kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Kliwon, 4 April 2003

 Bali


Dari Tradisi ''Med-medan'' di Sesetan--

Pernah Muncul Dua Ekor Babi Berkelahi

TRADISI unik yang hingga kini tetap bertahan di Banjar Kaja, Kelurahan Sesetan adalah med-medan. Med-medan berasal dari kata omed-omedan yang artinya saling tarik. Tradisi ini rutin dilangsungkan pada Ngembak Geni--sehari setelah Hari Raya Nyepi. Bagaimana asal muasal Med-medan?

KAMIS (3/4) kemarin sore, sejumlah anggota Sekaa Teruna Satya Dharma Kerthi Banjar Kaja Sesetan terlibat dalam acara med-medan. Sebelum med-medan dimulai, anggota sekaa teruna melakukan persembahyangan bersama di Pura Banjar Kaja dipimpin pemangku setempat.

Acara diawali dengan pementasan tarian barong bangkal di lokasi med-medan--tepatnya di jalan raya jurusan Sesetan-Kota Denpasar atau di depan Balai Banjar Kaja, Sesetan. Selanjutnya puluhan anggota sekaa teruna yang sudah mengenakan pakaian adat madya membagi diri. Anggota laki-laki berada di kiri (utara jalan) dan perempuan berada di kanan (selatan).

Ketika aba-aba dimulai, masing-masing kelompok berlarian melintasi lokasi lawan jenis. Air PAM pun dikucurkan oleh anggota krama banjar ke tubuh mereka dengan menggunakan ember dan selang. Dalam keadaan basah kuyup mereka ''mengunggulkan'' salah satu anggotanya untuk dihadap-hadapkan dengan anggota lawan jenis. Tarik-tarikan pun terjadi. Anggota laki-laki memegang tubuh sang perempuan, sehingga terjadi saling omed (saling tarik-red). Kesan romantis juga tampak ketika padangan mata saling beradu. Demikianlah seterusnya hingga semua kebagian.

Suasana gembira tampak dalam wajah mereka. Tepuk tangan penonton memberi semangat. Terlebih ketika dua lawan jenis sudah saling berhadap-hadapan dan berpegangan.

Lalu, bagaimana tradisi ini bisa terjadi? Kelian Banjar Kaja Kelurahan Sesetan Denpasar Selatan Pasek Nyoman Adnyana didampingi Pemangku Gede Banjar Kaja Sesetan Wayan Suadi mengatakan, med-medan dulunya hanyalah sebuah kebiasaan. Tetapi belakangan oleh krama Banjar Kaja Sesetan dijadikan acara yang sakral. Munculnya med-medan bermula dari sembuhnya seorang sesepuh Puri Oka Sesetan, AA Made Raka dari suatu penyakit. Kapan itu terjadi, tak disebutkan secara pasti.

Oleh karena menderita sakit, tokoh puri itu tidak menginginkan adanya keramaian (med-medan) di hari raya Nyepi. Tetapi krama banjar memberanikan diri membuatnya dengan segala risiko. Mendengar adanya keramaian, AA Made Raka berusaha mendatanginya. Tetapi aneh, sakit yang dideritanya sembuh seketika setelah menyaksikan acara tersebut. Dari situ muncul upaya tetap melaksanakan tradisi tersebut di Hari Raya Nyepi.

Belakangan--tepatnya pada zaman Belanda, kata Pasek Adnyana, med-medan sempat dilarang. Kendati demikian tidak menyurutkan krama untuk tetap melanjutkan tradisi unik tersebut. Kegiatan pun lantas dilangsungkan secara sembunyi-sembunyi. ''Dulu, med-medan dilangsungkan pada Hari Raya Nyepi. Tetapi sejak tahun 1979 agar tidak mengganggu pelaksanaan catur brata penyepian, med-medan akhirnya dilaksanakan pada Ngembak Geni,'' katanya.

Peristiwa Aneh

Dikatakan, med-medan juga sempat ditiadakan karena ada penyimpangan berupa adegan ciuman. Tetapi peristiwa aneh pun terjadi. Sepasang babi yang tidak diketahui asal-muasalnya berkelahi di halaman Pura Banjar. Darah babi pun berceceran di mana-mana. Warga banjar yang melihat kejadian itu sertamerta melerainya, tetapi tak berhasil. Akhirnya, ada bawos agar med-medan tetap dilangsungkan. Begitu tradisi itu dilangsungkan, kedua ekor babi itu menghilang tanpa jejak. Darah yang tadinya terlihat membasahi tanah, hilang seketika. Sejak itulah krama tidak berani lagi meniadakan med-medan sehingga lestari sampai sekarang. (lun)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)