti tak pernah punya waktu istirahat. Begitulah, misi kemanusiaan berjalan menembus filosofi Nyepi yang bagi orang Hindu bermakna amati geni, amati lelanguan, amati lelungan dan amati karya.

Khusus saat malam pangerupukan, para tenaga medis di IRD RS Sanglah mengalami rotasi dinas. Piket dokter di bagian kandungan berganti pukul 24.00, sementara yang lain -- bedah, tulang dan karyawan administrasi -- diputar pukul 04.00. Beban berat memang diemban kelompok piket pengganti, lantaran harus bekerja 36 jam tanpa bisa pulang ke rumah. RS Sanglah menurunkan sekitar 20 dokter dan perawat di IRD, selain tiga ambulans dan dokter spesialis yang siap dipanggil. Kegiatan malam pangerupukan di Denpasar dan Badung, ternyata relatif lebih aman dibandingkan tahun lalu.

Setidaknya, korban pawai ogoh-ogoh yang masuk RS Sanglah nyaris nihil. Hanya dua warga yang terluka ringan akibat ledakan mercon. Ada beberapa korban akibat mabuk dan mengalami kecalakaan lalu lintas, seperti di Jalan Imam Bonjol, Singaraja, dan Kuta. Pasien melahirkan tergolong paling banyak, di samping anak-anak dengan keluhan panas. Nyepi 2003, bagi RS Sanglah nihil pasien yang termasuk korban bentrokan antarkelompok.

TV dan Pembalut Wanita

RS Sanglah menugaskan lima karyawan di bagian gizi untuk mensuplai makanan pasien, dokter, dan perawat piket. Petugas di tiap ruangan menjemput jatah masing-masing, sementara para penunggu pasien menyerbu dua kantin yang buka 24 jam. Sistem pelayanan obat terlihat rapi dan sangat membantu pasien, lantaran IRD dan tiap bangsal punya apotek mini.

Khusus pada malam pangerupukan dan nyepi, ruangan rawat inap RS Sanglah hanya dijaga empat perawat dan dua tenaga dapur. Pelayanan dan tindakan medis dipusatkan di bagian IRD, dan petugas ruangan memanggil dokter saat ada masalah krusial. Situasi benar-benar sepi tak hanya terasa di malam hari, seluruh jalan dan ruang tunggu RS Sanglah juga lengang di siang hari. Lantas, bagaimana membagi tugas 36 jam itu?

Pukul 01.00, empat perawat di sal Angsoka masih bertahan dari rasa kantuk. Adalah Ni Putu Sudiari, Kadek Dwiyanti, IA Yuniartini, dan Diah Islamiah harus melayani 24 pasien dengan beragam kasus -- kecelakaan, tumor, anak-anak. Jam tidur digilir, tiga yang harus standby dan satu boleh merebahkan badan saat rasa kantuk tiba. ''Kami piket 36 jam, jam tidur harus digilir,'' tandas Yuniartini.

Ada TV berukuran kecil yang ditaruh di meja ruangan kerja, selain beberapa jenis surat kabar. Siaran perang AS-Irak menjadi tontonan menarik bagi kelompok perawat yang sedang mengemban tugas 36 jam di sal Angsoka. Sarana hiburan tersebut merupakan bagian dari bekal para tenaga medis yang piket saat Nyepi 2003, selain dalam bentuk makanan dan pakaian. ''Biar enggak jenuh dan ngantuk, kan kerja 36 jam,'' ucap Diah. Jatah makanan dari RS Sanglah tentu tak bisa memuaskan seluruh karyawan piket. Para dokter dan perawat yang jaga saat Nyepi, membawa berbagai jenis makanan ringan.

Sarana hiburan memang sangat penting untuk menghapus rasa jenuh. Jika di sal Angsoka ada TV kecil, petugas di IRD membawa radio kecil dan alas tidur mini. Sementara penunggu pasien menonton acara TV di samping loket pembayaran. Rasa lelah petugas medis di IRD baru mulai agak tampak manakala puluhan pasien harus dilayani pada Rabu (Nyepi-red) malam. Toh, dr. IB Siwagata, dkk. tetap tersenyum menjalankan tugas bersama stafnya. Begitulah, pelayanan medis di RS Sanglah tak mengenal Nyepi dan kita yakini sebagai karma baik dalam menjalani kehidupan ini. Semoga! (*)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)